Menyusuri Lautan Teluk Lamong dengan Kapal Pengawas

Pagi ini, saya diminta untuk menemani seorang teman yang memiliki obyek penelitian yang sama berkunjung ke rumah Pak Toha (ketua nelayan Greges) untuk melihat seperti apa keramba jaring apung yang dikelola beserta penampakan ikan kerapu cantang yang dibudidaya bapak. Kami bertemu di Jalan Pemuda kemudian melanjutkan perjalanan bersama dengan motor matic masing-masing.

Sesampainya disana, bu Toha menyambut dengan senyuman khas nya, dan mengatakan bahwa bapak sedang ada tamu di Pelabuhan Sontoh Laut. Tamu dari dinas. Ibu membuatkan minuman es teh kemudian berbincang dengan kami. Bapak datang dengan perahu miliknya tak lama waktu berselang. Dengan cekatan beliau membawa satu wadah termos berukuran sangat besar yang berisi ikan rucah untuk pakan ikan kerapu cantang kemudian masuk ke dapur. Selanjutnya bapak memotong berbagai macam ikan rucah tersebut menjadi kecil dan lunak. Ibu, saya dan Engrid ikut membantu agar pekerjaan ini cepat selesai dan tidak terlalu siang untuk memberi pakan pada ikan kerapu cantang.

Sembari memotong ikan, beliau bercerita bahwa sekarang sedang dalam perjalanan kesini, bapak Aris Sunendar, kepala bidang penangkapan dinas kota Surabaya (mohon maaf jika ada kesalahan penulisan nama), untuk meninjau usaha budidaya ikan kerapu cantang yang dilakukan oleh beberapa kelompok nelayan. Beliau berharap beliau bisa menunggu hingga kita datang dari keramba. Tak lama kemudian handphone bapak berdering, setelah menutup telponnya, beliau berkata bahwa sekarang juga harus kembali ke pelabuhan sontoh laut karena pak Aris sudah datang. Dengan terburu-buru kami bertiga langsung menuju pelabuhan dengan kapal bapak.

Singkat cerita, kami datang, bertemu, berdiskusi, kemudian diputuskan untuk berangkat ke daerah TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Romokalisari dengan tujuan mencoba kapal pengawas laut milik dinas kota Surabaya yang baru datang dari Jakarta. Saya dan Engrid dipersilahkan untuk ikut. Kami berempat (dengan bapak Aris) berangkat dengan mobil yang dibawa oleh pak Aris. Tujuan utama saya dan Engrid pun tertunda.

Kapal Pengawas di parkir disini

Ternyata kapal pengawas yang dimaksud tidak bisa langsung digunakan. Penyebabnya baru ditemukan setelah tiga jam kemudian dimana pak Toha, pak parkir dan salah satu utusan pak Aris membetulkan mesinnya : busi mesin motor yang sudah usang dan minta diganti.

Kapal pengawas baru bisa dikemudikan setelah lewat jam dhuhur. Pak Aris sebagai nahkoda dengan pak Toha sebagai co-nahkoda dan sebagai penumpang : saya, Engrid dan satu orang (mohon maaf tidak kenal).

Ibarat tidak afdhol jika wajah anak perikanan kelautan tidak gosong seperti ini

Bapak Aris meminta agar bergantian dalam mengendarai kapal ini. Saya berkata, lho pak kebanyakan dari kami tidak punya lisensi mengemudi kapal. Beliau menjawab, disini yang punya lisensi ya hanya pak Toha toh. Semua orang tertawa, secara tidak langsung setuju dengan permintaan beliau.

Sembari menikmati suasana laut siang itu, saya mengabadikan foto beberapa objek. Yuk lihat.

Mesin motor kapal

Tuas yang digunakan untuk mengendalikan kecepatan mesin kapal

Laut Teluk Lamong, Indonesia

Tiba-tiba pak Aris berkata, "Ayo waktunya gantian, ayo mbak monggo lho kalau mau mencoba". Saya dan Engrid saling melirik. Baiklah, kuputuskan untuk mencoba. Pak Aris berpindah ke kursi penumpang sisi kiri dan saya berpindah ke tempat pengemudi.

Pak Toha mengajarkan bagaimana cara menarik tuas pengendali kecepatan kapal dan mempertahankan kemudi kapal dari terjangan angin dan ombak. Hanya butuh waktu empat menit untuk saya beradaptasi, dan untuk selanjutnya sayalah nahkoda kapal, ha ha ha ^^.

Pak Toha menjelaskan secara singkat namun sangat jelas tentang kapal ini. Tuas pengendali kapal tidak boleh ditarik terlalu tinggi. Karena body kapal sangat ringan, jika kecepatan kapal ditinggikan sementara kecepatan angin dan ombak sedikit ganas (seperti saat itu) deck depan kapal bisa terangkat dan jika angin didepan sangat kencang kapal bisa terbalik. Kapal ini tidak dirancang untuk kebut-kebutan walaupun motor mesinnya dirancang untuk berpacu dengan kecepatan. Jadi, sebagai nahkoda harus mempertimbangkan angin, arus dan ombak. Selain itu, untuk menuju kesuatu titik, kendala dari sebuah kapal bermotor adalah tidak bisa berjalan lurus ketitik tersebut, melainkan harus berbelok dengan kecepatan sedang mengikuti sekaligus melawan arah angin. Saya jadi membayangkan penjelasan terakhir pak Toha ini dengan ingatan setiap saya naik kapal nelayan. Terjawab sudah pertanyaan saya, mengapa kapal motor harus berbelok dulu sebelum mencapai tujuan, agar bisa berkawan dengan angin dan menuju tujuan dengan selamat.

Horeee.. Punya foto saat menjadi Nahkoda kecil. Trims Engrid.

Lisa liat sini !!! | Ga bisa engg ini anginnya kenceng | Sebentar ajaa liiss | Jangan jangan, taruhannya nyawa men (lebay), nih tanganku aja, peace v^^

Walaupun saya masih ingin mengemudi hingga ke titik nol (tempat semula), tapi saya harus bergantian dengan yang lain hihihi. Karena Engrid dan orang berkaos merah ini tidak mau mengemudi, pak Toha pun mengambil kemudi dan memutuskan untuk segera pulang. Mengingat bayi-bayi ikan beliau belum dikasih makan, selain itu sekarang sudah lewat jam makan siang. Saya pun melanjutkan mengabadikan pemandangan aktivitas kapal besar di tengah laut.



Ditengah perjalanan pulang, pak Toha mengagetkan kami semua dengan suaranya. Beliau meminta saya untuk memfoto sebuah kapal yang diduga menjadi penyebab utama kematian massal ikan kerapu cantang karena aktivitas pengerukan lumpur yang mereka lakukan.

Saya teringat akan mata kuliah Pencemaran : Jika terjadi pengadukan lumpur, maka zat-zat berbahaya yang mengendap didasar perairan akan terangkat kepermukaan. Dan jika angin dan arus membawa lumpur yang teraduk tersebut menuju daratan, maka secara langsung mengenai wilayah budidaya keramba jaring apung. Zat dan partikel yang terkandung dalam adukan lumpur menyebabkan ikan stres, bakteri oportunis berubah menjadi bakteri jahat menyerang ikan dan kemudian terjadilah kematian massal.


Sayangnya pak Toha tidak bisa menuntut kapal tersebut, karena pada saat kejadian pengadukan lumpur, kurangnya pengetahuan nelayan dan minimnya bukti menjadi dasar tidak bisanya mengajukan tuntutan. Namun sangat disayangkan jika aktivitas kapal ditengah laut merugikan bagi nelayan sekitar. Ini bisa menjadi sebuah pelajaran bagi pemerintah agar tidak hanya mendukung sektor usaha besar seperti kapal-kapal besar ditengah laut, namun juga harus tetap memperhatikan kesejahteraan dari kehidupan nelayan tradisional.

Setelah selesai memarkirkan kapal pengawas ini, kami bergegas kembali ke rumah bapak dengan diantar pak Aris. Pak Aris tidak bisa mampir karena masih ada pekerjaan lain yang menunggu. Saya dan Engrid pun ikut berpamitan pulang karena hari hampir sore. Tinjau keramba dan ikan kerapu cantang pun dilanjutkan di lain kesempatan yang sudah ditentukan.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Segitu dulu cerita kali ini. Terima kasih temans membaca artikel ini sampai akhir. Semoga bermanfaat.
Saya sangat ingin mendengar komentar temans setelah membaca. Silahkan, temans bebas berkomentar apa saja namun harap tetap menjaga kesopanan.
Sayang sekali komentar dengan subjek Anonymous akan terhapus otomatis, jadi mohon kesediaannya untuk memberi nama asli ya.
Terima kasih ^^.
Love, Lisa.