Inner Child, Ekspektasi, dan Secuil Dunia Sekolah Taiwan : untuk Saya dan Kia



Dear parents, bagaimana sih jadi orang tua yang benar?

Pertanyaan ini selalu berputar-putar dikepala. Dan lima tahun saya jadi orang tua, saya belum menemukan jawaban yang tepat.


Saya jadi teringat masa kecil, saya yang sekarang tersentil dengan postingan seorang teman yang saya kagumi kejeniusannya dalam mengelola pikiran dan tenaganya sehari-hari untuk mengurus suami dan ketiga anaknya. Bagaimana cara beliau mengurus itu semua? Pernahkah kepala dan hati beliau meleduk karena kelebihan beban plus kecapekan fisik?

Postingan beliau menyinggung tentang inner child yang tak membahagiakan. Saya tersentil, namun sedang berusaha tak membiarkan jadi berlarut-larut.


Hari pertama Kia sekolah, saya memiliki ekspektasi tinggi, padahal jauh jauh hari saya sudah mbatin : dia cuma anak-anak Lis, jangan naruh harapan terlalu tinggi, nanti bisa jadi keberatan tuntutan ke dia. Biarkan anakmu jadi anak-anak dan dewasa sesuai usianya. Jangan jadikan masa kanak-kanaknya cerminan masa kanak-kanakmu yang penuh tuntutan dan harapan itu. Jangan...

Terlalu banyak jangan, justru jadi lupa, bagaimana cara menghindari sebuah kubangan. Terlalu banyak jangan, justru jadi tinggi ekspektasi.


Public school di Taipei adalah tempat idaman saya untuk menyekolahkan Kia sedari dua tahun lalu, sedari Kia masih berusia dua tahun. Lantaran saya suka kedisiplinan sekolahnya. Khas orang Taiwan, kalau aturannya A ya pasti A.


Kia diterima di Public School terbagus di Banqiao District (menurut teman satu lab mas husband--yang merupakan alumni SD si Public School ini--pun dalam pendaftaran masuk sekolah Kia, temannya inilah yang membantu dari awal). Semua persyaratan sudah dipenuhi, semua peralatan sekolah sudah disetorkan. Tinggal masuk aja nih--kelas Snopi A. Lalu semua runtuh setelah pertemuan asosiasi orang tua wali murid. Mas husband yang datang ke pertemuan tersebut dan saya mendengarkan cerita do'i dengan seksama.

 


 

A : Anak saya tidak makan babi.
T : Ah.. (garuk-garuk kepala, mikir namun tak menemukan solusi). Bagaimana ya, makan siang kami dumpling dan pakai daging babi. Bagaimana kalau sayuran?
A : Ya itu lebih baik.

Bukan maksud kami sebagai orang tua 'foreigner' yang cerewet membebani guru-guru Public School tersebut. Ibarat kata seperti pengalaman kami saat menginap di hotel, jauh-jauh hari saat booking sudah bilang sarapannya ngga mau menu babi, selain itu oke, dikasih hanya sayuran vege pun no problem, ternyata di hari H menunya babi semua karena chef nya tidak diingatkan kembali kalau satu penghuni kamar pantang makan babi, kami batal sarapan pun masih bisa cari makan diluar dan ga masalah uang sarapan hangus. Nah kalau dikata anak-anak yang setiap harinya datang ke sekolah dan belajar dan tinggal makan saat jam istirahat siang, iya kalau juru masak sekolahnya ingat kalau ada satu muridnya ngga makan babi, lha kalau lupa, mana ada juga yang ingetin juru masak kan, semua punya tugas masing-masing. Naudzubillahmindzaliik.

For your information, makan babi di Taiwan seperti makan ayam di Indonesia. Lumrah.

Tak ada pembicaraan mengenai bekal dari rumah, lack of language kendalanya, udah saat itu juga langsung kami putuskan untuk tidak memasukkan Kia ke sekolah umum. Hati jadi tak tenang dibuatnya.


Mas husband memutuskan satu hari libur untuk mengurus semuanya. Banting setir, cancel kontrak sekolah dan semua peralatan sekolah Kia dari Public School diboyong ke Islamic School. Biarlah dikata si Islamic School punya jarak jauh dari rumah, akses susah karena harus oper-oper MRT. Namun hati tenang dan ikhlas karena sekolah ini punya visi misi sekolah islam. In sya allah...

Memang masalahnya hanya karena si babi, kami urung niat memasukkan Kia ke Public School. Menyesal dan eman sebenarnya, karena disiplin sekolah yang saya suka. Tapi jika kami sebagai orang tua lalai akan ini dan tanpa sengaja anak makan babi, maka kami lah yang pertama dan langsung terjun bebas ke neraka dibuatnya. Naudzubillahmindzaliik..

 


Hari pertama Kia sekolah di Islamic School, saya tak serta merta meninggalkan dia. Walau disini ada peraturan anak sekolah 'tidak boleh' ditunggui orang tua, tapi karena diijinkan oleh laoshe nya, tak apalah tunggu sejam dua jam sambil lihat kondisi sekolah. Dan saya terkaget-kaget dibuatnya.


Seorang anak laki-laki yang sangat aktif melintas dihadapan saya. Tanpa permisi tanpa sapa. Dia hanya tertunduk, matanya terlihat kosong namun pikirannya terisi, dan gerakan tangan kakinya lincah bak mesin--tak terkendali. Saya mengenalinya karena dia anak seorang teman. Ibunya adalah yang paling pintar diantara kami, lanjut sekolah di kampus nomor satu Taiwan. Bapaknya pun lanjut sekolah sama seperti Ayah Kia, mereka berkawan dari lama sepertinya, mungkin kenal saat sama-sama S2 disini.

Kelihatannya tak ada seorang guru pun yang mampu mengendalikannya, atau mungkin tak ada seorangpun yang mampu mengendalikan kelincahan tubuhnya. Seketika pikiran saya KLIK, anak ini butuh perhatian bukan suruhan. Ada banyak kabut dipikirannya, berharap orang terdekatlah--yang selalu ada dihatinya yang membantu menolong menghempaskan kumpulan kabut tersebut. Namun entahlah, dia terlihat tidak puas akan keinginannya atau kebutuhannya.

 

Saya KLIK, karena mendadak saya teringat Kia. Tingkah laku Kia di hari pertama dia sekolah membuat saya terkaget-kaget, kenapa ngga jauh berbeda dengan anak laki-laki tadi? Saya jadi spontan membandingkan dia dengan teman seusianya yang patuh dan selalu mengerjakan apa-apa yang laoshe minta. Padahal saya yakin teman seusianya pun juga sedang belajar bahasa Zhongwen dan English saat ini, dan itu lumayan bikin stress anak-anak karen harus belajar tiga bahasa sekaligus.

Padahal saya sudah menurunkan keperfeksionisan saya akan tuntutan untuk anak. Padahal padahal padahal, jangan jangan jangan.

 


 

Sejatinya, Kia always do best behaviour at home, bantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, bantu membereskan mainannya sendiri, bantu menjaga adiknya, diminta atau tidak. Entah mengapa, saat di sekolah, saat bertemu dengan teman-teman dan ada banyak mainan, dia hanya mau main main dan kurang bisa duduk tenang untuk berkonsentrasi. Walaupun memang dia masih anak-anak dan mas husband memaklumi itu. Sharing dengan Ibu-Ibu yang lain, rupanya memang Kia tidak sendiri, beberapa teman-temannya pun juga menunjukkan perbedaan perilaku ketika di rumah dan di sekolah. Laoshe nya bilang, ini wajar, terkadang anak-anak butuh adaptasi untuk berkonsentrasi sekitar satu minggu lamanya, minimal. At least, Kia anaknya pemberani, dia bahkan tidak keberatan ditinggal, tidak menangis dan tidak rewel. She is fun and such positive girl, kata laoshe nya, ngga jarang Kia suka bikin guru-gurunya tertawa bersamaan disela pelajaran berlangsung.

((Tarik nafas, buang nafas)). Ada positif ada pula negatifnya. Saya yang sifatnya idealis lagi introvert lagi perfeksionis ini sejatinya ingin menyeimbangkannya. Ingin membiarkan Kia dengan sifat dagelan dan positifnya, namun juga tak ingin Kia kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah. Sangat sangat berharap dia punya grafik naik terhadap semangat belajarnya.


Dear parents, sekali lagi saya ingin bertanya, bagaimana kah cara menjadi orang tua yang benar?


Sejatinya inner child saya menghantui. Menghantui saya, membuat saya selalu tidak puas akan keputusan diri sendiri, membuat saya selalu merasa bahwa diri ini belum selesai urusannya mengapa harus bergegas menyelesaikan urusan orang lain--anak sendiri? 

Clue, Ibu saya seorang wanita mandiri dan diktator dan tak bisa ditekuk keinginannya. Dan saya yang sekarang mungkin menjadi cerminan beliau. Walau saya selalu meminta saran, pandangan dan pemikiran mas husband,, nampaknya saya terlalu bebal pikirannya. Kalau sudah A ya A.

Apakah ada yang menyarankan, sembuhkan dulu pikiran dan hati dari bad inner child yang menghantui? Believe me, saya pun sudah sejak lama memikirkan ini. Tapi sebanyak apapun buku, referensi, story parenting yang saya baca,, saya pun jadi seolah tak mengerti apa-apa tentang ini.


Dari lubuk hati terdalam, saya sangat sayang anak saya dan tak ingin dia jadi cerminan saya yang punya masa kecil tak bahagia. Saya tak ingin jadi diktator karena saya ingin punya prinsip burden free life. Tapi saya sangat concern terhadap pendidikan anak. Saya ganas kalau berhadapan dengan yang namanya belajar dan saya ingin Kia meniru saya.

Dear hati, dear pikiran, berdamailah.. Kita seorang diri dinegeri orang. Kita ngga punya siapa-siapa selain diri ini. Kita harus bisa mengandalkan satu sama lain.

Dear anakku sayang, Ibu yakin kamu pandai, Ibu bisa lihat kamu selalu antusias terhadap buku; membaca dan bersosialisasi dengan teman-teman. Ibu harap kamu bisa menemukan jalan untuk menyeimbangkannya. Ibu hanya memberikan wadahnya saja, berharap kamu bisa memanfaatkan dan mengisi wadah tersebut dengan sesuatu yang berguna. Maafkan Ibu yang penuh tuntutan ini..

Dear my mom, I know your life was hard. Really hard so you could not enjoy every second in your life with little happiness. And forgive me always made your life harder.


Dear parents, sejatinya tak ada yang bisa mengukur dan memastikan cara menjadi orang tua yang benar. Karena apa, karena kita berhak salah dan berhak belajar untuk jadi lebih baik. Karena menjadi orang tua adalah suatu proses yang dijalankan seumur hidup. Karena menjadi orang tua bukanlah seperti ajang kompetisi, tak boleh ada yang namanya menghakimi dan merasa menjadi benar.

With ❤️,

From Lisa dan duo singkek.




#SingkekKriwul Vaksin Covid Dosis Pertama, Katanya : Asyiiikk!

Sembilan hari sebelum vaksin...

L : (buka chat bundar ijo, ketik teks) Ayy, suda daftarkan Kia vaksin?
N : Mana bu? (baru balas sejam kemudian--bikin bete', why? karena do'i online sosmednya sepanjang hari) Oiya, done ya! (kirim skrinsut sukses daftar, jam dan tempat vaksin).

L : (cuman intip notif dari status bar, masih bete' wkwk) Kakak, Jum'at depan vaksin ya..
K : (diam mencerna--ingat ingat kata vaksin dengar darimana dan kapan)
L : Nanti sakit nylekit dikit, gapapa, bentaran juga hilang sakitnya, ya?
K : (mendadak ngangguk dengan wajah cerah sumringah--nampaknya suda ingat kapan dengar kata vaksin dan apa yang bikin dia hepi saat pergi vaksin) Iyaa, Kia mau vaksin..!

Serius dia seneng? Dia ngerti apa engga ya kalau suntik itu sakit wkwk.



Sepuluh hari sebelum vaksin...

Tahun keempat berada di Taiwan, saya merasakan lebih banyak membaur dengan teman-teman Indonesia dan lebih banyak waktu untuk dicurahkan pada anak-anak. Waktu saya sehari-harinya digunakan untuk bermain (haha) dan mentelengin grup playdate yang isinya masya allah ya (sezuzurnya) berat lagi manfaat. Mengapa berat? Anggotanya berilmu semuah, sering share informasi apapun tentang Taiwan. Termasuk tentang vaksin untuk toodler ini.

Terima kasih untuk mbak Aisyah, salah seorang Ibu hebat yang disela waktu sibuknya mengajar sang buah hati juga menyempatkan sharing informasi (apapun) yang sangat-sangat bermanfaat untuk para anggota grup playdate.



Hari H #SingkekKriwul vaksin covid...

Engga seperti teman-teman lainnya sebelum vaksin yang takut dengar akan disuntik, Kia malah kegirangan and remind me all the time dengan suara khasnya, "Ibuu, hari Jum'at nanti naik kereta terus Kia mau vaksin...". Malah justru anaknya lho yang ngingetin saya.

Dari pagi, dia sudah bangun sendiri (dan bangunin Ayahnya) buat siap-siap berangkat.

L : Mau kemana kak... Tumben uda bangun?
K : Mau vaksin dong~

Kami berangkat vaksin naik kereta sementara mas husband naik motor. Pikir saya, takut Kia tepar atau bagaimana bagaimana setelah vaksin, baiknya dia pulang naik motor biar cepat sampai rumah. Saya minta mas husband berangkat dulu untuk sholat Jum'at kemudian menyusul kami di klinik tempat Kia vaksin.

Cuaca begitu terik masya allah tak ada awan dan angin sama sekali. Sampai di klinik kami sama-sama nggobyosss (terutama si embul Meilin yang bersantai rebahan di strollernya--berjemurr ya bu gemooyyy). Kami dipersilahkan untuk menunggu (dan duduk) di kursi-kursi yang telah disediakan tepat didepan klinik. Tiba-tiba suasana pecah karena tangisan anak yang mau disuntik (yang melarikan diri--lalu ditangkap dan digendong Mamanya). Suara tangisannya melebihi suara motor sama bus yang lalu lalang didepan klinik. Saya geleng-geleng sambil nyengir, lalu melirik #SingkekKriwul dan memperhatikan mimik wajah plus gerak gerik tubuhnya.

Anaknya mulai panik pemirsaaahhh. Wajah Kia mulai bingung dan dari gerakan duduknya dia mulai resah. Saya diminta salah seorang petugas laki-laki berkulit putih dengan kemampuan English yang yaa lumayanlah (ngga sombong ya saya, saya juga masih lumayan koq wakakak) untuk mengisi data Kartu Kuning. Karena Kartu Kuning vaksin covidnya sama seperti punya saya, saya pede untuk ambil dari tangan dia dan mau isi. Ehtapi petugasnya ngga ngebolein, katanya biar dia yang isi. Baiquelah..

Dia tanya saya jawab. Selang beberapa kolom sudah diisi, lalu terkendala dia bingung karena melihat shenfenzheng (ARC) dan cienpoka (NHI) Kia berbeda nomor ID. Saya jelaskan bahwa memang ini dari government, saat perbaruan ARC tahun lalu nomor ID kami diubah namun dibilang kalau kartu NHI masih dapat digunakan walau berbeda nomor ID. Solusinya, pengisi data juga harus mencantumkan nomor paspor di Kartu Kuning. Tapi nampaknya si petugas tidak mengerti, tidak mengerti ada aturan itu atau tidak mengerti yang saya katakan (please don't laugh too hard). Si petugas meminta saya tunggu sebentar, dia masuk ke klinik.

Balik-balik, si petugas tadi tidak membawa Kartu Kuning (yang kelak akan dibawa Kia kalau ke luar negeri itu #etdaaahh dasar cita-cita si Ayah yang always sounding-sounding nyuruh anaknya kuliah di Eropa--dan diaminin Ibunya aamiin ya Allah, mohon di aamiin kan juga ya temans pembaca tersayang). Dan melanjutkan bertanya untuk mengisi identitas, kali ini di kertas putih yang full of huruf tak-kotak. Ngga banyak komentar deh saya, karena sudah jelas ngga bisa baca hurufnya wakakakak.


Usai isi identitas, si petugas meminta untuk Kia bersiap masuk ke dalam klinik. Mas husband langsung ambil Meilin dari stroller sambil bilang, "Ayah takut Ibu aja~". Belum ditanya lho ya padahal, ya ngga mau tanya juga sih, karena pasti jawabannya begitu kalau giliran anak-anaknya vaksin. Okay strong mommy nganterin anaknya dicubles #ehh.

Dengan percaya diri Kia masuk ke dalam klinik. Tapi ngga sampai sedetik dia tolah toleh, bukan karena melihat Ibunya tapi bingung mao kemana ini tempat baru. Iya yuuu, sini Ibu pandu. Kami masuk ke salah satu ruangan dimana seorang dokter perempuan (mungkin berusia 40-50an) masih cantik dan segar sedang duduk dan menyambut kami. Dua orang perawat bertugas mengarahkan Kia dan saya. Satu diantaranya mempersilahkan Kia duduk didepan dokter dan perawat yang lain mempersiapkan vaksinnya. Bu dokter menjelaskan dengan bahasa Zhongwen, untung saya mengerti konteks perkataannya ya Allah, alhamdulillah. Lalu beliau bilang, "ni ting tong ma? ting pu tong?". Saya meringis mengangguk, " wo ce tao itian a..", lalu mengeluarkan jurus kalimat andalan, "ni keyi ingwen ma?".

Bu dokter tertawa sinis dan nampak berat menjelaskan dengan English, 'entah tidak bisa' (masa dokter ngga bisa, literatur buku yang dia baca saat sekolah dulu apa engga ada yang berbahasa Inggris #ehh) atau 'enggan berbahasa Inggris' (beberapa paramedis termasuk dokter di Taipei melakukan tindakan diskriminasi karena yang dihadapannya adalah orang Indonesia dan berjilbab, tidak banyak memang tapi saya mengalaminya beberapa kali dan saya tandai orang seperti itu untuk tidak kembali berkonsultasi lagi--saya menghormati tindakan tersebut karena kami memang minoritas tapi dokter banyak kok pilihannya ngga hanya kamu).

Satu perawat memperlihatkan sebuah tabung kecil yang bertuliskan vaksin yang akan disuntikkan ke Kia, perawat yang lain menggulung lengan baju Kia, sementara dokter masih berceramah yang entah apa artinya karena saya tak lagi tertarik mengartikannya--perhatian saya lebih mengawasi tindakan perawatnya yang tiba-tiba sudah menyiapkan suntik dan siap menyuntik Kia. Kia masih melihat dokter yang memberinya stiker untuk mengalihkan perhatiannya. Dan JRUSSS, Kia langsung menoleh dan menarik tangannya karena merasa kaget (mungkin juga sakit). Beruntung saya pegang tangan dan bahu Kia sesuai instruksi perawat. Dari semua tindakan ini yang paling saya sesalkan adalah, saya tidak sempat melihat bagaimana perawat mendistribusikan cairan vaksin dari tabung ke alat suntik, karena mereka melakukannya jauh dari pandangan. Biasanya kalau anak-anak vaksin, diperlihatkan ke orang tua cara pendistribusiannya. Dengan begitu orang tua akan yakin kalau alat suntik yang akan dicubles ke anaknya benar terisi cairan yang sebelumnya sudah diberi tau. Laa khaula walaa kuwwata illah billah...


 

Keluar dari klinik, #SingkekKriwul masih aman, ngga nangis. Lalu dia duduk disebelah mas husband. Mas husband terheran-heran, "Lho kok sudah? Kok sepi?". Saya mengernyitkan dahi, "Lha maksud bapak harus gaduh gitu?". Engga tau apa suasana hati istrinya ini masih janggal sama suntikan tadi. #SingkekKriwul nyeruput naichaa favoritnya, ngga brenti-brenti. Berhentinya pas ada titi (adik laki-laki), cece (kakak perempuan), dan meme (adik perempuan) yang duduk disekitar dia menunggu untuk di vaksin. Dengan ramahnya dia menyapa setiap orang, seolah-olah lupa sama suntikan yang tadi mengagetkannya. Ibunya tepok jidat aja deh.


Bagaimana keadaan #SingkekKriwul setelah vaksin?

Alhamdulillah berangkat pulang no drama. Malahan yang paling semangat menerjang matahari si yang mau vaksin. Kebetulan jam vaksin Kia agak nanggung, nanggung mau kemana-mana. Jam dua-jam tiga siang kalau di Taipei pas summer begini seperti jam 12 siang kalau di Indonesia, matahari yang gagah dengan sinarnya yang bikin mata makin segaris tepat ada diatas kepala kita. Ditambah tak ada angin segar lewat, lihat forecast di smartphone suhu real feels nya 47 derajat celcius. Uda mirip di Arab ya pemirsah...

Saya masih ingat, satu bulan yang lalu saat Kia vaksin bebarengan dengan heat waves yang melewati Taiwan. Suasana super duper panas ini bikin kami cepat haus dan ingin nyamil. Mas husband enggan langsung pulang naik motor, diputuskanlah untuk jalan-jalan dan jajan disekitar klinik (area Taipei--Technology Building MRT Station--Brown Line).

Tertangkap sepenglihatan saya, sepanjang waktu jalan-jalan, dia riang gumbira seolah-olah lupa kalau abis vaksin. Dan yang paling bikin saya senyum-senyum sendiri ketika Kia menyapa titi, meme, cece yang sedang menunggu untuk di vaksin. Paling tidak keramahannya ini tidak membuat mereka panik sebelum vaksin dan membantu meringankan kerepotan orang tua mereka kalau-kalau anaknya menangis karena akan disuntik. Bagaimana bapak walikota Taipei, apakah mempertimbangkan Kia sebagai duta vaksin anak? xixixi.

Satu hingga tiga minggu setelah vaksin, #SingkekKriwul juga tidak menunjukkan adanya KIPI atau rewel atau bigimana bigimana, alhamdulillah... Saya tanya beberapa teman dari grup playdate yang putra putrinya vaksin di waktu yang sama dengan Kia pun juga menjawab hal yang sama : tidak ada masalah kesehatan setelah vaksin. Bismillah, makin mantab untuk mengajukan vaksin covid dosis kedua untuk Kia dan dosis pertama untuk Meilin saat bukaan registrasi lagi. Dokter tadi mengatakan selang dua puluh delapan hari bisa daftar lagi untuk dosis kedua, siappp, alhamdulillah beliau memakai English akhirnya...

Salah Kereta, Mbak TKI, dan Jiufen di Malam Hari

Ini perdana Meilin jalan-jalan jauh!

Hari ini hawa summer turun beberapa derajat karena hujan turun seharian beberapa hari kebelakang dan kebetulan hari ini cuaca pun cerah. Diputuskanlah main agak jauhan karena boszan sama suasana gedung-gedung Taipei. Awalnya mau main ke area pantai di Keelung, mau naik log car manual (log car yang digowes) sambil menikmati suasana pantai dan gunung. Namun karena untuk pengurangan penyebaran covid, wisatanya ditutup selama beberapa bulan dan kembali buka besok lusa alias dua hari lagi. Kan ingin menangis tertawa jadinya, kembali buka koq ya pas bukan hari libur kami.

Walau tempat wisata yang ingin dituju tutup, jalan-jalan ENGGA BOLE BATAL dong. Belok lah rencana menjadi ke Jiufen (via Ruifang Station).

 

Baik menuju ke Keelung Station maupun Ruifang Station, bisa ditempuh dengan kereta TRA. Tiketnya bisa dibeli melalui website Taiwan Railways atau di mesin tiket di stasiun TRA. Kebetulan rumah kami dekat stasiun TRA, jadi terbiasa kalau bepergian ke luar Taipei sukanya beli tiket on the spot.

 

Judulnya nekat salah pilih kereta!

Kereta menjadi moda transportasi utama di Taiwan bagi kami kalau mau kemana-mana. Jalurnya dan jadwalnya tetap, aman dan nyaman banget. Seringnya kalau jalan-jalan dalam kota kami lebih pilih naik MRT daripada bus. Alasannya dua : saya mabok naik bus dan saya bawa stroller. Even pak supir bus menawarkan untuk menurunkan suspensi busnya ketika melihat saya nenteng #SingkekKriwul dan bawa stroller yang isinya #SingkekLurus saat akan naik busnya, kadang juga dibantuin orang lokal buat naik bus, tapi kembali ke alasan nomor satu. Kalau ngga kepepet ya ngga naik bus haha.

Kalau kereta MRT melayani penumpang dalam kota Taipei dan New Taipei saja, plus jalur keretanya yang kebanyakan berada underground dan upperground. Kalau TRA melayani penumpang luar kota, dari Taipei menuju ke Kaohsiung (selatan Taiwan) melalui pantai barat kemudian berlanjut kembali ke Taipei melalui pantai Timur. Apa bedanya lagi sama kereta HSR? HSR ini kereta super exclusive, kereta cepatnya Taiwan yang jalur keretanya dari Taipei ke Kaohsiung hanya di pantai timur saja. Horang-horang lokal Taiwan suka serba cepat, that's why diciptakan HSR.

Menuju ke Jiufen, kami naik kereta TRA. Kereta TRA ini banyak macamnya, ada yang lokal dan ada yang express. Kereta lokal bernomor punggung 4digit berhenti ditiap stasiun yang dilalui. Sementara kereta yang express bernomor punggung 3digit berhenti hanya dibeberapa stasiun saja. Pengalaman-pengalaman sebelumnya, saat main ke daerah timur Taiwan, kami memilih local train pulang pergi dan sejatinya bikin capek lan mumet dijalan. Kali ini kami ingin memilih kereta express. Sayangnya saat di Banqiao Station, pilihan kereta on the spot yang kami beli di mesin tiket dekat pintu gerbang TRA hanya ada opsi local train. Huft.

Sesampainya di platform kereta, tolah toleh, lha koq kami turun di platform Southbound wakakak. Salah pak-lek, seharusnya naik kereta di platform Northbound. Kami naik lagi keatas dan berlari ke arah seberangnya. Buru-buru sih masuk elevator sampai ngga lihat tulisan platform segede gambreng gitu. Untung ngga nekat, kalo nekat pasti kami sudah dibawa kereta menuju Kaohsiung wkwk.

Sampai di platform Northbound, kami berhenti sejenak untuk melihat layar yang menampilkan jadwal keberangkatan kereta. Ngga bisa baca huruf Zhongwen, kami hanya melihat digit angka kereta dan tujuannya. Pun ditiket kami ngga ada tulisan nomor kereta ato jam keberangkatan, yang bisa dimengerti cuman tulisan 'local train'. Disinilah ide nekat mas husband muncul!

See, sepanjang perjalanan ini gerbong ya ngga pernah penuh

 

Jujur saya ngga setuju banget ya, hati terasa galau tapi males gitu ngedebat cowo satu ini (padahal dulu jaman pacaran saya juara kalo debat sama dia wkwk--pas uda punya anak jadi males gitu--lihat yang udah udah saya muzti ada benarnya, coba aja liat kali ini). Kami menunggu kereta 3digit Northbound, selang 25menit lamanya.

Sudah masuk kereta 3digit dan sepanjang perjalanan perasaan waswas menghantui, kalau kalau ada penumpang yang mengklaim tempat duduk yang kami tempati, kami sudah siap pindah. Jadi tiap stasiun berhenti, kami resah wkwkwk, resah kalau ketahuan ini bukan tempat duduk kami lalu disuruh pindah. Mas husband meyakinkan, "Aku berani gini soalnya ngga banyak penumpang bu, coba rame ya ngga berani", sambil cengengesan.

Underground, kereta kami melaju dengan cepat, berhenti di Taipei Main Station kemudian Songshan. Ular besi ini naik ke permukaan setelah keluar dari area Songshan Station. Menuju ke timur dan berhenti di Xidu Station kemudian Badu Station. Selanjutnya ke Ruifang Station, tempat kami turun kereta. Pemandangan yang disuguhkan berubah bergantian dari yang hanya gelap--dinding lorong bawah tanah lalu saat naik ke permukaan terlihat kepadatan gedung-gedung pemukiman, lalu gedung-gedung pabrik, lalu hijaunya pepohonan dan sawah.

Turun di Ruifang saya merasakan kelegaan, alhamdulillah ngga ketahuan atau mungkin disuruh turun kereta karena naik kereta yang tidak seharusnya (pliss saya sarankan untuk tidak meniru ini yaa plisss). Keluar platform, kami disuruh meletakkan tiket kereta di tempat yang disediakan. Mas husband sambil menggandeng Kia keluar duluan, saya sambil mendorong stroller (yang isinya #SingkekLurus tidur) menyusul dari belakang.

Tiba-tiba seorang petugas perempuan keluar dari kantornya (persis diseberang tempat meletakkan tiket) mencegat saya dan mengatakan sesuatu dengan bahasa Zhongwen. Perasaan saya mendadak ngga enak.

"Ni ke yi ingwen ma?", tanya saya. "Ah, you just take the Yang Tze train? But your ticket say it's supposed to be local train?". "Oh I'm sorry, we don't know about that, the ticket doesn't tell us about the number of the train so we just took random train, really sorry..."

Saya melirik mas husband yang berbalik kemudian berjalan menuju kami--lalu terhalang oleh pintu platform. Mereka menunggu dari balik pintu.

Kena deh~

 

"So you have to pay the rest of the fee, is it okay?", tanya petugas tadi. "Ya ya of course, please, we were wrong". "It takes sixty six both of the ticket", kata dia setelah menunjukkan kalkulator. Tanpa banyak bicara saya langsung mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang. Setelah diterima, saya meminta maaf lagi kemudian bergegas pergi. Untuuuunggg ngga rame yaaa, kalau rame, malu atuuhhh xD.


Ketemu mbak TKI yang sama ditempat yang sama

Ini kali kedua kami ke Jiufen. Pertamanya ditahun 2019 dan sejatinya kurang menikmati suasananya karena berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Kali ini suasananya sepi dan enak banget gitu "dibuat healing" wkwk.

Di salah satu toko dekat pintu masuk kawasan Jiufen Night Market, saya teringat pernah bertemu dengan seorang mbak TKI. Sayangnya saya lupa wajah dan namanya wakakak payah nih ingatan ibu dua anak. Kira-kira ketemu lagi ndak ya? Dan kalau ketemu, kira-kira sama-sama ingat ngga yaaa?

Kami masuk kawasan night market, celingak celinguk kanan kiri dan yak bertemu lagi sama mbak tersebut. Kami berbincang akrab sejenak, dan Kia dikasih eskrim yummy! Kami kasih uang ngga boleh, masya allah baik banget mbaknya... Kebaikan akan selalu kembali ke yang melakukan.


Main sampai malam di Jiufen. Nginap? Pinginnya...

Sebenernya ngga ada niatan kami main sampai malam. Tapi pemandangannya yang mencegah kami untuk pulang.



Suasana sepi gini agak mencekam terasa saat hari mulai gelap. Toko-toko bergantian tutup seiring dengan sepinya pengunjung. Lalu mas husband tertarik masuk ke salah satu kedai di Jiufen dalam. Terlihat ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati hidangan sore diserambi yang terhubung langsung dengan tebing Jiufen. Tebing Jiufen???

 Inginnya pegangan disitu kek orang sebelah, tapi ngefoto gini aja uda bikin kaki gemeteran..

 

Ini yang dipengen mas husband : makan ditebing Jiufen. Walau berada diserambi rumah orang dan ada pagar pembatas, tetep diri ini ada rasa takut aja. Apa karena uda jadi Ibu dua anak ya, banyak khawatirnya. Padahal dulu bahkan diri ini sering naik turun gunung dan nyelam di laut, ya leluasa banget ngga ada rasa waswas sama sekali,, namun kini banyak takutnya...hiks.

Pesan apa ya? Waffle, mango juice, iced coffee dan pistachio nuts.



Satu persatu pesanan datang, mari dinikmati sambil menyaksikan matahari tenggelam yang ketutupan kabut. Kabut yang datang hampir menutupi pandangan kami! Yang diinginkan kabut membawa udara sejuk, nyatanya hawanya makin sumuk ya allah... Ngga ada angin segar sama sekali lho, gini amat summer ya... Alhamdulillah sehat berkeringattt.. Beruntung pemilik kedai langsung memasang kipas angin saat kami baru duduk. Jadi lumayan lah, lumayan...

 Meilin, senyum dikit donk kek kakak... Pliss ini foto keluarga wkwk.

 

Makanan kami habis dan Meilin mulai fussy--alarm minta pulang. Mas husband bergegas membayar makanan dan mampir ke kamar mandi. Amma (panggilan untuk seorang perempuan lanjut usia dan berkeluarga, kalau kita biasa panggil nenek) pemilik kedai nampak senang melihat Kia dan Meilin. Saat Meilin ganti popok distrollernya, beliau nungguin dooonkkk. Mau ngusir tapi ini kedai dia, dibiarin juga ngga nyaman gitu diliatin terus Meilinnya. Udah saya bismillah aja cuek dan cepat-cepat beresin ganti popoknya. Sudah beres, beliau menawarkan untuk membuangkan popoknya. Masya allah, saya antara setengah ngga rela dan setengah terperangah emejing (mengingat kebanyakan orang lokal tak suka anak kecil).

Keluar kedai, gelap gulita teman-teman. Jalanan Jiufen uda mirip jalanan yang kayak difilm-film vampir gitu : hanya ada lampion-lampion berwarna merah yang menerangi. Mana rintik hujan mulai turun, kami terang mempercepat langkah kaki menuju pintu night market. Pulang deh ke Surabaya, eh Banqiao via stasiun Ruifang.


Walau jalan-jalan lumayan jauh, Meilin bisa dikondisikan. Asal perut dia kenyang dan ngga brenti lama, dia bakal anteng wkwkwk. Alhamdulillah. Yuukk ayy, biasain Meilin jalan-jalan jauh yuk hehe #colekmashusband.


Artikel ini spesial pake telor karena ada video yutub ke Jiufen yang dibikin mas husband. Abis baca artikel lalu lihat video, semoga bisa memanjakan mata dan imajinasi teman-teman ya. Selamat menonton ^^.


 

 

 

 

Abdu Arabian Cuisine - Restoran Halal Dekat Kampus Populer Taiwan

Abdu Arabian Cuisine - Kami baru dua kali makan ditempat dan selalu kebayang berada di padang pasir saat mencicipi hidangan benua Arab! (Emang Arab sudah jadi benua lis?)

 


 

Jangan khawatir ngga makan kalau di Taiwan!

Walau Taiwan terkenal 99,99% makanannya ada unsur b*bi nya, mencari makanan halal di Taiwan kini tak sesusah dahulu. Empat tahun yang lalu, tiap kali kami bepergian kemudian ingin makan, opsi kami tak lebih dari tiga : makan makanan vege (yang sama sekali tak cocok di lidah #SingkekKriwul wakakak) ATAU makan di gerai junkfood yang mendunia dengan pilihan makanan kalo engga daging ya ayam ATAU makan di rumah (ini yang paling aman). That's it. But now, you can find at least one halal restaurant in each of district. Bahkan ada lebih dari satu resto halal yang exist dalam satu distrik. Seperti di distrik Da'an ini.

Pemerintah Taiwan yang sudah mendukung penuh pariwisata ramah muslim ini (bahkan di kementrian pariwisatanya sudah ada divisi yang menangani muslim friendly tourism lho), ditambah semakin banyaknya foreigners muslim yang belajar, membuat pengusaha muslim dibidang makanan tergerak untuk berbisnis restoran dengan hidangan halal. Dan busssstttt! Pesat sekali bertumbuhnya. Dan juga dewasa ini banyak orang lokal setuju bahwa makanan halal itu menyehatkan badan, tak ada salahnya mendukung dan mencoba menunya.

Di distrik Da'an ini, terdapat dua kampus populer ibukota : NTU dan NTUST. Saking populernya ditambah pula kampus tersebut menyediakan beasiswa untuk foreigners, tentunya menjadi jujukan para mahasiswa asing untuk menempuh pendidikan. Dan restoran halal dekat kampus ini menjadi warna tersendiri untuk para mahasiswa karena harganya yang ramah kantong.


Kenalan sama Abdu yuk

Abdu Arabian Cuisine adalah restauran yang mengusung suasana Timur Tengah ditengah kawasan kampus Taipei. Ownernya pasangan suami (asal Arab Saudi) dan istri (asal Taiwan). Letak Abdu ada di kawasan Keelung Rd, antara kampus NTU dan NTUST. Kalau tahun lalu (sama-sama di akhir bulan April) kami memutuskan berbuka puasa di Abdu sebab penasaran (baru buka koq uda terkenal haha), tahun ini kami kembali makan disini karena dapat gratisan dari KDEI. ((Alhamdulillaaah ya,, sering-sering ya ayy proyekannya hihi)).

 

Kia tahun lalu. Nǐ jiào shénme míngzì? | kě'ài. | Hǎo kě'ài oo~

 

Penasaran sama menunya?

Langsung saya jembrengin disini ya...

Tahun lalu karena penasaran, kami pesannya agak brutal gimana gitu, dua makanan utama dan dua minuman. Saya ingat waktu itu mas husband sudah punya high expectation sama Abdu, jadi pesannya harus yang menu-menu utama atau yang best seller. As usual, saya dan Kia makan seporsi berdua, dan do'i seporsi sendiri. Yang saya ngga nyangka berakhirnya do'i menyesal, karena bandingin sama harga makanan kampus (yang disubsidi itu). Biasanya 70NT sudah kenyang makan di kampus, tapi ini jadi sepuluh kali lipatnya tapi dirasa kurang kenyang, wkwkwk dasarrr perutt.

Menu yang kami pesan (2021) : Mandi Beef, Arabian Shrimp, Arabian Soup dan Lemon Tea (cold).

 

Arabian Shrimp

 

Sezuzurnya saya agak lupa lupa ingat rasa menu utama ini. Kalau diperbolehkan saya beri nilai, dari 10 sampai 100, saya beri nilai 85 untuk Mandi Beef dan 65 untuk Arabian Shrimp. Jelek banget ya nilai si Arabian Shrimp, percayalah, bumbu makanan arab itu cucoknya untuk per-dagingan bukan per-ikanan. Karena bumbunya kompleks dan 'berat' kan ya, kalau disandingkan sama udang itu kurang pas. Yaa, salah sayanya sih pilih menu udang. Mo gimana lagi, saya suka seafood, kemana-mana saya selalu pilih makanan laut instead daging.

 

Mandi Beef

 

Lalu kenapa Mandi Beef nya ngga diberi nilai 100 lis? Ini jawaban saya ya, mohon temans pembaca jangan salahartikan. Saya yakin chef AAC yang terhormat memasak Mandi Beef memakai bumbu yang kompleks, namun untuk rasa, cocok untuk lidah orang lokal : light, ngga asin dan ngga manis. Apakah cocok untuk orang Indonesia? Well, kebanyakan bilang tidak termasuk saya. Saya besar dilingkungan Kraton dan Ampel Surabaya. Bude bude dan nenek saya sering masak menu per-dagingan dengan bumbu yang teramat berat, apalagi kalau ada syukuran; haflah dan acara-acara pesantren. Waktu pertama lihat Mandi Beef yang dipesan mas husband diantar ke meja, ekspektasi saya : Wah asyik nih bisa nostalgia makanan ampel. Namun saat saya cicipin, iyaa not bad lah. Dan pudarlah sudah harapan nostalgia saya.

Arabian Soup


Lemon Tea

 

Hampir lupa tulis (untung diingatkan saat lihat arsip foto), tahun lalu kami ke Abdu bertepatan dengan waktu berbuka puasa. Setelah pesanan kami dicatat, sembari menunggu adzan, kami disuguhi dua menu takjil dan satu teko besar air putih. Sayangnya dua menu takjil tersebut tidak tertulis di buku menu, penasaran namanya apa. Untuk rasanya, manis dan memiliki rasa rempah yang kental, khas makanan timur tengah ya.


Dua menu takjil, yang hingga kini kutaktau namanya dan lupa rasanya~


Saat kemarin kami datang, nampaknya menu tak ada beda dari tahun lalu. Namun karena kali ini niatnya datang cuma jajan, jadi kami pesan beberapa side dish saja.

Menu yang kami pesan (2022) : Fatoush Arabian Salad, Kashta Classic, Bakalawa Cream, Arabian Soup, Arabian Milk Tea (hot) dan Lemon Tea (cold).

 

Yeaiyy salad! Setelah lahiran Meilin, tiap kali diajak makan di luar sama mas husband, yang pertama saya lakukan adalah melirik menu sayuran! Entah mengapa ya. Mungkin ini sinyal dari tubuh kalau butuh zat besi dan mineral. Ada tiga menu salad, dan pilihan saya jatuh pada Fatoush Arabian Salad. Waktu menu salad datang, saya nge-freeze beberapa detik...

Ini salad apa bukan ya?

 


Untung saya foto buku menu sebelum akhirnya diambil ibu owner nya. Tapi percuma ugha lihat di foto buku menu, karena selain menu utama, menu yang lain tidak terfoto secara gamblang. Baru setelah semua menu pesanan datang, kami akhirnya bisa membedakan menu-menu yang kami pesan ha ha.

Ternyata benar yang datang pertama adalah menu Fatoush Arabian Salad. Gimana rasanya? Oh meeenn, biasanya salad itu rasanya ringan yaa, namun berbeda sama si Arabian Salad ini! UASEM, UASIN. Maaf jika saya terlalu jujur. Bisa jadi chefnya kebanyakan kasih perasan lemon sama cream cheese, atau bisa jadi juga ini memang cita rasanya. Kami bertiga butuh ekstra tenaga dan kemauan buat ngabisinnya. Di saat saat terakhir, mas husband kepikiran buat ngaduk saladnya, karena terlihat olive oil nya banyak didasar mangkok.

 


Walau sudah diaduk menu salad ini habis paling akhir.

 

Tetiba mas husband tanya, "kamu tim diaduk ato ngga diaduk bu??". Ngga saya jawab. Kenal juga uda se windu, masa iya do'i ngga tau hmmm. Lempar Meilin nihhh~


Beralih ke menu yang datang selanjutnya : Arabian Soup. Waktu si Arabian Soup datang, saya dan mas husband liat-liatan (ceileeehhh), lalu saling mengernyitkan dahi. Saya bilang, kayaknya sebelumnya kita pesan ini kan, tapi lupa rasanya kek gimana. Pas saya incip, OOOO ini pumpkin sup!. Creamy dan medium premium rasanya. (Piye iku medium premium rasane? Iya wes pokoke ngunu lah). #SingkekKriwul tertarik mencoba berujung habis separuh mangkok. Enak kak?

 

hmm nyumm..


Kashta Classic dan Bakalawa Cream datang setelah Lemon Tea dan Arabian Milk Tea. Kashta dan Bakalawa, nama yang unik cekaliii~ Penyajiannya pun juga unik : dikasih taburan bunga mawar. Sayang dimenu ngga ditulis terbuat dari apa mereka, kebanyakan kami pilih yang varian klasik atau originalnya. Tapi kami menduga kalau Kashta ini jadi bahan isian si opak Bakalawa, karena tekstur bentuk dan rasanya sama. Manis dan wangi. Bingung ngga temans bacanya? Saya juga bingung pas nulis ini sebenernya wkwk, yuk marilah kita lihat fotonya bersama-sama.

 


Kashta Classic



Bakalawa Cream

 

Jadi keinget milk tea rasa bunga mawar yang pernah kami beli di Taipei cecan, hmmm. Persis rasanya : manis dan wangi.

Bicara tentang milk tea, rasa si Arabian Milk Tea ini unik banget! Biasanya kalau pesan milk tea yang diharap dapat rasa manis segar dan pingin minum terus sampai habis. Beeda sama si Arabian Milk Tea ini. Sekali minum ngga pingin minum lagi, kata mas husband wakakak. Saat milk tea ini habis (salut buat mas husband yang berusaha menghabiskan karena do'i yaqueen istrinya ngga suka rasa beginian) ada beberapa rempah yang tersisa didalam teko. Saya ingin menulis apa saja rempah tersebut, namun lupa tidak memfotonya, payah pula ingatannya. Duh maafkan ya... Tapi saat incip Arabian Milk Tea ini, enak ugha. Incip aja lho yaa, ngga ngabisin hehe.

 


Arabian Milk Tea

Kalau tentang Lemon Tea, do'i yang mendeskripsikan ya, karena saya ngga kepikiran terbuat dari bahan apa aja waktu minum, langsung nyrusup aja saking sukanya wkwk. Begini kata do'i, "Lemon Tea ini kayak fuse tea yang sebotol harga 35NT itu lo yang beli di SevEl, terus diirisin lemon. Makanya kan ibu tadi bilang lemon tea nya ngga pake es tapi dingin. Segini dijual 50NT, untung banyak ya pasti orangnya.....". Mohon yang tentang uang ini tidak terlalu dipikirkan, do'i emang akhir-akhir ini suka mikirin uang jadinya kebawa apa-apa selalu dihitung wkwk.

 

Apa persamaan dari empat foto diatas? | Yak betul, Meilin yang ngga rela sendok isi keju masuk mulut Ayahnya.


Suasananya cozy abis!

Makanya nama restonya cepat sekali populer di kalangan mahasiswa. Mahasiswa sekarang (yang kebanyakan masuk katagori Generasi Y dan Z) sangat lekat dengan yang namanya sosial media, kena makanan murah dan enak masuk deh ke fesbuk, kena tempat bagusan dikit masuk deh ke ige, lalu sebar pula deh ke line. Ngga susah pokoknya  kalau mau jalan sekaligus kulineran. Ye kan. 

Saya akui suasananya bikin nikmat makan dan yang paling penting kids friendly. Ruangan dingin ber AC, lampu yang tak terlalu padang tak pula suram, diiringi musik yang adem di telinga (saat kami datang kebanyakan instrument dan slow music yang terdengar), kamar mandi yang bersih, dan terakhir yang paling penting : tempat sholat. Nikmaaat betul pokoknya.

Mari kita lihat jepretan kali ini..

 


Tempat sholat disini
 



Kamar mandi disini



Saking cozy nya, #SingkekLurus tertidur pulas. Tapi keknya dia tidur karena cozy-an tangan Ibu si ini~


See, tempatnya enak banget kan buat dine in. Sayang banget kalau temans yang tinggal di Taipei belum pernah makan disini. ((Ini BUKAN promosi ya, bukan)). Tapi emang jujurly, kalau ada rejeki, kepingin makan disini terus sih. Semogaa, rejeki kita ngalir terus yaa, biar kalau pas lagi diluar ato pas lagi males masak bisa makan halal disini. Aamiinnn...



Abdu Arabian Cuisine 阿布都中東料理
No. 15號, Leli Rd, Da’an District, Taipei City, 106
(+886) 02 2363 6005
Open Saturday - Thursday  11.30 - 14.00, 17.30 - 21.00
Friday 17.30 - 21.00



My First Black Gold

 

Teman-teman pernah dengar atau pernah (atau mungkin sedang) pakai Black Gold?

 

~oOo~


Ngomongin fashion emang ngga ada matinya. Makin tambah tahun makin banyak pula variasi turunan fashion, identik dengan fashion kekinian yang berubah-ubah. Jaman masih gadis dulu (a elaa gadis katanya wkwk), saya suka ngikutin fashion di tipi tipi atau di majalah. Saking kepengennya punya tas cantik atau gelang manik-manik yang terkenal pada jamannya, saya sampai rela ngabisin waktu di kamar buat bikin sendiri. Iyaaa bikin tas sendiri (jahitnya pakai tangan, karena badan saya terlalu kecil kalau mau pakai mesin jahit punya Ibu tertjintah). Saya juga bikin aksesorisnya sendiri. Jaman saya SD sampai SMP, sang Ibu melarang anak-anaknya keluar rumah kecuali saat sekolah dan mengaji. Jadi saya punya banyak waktu di rumah untuk berkreasi.

Lalu beranjak remaja-dewasa, SMP-SMA-kuliah, saya suka yang namanya model jilbab dan bajunya. Sudah boleh keluar rumah dengan kemauan sendiri dan bersama teman karena sudah bisa naik motor dan mobil. Mulai dah lebih up to date sama fashion jalanan. Dulu yang namanya tunik dan gamis belum seterkenal sekarang. Kalau tanya di toko pakaian atau butik, yaa pakai nama atasan atau baju atau rok perempuan. Dan ketika teman-teman seusia saya masih sibuk menyukai rok perempuan, saya sudah punya berbagai macam fashion pakaian luar negeri seperti celana coldore; blazer kulit; yukensi shanghai dkk. Kadang juga kalau menurut saya, model dan ukurannya "kurang ngeh", saya modifikasi sendiri. Ibu saya sering ngomel, karena di kamar anak perempuannya terlalu banyak "gombal" dan manik-manik wkwkwk.

 

Mom, heranlah kalau di kamar anak perempuanmu terdapat banyak perkakas mesin.

 

Tahun 2000-an saya juga suka mengoleksi manik-manik atau yang sering dibilang "monte". Saya suka bikin aksesoris sendiri lalu karena jumlahnya kebanyakan dijuallah itu monte dalam bentuk cincin; gelang dan kalung ke teman-teman SD. Eh lha kok ada yang mau beli ya wekekek. Saya ngga terlalu silau sama yang namanya emas perhiasan kala itu. Bahkan yang terakhir saya ingat, saat akan lulus kuliah, Ibu saya memperlihatkan kotak perhiasannya yang kayak koper artis itu dan memilihkan beberapa perhiasan untuk saya. Saya hanya tertarik pada satu cincin emas tanpa mata.

Berbeda dengan sekarang, saya suka banget sama yang namanya emas. Sendirinya agak khawatir memang, karena takutnya saya jadi addicted kayak dulu suka koleksi koleksi barang. Dan sezuzurnya saya agak silau sama emas perhiasan di Taiwan, hampir setiap toko offline dan online disini menjual emas perhiasan kadar 9999 alias 24karat mboook

 

Saya menetapkan mindset : kalau untuk koleksi (tapi ngga boleh banyak-banyak hehe) bolelah emas perhiasan, kalau untuk investasi harus emas batangan.

 

Tapi namanya hati manusia, sering berubah-ubah. Setelah menetapkan mindset, ketertarikan saya justru beralih ke perhiasan Black Gold. Keliatan simpel dan ngga mencolok, dan itu emas which is itu berharga. Tapi penasaran, emang ada emas yang warnanya hitam?


Apa itu Black Gold?

Setelah saya searching dibeberapa artikel online, hmmm, saya bisa menyimpulkan bahwa black gold itu ngga nyata. Bukan ngga nyata berarti kasat mata ato yang ngga terlihat mata ya, bukan. Black gold tidak murni "black" saat ditemukan di alam, melainkan blacknya ini hasil rekayasa manusia. Ada yang setuju juga ada yang engga, ngga papa.

Black gold merupakan "emas" yang dibuat di pabrik maupun di laboratorium. Sejauh ini teknik pembuatan black pada gold sebatas "melapisi" dan tidak permanen. Dan karena hanya melapisi, tentu saja "bisa luntur" warna hitamnya. Di beberapa dekade belakang, para ilmuwan menemukan teknologi untuk mengubah semua logam menjadi berwarna hitam, dan dapat dipastikan hitamnya tidak akan mudah luntur. Tidak menutup kemungkinan dengan menggunakan teknologi yang menjurus ke mikro partikel tersebut, emas yang memiliki warna asli kuning bersinar ini akan berubah menjadi hitam pekat. Sayangnya, teknologi tersebut memerlukan laser femtosecond yang sangat mahal dengan akses listrik yang sangat besar dayanya.

Bicara tentang teknik pelapisan emas menjadi hitam yang tidak permanen ini. Ada empat cara yang dapat mengubah emas menjadi hitam : Oxidation (menggunakan cairan asam yang khusus dan diaplikasikan ke permukaan emas/logam), Blackening (menggunakan cairan pekat seperti cat yang disikat ke permukaan emas/logam), Black Enamel (cairan enamel yang berwarna hitam dipanggang dan dilumurkan ke permukaan emas/logam; kelebihannya emas/logam tersebut menjadi keras dan bersinar), Black Rhodium Plating (cairan rhodium yang berwarna hitam diciptakan di laboratorium dengan pencampuran bahan kimia; ketika dilapiskan ke emas/logam; hasilnya tidak sepenuhnya berwarna hitam melainkan keabu-abuan).

Apakah black gold valuable layaknya emas perhiasan? Tentu saja, karena bahan dasarnya emas perhiasan tentu harganya mengikuti harga dunia. Dan percaya ngga percaya semakin tahun harga emas selalu bertambah! Lalu bisakah black gold ini dijadikan investasi? Some say yes, but not me. Why? Karena black gold yang saya miliki luntur pak! Uda ngga secantik saat awal pakai.


Kusempat kecewa! Banget.

Awal-awal lihat di sosmed, kok cantik yaa gelang warna hitam begitu, emas lagi, kok daku ngga punya yaa, pengen punya ah satu. Lanjut searching lah di platform belanja online yang berwarna orange itu, eee banyak macemnya. Masukin favorit beberapa dan checkout satu ajah. Kirim ke Taiwan barengan sama hadiah lebaran dan obat-obatan dari Ibu (loooovvveee bangettt mommy, kuh jadi terharu hiks). Lalu daku buka bungkusan kecil berwarna hitam, ada nota dari si toko emas daaaan jeng jeeenggg : benang! haha.

 


 

Memang saat di unboxing, adik saya ngevideo sambil ngomel-ngomel. Bilang buang-buang uanglah, bilang ngga pintar pilih seleralah, sampai didoain ngga punya duit buat beli gelang beneran (NAUDZUBILLAHMINDZALIIIIIKKKK). Sebagai mbak yang santuy, saya anggap angin omongan dia. Walau Ibu saya juga ngomongnya pake ngancem, "awas kund yo, ojok dibaleni tuku benang, gak usah tuku tuku maneh, gelang emase Ibu akeh, pek'en kabeh!". Daku masih optimis, barang yang saya beli ngga jelek-jelek amat.

Tapi kutak menyangka memang yang datang benang beneran haha. Sekecil ituuuhhh,, masa lebih besar karet gelang ketimbang gelang black gold guwehh. Lagi-lagi tertipu dengan barang online, salah salah, high hopes nya yang ketinggian sama barang online. Iyalah kita beli perhiasan kaaaann (?).

 


 

Kecewanya ternyata berlanjut bund. Saya pakai gelang benang tersebut buat sehari-hari. Dari mulai tanggal 29 April malam dan pagi tanggal 2 Mei saya terperangah ketika di kamar mandi melihat gelang black gold ini. Kebetulan lampu kamar mandi rumah shiny nya agak kelewatan bak lampu penerangan bundar yang biasa dipakai mbak-mbak online shop buat live. Kelihatanlah itu semua manik-manik yang "luntur" hitamnya. Padahal pakai baru sekitar tiga hari lhooo.

Masih lanjut lho buundd kecewanya. Saya teringat video lifehacks di sosmed tentang cara cek aksesoris beneran emas ato tidak. Sontak saya ambil magnet yang tertempel dikulkas dan tempel ke gelang black gold ini. Semua manik-manik dan rantainya tidak menempel kecuali satu : pengaitnya. Sudah ini berat gelang yang dikasih ngga sampai segram, pengaitnya bukan emas pula. Adooohh maaakkk, daku doain semoga toko emasnya berkah yaaa.

 

Sebentar sebentar. Yang manik-manik hitamnya luntur jadi warna hitam keputihan. Sementara rantainya, hitamnya luntur jadi warna hitam keemasan. Apakah manik-maniknya ini bukan emas? HAHA hayolooo~

 



Terakhir nih bund kecewanya, janji deh semoga ini yang terakhir. Kalau ada yang bilang banting aja gelangnya, sabaarrr, sabarr. Ngga perlu saya keluar usaha banting sih, tinggal tunggu ditarik #SingkekLurus aja gelangnya uda putus sendiri kok, mengingat anaknya sedang asik-asiknya gerak dan tertarik (banget) sama benda yang mengkilat #sad.

Balik ke leptop ya bund, ternyata saya alergi. Baru tau ini kalau saya alergi emas atau mungkin alergi sama lapisan emasnya bund. Gatelnya parah bund, tapi saya ngga berani garuk, ditahan aja siapa tau ilang-ilang sendiri gatelnya. Entah apa lapisannya ya, yang jelas saya apes dapat yang kualitas ngga bagus.

 

Ooo makanya black gold ngga dijual di Taiwan, apa gara-garanya black gold ini ngga eternal kayak gini ya ???

 



Saran & Curhatan Kesimpulan

Jadi kalau temans melihat black gold di toko emas atau di platform belanja online, jangan terburu-buru checkout ya. Pastikan dulu berapa karat si emas hitam itu, kemudian tanyakan pelapis warna hitamnya pakai apa. Bukannya apa-apa, takut kena alergi seperti saya kan berabe. Dan kalau sudah terlanjur beli, pastikan saat memakainya temans tidak pakai lotion atau sunscreen, tidak berkeringat dan tidak mandi yaa. Ya kali dibeli tapi ngga dipakee~.

So far, saya suka banget gelang emas hitam ini, karena ukurannya kecil dan dalam pemakaiannya sama sekali ngga mengganggu aktivitas. Tapi ya itu tadi, umur gelangnya bergantung pada keaktifan bayi saya wekekek. Sekali tarik terus putus, ilang duit sejuta. Makanya lisss, iya wes wes udah cukup "makanya makanya". Minta doanya ya, supaya saya tabah. xixixi, salam 💖.


Referensi Bacaan

1. Calla gold

2. Thermofisher scientific

3. Lexie Jordan