My First Black Gold

 

Teman-teman pernah dengar atau pernah (atau mungkin sedang) pakai Black Gold?

 

~oOo~


Ngomongin fashion emang ngga ada matinya. Makin tambah tahun makin banyak pula variasi turunan fashion, identik dengan fashion kekinian yang berubah-ubah. Jaman masih gadis dulu (a elaa gadis katanya wkwk), saya suka ngikutin fashion di tipi tipi atau di majalah. Saking kepengennya punya tas cantik atau gelang manik-manik yang terkenal pada jamannya, saya sampai rela ngabisin waktu di kamar buat bikin sendiri. Iyaaa bikin tas sendiri (jahitnya pakai tangan, karena badan saya terlalu kecil kalau mau pakai mesin jahit punya Ibu tertjintah). Saya juga bikin aksesorisnya sendiri. Jaman saya SD sampai SMP, sang Ibu melarang anak-anaknya keluar rumah kecuali saat sekolah dan mengaji. Jadi saya punya banyak waktu di rumah untuk berkreasi.

Lalu beranjak remaja-dewasa, SMP-SMA-kuliah, saya suka yang namanya model jilbab dan bajunya. Sudah boleh keluar rumah dengan kemauan sendiri dan bersama teman karena sudah bisa naik motor dan mobil. Mulai dah lebih up to date sama fashion jalanan. Dulu yang namanya tunik dan gamis belum seterkenal sekarang. Kalau tanya di toko pakaian atau butik, yaa pakai nama atasan atau baju atau rok perempuan. Dan ketika teman-teman seusia saya masih sibuk menyukai rok perempuan, saya sudah punya berbagai macam fashion pakaian luar negeri seperti celana coldore; blazer kulit; yukensi shanghai dkk. Kadang juga kalau menurut saya, model dan ukurannya "kurang ngeh", saya modifikasi sendiri. Ibu saya sering ngomel, karena di kamar anak perempuannya terlalu banyak "gombal" dan manik-manik wkwkwk.

 

Mom, heranlah kalau di kamar anak perempuanmu terdapat banyak perkakas mesin.

 

Tahun 2000-an saya juga suka mengoleksi manik-manik atau yang sering dibilang "monte". Saya suka bikin aksesoris sendiri lalu karena jumlahnya kebanyakan dijuallah itu monte dalam bentuk cincin; gelang dan kalung ke teman-teman SD. Eh lha kok ada yang mau beli ya wekekek. Saya ngga terlalu silau sama yang namanya emas perhiasan kala itu. Bahkan yang terakhir saya ingat, saat akan lulus kuliah, Ibu saya memperlihatkan kotak perhiasannya yang kayak koper artis itu dan memilihkan beberapa perhiasan untuk saya. Saya hanya tertarik pada satu cincin emas tanpa mata.

Berbeda dengan sekarang, saya suka banget sama yang namanya emas. Sendirinya agak khawatir memang, karena takutnya saya jadi addicted kayak dulu suka koleksi koleksi barang. Dan sezuzurnya saya agak silau sama emas perhiasan di Taiwan, hampir setiap toko offline dan online disini menjual emas perhiasan kadar 9999 alias 24karat mboook

 

Saya menetapkan mindset : kalau untuk koleksi (tapi ngga boleh banyak-banyak hehe) bolelah emas perhiasan, kalau untuk investasi harus emas batangan.

 

Tapi namanya hati manusia, sering berubah-ubah. Setelah menetapkan mindset, ketertarikan saya justru beralih ke perhiasan Black Gold. Keliatan simpel dan ngga mencolok, dan itu emas which is itu berharga. Tapi penasaran, emang ada emas yang warnanya hitam?


Apa itu Black Gold?

Setelah saya searching dibeberapa artikel online, hmmm, saya bisa menyimpulkan bahwa black gold itu ngga nyata. Bukan ngga nyata berarti kasat mata ato yang ngga terlihat mata ya, bukan. Black gold tidak murni "black" saat ditemukan di alam, melainkan blacknya ini hasil rekayasa manusia. Ada yang setuju juga ada yang engga, ngga papa.

Black gold merupakan "emas" yang dibuat di pabrik maupun di laboratorium. Sejauh ini teknik pembuatan black pada gold sebatas "melapisi" dan tidak permanen. Dan karena hanya melapisi, tentu saja "bisa luntur" warna hitamnya. Di beberapa dekade belakang, para ilmuwan menemukan teknologi untuk mengubah semua logam menjadi berwarna hitam, dan dapat dipastikan hitamnya tidak akan mudah luntur. Tidak menutup kemungkinan dengan menggunakan teknologi yang menjurus ke mikro partikel tersebut, emas yang memiliki warna asli kuning bersinar ini akan berubah menjadi hitam pekat. Sayangnya, teknologi tersebut memerlukan laser femtosecond yang sangat mahal dengan akses listrik yang sangat besar dayanya.

Bicara tentang teknik pelapisan emas menjadi hitam yang tidak permanen ini. Ada empat cara yang dapat mengubah emas menjadi hitam : Oxidation (menggunakan cairan asam yang khusus dan diaplikasikan ke permukaan emas/logam), Blackening (menggunakan cairan pekat seperti cat yang disikat ke permukaan emas/logam), Black Enamel (cairan enamel yang berwarna hitam dipanggang dan dilumurkan ke permukaan emas/logam; kelebihannya emas/logam tersebut menjadi keras dan bersinar), Black Rhodium Plating (cairan rhodium yang berwarna hitam diciptakan di laboratorium dengan pencampuran bahan kimia; ketika dilapiskan ke emas/logam; hasilnya tidak sepenuhnya berwarna hitam melainkan keabu-abuan).

Apakah black gold valuable layaknya emas perhiasan? Tentu saja, karena bahan dasarnya emas perhiasan tentu harganya mengikuti harga dunia. Dan percaya ngga percaya semakin tahun harga emas selalu bertambah! Lalu bisakah black gold ini dijadikan investasi? Some say yes, but not me. Why? Karena black gold yang saya miliki luntur pak! Uda ngga secantik saat awal pakai.


Kusempat kecewa! Banget.

Awal-awal lihat di sosmed, kok cantik yaa gelang warna hitam begitu, emas lagi, kok daku ngga punya yaa, pengen punya ah satu. Lanjut searching lah di platform belanja online yang berwarna orange itu, eee banyak macemnya. Masukin favorit beberapa dan checkout satu ajah. Kirim ke Taiwan barengan sama hadiah lebaran dan obat-obatan dari Ibu (loooovvveee bangettt mommy, kuh jadi terharu hiks). Lalu daku buka bungkusan kecil berwarna hitam, ada nota dari si toko emas daaaan jeng jeeenggg : benang! haha.

 


 

Memang saat di unboxing, adik saya ngevideo sambil ngomel-ngomel. Bilang buang-buang uanglah, bilang ngga pintar pilih seleralah, sampai didoain ngga punya duit buat beli gelang beneran (NAUDZUBILLAHMINDZALIIIIIKKKK). Sebagai mbak yang santuy, saya anggap angin omongan dia. Walau Ibu saya juga ngomongnya pake ngancem, "awas kund yo, ojok dibaleni tuku benang, gak usah tuku tuku maneh, gelang emase Ibu akeh, pek'en kabeh!". Daku masih optimis, barang yang saya beli ngga jelek-jelek amat.

Tapi kutak menyangka memang yang datang benang beneran haha. Sekecil ituuuhhh,, masa lebih besar karet gelang ketimbang gelang black gold guwehh. Lagi-lagi tertipu dengan barang online, salah salah, high hopes nya yang ketinggian sama barang online. Iyalah kita beli perhiasan kaaaann (?).

 


 

Kecewanya ternyata berlanjut bund. Saya pakai gelang benang tersebut buat sehari-hari. Dari mulai tanggal 29 April malam dan pagi tanggal 2 Mei saya terperangah ketika di kamar mandi melihat gelang black gold ini. Kebetulan lampu kamar mandi rumah shiny nya agak kelewatan bak lampu penerangan bundar yang biasa dipakai mbak-mbak online shop buat live. Kelihatanlah itu semua manik-manik yang "luntur" hitamnya. Padahal pakai baru sekitar tiga hari lhooo.

Masih lanjut lho buundd kecewanya. Saya teringat video lifehacks di sosmed tentang cara cek aksesoris beneran emas ato tidak. Sontak saya ambil magnet yang tertempel dikulkas dan tempel ke gelang black gold ini. Semua manik-manik dan rantainya tidak menempel kecuali satu : pengaitnya. Sudah ini berat gelang yang dikasih ngga sampai segram, pengaitnya bukan emas pula. Adooohh maaakkk, daku doain semoga toko emasnya berkah yaaa.

 

Sebentar sebentar. Yang manik-manik hitamnya luntur jadi warna hitam keputihan. Sementara rantainya, hitamnya luntur jadi warna hitam keemasan. Apakah manik-maniknya ini bukan emas? HAHA hayolooo~

 



Terakhir nih bund kecewanya, janji deh semoga ini yang terakhir. Kalau ada yang bilang banting aja gelangnya, sabaarrr, sabarr. Ngga perlu saya keluar usaha banting sih, tinggal tunggu ditarik #SingkekLurus aja gelangnya uda putus sendiri kok, mengingat anaknya sedang asik-asiknya gerak dan tertarik (banget) sama benda yang mengkilat #sad.

Balik ke leptop ya bund, ternyata saya alergi. Baru tau ini kalau saya alergi emas atau mungkin alergi sama lapisan emasnya bund. Gatelnya parah bund, tapi saya ngga berani garuk, ditahan aja siapa tau ilang-ilang sendiri gatelnya. Entah apa lapisannya ya, yang jelas saya apes dapat yang kualitas ngga bagus.

 

Ooo makanya black gold ngga dijual di Taiwan, apa gara-garanya black gold ini ngga eternal kayak gini ya ???

 



Saran & Curhatan Kesimpulan

Jadi kalau temans melihat black gold di toko emas atau di platform belanja online, jangan terburu-buru checkout ya. Pastikan dulu berapa karat si emas hitam itu, kemudian tanyakan pelapis warna hitamnya pakai apa. Bukannya apa-apa, takut kena alergi seperti saya kan berabe. Dan kalau sudah terlanjur beli, pastikan saat memakainya temans tidak pakai lotion atau sunscreen, tidak berkeringat dan tidak mandi yaa. Ya kali dibeli tapi ngga dipakee~.

So far, saya suka banget gelang emas hitam ini, karena ukurannya kecil dan dalam pemakaiannya sama sekali ngga mengganggu aktivitas. Tapi ya itu tadi, umur gelangnya bergantung pada keaktifan bayi saya wekekek. Sekali tarik terus putus, ilang duit sejuta. Makanya lisss, iya wes wes udah cukup "makanya makanya". Minta doanya ya, supaya saya tabah. xixixi, salam 💖.


Referensi Bacaan

1. Calla gold

2. Thermofisher scientific

3. Lexie Jordan

Sate House di Taiwan, Legend Nih, Enak Ngga?

"Enak ngga Lis? Uda lama pengen nyobain tapi belom kesampaian nih"

Belom dijawab, tetiba otak saya tanya balik, "Ini Sate House sama ngga ya kayak Sate House di Bandung, mbak?". Secara yang nanya mbak mbak asli Bandung~



 

(磐石坊- 正宗印尼料理) Sate House di Taipei Taiwan ini kabarnya berdiri dari tahun 2003 (wah saya baru masuk SMP tuh) dan ownernya (keturunan Tionghoa-Indonesia) memiliki visi misi mengenalkan masakan Indonesia yang terkenal rumit dengan harapan mampu memanjakan dan memuaskan lidah pelanggannya. Kalau dilihat dari properti penghias ruangan restonya, Sate House beberapa kali mendapatkan penghargaan nih gengs. Tambah penasaran deh mas husband ingin segera nge-lahap hidangannya.

Mas husband??? Iye, yang kekeuh pengen kesini si do'i. Saya lihat vibe namanya aja, uda kayak maju mundur lho, pasti mihil-mihil harga makanannya. Sama mahalnya dengan harga makanan warung-warung Indo yang ada di Taipei Cecan 'pas weekend', wekekek. Kamipun akhirnya datang ke Sate House Taipei Taiwan pertengahan bulan Februari 2022.

 

Dimana lokasinya, Lis?

Sate House berada dekat dengan Liuzhangli MRT Station, sekitar 500meter jaraknya. Karena letaknya dipinggir jalan besar (kayak jalan provinsi--kalau di Indo), ostomastis harga sewa bangunan mahal (kecuali kalau fangtung rumahnya ya si pemilik resto--jadi ngga perlu biaya sewa). Positifnya, karena dipinggir jalan, restonya bisa 'langsung' dilihat dan ditemu orang sehingga kemungkinan pasti ramai pengunjung.

 

Kalau tidak salah melihat Sate House memakai tiga lantai, lantai satu dan lantai underground untuk ruang makan dan lantai dua untuk dapur. Karena ngga ingin repot angkat stroller, kami pilih duduk dilantai satu. Pada saat kami datang, pas lantai satu sudah penuh pengunjung. Beruntung masih dapat meja untuk berempat ya. Rombongan tamu yang datang setelah kami kebagian duduk dilantai bawah.


Suasananya bagaimana?

Satu kata : legendaris. Ornamen dan properti ruang lantai satu menunjukkan resto ini old namun punya gaya. Saat baru duduk, dimeja sudah tersedia sendok garpu sumpit yang beralaskan sebuah kertas bergambar patung wanita yang memakai pakaian adat (dengan segala kelengkapannya) dan bertuliskan 磐石坊印尼料理 Sate House Indonesia Cuisine.

 

Ketika masuk resto, mata sudah pasti langsung tertuju ke dua etalase (paling kiri dan paling kanan--dekat kasir). 'Ini resto Indonesia!', mungkin begitu kalau si Garuda bisa ngomong. Patung Garuda Pancasila yang diletakkan paling atas etalase sebelah kiri (sehingga terlihat hampir menyentuh langit-langit ruangan) seolah-olah menjadi raja dari semua properti keIndonesiaan diruangan ini. Dengan ratunya Patung Kapal Pinisi di etalase--meja kasir sebelah kanan ruangan.


Alunan instrumen gending jawa yang dipadu dengan gemericik air hujan dan suara burung yang diputar malam itu hmmm, kemudian dilanjut dengan suara seruling sunda yang mendayu-dayu, pikiran langsung melayang ke masa lalu saat diajak menginap disebuah hotel di Solo. Tak dibiarkan sepi, tembok ruanganpun berhias lukisan-lukisan yang saya kira pelukisnya bukan pelukis ecek ecek. Pernah ke The Consulate Surabaya yang ada di jalan Tegalsari? Vibe disini dan disana 11-12 lah, caputuo~.

Untuk pelayanan pun juara! Saat kami baru duduk, ownernya langsung yang datang ke meja kami dan mencatat pesanan. Suara beliau hampir mirip sama pakde saya (almarhum), lirih tapi mantabb. Mungkin jika masih hidup, usia pakde dan bapak owner hampir sama. Kemudian ada mas-mas (orang lokal) yang memberikan kami satu teko beling besar berisi air putih, dua gelas beling, satu gelas plastik dan satu mangkok plastik.


Makanannya enak?

Mari kita tilik atu-atu (makanan yang kami pesan ya). Kami pesan dua menu, dua macam nasi dan dua minuman.

Dua menu : Sate Kambing dan Sop Buntut.
Beraaat ya pesenannya haa. Karena sebenernya bosan juga lho gengs sehari-hari kami makannya ayam, ikan, daging sapi. Uda itu aja diputerputer tiap hari wkwk. Pilih yang halal dan affordable buat kantong mahasiswa hihi. Makanya, pas makan di luar, saya berpesan sama mas husband dan #SingkekKriwul buat pilih menu makan yang engga bisa ato yang engga pernah saya masak.

 

Sate kambing pesenan mas husband dan Sop buntut pesenan saya. Saya bilang dua menu ini cukup enak, namun mas husband kebalikannya. Menurut do'i, mungkin target pasar Sate House untuk masyarakat lokal sehingga cita rasa yang disuguhkan ya sesuai dengan lidah warga lokal. Even sate kambingnya enak ngga bau prengus mbek tapi bumbu satenya kurang nonjok di lidah warga Indonesia apalagi orang Madura kayak do'i. Rasa-rasanya lidah do'i masih berunsur lidah Indonesia ya, beda lagi lidah saya yang sudah membaur sama lidah lokal.

Kalau dipikir lagi, ada benarnya, ekspektasi saya udah kebayang Sop buntut yang pernah saya rasakan di resto mini punya teman bude (asli Solo) di dekat bandara Halim Perdana di Jakarta, karena saya rasa kelasnya sama. Saat dirasakan, yaa hmmm, beda uhuhuhu. But... Saya suka penyajiannya : mewah. Agar terjaga panas sop buntutnya, diberikan pula kompor mini berbahan bakar parafin.



Dua macam nasi : Nasi Kuning dan Nasi Putih.
Mas husband teramat sangat kecewa dengan nasi kuning yang do'i pesan : masih keras dan ngga wangi. Masih enakan nasi kuning bikinan saya katanya (ya iyyalllaahhh-pake melet ngomongnya, saya bikinnya pakai cinta wekekek). Untuk nasi putihnya lumayan katanya, alhasil nasi putihnya yang do'i makan. Karena saya sayang ada makanan (bayar pula) dibuang, nasi kuning hanya bisa saya makan separoh dengan bantuan kuah panas sop buntut. Eiya, nasi putihnya mirip seperti nasi ketan, lengket dan berasa ada manisnya.



 

Dua macam minuman : Es Kuah Atap dan Es Kelapa Muda.
Udah ini mah juaranya dari semua menu yang dipesan. Segar dan dingin. Cuma kurangnya satu : kurang banyak porsinya waaa~ (dilempar patung garuda ntar saya). Ada yang penasaran Es Kuah Atap itu apa? Rupanya es kuah atap adalah nama lain dari es kolang-kaling.



Harganya?

Sebelum buka menunya, saya baca basmalah dulu, biar angka NT didalamnya ngga bikin silau mata hehe.




Duo menu minuman dibanderol harga masing-masing 80NT. Untuk nasi kuning 35NT dan nasi putih 25NT. Sate kambing 240NT dan sop buntut 350NT. Total untuk makan bertiga 810NT, lumayanlah...


Kesimpulannya?

Saya mau tulis kesimpulan, lalu teringat perbincangan dengan teman melalui telepon keesokan harinya dari Sate House.

R : Yok opo mas Sate House?
A : Lho kok ngerti kalau abis dari Sate House?
R : (ngekek) Enak ora?
A : B ae mas.
L : (aku setengah teriak) Masih enakan masakanku masss
R : (tambah ngekek) Pesen opo ra enak? wes coba Ayam Kalasan ee?
A : Engga pesen ayam kalasan aku,, moso enak?
R : Ayok mrunu maneh nyoba ayam kalasan ee.
A : Ayok wes kapan-kapan yoo

Kesimpulannya saya ngga berani nge-klaim ngga enak hanya karena beberapa makanan yang kami pesan. Mungkin saat kami datang kena apes makanannya kurang memanjakan lidah. Pun juga mereka banyak pengunjungnya, walau kelihatannya kebanyakan warga lokal yang datang. O iya, menjadi nilai plus tersendiri nih, saya melihat ada sertifikat halal terpampang di dinding Sate House. Sayang saya tak sempat mengabadikannya, tengsin daritadi jepret jepret melulu.

Memang susah susah gampang menemukan restoran yang mengusung menu Indonesia "yang" memiliki cita rasa khas Indonesia karena sejatinya bumbu rempah yang ada di Taiwan tak selengkap bumbu rempah yang tumbuh di Indonesia.

Berbahagialah orang Indonesia yang tinggal bertabur segala kenikmatan sumber daya alamnya.



Sate House Indonesian Cuisine 磐石坊- 正宗印尼料理
No. 15號, Leli Rd, Da’an District, Taipei City, 106
(+886) 02 2732 5048
Open Tuesday - Sunday  11.30 - 14.30, 17.30 - 21.00

Starbucks Pertama Taiwan, Creepy Gini Dibuat Nongkrong, Apanya Yang Asik?


 
Semua berawal dari iseng!

Yaa, iseng skrol skrol beranda line akun Starbucks Taiwan dengan alasan keingat ini akun pernah posting tentang gerai Starbucks yang memiliki taman dan dikelilingi bunga Sakura. Siapa tau bisa mampir kesana buat menghabiskan me time awal spring Februari kemarin, pikir saya waktu itu.

Kalau me time nya mas husband, minta hari Sabtu atau Minggu untuk main futsal. Kalau me time saya minta satu hari saat weekend untuk 'libur' agar bisa buka laptop dan ngeblog. Waktu me time ini kami lakukan diluar waktu jalan-jalan keluarga, tapi kalau pas waktu jalan-jalan keluarga ngga ada ide mau kemana, nongkrong dan ngopi lah jadi ajang refreshing kami. Dan ternyata me time ini memang berdampak sekali terhadap kewarasan pikiran (saya lebih tepatnya hehe).

Seperti yang kita ketahui, Starbucks merupakan salah satu franchise mendunia yang sejatinya tak hanya 'menjual kopi'. Mereka juga menjual properti dan suasana. Sebenarnya di Taiwan ada banyak brand lokal yang mengusung tema 'kopi dan nongkrong' sih...

Yang saya tau ada 85°C (Pa Se Wu) Daily Cafe, Dante Cafe, Dreamers Coffee Roasters, City Cafe 7-11, Let's Cafe Family Mart. Dan yang paling terkenal dikalangan mahasiswa asal Indonesia yakni Cama Cafe dan Louisa Coffee. Mas husband si pecinta kopi pernah bawa kopi dari berbagai macam brand tadi, dan yeah bagi amatiran seperti saya rasanya pahit dan ngga enak semua wakakak. Jujur saya bukan pecinta kopi, saya hanya pecinta suasana tempat nongkrong warung kopi. Pun kalau nongkrong di 'warung kopi', pesenan saya ya kalau ngga Frapucino atau es teh susu manis. That's it.

Do'i : Ibu mau pesan apa? || Saya : Yang biasanya ayy..


Saat di Indonesia, pilihan nongkrong dan ngopi saya cuma di dua tempat : Coffee Toffee dan Starbucks. Karena Coffee Toffee ngga ada di Taiwan, maka hobi nongkrong di warung kopinya berlanjut di Starbucks ha ha. Gimana engga pilih Starbucks, uda suasana enak, nongkrong sambil konsentrasi bikin artikel bisa lama, plus minuman favorit pasti ada. Kalau di Taiwan tempat nongkrong (yang bisa lama duduknya), bisa dihitung jari.

Kembali ke laptop!

Iseng mencari postingan Starbucks di Taipei yang dikelilingi tanaman Sakura, ketemunya justru postingan video tentang Starbucks pertama yang didirikan di Taiwan. Historinya berasal dari tahun 1998, franchise Starbucks berdiri di kota Taipei tepatnya di daerah Tienmu. FYI, sampai tahun 2021 kemarin, jumlah gerai Starbucks di Taiwan ada 500-an. Lumayan dahsyat banyaknya untuk ukuran si pulau formosa yang luasnya hanya seperempat dari pulau Jawa!. Pas kebetulan bulan Maret ini celebrasinya, exciting lah saya berkunjung ketempatnya untuk 'nongkrong'.

Pas hari H datang ke tempat : Jeng jeeengg!
 


Vibenya creepy banget ya sis. Macam mau masuk area Hogwards gitu pas lihat pintu gerbangnya. Pasalnya sudah ada pohon hitam buessaaarrrr yang menunggu dari balik gerbang.
 
"Beneran ini nih?", tanya do'i. "Masuk ngga?"


Si pohon ini punya batang utama yang besar dan banyak cabang ranting (yang juga bewarna hitam) dengan sedikit daun dan bunga yang tumbuh. Biar kelihatan asri, sepertinya sang manager kala itu kasih tanaman hijau disepanjang pagar yang mengelilingi bangunan. Biar ngga dikira musim gugur all the time juga ya.

Masuk juga akhirnya ha ha.
 



Bangunan Starbucks ini memiliki dua lantai. Kabarnya, dari tahun 1998, arsitektur bangunannya tak banyak berubah. Biar dikata pondasinya tembok besi beton semua, tapi properti didalamnya adalah kayu mahoni. Sederhana namun eternal. Seperti gerai Starbucks kebanyakan, lampunya dibikin remang ramah mata dengan alunan musik jazz yang cocok sekali buat tidur #lho buat belajar.

Salah kami datang pas hari Minggu--pas sore lagi, ramai pengunjung bikin ngga intimate menikmati suasana. Bahkan kami hampir ngga kebagian tempat duduk huhuhu. Beruntung ada bapak-bapak baik hati memberikan tempatnya ketika melihat saya menggendong Meilin dan menggandeng Kia. Beliau menyuruh anaknya bergegas berkemas dan pergi lalu mempersilahkan saya untuk segera duduk. Duh baiknya ♡.

Let's see the pictures (inside building) of the First Starbucks in Taiwan !.


Happy Birthday Starbucks Taiwan!







See, kebanyakan yang nongkrong disini pasti bawa gadget. Kebanyakan dari mereka ada terlihat menunduk : mengerjakan tugas sekolah, tugas kuliah, dan ada pula yang sedang bekerja. Hampir tidak terlihat orang yang hanya nongkrong dan talking to much alias nggedabrus, that's why suasana disini nyaman banget untuk belajar dan tidur (kalau saya ngerasain sepi gini bawaannya tidur mah, untung ada Kia yang sedang keranjingan bertanya).
 
Muka ngga jadi ngantuk, thx lho ayy candidnya~


Ada yang baru bangun~ #SingkekLurus
 
Jadi apanya yang asik?

Buat saya, nongkrong bareng keluarga lah yang asik! Dimana aja teteup asik! Even cuma chit-chat, liat gadget, liat kelakuan anak-anak explore tempat baru (kalau #SingkekKriwul : ngisengin cece yang duduk sendirian dan sedang melamun wkwk), ato ngomongin visi misi kedepan. Such a pleasure punya husband yang se visi misi dan se hobi. Semoga do'i juga merasakan yang sama ((awass aja kalo enggak wakakak)).

Setelah main ke Starbucks pertama Taiwan, saya jadi penasaran kira-kira dimana ya Starbucks pertama yang didirikan di Indonesia?

Vaksin Dosis Kedua, Tak Apa Terlambat Asal Dapat

Menjelang persalinan, dokter obgyn yang menangani persalinan saya terheran-heran. Kenapa belum vaksin dosis kedua?


Jangan tanya kenapa dok, karena saya pun tak tau, batin saya. Singkat cerita dapat SMS dari government (untuk vaksin pertama) pun juga belakangan (alias satu bulan sebelum melahirkan). Vaksin kedua harus ada jeda minimal satu bulan setelah vaksin pertama dan itu pas hari persalinan. Pun setelah melahirkan, sebulan dua bulan, bayi masih belum bisa ditinggal yak.

Lantas saya baru bisa melaksanakan vaksin kedua awal bulan Februari ini. Karena 'ketinggalan banget', vaksin kedua saya engga perlu dijadwal. Langsung saja datang ke rumah sakit atau klinik yang ditunjuk pemerintah kapan aja sebisanya. Tenggat waktunya sampai tanggal 11 Februari 2022.

Engga pakai drama, kami langsung cuz ke rumah sakit pagi-pagi. Kebetulan dekat rumah (hanya selang satu stasiun kereta dari stasiun dekat rumah kami) ada rumah sakit besar yang menangani vaksin covid dosis kedua dan vaksin booster (kalau di Taiwan namanya third vaccine). Namanya Far Eastern Memorial Hospital (亞東紀念醫院).


Sampai di rumah sakit... BOOM. Ramai sekali rumah sakitnya pemirsah, jadi keinget salah satu RSUD di Surabaya yang selalu ramai pengunjung ngga pagi ngga malem.

Saking ramainya, susah buat bedain mana pengunjung untuk vaksin mana pengunjung reguler yang sakit. Tricky banget yak. Dalam hati saya berdoa keselamatan dan sebisa mungkin saya (yang sambil gandeng Kia--sementara mas husband dorong stroller dan Meilin) ngga senggol-senggol orang.

Tricky tricky tricky~

Terlihat di aula ada gap orang-orang yang mengantri sembari membawa kertas kuning. Pasti ini antrian untuk mendapat vaksin. Saya mendekat--melangkah namun ragu. Ini antrian untuk vaksin dosis ke berapa ya? Ini antrian vaksin jenis apa ya? Moderna kah? Pfizer kah? Astra Zeneca kah? Sinovac kah? Eh Sinovac ngga masuk Taiwan ding.

Kalau menilik website Far Eastern Hospital, hari ini adalah jadwal vaksin BNT alias Pfizer, baik second dose maupun third dose. Tapi dipapan pembatas antrian tertulis jadwal BNT dan AZ. Bikin ragu sih, tapi gapapa wes masuk aja ke antriannya.


 

Seperti saat vaksin dosis pertama, ada pos pos antrian yang harus dilalui sebelum vaksin.



Post Pertama.

Di pos pertama, saya menyerahkan kertas kuning kepada salah satu petugas yang sedang duduk dibalik meja panjang. Mbak petugas tersebut memasukkan cenboka saya kesebuah mesin card reader. Ngga pakai ngomong, petugas tadi mengembalikan cenboka saya sekaligus memberi selembar kertas form English dan selembar kertas form berbahasa Mandarin.

Usai dari pos pertama, saya berbalik dan berjalan beberapa langkah lalu melihat beberapa meja (panjang) tempat mengisi form tadi. Seorang petugas menghampiri saya dan berbicara dengan bahasa Inggris yang khas--mengarahkan saya untuk mengisi kolom yang berbahasa Inggris (batin saya, sudah tau si mbak kalau itu mah.. kirain mau bantu isi form yang berbahasa Zhongwen) kemudian meminta untuk segera berpindah ke pos berikutnya. Orang Taiwan memang sukanya cepat cepat ya hmmm.


Saya langsung berpindah ke pos kedua setelah mengisi semua form. Bagaimana dengan form bahasa Zhongwen, lis? Terima kasih buat bantuannya, gugel translet.


Di pos kedua, saya ditanya-tanyai. Wah cerewet ugha mas petugas ini wakakak. Kewajiban itu lis, koq jadi ge-er. Mas petugas makin bicara panjang lebar ketika kolom bahasa Zhongwen "dampak vaksin : mual dan pusing" saya centang. Dia bilang tak perlu khawatir dan take more drink water after vaccine. Okay.


Pos Kedua.


Dan akhirnya saya berada di pos yang paling dinanti. Yaqueen deh saya, ini pos pasti sudah bikin banyak orang khawatir. Beruntung saya dapat nakes yang "ngga emosi" kalau nyuntik orang. Kalem-kalem deh mbak nakesnya dari awal ngomong dan saat nyuntik saya. Saya ditanya bisa bahasa Zhongwen atau Ingwen (English), kemudian diminta menunjukkan cenbokka dan kartu vaksin.


Pesan mas husband : Coba cek alat suntiknya, ada isi cairan apa engga~

Wakakak, saya baru ingat pesan tersebut setelah di JRUSSS sama mbak yang nyuntik. Anyway, walau mbaknya kalem-kalem kalau ngomong, tapi nyuntiknya bikin kemeng dilengan.  Apa karena saya tegang ya, kayaknya iya deh saya tegang. Coba lihat foto-foto bidikan mas husband diatas, muka saya keliatan serius gitu.

Mbak nakes meminta saya untuk duduk dulu ditempat yang sudah disediakan sekitar sepuluh menit baru boleh pulang. Baik.


Gini amat ya busui kalau vaksin. Rombongan booo~. Beruntung mas husband pas lagi libur bersedia nemenin (kalau ngga mau nemenin, dibilang uda ngga sayang wkwkwk). Beruntung anak-anak ngga rewel ikut mamaknya dan rela menerjang kerumunan orang-orang. Alhamdulillah...

Baique, selanjutnya tinggal nunggu vaksin ketiga alias booster yang minimal jeda enam bulan kemudian, biar kalau pulang Indonesia engga pakai rempong ditanya-tanya dokumen ini itu. Enam bulan kemudian ya, Meilin uda bisa jalan belum yaa ♥


Mengapa Shilin Membekas di Hati?

Mengingat hari-hari kebelakang, tiap tahunnya ada aja yang mengharuskan kami untuk berpindah tempat tinggal. Tahun pertama kami tinggal di Yonghe District (New Taipei City), tahun kedua di Shilin District (Taipei City), tahun ketiga sampai sekarang kami tinggal di Banqiao District (New Taipei City). Stay agak lama karena merasa sudah nyaman dengan rumah, ditambah lagi ada bayi, jadi sudah ngga bisa se labil gampang dulu kalau mau berpindah tempat wkwk.


Buat kami tiap distrik menyisakan kenangan yang ngga bisa dilupakan, dengan tetangga, dengan teman, dengan fangtung (pemilik rumah), dengan penjual langganan di pasar ha ha. Taiwan goes to my brain. Tapi saya akui memang di Shilin lah, kehidupan merantau kami serasa diselingi dengan petualangan yang belum pernah kami alami sebelumnya. Makanya Shilin membekas dihati. By the way, ada empat tempat di Shilin yang kami kunjungi dan sejatinya ingin kami ulang-ulang pergi kesananya. Ingin tau apa saja?

 

1. Musium Astronomi Taipei (Taipei Astronomical Museum)

Menjadi destinasi wisata pertama kami saat tinggal di Yonghe tahun 2018. Jujur saya bingung saat itu, ingin mengajak batita kami si #SingkekKriwul jalan-jalan yang ngga sekedar jalan-jalan, tapi saya minim referensi plus minim budget (haha jujur kali mak Kia Meilin ini--para mahasiswa baru yang membawa keluarga pasti mengerti perasaan saya). Ubek-ubek gmaps, ketemulah sama musium ini karena foto tempatnya unik : berbentuk kubah lingkaran berwarna kuning.

Saya ingat kala itu bertepatan dengan hari spesial saya, kami explore musium astronomi ini sore hari (saat musium hampir tutup). Berangkat siang hari setelah dhuhur dan tujuan awalnya ngga ke musium ini melainkan ke tower Taipei 101. Lantaran harga naik ke tower 101 mihil sekalee dan kala itu kami ngga dapat tiket khusus (saat itu ada promo harga 50% untuk 300 pengunjung pertama), jadinya kami melipir deh ke musium astronomi.

Dari Taipei 101 ke museum ditempuh dengan kereta sekitar satu jam lamanya. Dari stasiun Shilin ke museum pun berjarak satu kilometer lebih dan lumayan pegel jalan kakinya, bawa bayi juga kan ya. Haha, kalau diingat-ingat, dulu kami tradisional banget. Bukan bukan, bukan tradisional, inginnya menghemat tapi jadinyaa ya begitu deh. Karena kaki lumayan gempor keliling musium alhasil pulangnya dari museum menuju stasiun Shilin kami mencoba U-bike.


Musium astronomi dibikin menarik dan semua fasilitasnya dibikin menyerupai segala macam hal yang ada diuar angkasa. Musium dibagi menjadi empat bagian yakni Exhibits Hall, Dome Theater, 3D Theater dan Cosmic Adventure, yang mana masing-masing menyuguhkan attractions tak hanya tampilan visual saja melainkan juga permainan yang melibatkan anak-anak. Disini saya dan mas husband menemukan bahwa kami pernah punya satu cita-cita saat kecil : jadi Astronot. Yap, walau saat dewasa gini pekerjaan kami jauh banget dari lingkungan luar angkasa, kami semangat betul mengenalkan Kia (yang saat itu belum berusia setahun) tentang dunia luar angkasa.

Anyway, beginilah penampakan dalam musium yang bikin saya ingin kembali lagi nanti saat Meilin sudah bisa duduk ;).








2. Shilin Night Market

Tak asing ditelinga ya? Ya, Shilin Night Market (SNM) ini cukup populer dikalangan para wisatawan lokal maupun mancanegara. Selama tinggal di Shilin, melipirnya kami kebanyakan kesini tiap pulang kerja. Ngga sempat masak makan malam, larinya ke SNM. Bosan jenuh sama pekerjaan, nongkrong disalah satu warung kopi di SNM. Sampai COD beli barang pun di stasiun dekat SNM haha. Bisa dibilang SNM jadi tempat favorit kami, karena disini semua tersedia, plus ngga jauh dari rumah, bisa ditempuh dengan kereta (jaraknya hanya satu stasiun dari stasiun dekat rumah); bisa juga naik bus; bisa juga jalan kaki. Hebat!

Sebagai kawasan night market terpopuler di Taiwan, hampir tiap hari SNM tak pernah sepi pengunjung. Kalau pagi sampai siang, kawasan ini menjadi pasar pagi yang menjual bahan-bahan kebutuhan pokok. Kalau sore hingga malam, kawasan ini menjadi pasar malam yang menjual aneka jajanan dan mainan. Namun saya sempat melihat SNM ini seolah memiliki wajah yang berbeda--sepi pengunjung, hanya satu dua orang penjual yang menjaga etalase jualan mereka, yakni saat covid baru melanda Taiwan di awal tahun 2020. Kebanyakan orang takut keluar rumah sehingga SNM hampir dibilang tak ada aktivitas. Karena tak ada aktivitas jual beli, dalam waktu kurang dari satu semester beberapa toko bangkrut dan menutup jualannya.

Sampai di tahun 2021 kami sudah pindah ke Distrik Banqiao dan saat kami kembali ingin mencoba suasana SNM, beberapa toko yang tutup tadi berganti merchant. Beruntung pemerintah dan masyarakat Taiwan cepat bangkit memulihkan keadaan dari serangan covid, sehingga aktivitas perekonomian kembali stabil dan SNM pun kembali hidup seperti sedia kala.


Shilin Night Market saat pandemi awal tahun 2020
 

Akhir 2019. Kawan peneliti dari UNAIR yang sedang ada tugas di Taiwan bagian tengah, ke Taipei buat meet up ;)
 

Baru sadar dokumentasi tentang SNM sedikit sekali di hape saya. Tapi untunglah sempat masuk yutub kami sekilas wajah Shilin Night Market (Jiantan Station) dari kamera mas husband.



3. Taipei Children's Amusement Park

Letak Taipei Children's Amusement Park (TCAP) ini dekaaaaatt sekali dengan rumah kami di Shilin. Bisa dibilang playground termegah di Taipei ini letaknya ada dibelakang rumah. Tapi saat tinggal di Shilin, kami hanya sekali lewat didepannya ketika bersepeda dihari libur. Pikir kami, mau masuk sepertinya meifanpa, #SingkekKriwul masih belum berusia dua tahun dan rasanya kurang asyik kalau ngga ajak dia naik wahananya.

 
Baru kepikiran mau masuk main wahananya awal bulan ini. Duh kah ya, pas tinggal di Shilin, mainnya suka ke Banqiao, pas sudah tinggal di Banqiao, sukanya main ke Shilin. Kami orangnya gitu mah xD.

FYI, Shilin-Banqiao itu sama seperti Utara-Selatan Taipei, jaraknya sekitar 15kilometer-an. 


TCAP ini unik sekali, walau outdoor tapi dia punya 4 lantai. Dan di tiap lantai terdapat wahana yang seru abis. Engga abis pikir saya, Taiwan bangun tempat wisata seperti ini pasti penuh dengan perhitungan.

Kalau diperhatikan lebih detil, tiap wahana tidak ada loket untuk membeli (lagi) tiket naik wahananya. Pilihan awal ada saat di pintu gerbang, mau tiket masuk saja (yang bisa dibeli melalui loket maupun tinggal tap kartu easy card dan sejenisnya yang kita punya) atau tiket masuk terusan. Kalau tiket terusan, tentu bisa langsung mengantri untuk naik wahana. Bagaimana kalau kita pilih hanya tiket masuk saja dan saat masuk TCAP tertarik ingin mencoba wahananya?

Loket tiket dihapus sehingga tidak terjadi 2x mengantri (antri beli tiket dan antri masuk wahana). Lha terus? Saat sudah mengantri masuk wahana, sebelum masuk dipintu wahana akan ada mesin tap easycard dan kita harus tap dulu untuk membayar baru boleh masuk main di wahananya. Cerdas!


Kemudian di pintu masuk ditaruh papan informasi tentang wahana permainan dan tinggi badan anak yang boleh naik wahana tersebut. Ditiap loket wahana pun juga ditulis papan informasi tentang tinggi badan anak minimal yang boleh main.

 

Pas kemarin kesana, Kia "ditolak" sama petugas-petugas dibeberapa wahana permainan lantaran tinggi Kia belum mencukupi tinggi minimal main. Sedih sih (selain karena melihat Kia dan mas husband sudah antri panjang--berniat bonek haha plus juga mereka sudah beli tiket terusan tapi ngga banyak wahana permainan yang dinaiki hiks), tapi feel save nih hati Ibu karena law dan penegaknya jempol empat! Kalau sudah ngga boleh ya ngga boleh.

 


Beli dua tiket terusan dan satu tiket masuk (saja).



Buat yang males antri, masuk pakai easycard ;)
 

Kalau boleh saya sarankan main kesininya tidak pas hari Sabtu, Minggu dan atau hari libur nasional ya gengs, kecuali kalau temans kuat sama antri wahananya ya.


Biar kata saya (include #SingkekLurus) cuma beli tiket masuk aza, pikirnya wes biarlah anak mbarep dan anak gedhe ajah yang main wahana, sampe lokasi kepingin juga nih mamak-mamak naik bianglala, dijabaninlah ngantri mengular sambil bawa bayi enem kilo yang lagi seneng-senengnya sightseeing haha. Sampai atas, rupanya keberanian saya akan ketinggian nyaris minus, kaki tetiba jadi kayak patung--maunya duduk aja (apalagi bilik kami miring sebelah karena anak mbarep dan anak gedhe duduknya barengan diseberang saya). Omaigatt, percaya saya jadinya kalau abis melahirkan pasti akan mengubah keberanian perempuan. Woei anak gedhe pasti nyindir lagi : masa' alumni menwa takut sama ketinggian ~,~.


TCAP bernilai plus buat Kia karena ditiket terusannya dapat FREE donat favonya #SingkekKriwul.

 

Makin bernilai plus karena terdapat tempat belanja oleh-oleh yang harganya murah bingits dibanding tempat belanja seperti di Ximen atau Taipei Main Station ya. Plus plus lagi karena disini ada prayer room alias tempat sholat. Mengingat pemerintah Taiwan gencar menggalakkan wisata #muslimfriendly, nantinya diusahakan tiap tempat wisata akan dibangun prayer room. Letak ruang sholat ini ada didekat pintu keluar TCAP, pas banget sebelum pulang sholat dulu.


Bisa tau semua ya wisata di Taipei Lis? Yup, karena semua attractions di Taipei-Taiwan bisa dicari informasinya melalui 'si mbah yang mendunia'. Lokasi dimana, ditempuh dengan kendaraan umum apa, dan apa saja yang menarik dari tempat wisatanya. Mamak beranak dua ini jadi ngga ada kesulitan kalau mau refreshing kemana aja, cuman yang bikin sulit adalah bangun dari tempat tidur aja hahaha mak Kia Meilin suka tidur.

FYI, hampir semua attractions yang dikelola pemerintah tutup hari Senin ya temans. Kecuali hari Seninnya libur nasional, pasti buka.

 

4. Area Sekitar Shilin Station

As I mentioned it at the beginning, kami tinggal di Shilin di tahun 2019-2020, tepatnya dekat dengan MRT Station Shilin. Karena saat itu saya bekerja sambil momong #SingkekKriwul, waktu saya kebanyakan dihabiskan hanya disekitar Shilin Station. Dan kalau dipikir lagi, rupanya ini yang bikin kami (terutama #SingkekKriwul) ingin terus kembali lagi.

Tiap weekend si xiao keke ini datang ke rumah buat main sama #SingkekKriwul
 
Main sama tetangga cantik asal Jepang : Sakura

Playground favorit #SingkekKriwul

Main di Sesa Bar Coin Laundry


Kelompok burung merpati selalu datang saat cerah :)


Arah pulang :)

Sakura bersemi dibelakang rumah ;)

 
Kalau semisal ada kesempatan pindah rumah lagi, inginnya sih balik bermukim di Shilin hehe. Minta doanya ya temans, mogaa masih ada jodoh tinggal lama di Taiwannya hihihi :).