Al Hadi TIEC Trip ke Wugu Farm (準休閒農場)

Caution! Ini artikel berisi narasi dan deskripsi, yang kemungkinan akan membuat mata temans sakit sekaligus membuat otak bekerja lebih keras mencerna kalimatnya. Mohon sediakan camilan disebelah laptop dan gadget anda biar engga bosan saat membaca. Selamat menikmati ^^.

 

~oOo~

 

Sejak lihat kalender akademik Al Hadi Kindergarten awal mendaftarkan Kia sekolah, saya sudah mewanti-wanti mas husband untuk menyediakan waktu libur kerja untuk ini : Sunday Trip with Al Hadi TIEC. Karena sejatinya weekend adalah waktu mas husband kerja.

 

Semenjak tinggal di Fuzhong, Banqiao Dist, New Taipei City, tepatnya dua tahun yang lalu, kami memutuskan untuk meluangkan waktu hari libur untuk jalan-jalan di salah satu hari Senin-Jum'at. Alasan utama yang paling mendasar adalah karena kami tinggal di dekat MRT Bannan Line (yang biasa disebut MRT Jalur Biru), which is kalau kemana-mana ya diawali pakai si kereta biru ini. Sementara si kereta biru ini merupakan kereta dengan jalur MRT tertua di Taipei, yup MRT Blue Line adalah jalur MRT pertama yang dibangun oleh pemerintah untuk menghubungkan ibukota Taiwan dari barat ke timur. Unfortunately, percaya ngga percaya umur MRT berbanding lurus dengan banyaknya penumpang. MRT Bannan Line ini, ngga weekday ngga weekend, ngga pagi-siang-malem, selalu rame! Apalagi kalau weekend dan di jam-jam genting kayak pagi (orang-orang pada berangkat ke sekolah dan kerja) dan sore hari (orang-orang pada pulang), masya allah ramai syekali. Kami menghindari itu. Jadi kami memutuskan kalau weekend di rumah saja.

H-21, #SingkekKriwul batuk pilek tertular temannya. Makin bertambah hari, makin parah jadi ngga masuk sekolah beberapa hari, di rumah rutin minum obat lalu konsisten makan sehat dan minum obat alhamdulillah dipenghujung minggu sembuh. Kemudian masuk sekolah, paginya sehat walafiat, sorenya mbeler lagi. Cuaca yang kadang hujan kadang panas juga beri pengaruh ya, selain teman-temannya pun silih berganti bapilnya. Begitu terus siklusnya sampai H-3 keberangkatan trip. Sudah lumayan hopeless lah sayanya, wes ngga papa wes ngga ikut, wong ya cuman trip. Tapi Kia ingin tetap berangkat.

Kami para bu-ibu para wali murid (anak-anak Indonesia) pada ramai di grup, silih berganti curhat kalau anak-anaknya juga kena siklus sakit-sembuh-sakit lagi. Ada yang bilang anaknya parah sampai demam dan muntah, ada yang hanya flu saja, ada yang batuk-batuk. Kami saling menyemangati dan mendukung : ayok kalo bisa lengkap ni para bu-ibu saat trip. Qadarullah, pagi menjelang, hanya satu ibu yang memberi berita kalau kedua anaknya absen trip kali ini. Mbak Ulfah missing yu banget deh...


Pukul delapan pagi (lebih tujuh belas menit), kami berempat sudah berada didepan gedung Al Hadi. Diarahkan langsung menuju bus yang parkir tak jauh dari pintu masuk Al Hadi. Beberapa barang besar ditaruh dibagasi bus. Ini agak kurang penting ya kayaknya haha, saya berusaha bercerita sedetil mungkin nih temans, lama kali jemari tak klutakklutik keyboard, agak kaku kaku gimana gitu.

Saya sezuzurnya tak menyangka bus yang akan mengangkut kami akan sebesar ini. Jadi rupa bus di Taipei itu saya simpulkan jadi tiga : bus mini (namanya Shuttle bus--biasanya digunakan untuk rute tempuh pendek), bus sedang (ini yang paling banyak berseliweran dijalanan--kini dibagi dua lagi berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan yakni bus listrik dan bus biasa--nomor busnya terdiri dari tiga digit angka), bus besar (bener-bener besar bentuknya--tempat duduk penumpang ada diatas sementara posisi supir dan bagasi hampir sejajar--digunakan untuk transportasi jarak jauh--antar distrik bahkan antar kota--nomor bus terdiri dari empat digit). Fatimah laoshi kemarin bilang kalau nanti di bus anak-anak bisa dipangku dan atau satu deret bangku bisa menampung tiga anak. Pikir saya (dan beberapa ibu-ibu lain), oh yang dipakai nanti si Shuttle bus paling. Toh juga malam H-1 keberangkatan diberi edaran jika fee yang dibayar telah direduce karena biaya sewa bus tidak dibebankan ke wali murid melainkan ditanggung yayasan, maka tambah murahlah fee yang harus dibayar. Nah kan, napa jadi pikiran bu-ibu Indonesia ini bebarengan meng-underestimate bus nya yak. Terkejutlah kita dibuatnya kan saat melihat bus yang dipakai segede gaban gini, kayak mampu aja nih bus mau ngebawa kita sampai ke ujung Taiwan.

Jreng, yuk move on kita, bahas bus ngga ada abisnya emang. Waktu yang ditempuh dari Al Hadi menuju Wugu Farm engga lebih dari setengah jam. Disepanjang jalan, para laoshi berebut mik (koq berebut yak, gantian lis!). Yang pertama, saat bus belum jalan, ada Malika laoshi menjelaskan agenda hari ini, bakal diapain aja anak-anak kita di peternakan. Eh eh, sadis amat kalimatnya (Maapin yak, agak emosi nih keinget pas Malika laoshi ngejelasin agenda, EH dengan santainya mas husband tidurrr, engga sadar do'i uda badan paling jenjang duduk ditengah tidur pula, pan malu yak jadinya. Padahal doi tidur paling lama semalem, saya yang cuman tidur dua jam karena harus uplik-uplik di dapur buat bekal mata masih terang, hedeehhh). Malika laoshi menjelaskan kurang lebih sama seperti ini :


Para murid diberi tanda pengenal yang harus dipakai selama di peternakan. Ditanda pengenal ini terdapat kolom yang nantinya akan diberi stiker oleh para laoshi ketika murid berhasil melakukan tantangan yang diberikan. Sebagai reward jika berhasil memenuhi kolom dengan stiker, akan diberikan small gift. Apa saja small giftnya? Rahasia dooongg. Etdaah pake rahasia-rahasiaan nih laoshi.

 

Laoshi artinya guru atau teacher. Kalau dalam English penempatan kata teacher berada didepan nama : teacher Maryam, teacher Juwariyah. Kalau Chinese penempatan kata laoshi berada dibelakang nama : Fatimah laoshi, Malika laoshi.

 

Usai menjelaskan agenda hari ini, Malika laoshi memberikan mik ke teacher Juwariyah untuk berdoa sebelum berangkat dan bermain games lempar surat. Eh gimana ni maksudnya, lempar surat?

"Teacher Juwariyah berdoanya enak banget yaa pronounsesiennyaa, berasa denger imam masjid mekah ngaji...", kata mas husband tiba-tiba. Batin saya : ya iyalah beliau lahir dan besar di Madinah, mas bro.

 

Sementara teacher Juwariyah mengajak untuk berdoa sebelum berangkat, Malika laoshi dan teacher Maryam membagikan tanda pengenal berbentuk bintang besar.

Mik berpindah tangan ke teacher Maryam. Teacher Maryam membaca surat Al Fatihah kemudian dilanjut tiga surat Qul. Layaknya teman-temannya, #SingkekKriwul bersemangat membaca surat Al Qur'an. Dari surat Qul, kemudian Suratul Masad, kemudian mik berpindah ke teacher Juwariyah. Suratun Nashr lalu Suratul Kaafiruun beliau baca dan maknyess adem dihati yaa. Sambil lihat pemandangan diluar gerimis rintik namun cerah. Diseberang jendela kebetulan ada kereta bandara (warna ungu) yang berlari searah dengan bus, kelihatan seperti kami sedang berlomba siapa yang paling cepat.

Lalu teacher Juwariyah memberi tebakan kira-kira surat apa yang akan beliau baca. Para murid (tak ketinggalan #SingkekKriwul pun ikutan teriak) menjawab : Al Kautsar. Kemudian beliau bertanya siapa yang mau membacakan surat Al Kautsar? Dua murid didepan ditunjuk untuk membaca. Saat teacher Juwariyah bertanya siapa yang mau membaca, Kia langsung berteriak : Kiaa Kiaa, sambil loncat dari pangkuan mas husband dan berlari kecil menuju teachernya. Maasya Allah.

Bus memasuki gerbang peternakan ketika teacher Juwariyah meminta Muiz membacakan hafalannya : Surat An Naba'. Maasya Allah suara putra Fatimah laoshi mantab kali, lirih dan merdu. Usai Muiz membacakan Surat An Naba', teacher Juwariyah membaca surat Al Maauun hingga bus terparkir didepan peternakan.

 

Satu persatu para keluarga memasuki area farm menuju ruangan besar dan menempati tempat duduk yang disediakan. Kami harus melewati area hutan dan air terjun, kemudian melewati lapangan besar hingga pada akhirnya sampai di area indoor.





Fatimah laoshi memberikan instruksi untuk meletakkan barang-barang besar didepan ruangan dan bekal makanan yang dibawa diatas meja yang disediakan. Ini yang paling saya suka dari sini karena sistem 'membawa bekal' atau yang biasa kami sebut 'potluck', jadi benar-benar kegiatan bersifat mandiri dan tidak ada yang merasa terbebani. Bekal yang dibawa ini ditaruh diatas meja, dan nantinya ketika waktu lunch tiba, setiap orang bisa mencicipi bekal-bekal tersebut. Bisa dibayangkan ya, orang-orang yang hadir berasal dari berbagai negara, ada dari Indonesia; Malaysia; Pakistan; India; Arab; Taiwan dll. Bekal-bekal yang dibawa pun pasti punya beragam bentuk dan rasa. Cerita bekal nanti lanjut diparagraf makan siang ya, sabarrr..

 

Usai meletakkan barang-barang, kami diperlihatkan dokumentasi kegiatan murid-murid selama kelas berjalan. Kemudian Fatimah laoshi menjelaskan kegiatan apa yang harus dilalui murid-murid kali ini. Kegiatan akan dibagi menjadi tiga sesi.

 

Sesi pertama dilakukan hingga pukul dua belas, para murid sesuai dengan nomor (yang ditulis dipapan pengenal bintang) akan menjalani tiga tantangan. Namun sebelum kegiatan dimulai, para laoshi dan teacher memberikan instruksi iced breaking sekaligus pemanasan biar para murid pada semangat : Tug of War (main tarik tambang). Disini para murid dibagi menjadi dua grup besar, Chinese Class dan English Class.

Tug of war kali ini terlihat unik karena dimainkan oleh anak-anak yang sebagian besar belum pernah main. Parahnya sebagian besar anak yang belum pernah main ini anak-anak Indonesia yang masuk di grup English Class wakakak, pantesan kalah dua kali ya bund anak-anaknya masih polos, pas ditarik talinya sama lawan yaa jelas ikut ketarik badannya. Ngga siap dan ngga kuat. Para Ibu-Ibu udah gemass gitu pengen narik ikutan bantu ya, ketahuan pas video-video dishare di grup wali murid (termasuk saya bund, udah ketahuan narik tiga kali saya wakakak).

 

Bingung dia 😅

 

Tug of war = tarik tambang

Lanjut ke kegiatan : Scavenger Hunt. Dikegiatan ini, Kia harus melewati tiga tantangan dan mendapat stiker di masing-masing booth tantangan. Pada papan pengenal bintang milik Kia ditulis : 3-1-2, jadi Kia harus memulai dari nomor tiga bersama dengan teacher Juwariyah. Ceritanya booth nomor tiga milik teacher Juwariyah ini mengadopsi kegiatan lempar jumroh, namun batu jumroh diganti dadu besar. Teacher Juwariyah memberi pertanyaan pada Kia menggunakan Arabic, "maa asmuki?" | "Kia" | "min ayna anti?" | "Indonesia" | "where is kabbirr?" dan Kia melempar dadu ke gawang yang benar. Apakah semudah itu? Pertanyaannya memang mudah, Kia lah yang merumitkannya wkwkwk. Saat ditanya namanya siapa, asal dari mana, Kia menjawab dengan benar dan jelas. Namun ketika beranjak ke pertanyaan berikutnya, perhatian Kia sudah teralih ke anak tangga didepannya. Hujan rintik-rintik menambah ketidakfokusannya terhadap pertanyaan teacher. Anaknya ingin explore tempat baru pemirsah...huhuhu, jadi ngga enak sama teacher Juwariyah, waktunya habis buat ngejar Ki, untung ya beliau sabar, untung juga Kia dapat stikernya.




Selesai di booth nomor tiga, Kia pindah ke booth nomor satu milik teacher Maryam. Tema booth nya water gun. Hampir sama seperti metode di booth milik teacher Juwariyah, Kia akan diberi pertanyaan kemudian jika Kia ingin menjawab harus mengarahkan pistol air ke arah jawaban yang sudah disediakan. "Do you know Baqoroh?", tanya teacher Maryam. Kia mengarahkan pistol airnya ke gambar sapi. "Where is fa'?". Kia menembak huruf ف yang ada disebelah kanannya. "Maasya Allah Kia, pintaarrr", kata teacher Maryam. Beliau hendak memberikan stiker namun Kia masih ingin main si water gun ini wkwkwk, bener-bener yaa #SingkekKriwul. Semoga para guru Al Hadi diberikan kesabaran dan kesehatan dalam mendidik #SingkekKriwul, aamiin ya rabb...

Pindah ke booth nomor dua milik Malika laoshi. Temanya Time for Bowling. Kia diberikan pertanyaan dan jika ingin menjawab, Kia harus melempar bola ke gambar tulisan Zhongwen (Chinese) yang benar. Anas's mommy membantu Malika laoshi kali ini, beliau mengarahkan Kia untuk bermain lempar bola. Beliau bertanya, "which one is Te?". Kia mikir agak lama, mungkin otaknya sedang mencerna simbol, atau dia kebingunan membedakan antara De dan Te (orang lokal dalam pengucapan De dan Te kedengarannya sama). Ngga lama Kia melempar bola di huruf ㄊ. Ana's mommy memberi pertanyaan lagi, karena Meilin mendadak rewel dan ngga mau digendong Ayahnya alhasil perhatian saya teralih dari Kia. Saat perhatian sudah kembali ke Kia, saya melihat Malika laoshi bertanya pada Anas's mommy memakai bahasa Zhongwen dan dijawab, "Kia congming, congming!", sambil manggut-manggut wajah sumringah. Saya pun menghela nafas, lega dan senang gitu ya kalau guru memberi apresiasi pada Kia. Kia pun dapat stempel dari Malika laoshi.

 Kia congming!

 

Tiga kegiatan Scavenger Hunt sudah dilakukan, kami diberi waktu luang hingga pukul 11 siang. Jalan-jalan lah kami mengelilingi 'Farm' yang terlihat seperti sebuah resort villa penginapan ini. Gerimis masih menaungi wilayah farm, kami ingin berkeliling di hutan buatan sebenernya, namun yaa apalah daya bawa #SingkekLurus, ngga bisa ini gerimis diterjang. Beruntung diarea dalam farm disediakan permainan koin, terhiburlah hati #SingkekKriwul dibuatnya.












Pukul sebelas lebih duabelas menit, kegiatan selanjutnya dimulai. Karena diluar masih rintik hujan sehingga kegiatan tak bisa dilakukan di lapangan, maka kegiatan akan diubah menjadi kegiatan dalam ruangan, begitu ya kurang lebih kata Fatimah laoshi. Sejatinya setelah ini akan ada dua kegiatan yang dilakukan diluar ruangan : Piggy Bank Painting dan Little Detective (Frogs and Toads), namun diluar masih gerimis dan jumlah pesertanya lumayan banyak, maka kegiatan diubah dilakukan dalam ruangan dan peserta dibagi menjadi dua grup yang nantinya akan melakukan kegiatan secara bergantian.

Yang pertama, English Class melakukan kegiatan Piggy Bank Painting dan Chinese Class pindah ke aula sebelah untuk diberi wawasan mengenai Katak dan Kupu-Kupu. Awalnya saya mengira hanya anak-anak lah yang akan melukis celengan kumbang ini, namun rupanya para orang tua juga diwajibkan ikut melukis. Jadilah kami bertiga melukis si piggibeng ini.




Sekitar tiga puluh menit kemudian Si piggibeng selesai dilukis, lalu dijemur didepan aula bersama dengan piggibeng lain milik anggota English Class. Kami mencuci tangan kemudian bersiap untuk makan siang.

Seperti yang saya ceritakan diawal, makan siang kali ini sistemnya "pot luck", ada berbagai macam masakan, camilan dan minuman yang dibuat dan dibawa oleh para orang tua. Orang dewasa yang hadir dari berbagai negara ini tentu saja ada yang tak makan nasi--sudah jadi culturenya, oleh karena itu makanan yang tersedia diatas meja benar-benar beragam.

Sezuzurnya saya tak mengamati berbagai macam makanan yang diatas meja dan kurang bisa mencoba makanan baru (takut lidah dan perut terkedjoet dibuatnya), sementara mas husband lah yang bergerilya mencicipi masakan yang unik dan beraneka rasa itu. Saya mengambil apa yang saya masak : rendang daging dan kare ayam, sementara nasi sudah siap dikotak makan punya saya; mas husband dan Kia. Kia makan noodle bikinan mbak Lina dan lauk punya saya. Mas husband makan... Entah makan apa saja si do'i wkwkwk.

Ronde pertama, nampak mas husband makan makanan berat, masakan saya dan capcay entah masakan siapa. Ronde kedua, mas husband makan dessert yang dibuat oleh parents asal Arab dan Malaysia. Rasanya unik dan benar-benar mengedjoetkan lidah (setiap mas husband pulang bergerilya dan membawa makanan, selalu disuapkan ke saya). Ronde ketiga dan seterusnya entahlah, ngga heran perut mas husband ngga isa mengecil huahaha.


After pot luck - lunch, para orang tua diarahkan menuju lapangan berumput (sintetis) untuk melaksanakan Sholat Dhuhur berjama'ah. Sampai di lapangan, terpal yang dijadikan alas sudah digelar. Para orang tua memilih posisi untuk melaksanakan sholat. Subhanallah terasa damai, berasa seperti suasana Sholat Ied di Indonesia. Dengan di-imam-i Bapak Aziz CEO nya Al Hadi (suami dari Fatimah laoshi), rintik hujan seolah berhenti dan memberi kesempatan pada kami untuk bersujud dan bersyukur pada Allah.



Usai salam dan berdoa, rintik hujan mulai datang dan semakin deras. Para bapak-bapak bergegas membersihkan tempat sementara para bu-ibu membawa anak-anak untuk masuk ke aula. Bersiap untuk kegiatan berikutnya.


English Class diminta berpindah tempat ke aula sebelah untuk menyimak wawasan seputar katak dan kupu-kupu. Laoshi yang merupakan pegawai farm dengan Teacher Maryam (bertugas sebagai penerjemah) bercerita tentang persahabatan katak dan kupu-kupu yang tak longlast haha : saat sama-sama menjadi ulat mereka bersahabat menghabiskan waktu bersama, namun ketika mereka sama-sama sudah bermetamorfosa--karena kelemahan katak (mata berkabut dan tak bisa melihat dengan jelas didarat) yang kemudian melahap kupu-kupu yang mendekat. Kemudian laoshi menunjukkan jenis-jenis katak yang hidup di Taiwan dan di dunia. Uniiik banget ya, terutama suaranya si katak. Ada yang mirip seperti suara ketukan pintu, ada yang bersuara seperti anjing (menggonggong), ada yang bersuara seperti ular (mendesis) dan lain sebagainya.


Kemudian laoshi mengeluarkan seekor katak besar dari sebuah kotak kaca yang sedaritadi tertutup kain. "Who wants to come near, see and touch it? Anyone?", tanya teacher Maryam. "Kia Kiaa where is Kia? Kiaa...", teacher Maryam memanggil Kia dengan suara merdunya. Kia yang sedang asyik bermain hadiah pemberian Fatimah laoshi (karena sudah menyelesaikan misi scavenger hunt dengan cepat dan baik), kemudian meninggalkan hadiahnya dan menuju depan kelas.

 

Pertanyaan saya : kenapa yang dipanggil pertama Kia ya teacher...? Apa dia suka main dan berani nyelonong kedepan untuk mencoba sesuatu mengawali teman-temannya?haha. Sehingga Kia jadi langganan para teacher untuk diminta tampil pertama. Proud Kia!


Kia menyentuh si katak dengan sedikit awkward muncul diraut wajahnya. Geli geli berlendir gimana gitu ya kak..xixi. Setelah Kia bermain sama si katak, teman-temannya mulai berani maju bergantian mengamati si katak.

Kelas usai, kami digiring ke ruangan observasi. Di ruangan ini dibuat sedemikian rupa agar menjadi habitat kupu-kupu dari semua jenis siklus hidupnya. Ada yang masih ulat, ada yang jadi kepompong dan ada banyak sekali kupu-kupu yang beterbangan. Kia yang ngga kenal takut ini sudah kepengen sentuh sentuh aja si ulat gemoy yang lagi nangkring diatas daun. Laoshi bilang (dan diterjemahkan teacher Maryam directly), kalau kamu sentuh, tangan kamu jadi gatal. Walau sudah dibilangi ya, teteup si #SingkekKriwul ini masih penasaran pengen sentuh, kalau udah gitu wes serahkan saja sama Ayah.


Next activity, saya koq jadi mulai jenuh bercerita huahaha, semoga temas pembaca tidak jenuh melihat tulisan-tulisan ini ya...

Next activity, karena diluar hujan masih lumayan deras, sembari menunggu debit air hujan mengecil, kami dibagi menjadi dua kelas lagi dan diberi pilihan mau masuk kelas yang mana : Kelas membuat roket atau Kelas main gelembung. Si #SingkekKriwul ini suka banget sama luar angkasa dan kata dia punya cita-cita jadi astronot, maka kami memilih kelas membuat roket. Sampai di kelas roket, rupanya membuat serbuk peledak dan melipat bahannya lumayan bikin keki. Ibaratnya ini hanya kelas teori ya, teori sambil mempersiapkan bahan-bahannya, nanti prakteknya di lapangan.

 

Sudah selesai teori, saatnya praktek! Keluar lapangan, bukannya ngikutin laoshi praktek nerbangin roket, #SingkekKriwul malahan belok ke kelas main gelembung. #TepokJidat lah ini mamaknya. Ampun deh kak, tau gitu ya dari awal ikut mainan gelembung.

 

Hujan rintik berubah jadi hujan lumayan deras rintiknya. Gitu ya hujannya, sukak main PHP kayak Kia wkwkwk. Saya ostomastis bawa Meilin masuk ke dalem nih daripada kehujanan. Muter-muter didalem sampe Meilin tertidur... Save and sound! Good Job Meilin, anak pinter ngga rewel-rewel.


Last activity, kami berfoto bersama di depan scene air terjun. Selain foto keluarga, Meilin diungsikan dulu deh kesamping, ujannya lumayan ini...wkwkwk.


Teacher favorit Kia : teacher Maryam



 


~oOo~


Aktivitas hari ini benar melelahkan namun sangat menyenangkan dan bermanfaat untuk keluarga. Tidak perlu melihat keluarga lain, menilai keluarga sendiri yang seperti kurang bounding ini aja udah cukup, cukup memprihatinkan. Rupanya sering banget keluar ego orang tua untuk anaknya dan si anak tidak bebas bermain dan jadi diri sendiri. Pelajaran penting buat saya yang notabennya saat menjadi istri dan anak, harus mengeluarkan diri sendiri dari kotak diktator parenting.

Semoga temans pembaca masih dalam keadaan sehat yaa saat membaca narasi deskripsi panjang saya. Semoga cerita ini bisa menjadi kenangan untuk Kia.

 

 

#SingkekKriwul - A Month in Al Hadi

Judulnya pakai English ya--terinspirasi dari mbak mbak blogger yang nulis "A day in my life" saat blogwalking kapan hari. Disini saya akan bercerita tentang kegiatan si kakak a.k.a #SingkekKriwul selama sebulan sekolah di Al Hadi.


Ngga kerasa ya uda sebulan aja sekolah disana. Apa saja ya yang sudah Kia dapat selama satu bulan ini?


Bangun Pagi

Yap, hal pertama yang berubah dari hidup si kakak adalah bangun pagi setiap hari!

Berangkat saat stasiun masih sepi~

 

Empat tahun kakak tinggal di Taiwan terbiasa seperti kebanyakan anak-anak orang lokal : bangun siang. Jam sembilan baru bangun, kadang jam sepuluh, jam dua belas juga pernah wakakak. Untung si kakak tinggal ama Ibu ama Ayah yang type manusia "night owl" ini. Coba tinggal ama Eyang, udah disiram air kalo jam sembilan belom bangun wakakak.

Saya kira hanya kakak lah yang suka bangun siang, rupanya beberapa teman yang punya anak balita juga terbiasa bangun siang. Engga semua, beberapa yang kenal aza. Santai sayanya saat si kakak bangun siang, kemudian ketika kakak mulai masuk sekolah dan dituntut bangun pagi, saya langsung gercep dong ubah mindset dan kebiasaan si night owl.

Rupanya gampang kok untuk tidak terpapar lagi, tinggal konsisten berubah dan tetapin jadwal yang benar. Kunci pertama, kalau mau tidur siang harus maksimal tidur jam satu dan bangun jam tiga, agar malam bisa tidur maksimal jam sepuluh. Kunci kedua, kalau mau jalan-jalan malam, maksimal sampai rumah jam setengah sepuluh dan langsung beberes--bersih badan lalu minum susu lalu tidur.

Alhamdulillah sekolah di Al Hadi bikin si kakak selalu semangat bangun pagi, jadi sebagai Ibu yang santuy ini ngga keluar effort banyak ya buat nyuruh anak tidur cepat dan bangun pagi. Tinggal bilang aja, "Kakak kalo besok mau sekolah, malam ini tidur cepat ya dan besok bangun pagi".


Makin Rajin Berdoa

Do you know if the environment can make your habit?

Yasss, saya merasakannya dan saya melakukannya ke anak-anak. Kalau semisal 'mood' seorang Ibu juga bisa mempengaruhi sifat anak, lalu apa yang bisa menghentikan jika iklim atau lingkungan tempat anak-anak tinggal bisa mempengaruhi kebiasaan anak? It is obvious, secara langsung maupun tidak langsung anak-anak yang otaknya masih bersih ini mampu menyerap apa-apa yang terjadi disekitar mereka.

Dan saya bersyukur ya Allah, alhamdulillah, kami akhirnya memilih sekolah bernuansa islam ketimbang sekolah umum. Saya dan mas husband sempat bayangin, kalau saja masuk sekolah umum pasti dikepala Kia bulan ini waktunya ngerayain halloween (mengingat kiblatnya Taiwan itu Amerika).




#SingkekKriwul dalam waktu sebulan kemarin sudah lancar bacaan sholat (dari niat hingga salam) dan hafal kurang lebih sembilan surat pendek (juz 30). Saya ingat awal masuk Al Hadi, Kia hanya hafal empat surat pendek saja : Al Fatihah; Al Ikhlas; Al Falaq; An Nas. Hari-hari pertama masuk kelas, saya tak serta merta langsung meninggalkan Kia, saya tunggui dia dari pagi sampai sore. Ketika satu kelas membaca surat pendek yang dia tidak hafal, saya melihat mulut si kakak diam tapi mata kemana-mana. Sesampainya di rumah, dia membuka buku juz amma nya dan mulai membaca satu persatu surat yang dibaca di sekolah. Dia membaca 'sendiri' setiap waktu hingga akhirnya dia hafal! Subhanallah..


Belajar Banyak Kosakata, Bahasa dan Good Manner

Al Hadi mengajarkan tiga bahasa dalam kurikulum sekolahnya : Zhongwen (bahasa mandarin Taiwan), Ingwen (bahasa Inggris), dan Arabic. Which is itu cocok banget buat Kia yang ngga bisa diam ini, ditambah sekolahnya full day (mulai jam 8 pulang jam 4), saya yakin dengan begitu otaknya secara langsung maupun tidak akan banyak menyerap kosakata dan bahasa dari teachers dan laoshi.

Ditambah lagi Al Hadi memiliki guru-guru yang sangat berkualitas. Ada teacher Maryam lahir dan besar di US, pengajaran beliau contains Montessori Lessons. Ada teacher Juwariyah yang lahir dan besar di Madinah, beliau datang di Al Hadi sebagai Arabic native teacher. Ada lagi teacher Nourhan asal Arab-Amerika dan beliau memiliki semangat untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap science untuk anak-anak. Semuanya di "back up" oleh guru-guru yang tak kalah berkualitas yakni laoshi Malika (selaku guru serba bisa) dan laoshi Fatimah (CEO dari Al Hadi School). 




Walau berkiblat ke Arab dalam pelajaran yang diberikan, namun dalam pengajaran manner diadaptasi dari orang Asia Timur yang serba cepat, cekatan dan disiplin. Yaa, selain mengedepankan akademis, Al Hadi juga menyisipkan pelajaran life skill yang jempolan punya, seperti makan sendiri, cuci piring sendiri, lipat sleeping bag setelah selesai tidur siang dll. Semua serba mandiri dan rapi. Satu bulan di Al Hadi, #SingkekKriwul benar-benar improve positif dalam kepribadiannya.


Jadi Punya Banyak Teman

Ini sudah sepaket nih sama sekolahannya, jadi punya banyak teman! Ngga hanya teman dari Indonesia, ada pula yang dari Mesir, Malaysia, Arab, Amerika, Taiwan, India dan beberapa diantaranya adalah blasteran dari negara-negara tersebut. Maasya Allah.

#SingkekKriwul yang rupanya berjiwa sosialis, masuk Al Hadi ibaratnya ingin selalu masuk paling pagi dan pulang paling sore, hanya untuk bertemu teman-teman dan guru-gurunya. Dia betah banget disana. Kalaupun hari berganti Sabtu dan Minggu, dia selalu bilang ingin segera masuk sekolah.


Memang lingkungan dan budaya yang baik akan mempengaruhi pemikiran dan sifat anak-anak ya. Dalam kasus ini adalah lingkungan sekolah yang mana #SingkekKriwul seharian berada disana. Sebulan yang menyenangkan ya kakak 💖


Source foto : Facebook Al Hadi Parents Group

Inner Child, Ekspektasi, dan Secuil Dunia Sekolah Taiwan : untuk Saya dan Kia



Dear parents, bagaimana sih jadi orang tua yang benar?

Pertanyaan ini selalu berputar-putar dikepala. Dan lima tahun saya jadi orang tua, saya belum menemukan jawaban yang tepat.


Saya jadi teringat masa kecil, saya yang sekarang tersentil dengan postingan seorang teman yang saya kagumi kejeniusannya dalam mengelola pikiran dan tenaganya sehari-hari untuk mengurus suami dan ketiga anaknya. Bagaimana cara beliau mengurus itu semua? Pernahkah kepala dan hati beliau meleduk karena kelebihan beban plus kecapekan fisik?

Postingan beliau menyinggung tentang inner child yang tak membahagiakan. Saya tersentil, namun sedang berusaha tak membiarkan jadi berlarut-larut.


Hari pertama Kia sekolah, saya memiliki ekspektasi tinggi, padahal jauh jauh hari saya sudah mbatin : dia cuma anak-anak Lis, jangan naruh harapan terlalu tinggi, nanti bisa jadi keberatan tuntutan ke dia. Biarkan anakmu jadi anak-anak dan dewasa sesuai usianya. Jangan jadikan masa kanak-kanaknya cerminan masa kanak-kanakmu yang penuh tuntutan dan harapan itu. Jangan...

Terlalu banyak jangan, justru jadi lupa, bagaimana cara menghindari sebuah kubangan. Terlalu banyak jangan, justru jadi tinggi ekspektasi.


Public school di Taipei adalah tempat idaman saya untuk menyekolahkan Kia sedari dua tahun lalu, sedari Kia masih berusia dua tahun. Lantaran saya suka kedisiplinan sekolahnya. Khas orang Taiwan, kalau aturannya A ya pasti A.


Kia diterima di Public School terbagus di Banqiao District (menurut teman satu lab mas husband--yang merupakan alumni SD si Public School ini--pun dalam pendaftaran masuk sekolah Kia, temannya inilah yang membantu dari awal). Semua persyaratan sudah dipenuhi, semua peralatan sekolah sudah disetorkan. Tinggal masuk aja nih--kelas Snopi A. Lalu semua runtuh setelah pertemuan asosiasi orang tua wali murid. Mas husband yang datang ke pertemuan tersebut dan saya mendengarkan cerita do'i dengan seksama.

 


 

A : Anak saya tidak makan babi.
T : Ah.. (garuk-garuk kepala, mikir namun tak menemukan solusi). Bagaimana ya, makan siang kami dumpling dan pakai daging babi. Bagaimana kalau sayuran?
A : Ya itu lebih baik.

Bukan maksud kami sebagai orang tua 'foreigner' yang cerewet membebani guru-guru Public School tersebut. Ibarat kata seperti pengalaman kami saat menginap di hotel, jauh-jauh hari saat booking sudah bilang sarapannya ngga mau menu babi, selain itu oke, dikasih hanya sayuran vege pun no problem, ternyata di hari H menunya babi semua karena chef nya tidak diingatkan kembali kalau satu penghuni kamar pantang makan babi, kami batal sarapan pun masih bisa cari makan diluar dan ga masalah uang sarapan hangus. Nah kalau dikata anak-anak yang setiap harinya datang ke sekolah dan belajar dan tinggal makan saat jam istirahat siang, iya kalau juru masak sekolahnya ingat kalau ada satu muridnya ngga makan babi, lha kalau lupa, mana ada juga yang ingetin juru masak kan, semua punya tugas masing-masing. Naudzubillahmindzaliik.

For your information, makan babi di Taiwan seperti makan ayam di Indonesia. Lumrah.

Tak ada pembicaraan mengenai bekal dari rumah, lack of language kendalanya, udah saat itu juga langsung kami putuskan untuk tidak memasukkan Kia ke sekolah umum. Hati jadi tak tenang dibuatnya.


Mas husband memutuskan satu hari libur untuk mengurus semuanya. Banting setir, cancel kontrak sekolah dan semua peralatan sekolah Kia dari Public School diboyong ke Islamic School. Biarlah dikata si Islamic School punya jarak jauh dari rumah, akses susah karena harus oper-oper MRT. Namun hati tenang dan ikhlas karena sekolah ini punya visi misi sekolah islam. In sya allah...

Memang masalahnya hanya karena si babi, kami urung niat memasukkan Kia ke Public School. Menyesal dan eman sebenarnya, karena disiplin sekolah yang saya suka. Tapi jika kami sebagai orang tua lalai akan ini dan tanpa sengaja anak makan babi, maka kami lah yang pertama dan langsung terjun bebas ke neraka dibuatnya. Naudzubillahmindzaliik..

 


Hari pertama Kia sekolah di Islamic School, saya tak serta merta meninggalkan dia. Walau disini ada peraturan anak sekolah 'tidak boleh' ditunggui orang tua, tapi karena diijinkan oleh laoshe nya, tak apalah tunggu sejam dua jam sambil lihat kondisi sekolah. Dan saya terkaget-kaget dibuatnya.


Seorang anak laki-laki yang sangat aktif melintas dihadapan saya. Tanpa permisi tanpa sapa. Dia hanya tertunduk, matanya terlihat kosong namun pikirannya terisi, dan gerakan tangan kakinya lincah bak mesin--tak terkendali. Saya mengenalinya karena dia anak seorang teman. Ibunya adalah yang paling pintar diantara kami, lanjut sekolah di kampus nomor satu Taiwan. Bapaknya pun lanjut sekolah sama seperti Ayah Kia, mereka berkawan dari lama sepertinya, mungkin kenal saat sama-sama S2 disini.

Kelihatannya tak ada seorang guru pun yang mampu mengendalikannya, atau mungkin tak ada seorangpun yang mampu mengendalikan kelincahan tubuhnya. Seketika pikiran saya KLIK, anak ini butuh perhatian bukan suruhan. Ada banyak kabut dipikirannya, berharap orang terdekatlah--yang selalu ada dihatinya yang membantu menolong menghempaskan kumpulan kabut tersebut. Namun entahlah, dia terlihat tidak puas akan keinginannya atau kebutuhannya.

 

Saya KLIK, karena mendadak saya teringat Kia. Tingkah laku Kia di hari pertama dia sekolah membuat saya terkaget-kaget, kenapa ngga jauh berbeda dengan anak laki-laki tadi? Saya jadi spontan membandingkan dia dengan teman seusianya yang patuh dan selalu mengerjakan apa-apa yang laoshe minta. Padahal saya yakin teman seusianya pun juga sedang belajar bahasa Zhongwen dan English saat ini, dan itu lumayan bikin stress anak-anak karen harus belajar tiga bahasa sekaligus.

Padahal saya sudah menurunkan keperfeksionisan saya akan tuntutan untuk anak. Padahal padahal padahal, jangan jangan jangan.

 


 

Sejatinya, Kia always do best behaviour at home, bantu saya mengerjakan pekerjaan rumah, bantu membereskan mainannya sendiri, bantu menjaga adiknya, diminta atau tidak. Entah mengapa, saat di sekolah, saat bertemu dengan teman-teman dan ada banyak mainan, dia hanya mau main main dan kurang bisa duduk tenang untuk berkonsentrasi. Walaupun memang dia masih anak-anak dan mas husband memaklumi itu. Sharing dengan Ibu-Ibu yang lain, rupanya memang Kia tidak sendiri, beberapa teman-temannya pun juga menunjukkan perbedaan perilaku ketika di rumah dan di sekolah. Laoshe nya bilang, ini wajar, terkadang anak-anak butuh adaptasi untuk berkonsentrasi sekitar satu minggu lamanya, minimal. At least, Kia anaknya pemberani, dia bahkan tidak keberatan ditinggal, tidak menangis dan tidak rewel. She is fun and such positive girl, kata laoshe nya, ngga jarang Kia suka bikin guru-gurunya tertawa bersamaan disela pelajaran berlangsung.

((Tarik nafas, buang nafas)). Ada positif ada pula negatifnya. Saya yang sifatnya idealis lagi introvert lagi perfeksionis ini sejatinya ingin menyeimbangkannya. Ingin membiarkan Kia dengan sifat dagelan dan positifnya, namun juga tak ingin Kia kehilangan kesempatan untuk belajar di sekolah. Sangat sangat berharap dia punya grafik naik terhadap semangat belajarnya.


Dear parents, sekali lagi saya ingin bertanya, bagaimana kah cara menjadi orang tua yang benar?


Sejatinya inner child saya menghantui. Menghantui saya, membuat saya selalu tidak puas akan keputusan diri sendiri, membuat saya selalu merasa bahwa diri ini belum selesai urusannya mengapa harus bergegas menyelesaikan urusan orang lain--anak sendiri? 

Clue, Ibu saya seorang wanita mandiri dan diktator dan tak bisa ditekuk keinginannya. Dan saya yang sekarang mungkin menjadi cerminan beliau. Walau saya selalu meminta saran, pandangan dan pemikiran mas husband,, nampaknya saya terlalu bebal pikirannya. Kalau sudah A ya A.

Apakah ada yang menyarankan, sembuhkan dulu pikiran dan hati dari bad inner child yang menghantui? Believe me, saya pun sudah sejak lama memikirkan ini. Tapi sebanyak apapun buku, referensi, story parenting yang saya baca,, saya pun jadi seolah tak mengerti apa-apa tentang ini.


Dari lubuk hati terdalam, saya sangat sayang anak saya dan tak ingin dia jadi cerminan saya yang punya masa kecil tak bahagia. Saya tak ingin jadi diktator karena saya ingin punya prinsip burden free life. Tapi saya sangat concern terhadap pendidikan anak. Saya ganas kalau berhadapan dengan yang namanya belajar dan saya ingin Kia meniru saya.

Dear hati, dear pikiran, berdamailah.. Kita seorang diri dinegeri orang. Kita ngga punya siapa-siapa selain diri ini. Kita harus bisa mengandalkan satu sama lain.

Dear anakku sayang, Ibu yakin kamu pandai, Ibu bisa lihat kamu selalu antusias terhadap buku; membaca dan bersosialisasi dengan teman-teman. Ibu harap kamu bisa menemukan jalan untuk menyeimbangkannya. Ibu hanya memberikan wadahnya saja, berharap kamu bisa memanfaatkan dan mengisi wadah tersebut dengan sesuatu yang berguna. Maafkan Ibu yang penuh tuntutan ini..

Dear my mom, I know your life was hard. Really hard so you could not enjoy every second in your life with little happiness. And forgive me always made your life harder.


Dear parents, sejatinya tak ada yang bisa mengukur dan memastikan cara menjadi orang tua yang benar. Karena apa, karena kita berhak salah dan berhak belajar untuk jadi lebih baik. Karena menjadi orang tua adalah suatu proses yang dijalankan seumur hidup. Karena menjadi orang tua bukanlah seperti ajang kompetisi, tak boleh ada yang namanya menghakimi dan merasa menjadi benar.

With ❤️,

From Lisa dan duo singkek.