Buat Rekening Bank di Taiwan? Perlu Atau Engga?

Boleh saya jawab duluan? YES PERLU!

Even you do not work, you must have an account bank. Kenapa? Karena benar bahaya tinggal di ibukota kalau ada banyak uang cash di dompet.

Saya Lisa Maulida pemilik blog www.limaura.com, berzodiak Libra, yang hidupnya 70% gemi dan 30% boros. Inilah cerita saya membuat rekening bank dan mengapa bilang harus punya tabungan di bank.


~oOo~

Seperti yang saya tulis tadi, tinggal di ibukota sejatinya kalau ngga waspada pasti bahaya. Walaupun yaa mengasyikkan juga karena terpapar kemajuan teknologi yang begitu pesat. Pasti temans yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya juga merasakannya. Selain teknologi yang bisa dibilang maju pesat (dan berkiblat ke Amerika), fashion juga sangat menonjol di Taipei mengingat tingginya kebutuhan untuk memenuhi lifestyle warganya. Tentu saja fashion di Taipei menjadi percontohan untuk kota-kota lainnya di Taiwan.

Well, warga di Taipei yang mayoritas bekerja inilah yang dituntut untuk memiliki gaya hidup yang "bagus" ini secara tidak langsung meng-influence warga asing (seperti kami) hanya dengan sekali pandang. Contohnya, baru saja kemarin iPhone 12 launching, hari ini sudah ada tuh yang pegang si iPhone 12. Seminggu kemudian satu gerbong kereta banyak yang pakai iPhone 12, bahkan remaja yang memakai seragampun juga sudah punya. OMAIGAT.

Ngga ketinggalan pula, tas; sepatu dan baju branded (yang masing-masingnya harganya bisa sama dengan biaya hidup satu bulan kami) yang mentereng seolah-olah menarik perhatian mata ditiap saya jalan-jalan ke mall. Kemudian kalau kami makan di restoran, itupun sebenarnya juga bisa menguras dompet kalau ngga dipilih menu yang ramah lidah dan kantong.  

Nah kalau saja mata mengontrol tangan tanpa melewati otak dan hati, bisa tuh ikut-ikutan mentereng kayak mereka. Tapi selanjutnya apa? Perut apa ya ngga perlu diisi, rumah dan isinya apa ya ngga perlu biaya, sekolah apa ya ngga perlu dibayar. Tentu saja untuk membayar semua itu saya lebih memilih untuk tidak pakai credit card seperti yang "biasa dilakukan" oleh warga Taipei. No no, I hate using credit card if the fungtion is for lifestyle. Kalau buat KPR rumah ya gapapa~.

So, having an account bank is a must, I think. Dengan tujuan agar kita seimbang, selain ada pengeluaran juga punya saving yang bisa digunakan sewaktu-waktu kalau benar-benar kepepet. Kalau bisa uang yang direkening bisa jadi dana abadi.

~oOo~


Pilih Akun Bank

Awalnya saya kebingungan karena ada puluhan nama bank (baik yang asli Taiwan punya maupun bank asing) yang berada di Taiwan. Namun yang lebih banyak dikenal karena mesin anjungan tunai mandirinya terlihat ada dimana-mana hanya beberapa nama bank lokal seperti Chunghwa Post Bank, Cathay United Bank, dan CTBC Bank. Ketiga bank ini dalam penempatan mesin ATM bekerja sama dengan 7 Eleven; Family Mart dan Hi-life, which is temans pasti tau disetiap blok selalu ada mini market ini. Ini penting banget sih ya (buat saya yang tidak suka pakai kartu kredit), kalau semisal kehabisan cash bisa langsung tarik tunai di ATM terdekat. Bahkan di platform stasiun MRT juga terdapat ATM dari salah satu bank tersebut. Termudahkan sekaliii~

Kemudian saya putuskan untuk samaan dengan rekening bank mas husband : Chunghwa Post Bank (atau yang biasa kami sebut Bank Post Office/BPO). Bank Post Office punya mas husband dibuat saat dia studi magister, kemudian sekarang ambil doctoral juga masih pakai rekening bank tersebut untuk menerima beasiswa. Rupanya, BPO ini merupakan salah satu program pemerintah Taiwan untuk pelajar asing dimana pelajar dapat fasilitas menabung dan tabungan perbulannya tidak dikenakan biaya administrasi. Selain bebas bunga, fasilitas lain seperti kartu ATM nya dapat menjadi kartu debit dan kredit dan dapat ditarik disemua jenis mesin ATM di Taiwan. Keren puwolll.

Masalahnya, yang seperti saya ini, bukan pelajar dan tidak memiliki ijin bekerja di Taiwan, apakah boleh membuka rekening? Nah gimana kalau tidak diperbolehkan dengan alasan : dari mana asal uang yang akan ditabung nanti? Yaaa, kalau ngga bisa nabung ya ngga usa buka rekening. Simpan aza dibawah bantal hehe. Yang penting kan uang halal bukan hasil mencuri yaa, so be brave and let's see.

Siapkan Persyaratan

Saya cari tau lewat internet, sudah banyak bertebaran vlog tentang bikin rekening di Taiwan. Persyaratan untuk mengajukan rekening bank hanya dengan membawa kartu identitas (ARC atau APRC), paspor, dan incang. Kartu identitas dan paspornya harus yang masih berlaku ya.

Baca dulu : Apa Incang Itu?


Selain itu, kita juga harus persiapan empat digit angka untuk password buku tabungan dan enam digit angka untuk PIN ATM. 

Datang Ke Kantor Bank Terdekat

Maunya kami ke kantor BPO dekat sama rumah, tapi terbesit dipikiran takut petugasnya tidak bisa English, dan kebetulan siangnya ada acara di kampus NTUST, jadi wes ke kantor BPO dekat sama kampus saja. BPO Gongguan MRT jadi jujukan kami bikin rekening.

Kami masuk kantor dan diarahkan petugas untuk mengambil nomor antrian. Biasanya petugas terdepan kantor (baik Bank atau Rumah Sakit) adalah volunteer yang kurang bisa berbahasa Inggris, jadi wajib bersabar ya. Saya dapat nomor antrian 91, ngga sampai tunggu lama (malahan belum sempat duduk di kursi) eh sudah dipanggil.

Untuk petugas teller bisa berbahasa Inggris ya, jadi tinggal dengarkan arahan dari mereka. Untuk awalnya akan ditanya tujuan datang apa, saya jawab mau buka rekening. Kemudian saya diminta untuk mempersiapkan persyaratan : ARC, paspor dan incang. Semua persyaratan diberikan ke petugas. Sejurus kemudian saya disodorkan beberapa formulir untuk diisi (yang sudah dilingkari petugas).



Formulirnya diberikan dua kali. Yang formulir pertama (dua lembar kertas) cetak tinta huruf berwarna hitam dan ada bahasa Inggrisnya, merupakan data diri pembuat rekening. Sementara formulir yang kedua (satu lembar kertas) kertasnya lebih kecil dan cetak tinta berwarna merah dengan dominan huruf Zhongwen, berisi berapa jumlah nominal yang akan ditabung dan tanda tangan kita.

Setelah diisi dan ditandatangani, formulir tersebut diberikan ke petugas dan kami diminta menunggu. Lumayan lama nunggunya, setengah jam lebih berdiri ha ha, sampe deg-degan nih, mbak petugasnya terlihat seolah membaca dengan seksama karena menatap layar komputernya serius gitu. Deg-degan khawatir kalau ngga bisa mengajukan buka rekening. 

Benar sudah, beberapa menit kemudian mbak petugasnya bertanya, "Do you work?". I said directly, "No". Dia jawab, "Okay".

Kira-kira lolos ngga ya?

Finally..

Alhamdulillah pengajuan rekening diperbolehkan.

Saya diminta menyerahkan nominal uang sesuai dengan yang ditulis tadi di formulir kecil bertinta merah. Lalu saya diminta untuk menekan tombol angka (empat digit) untuk password buku tabungan dan (enam digit) untuk PIN ATM. Setelahnya, saya diminta menghadap kamera berwarna hitam untuk diambil foto sebagai syarat kelengkapan.


Beberapa menit kemudian, mbak petugasnya menyerahkan buku tabungan dan ATM pada saya. Tandanya pengajuan saya sudah disetujui dan saya sudah mulai bisa menabung. Karena waktu awal saya tidak ditanya tentang penggunaan ATM, maka setelah saya pegang si ATM saya memastikan ke mbak petugasnya 'apakah ATM bisa digunakan untuk transfer dan kredit'. Beliau menjawab bisa. Mengapa saya bertanya seperti itu? Karena ada kasus (di youtube), ada seorang mbak tenaga kerja Indonesia yang membuat rekening dan dapat ATM yang hanya bisa untuk ambil uang saja (tidak bisa transfer dan lain-lain).

Kalau fungsi ATM bisa dipilih, beda lagi dengan gambar tabungan dan gambar ATM ya. Kalau gambar buku tabungannya sepertinya sama semua (milik mas husband yang dibikin tahun 2015 juga bergambar sama dengan punya saya). Tapi untuk gambar ATM nya tercantum ada tiga gambar yang berbeda. Saya mbatin, semoga dapat yang bergambar burung merpati, eeehhh dikabulkan dan dapat ATM bergambar merpati hihihi.


Sudah selesai semua, alhamdulillah. Sebelum meninggalkan kantor bank, jangan lupa cek kelengkapan dulu ya, seperti ARC; paspor; incang; buku tabungan dan ATM.


~oOo~

Kalau diingat-ingat, hidup di Taiwan dua tahun kemarin, sebanyak apapun pemasukan, pengeluaranpun ikut banyak. Sebagai bahan pelajaran karena kami masih silau dan beradaptasi dengan lifestyle orang-orang Taipei, tapi saya bertekad untuk tidak boleh mengulangi kembali ketularan sifat hedonisme warga ibukota. Kalau sudah punya buku rekening tabungan kan jadi aman si duit NTD ini. Bikin makin giat saving saat awal gajian dari mas husband hehe. Yuk kawans semua, mari budayakan menabung!

Terima kasih temans pembaca, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di artikel selanjutnya ^^

Apa Sih Incang Itu?



Yìnzhāng (印章) biasa kami bilang "incang" atau "ingcang" adalah benda mungil yang begitu luar biasanya berarti. Kalau di terjemahkan ke bahasa Indonesia incang berarti segel. Hmmm, padahal kalau dilihat dari bentuknya nampak seperti stempel mainan anak-anak. Karena bentuknya yang mungil kalau berhadapan dengan orang pelupa pasti akan jadi fatal kalau kehilangan barang ini. Sebab dilihat dari manfaatnya, incang ini bisa mengesahkan dokumen atas nama pemilik incang.

Jadi temans sudah ada bayangan apa incang itu?

Penggunaan Incang.

Temans pasti ada yang sudah tau, untuk mengesahkan sesuatu seperti perjanjian dan atau dokumen biasanya orang-orang di Asia Timur tidak memakai tanda tangan layaknya penduduk Asia atau penduduk di benua lain. Nah, untuk mengesahkan dokumen atas nama diri sendiri seharusnya diperlukan tanda tangan yang menjadi bukti hadir kita di atas kertas putih bukan? Yap, incang ini digunakan masyarakat Taiwan untuk menjadi tanda tangan sehingga bisa melegalkan atau mengesahkan dokumen.

Bentuk Incang.

Bentuk incang ada bermacam-macam, ada lingkaran; oval; persegi dan lain-lain. Ukurannya pun juga bermacam-macam. Incang yang kami (saya dan mas husband) miliki adalah incang yang umum digunakan orang, berbentuk balok kecil terdiri dari badan dan kepala. Badan berukuran 4,5cm x 1,15cm x 1,25cm. Dan kepala atau tutup balok berukuran 1,75cm x 1,5cm x 1,5cm. Ukurannya tidak mutlak semua incang sama, kemungkinan di tempat lain ukuran incang nya berbeda. Milik kami terbuat dari kayu sintetis yang memiliki massa sangat ringan sehingga mudah dibawa kemana-mana.

Berikut macam-macam bentuk incang yang saya ambil dari google dengan keyword 印章.


Isi Incang.

Saya belum tau didalam incang apakah kosong atau berisi (ingin sekali saya iseng potong badan incang agar terpuaskan si rasa penasaran ini, tapi kok ya incang nya masih sangat diperlukan buat ngurus ini itu...).

Yang jelas, di badan incang terdapat ukiran nama (mandarin) kita dengan tinta abadi yang berwarna merah. Nama mandarin ini sesuai dengan identitas kita yang terdapat di visa dan ARC (Alien Resident Certificate, atau kalau di Indonesia seperti KTP WNA).

Kenapa dibilang tinta abadi? Sudah terhitung satu tahun lebih incang saya gunakan (walau tidak setiap hari) dan sampai sekarang tinta tersebut tidak kering atau bahkan habis. Lha terus gimana kalau semisal tinta merah di incang tersebut kering atau habis? Tinggal pergi ke tempat pembuatan stempel agar ditambah lagi tinta nya.

Cara Membuat Incang.

Langsung kita cuss ke tempat pembuatan stempel terdekat dari rumah. Kemudian kita serahkan kartu identitas (ARC atau APRC) yang akan dibikin incang ke laopan nya.

Y : Nǐ hǎo, wǒ xiǎng zuò yìnzhāng. Nǐ néng bāng wǒ ma? || Hai, saya ingin membuat incang. Bisakah anda bantu saya?

L : Kěyǐ a. Wǒ kěyǐ jí nǐ de shēnfèn zhèng ma? || Bisa. Boleh pinjam kartu identitasmu?

Setelah dilihat kartu identitas kita, dia akan membuat hurufnya di komputer, kemudian akan dibuat setelah dicocokkan dengan persetujuan kita. Waktu itu saya harus menunggu sekitar 30menit. Setelah dirasa OK, baru kita bayar seharga 60NTD (ini harga tahun 2019 awal ya).

Solusi Dari Alasan Kesusahan Membuat Incang.

Selesai deh incang kita. Gampang banget kan buatnya.

Kalau dirasa ribet sama bahasa tapi uda kepepet harus buat incang, ya kita tinggal pakai google translate, lalu kasih kartu identitas. Tunggu, bayar, selesai deh.

Kalau masih ngga berani, kita tinggal geret kenalan kita (yang bisa bahasa Zhongwen) untuk ikut bikin incang. Nanti minta beliau terjemahkan apa-apa yang dibutuhkan.

Kalau masih ngga berani juga, hmmm. Biasanya ada semacam calo untuk bikin incang di Toko Indonesia di Taiwan. Tapi perlu diingat, ngga semua toko indo ada calo yang saya maksud ini ya. Kalau beruntung saja bisa bertemu. Lalu kita biasanya bayar sekitar 100NTD (mungkin kurang mungkin juga lebih) untuk membayar jasa calo tersebut. Uda deh, tinggal tunggu sambil duduk manis, si incang uda siap pakai.

Kalau masih ngga berani ketemu calo. Hmmm, masya allah ya, pulang aja ke Indonesia. Sudah bisa ke luar negeri, ya kudu berani hadapin tantangan doooongg hehe.


~oOo~

Baique, begitulah informasi tentang incang berdasarkan pengalaman saya. Jika dirasa ada yang kurang, temans boleh banget tambahin dikolom komentar yaa ^^

Sampai jumpa di artikel selanjutnya ^^

Pesan Gas LPG di Taiwan Tapi Ngga Bisa Zhongwen. Solusinya?


Jeng jeeennggg!

Ini nih yang paling ditakutkan ketika sedang masak : ELPIJI HABIS.

Gimana engga, ada sekitar dua mulut yang doyan makan (masakan saya) yang senantiasa menunggu dengan sabar kalau saya sedang utik-utik didepan mini kitchen set. Juga khan kalau masakan masih setengah matang atau pas lagi numis sesuatu, pas kompor elpiji abis, kudu nunggu beberapa menit buat ganti elpiji. Apa kabar nasib masakan?

Ngga punya cadangan elpiji pula kayak dirumah sebelumnya, karena rumah sekarang ukurannya lebih mini, jadi demi menghemat tata ruang home sweet home alhasil hanya punya satu elpiji ukuran kecil-sedang. Untung aza saya punya kompor listrik ya, terselamatkan sudah.

Tapi no no, pakai kompor listrik tidak bisa terus-terusan kak, musim dingin begini listrik sudah disedot banyak buat penghangat ruangan sama mesin cuci. Saya ngga bole leha-leha kalau urusan kemaslahatan dompet mas husband. Mending buat beli apa gitu terus dikasih-kasihin ketimbang buat bayar 'boros' listrik.

Oke deh let's goo (kata mas husband kayak medhok-nya cino suroboyo, hahah. emang kek gemana sih medhok cino suroboyo? langsung deh cuzz Youtube Channel Limaura, silahkan tonton aksi memalukan malu-malu saya) buy one elpiji.


YANG PERTAMA,

Kalau di Indonesia, kita sudah pasti punya langganan abang elpiji yang dekat-dekat rumah. Hampir tiap kawasan RT ada yang jual elpiji. Tinggal jalan sedikit atau kalau mager tinggal telpon, datanglah si abang elpiji ke rumah.

Kalau di Taiwan, sama caranya, cuman beda di tempat aja. Karena di Taiwan (khususnya Taipei-New Taipei City ya), tempat distributor elpiji tidak sebanyak di Indonesia. Lalu, cara mendapatkan elpijinya bagaimana? Kita lihat di badan elpiji, ada nomor telpon yang tertera disana (tulisan angka yang berwarna merah dan jelas karena paling besar tulisannya). Kita telpon nomor tersebut untuk pesan satu atau lebih elpiji. Biasanya dengan menyebutkan nama jalan rumah kita, mereka sudah tau karena sudah terdaftar sebagai pelanggan mereka (sepengalaman saya di rumah Shilin).

Tapi perlu diingat ya, sang penerima telepon kebanyakan tak bisa English. Nah gimana kalo kita ngga bisa bahasa Zhongwen? Disitulah tantangannya!


YANG KEDUA,

Agen elpiji di Taiwan Bagian Utara (TBU = Taipei-New Taipei City-Keelung) biasanya menyimpan nomor dan alamat kita. Jadi semisal kita telpon, mereka sudah tau : siapa yang memesan; dimana pesanan akan diantar; dan jenis elpiji yang bagaimana yang akan dipesan.

Nah masalahnya bagaimana jika kita baru pindah ke rumah tersebut, sudah ribet elpiji habis ngga bisa masak dan ngga bisa bahasa Zhongwen pula. Persis seperti masalah saya saat baru pindah ke rumah Fuzhong hahaha. Tapi, asalkan kita ingat alamat dan nomor telepon kita saja sudah aman kok.


Penting untuk diingat!
Hidup di Taiwan, walau kita ngga bisa Zhongwen secara keseluruhan
cas cis cus kayak kita ngomong bahasa Indonesia atau English,
setidaknya kita harus bisa bahasa
Zhongwen nya alamat dan nomor telepon kita.


A : "Wèi, nǐ hǎo! Wǒ yào dìnggòu yīzhǒng qìtǐ. Nǐ kěyǐ bǎ tā sòng chūqù ma?" || Halo, saya ingin pesan satu gas elpiji. Bisakah dikirim?

B : "Wèi, dìzhǐ zài nǎlǐ?" || Halo, dimana alamatnya?

A : "shì lín lù, měi lún jiē, ershísān, yī lóu, hǎo" || Jalan shilin, gang mei lun, nomor dua puluh tiga, lantai satu (alamat ngarang ya saya jadi kalau mau iseng melacak ya monggo. Biasanya penggunaan alamat dalam menyebutkannya dimulai dari yang besar dulu seperti nama distrik kemudian ke nama jalan lalu ke nama gang, nomor rumah dan lantai berapa rumahnya)

B : "Duìbùqǐ, nín shàngwèi zhùcè. Nín kěyǐ xiān lái fù míng ma?" || Maaf, kamu belum terdaftar. Bisakah datang untuk registrasi lebih dulu?


YANG KETIGA,

Disuruh registrasi lebih dulu? Pusianglah daku. Uda gas abis, belon makan ni #SingkekKriwul, eee disuruh registrasi dulu lagi. Pakai kompor listrik dulu lah bu...

Ribet? Engga kok, cuman saya aja yang lebay hehe. Memang sejatinya orang lokal Taiwan yang baik ya begini ini, engga langsung nge-iya-in dan sembarang makan duit orang, tapi mengarahkan ke sebuah SOP jual-beli per-LPG-an. Agar lebih enak kedepannya, jadi ngga papa rumit sekarang. 

Tapi masalahnya, disinilah banyak wǒ bù zhīdào (sebut : wo pu ce tao, tidak tau) nya saya. Maka, mau tidak mau, harus minta tolong fāng tōng (pemilik rumah) untuk setidaknya membantu memesankan elpiji di awal, karena yang mengerti detail rumah yang kita sewa hanya fangtung. Seterusnya harus bisa sendiri pesan elpijinya ya. Kasian fangtung nya uda berumur, lebih kasian lagi kalau harus bolak-balik ke rumah buat ngelayanin kita.

Sepengalaman saya, setelah kita lapor ke fangtung via LINE (orang lokal Taiwan lebih suka berkomunikasi via LINE ketimbang whatsapp gaess), dihari yang ditentukan (kalau kami keesokan pagi harinya--karena elpiji habis dirasa urgent), fangtung datang dan mengecek ukuran elpiji kami, lalu fangtung pamitan pergi ke tempat agen elpiji. Selang kurang dari dua jam, fangtung datang bersama dengan petugas elpiji yang membawa sebuah elpiji. Tapi koq elpijinya beda ukuran sama yang ada di rumah ya...hmmm.


YANG KEEMPAT,

Percayalah pada fangtung (tapi jangan lebih dari percaya sama Allah ya). Kita yang awam banget sama kehidupan dan bahasa di Taiwan, hanya bisa nurut. Di rumah ada dua buah gas elpiji kecil (ukuran sama seperti gas 3kg elpiji melon di Indonesia), tapi fangtung pesan gas yang ukuran menengah-besar (kalau di Indonesia seperti gas 12kg) menyesuaikan dengan ukuran lemari di rumah (elpijinya dimasukkan ke lemari). Mungkin fangtung berfikir ini bisa bikin awet kalau pas masak, ketimbang yang kecil cepat gantinya.

Saya belajar untuk selalu berfikir positif selama tinggal di Taiwan, terutama jika berhadapan dengan orang baru, alhamdulillah ya Allah kami selalu bertemu dengan orang jujur dan baik. Lalu apakah kami pernah bertemu dengan orang yang curang? Pernah dooong. Terlihat dari muka dan gelagat bicaranya. Gimana cara antisipasinya? Ikuti apa maunya si orang curang ini, kalau mas husband sih pasang muka garang walau ikutin maunya si orang curang, lalu kalau sudah selesai ya tinggal skak mat dia pakai bukti. Ngga perlu baper menghadapi yang seperti itu (biasanya kebanyakan cewek nih yang baperan--kadang juga saya baperan koq hehe), dibawa santai aza. Kalaupun kita dicurangi sekarang, pasti kedepannya kita akan dapat gantinya.

Balik lagi ke masalah pesan elpiji. Petugas elpiji tadi memasang gas elpiji (ini biasa yang dilakukan tanpa bertanya ke penghuni rumah kalau yang di rumah hanya ada saya dan #SingkekKriwul; kalau ada mas husband beliaunya menunjukkan rasa sungkannya dengan bertanya lebih dulu), selanjutnya kemungkinan akan bertanya, "Kompornya mau distel?". Maksudnya distel besar kecil api yang akan dihasilkan. Jawab saja : yào (ingin/mau) atau pùyào (tidak mau).


TERAKHIR,

Saya tidak tau banyak tentang ukuran gas elpiji di Taiwan. Namun sepengalaman saya, hingga saat ini saya pernah memakai tiga macam bentuk dan ukuran gas elpiji : ukuran besar (seperti gas elpiji ukuran 50kg di Indonesia), ukuran menengah-besar (seperti ukuran 12kg di Indonesia) dan ukuran kecil (3kg kalau di Indonesia). Kalau mau pesan, tinggal sesuaikan dengan kebutuhan saja.

Bayarnya berapa?

Sistem harga elpiji hampir mirip dengan sistem harga galon. Saat pertama kali memesan, biasanya lebih mahal (sekitar 1200NTD) karena itungannya kita nyewa fisik elpijinya. Lalu pemesanan berikutnya, kita akan dikenakan hanya "biaya ganti gas" saja sekitar sān bǎi bā (baca: sanpaypa, 380NTD) untuk ukuran menengah-besar. Kalau untuk ukuran yang besar, saya kurang tau saat pertama kali memesan (karena saya hanya meneruskan pesanan elpiji dari pemilik sebelumnya), biaya ganti gas nya sekitar 610NTD. Ini harganya tidak mutlak sama disetiap daerah atau agen elpiji ya, ada kemungkinan berbeda.


Oiya, kalau saya suka kasih tulisan tanggal dan jam pembelian dibadan elpiji. Fungsinya sebagai pengingat dan penghitung berapa lama elpiji akan habis. Kalau semisal habisnya tiga-empat bulan, maka untuk pembelian selanjutnya bisa diperkirakan waktunya. Jadi ngga kaget gitu kalau tiba-tiba ditengah enak-enak goreng tiba-tiba kompor habis gas.

~~~

Nah begitu teman-teman kalau mau pesan gas elpiji di Taiwan. Saya menyimpulkan agen elpiji di Taiwan tidak sebanyak di Indonesia mungkin karena penghuni rumah atau yang punya toko sudah menemukan alternatif dalam "menyalakan kompor" mereka. Diantaranya ada yang pakai kompor listrik, atau mahasiswa yang hidupnya sendiri di kos biasanya pakai kompor gas portable (yang dipakai untuk kemping) untuk menghemat cost living bulanannya.

Kalau ada yang bertanya apakah penduduk Taiwan masih ada yang pakai kompor sumbu? Sayangnya saya hanya tinggal di Taipei dan New Taipei City. Jalan-jalannya paling jauh hanya sampai ke tengah Taiwan (Hsinchu City), itupun hanya di kota-kotanya saja, ngga sempat masuk pelosok (takut ngga ada kendaraan umum, kak). Nanti ya, jika saya sudah menemukan ada yang pakai kompor sumbu, saya akan beritakan disini ^^.

Terima kasih sudah berkunjung, sampai jumpa di artikel selanjutnya ^^

Inilah Daftar Kelompok Prioritas Vaksin Covid 19 di Indonesia. Sudah Tau Belum?

Tiga hari yang lalu Ibunda di rumah sedang galau dan agak sedikit sensitif saat dihubungi via video call. Usut punya usut lantaran dari sederet komplek hanya rumah kami yang tidak didatangi petugas kesehatan. Padahal blast woro-woro sudah tersebar di wa grup RT dari beberapa hari sebelumnya : “akan ada petugas kesehatan yang datang mengunjungi tiap rumah, untuk didata penerima vaksin dan juga cek kesehatan gratis”.

Ibunda sudah bersiap dari pagi hari bahkan sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus sebelum kedatangan petugas kesehatan. Hebat bener Ibunda gue. Tapi setelah sholat dhuhur tidak ada seorangpun yang datang ke rumah. Setelah dicek wa grup, rupanya petugas kesehatan sudah berada jauh dikomplek ujung, yang mana rumah sudah terlewati. Tetangga kiri-kanan menanyakan tentang obat yang didapat pada Ibunda. Pensiunan apoteker yang brilian satu ini rupanya enggan menjawab dengan cepat lantaran sakit hati kenapa si petugas kesehatan tidak menghampiri rumah. Apakah karena dari sekomplek rumah, hanya sang Ibunda lah yang punya riwayat covid 19 dan pernah dirawat intens di rumah sakit selama beberapa hari?

Pertanyaan belum terjawab hingga keesokan harinya. Saya seperti biasa menghubungi via video call di waktu yang sama. Walau hanya selisih satu jam waktu Taipei-Surabaya, tapi saya tidak ingin mengganggu aktivitas Ibunda saat saya menghubungi. Kemarin Ibunda terlihat gembira dan bersemangat. Beliau langsung bercerita (tanpa titik koma saking semangatnya), bahwa ex-kantor Ibunda meminta beliau untuk mengisi form penerima vaksin covid dan seterusnya akan diurus oleh pihak kantor. Syukur Alhamdulillah.

Lalu sejatinya siapa saja sih yang jadi kelompok prioritas pemberian vaksin covid 19?




TAHAP VAKSINASI

“Penetapan kelompok prioritas penerima vaksin dilakukan dengan memperhatikan roadmap dari WHO-SAGE dan ITAGI, jadi pemerintah tidak asal pilih kenapa harus lansia dan pekerja publik”, kata dr Maxi Rein Rondonuwu, DHSM MARS, Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes.



Terhitung satu tahun sudah covid 19 berada di Indonesia. Pemerintah terus gencar mengusahakan berbagai cara untuk meredakan penularan covid 19. Dimulai dari solusi donor plasma hingga pemberian vaksin secara bertahap untuk sekitar 200 juta lebih penduduk yang dimulai pada bulan Januari 2021. Berikut detail tahapan pemberian vaksin covid 19.

1. Tahap Satu
Dilakukan pada bulan Januari hingga April 2021. Sasaran vaksinasi antara lain :
a. Tenaga kesehatan
b. Asisten tenaga kesehatan
c. Tenaga penunjang yang bekerja di fasilitas pelayanan kesehatan (termasuk mahasiswa yang sedang menjalankan program kedokteran di fasilitas tersebut)
d. TNI, Polri dan aparat hukum
e. Petugas pelayanan publik (seperti petugas di bandara; pelabuhan; terminal, perbankan, PLN, PDAM, petugas DAMKAR, BPBD, BUMN, BPJS)
f. Petugas lain yang terlibat langsung memberikan pelayanan pada masyarakat

2. Tahap Dua
Dilakukan pada bulan Januari hingga April 2021. Sasaran vaksin antara lain :
a. Kelompok usia lanjut (diatas 60 tahun)
b. Tokoh masyarakat atau tokoh agama
c. Pelaku perekonomian strategis (seperti pedagang di pasar, pelaku UMKM, dan pelaku usaha lain yang berkontribusi dalam sektor perekonomian)
d. Wakil rakyat, pejabat pemerintah, ASN dan Perangkat daerah (mulai dari kecamatan, perangkat desa, rukun warga RW dan rukun tetangga RT)
e. Petugas pariwisata, hotel dan restoran
f. Atlet
g. Wartawan dan pekerja media

3. Tahap Tiga
Dilakukan pada bulan April 2021 hingga Maret 2022. Sasaran vaksin yakni masyarakat yang rentan dari aspek geospasial, sosial dan ekonomi. Dengan kata lain, vaksin akan diberikan pada masyarakat yang rentan tertular di sekitar pusat penyebaran wabah.

4. Tahap Empat
Tahap terakhir selanjutnya dilakukan pada bulan April 2021 hingga Maret 2022. Sasaran vaksinasi adalah masyarakat dan pelaku ekonomi dengan pendekatan kluster covid 19 sesuai dengan ketersediaan vaksin.

Pendataan penerima vaksin dilakukan melalui Sistem Informasi Satu Data Vaksinasi Covid 19 dan penentuan jumlah sasaran per kelompok nya berdasarkan pertimbangan Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Jadi benar adanya pembagian vaksinasi ada dasarnya dan tidak asal pilih.


APA SAJA MACAM DARI VAKSIN YANG DIBERIKAN?

Karena saking buanyaknya populasi penduduk di Indonesia dan itupun tersebar diberbagai daerah lintas laut dan udara, pemerintah memberikan solusi dua macam vaksin yakni vaksin program dan vaksin mandiri.

1. Vaksin Program
Diberikan gratis kepada kelompok yang meliputi tenaga kesehatan, pelayan publik, aparat hukum dan keamanan, peserta BPJS. Vaksin yang dipilih yakni Sinovac (asal China) dan Covax/Gavi (asal Negara koalisi dibawah WHO).

2. Vaksin Mandiri
Diberikan pada yang mampu. Vaksin yang dipilih meliputi Sinovac, Novavax (asal Amerika Serikat) dan Merah Putih (buatan anak negeri)

Ilustrasi vaksin covid. Sumber : detik health.


KERJASAMA PEMERINTAH

Dalam program vaksinasi ini pemerintah tidak sendiri melainkan bekerja sama dengan berbagai pihak lain nih gengs. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 10 Tahun 2021 tentang Pelaksanaan Vaksinasi Dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid 19, bahwasanya Pemerintah (dalam hal ini Kementerian Kesehatan) dapat bekerja sama dengan kementerian atau lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten atau kota, BUMN atau pihak swasta, organisasi profesi kemasyarakatan dan pihak lainnya yang dipandang perlu.

Kementerian Kesehatan bersama dengan PT Media Dokter Investama (atau yang lebih kita kenal dengan nama Halodoc) sepakat menandatangani perjanjian kerjasama pada Senin kemarin (1/3) untuk mempercepat program vaksinasi nasional yang ditargetkan harus rampung dalam kurun waktu satu tahun. Selain agar tercapainya target vaksinasi, kerja sama ini diharapkan agar pelaksanaan vaksinasi dapat berlangsung efektif; efisien dan tepat sasaran.

Halodoc itu apa ya?

Halodoc adalah sebuah platform kesehatan (mencakup sebuah aplikasi dan situs website) yang menyederhanakan akses kesehatan dengan memanfaatkan sistem online agar dapat berinteraksi langsung dengan dokter hanya dengan melalui smartphone. Ibunda yang notabennya masuk dalam katagori lansia (walau sejatinya beliau tidak ingin dianggap tua—kecuali inginnya dipanggil ‘eyang’ sama #SingkekKriwul) bisa juga di vaksin melalui aplikasi Halodoc. Tinggal bikin janji oleh pihak rumah sakit terdekat atau ikut drive thru terus di vaksin deh.

Alhamdulillah semakin dipermudah dalam mendapat vaksin covid 19. Semoga Indonesia segera mencapai goal dalam pemberantasan penularan covid 19. Aamiin…

Wisata Taipei Songshan Airport Observatory, Penggemar Aircraft Wajib Kesini!


Saya bukan penggemar aircraft betewe, tapi saya amazed banget sama bandara ini. Saya rasa tidak banyak bandara di dunia yang memiliki pemikiran terbuka, dan memberi kesempatan kepada penggemar aviasi melihat langsung jalannya kegiatan penerbangan.


臺北松山機場觀景台 (Táiběi sōngshān jīchǎng guān jǐng tái) atau yang dikenal dengan Songshan Airport Observatory Deck, diresmikan bulan November 2010. Letaknya di lantai tiga (rooftop) gedung bandara Songshan dengan luas keseluruhan 545ping (kurang lebih 1.802 meter persegi).

Taipei Songshan Airport (台北松山機場) yang memiliki nama resmi Bandara Internasional Taipei merupakan bandar udara internasional di tengah kota Taipei yang dibangun tahun 1936 pada saat penjajahan Jepang. Bandar udara ini difungsikan untuk penerbangan dalam dan luar negeri. Kemudian pada tahun 1979, Bandara Internasional Chiang Kai Shek (sekarang Bandara Internasional Taoyuan Taiwan) dibangun dan menggantikan Bandara Songshan dalam fungsi penerbangannya. Kini Bandara Songshan dikhususkan untuk melayani penerbangan domestik dan negara terdekat saja (Jepang, Korea dan China Mainland).

Bandar udara Songshan ini memiliki dua terminal penerbangan, T1 (terminal 1) untuk keberangkatan dan T2 (terminal 2) untuk kedatangan. Nah, jalan masuk menuju observatory deck terletak diantara terminal 1 dan terminal 2.

Kalau mau kesana, simple aza, naik kereta Brown Line dan turun di Stasiun MRT Songshan Airport. Seperti MRT Red Line, jalur MRT Brown Line ini melewati dua lintasan : bawah tanah (underground) dan atas tanah (upground). Kalau Brown Line lintasannya lebih banyak di atas gengs, namun saat masuk kawasan bandara Songshan, kita akan dibawa melihat suasana bandara (dari atas) lalu masuk ke dalam tanah karena stasiunnya berada di underground.

sumber : google

sumber : web gov Taiwan


Stasiun MRT Songshan Airport dengan Bandara Songshan letaknya tidak berdekatan. Dari MRT Songshan Airport kita harus berjalan sekitar lima menit (tanpa tolahtoleh ya, karena sepanjang jalannya terdapat toko souvenir dan makanan minuman) menuju bandara. Keluar exit (boleh exit 1 atau 2), kita masuk ke dalam gedung bandara.

Observatory entrance letaknya ada diantara terminal 1 dan 2. Tidak ada papan penunjuk dengan bahasa latin ya, hanya ada tulisan mandarin saja. Kalau temans berangkat dari terminal 1, jalan saja lurus menuju terminal 2, jika bertemu disebelah kiri toko souvenir aircraft, tinggal toleh saja ke kanan ada pintu masuk tidak terlalu besar namun memiliki ornamen sangat colorful dekat dengan meja information centre. Kita langsung masuk (atau kalau mau ngobrol dulu sama bapak-bapak yang menunggu meja layanan informasi juga boleeehh,, beliaunya walau terlihat sudah 'berusia' namun jangan ragukan kemampuan englishnya), menuju observatory deck bisa naik tangga (disebelah kanan) dan bisa juga menggunakan elevator (sebelah kiri).

Aviation Theme Shop

Observatory Entrance



Kami lebih suka naik elevator gengs, selain karena bawa stroller yang isinya #singkekkriwul, juga kami sama-sama benci sama yang namanya melawan gravitasi (baca : naik tangga haha).

Keluar elevator, telinga sedikit mendengung (beda orang beda pengalaman). Mungkin karena sudah beda dunia (#ngawuuurr). Mungkin karena efek red carpet (sebagai peredam kebisingan suara mesin pesawat) dan sepinya ruangan itu. Kami bergegas mencari pintu keluar karena hiasan dindingnya uda spoiler, ngga sabar ingin lihat pesawat terbang yang akan lepas landas. Eh kok malah disambut sama SevEl. Masa' kudu ngopi dulu?


Engga, kami (maksudnya saya) tidak tergoda sama kopi SevEl, ngga tau deh kalau pikiran do'i yang hampir tiap hari jajannya kopi itu (kalau pagi ngga sempat menikmati kopi buatan istrinya---soalnya istrinya ini punya feeling dibuatin ato ngga dibuatin kopi pasti nantinya do'i beli kopi diluar #coffeeaddict, kan kasian ginjalnya atuh jarang kemasukan air putih, jadi kalo pagi saya selaku istri yang cantik dan baik hatinya musti menyajikan air putih buat do'i, ngga hanya menyajikan sih tapi "njejelin" do'i dengan segelas air putih---kurang baik apa coba istrinya tuh). Ini apa maksudnya separagraf sendiri nyeritain rahasia keluarga ha ha.


Diluar 7-eleven disediakan tenda biru dongker (#ehh) lengkap dengan kursi meja buat nongkrong yang mana si tenda biru tadi dihiasi dengan kelap-kelip lampu gantung. Aduhay, entah kenapa uda tampil se-cantik ini, tetep aja sepi si tenda biru. Mungkin karena masih terang langitnya, pengunjung lebih memilih untuk berburu moment pesawat landing dan take off. Diseberang tenda biru ada mini garden yang dihiasi oleh warna-warni bunga tulip. Cantik bangeeettt.



Apa yang terbesit dipikiran temans saat membaca atau mendengar nama"observatory deck" ?


Tidak seperti gedung observatory kebanyakan berada dalam ruangan, Songshan Airport Observatory Deck ini kalau dilihat sederhananya hanya berupa deck tanpa kanopi di langit-langitnya. Walau hanya berupa deck tanpa atap, kita bisa lihat mewahnya tempat ini dari fasilitas dan arsitekturnya.

Disini kita benar-benar bisa langsung melihat aktivitas pesawat, dari saat cek mesin pesawat hingga pesawat tersebut lepas landas. Perlu diingat, kalau membawa bayi atau batita kesini, jangan lupa selalu dekap mereka saat ada pesawat yang sedang cek mesin ya, karena suara bisingnya bisa bikin bayi kita deg-degan dan takut.

Terdapat beberapa fasilitas dan informasi disini seperti:

1. Layanan Informasi Terminal Otomatis

2. Tenda Biru (nama aslinya coffee air garden)

3. Skyline

4. Jembatan visi bebas penghalang (barrier-free vision of aprons)

5. Bangku ranting putih (sculpture chairs)

6. Tangga/bangku kayu (wooden stairs)


Orang awam seperti kami yang kurang begitu memahami dunia penerbangan, hanya tertarik saat pertunjukan dimulai yakni aktivitas pesawat yang akan lepas landas. Kia si batita #singkekkriwul kami rupanya agak terganggu dengan suara bising pesawat dan hanya sedikit menikmati suasana disini. Kalau tidak melihat-lihat pesawat di jembatan visi bebas penghalang yaaa naik turun di tangga kayu. Terima kasih buat cece (姐姐 jiějiě, kakak perempuan) dan keke (哥哥 gēgē, kakak laki-laki) yang mau mengikutsertakan Kia bermain dengan mereka.


Walau dijadikan bandar udara domestik, namun bandara Songshan ini juga melayani kedatangan pesawat internasional dari negara tetangga seperti China, Jepang, Hongkong dan Korea. Lalu apa saja maskapai yang singgah di bandar udara domestik ini? Keep scroll down ya.











Baik dari skyline maupun dari jembatan visi, kita dapat melihat pemandangan jauh diseberang : Jembatan Dazhi (baca: tacē), Miramar Ferris Wheel, Neihu Technology Park, sampai Grand Hotel Taipei yang terkenal dengan warna merahnya. Kebetulan pas saya dapat foto pesawat yang sedang lepas landas. Subhanallah ya, bagus banget.


Mas husband sedang iseng, dia nyolek sambil bilang kalau ada mbak-mbak dan mas-mas dari Indonesia yang sedang berjalan berbaris mengikuti arahan di lantai aspal menuju ke salah satu pesawat Eva Air. Mungkin mereka akan pergi kembali bertugas.


Kia pun sama suka bicaranya (rame dan talking a lot kek Ayahnya persis~). Dia bilang, "lho white car! lho ambulance! lho fire truck!". Anak perempuan memang lebih tertarik ke jenis-jenis cars ketimbang boneka.




Saat itu saya melihat jarum panjang jam tangan sudah menuju ke angka lima. Mendongak ke atas nampak sinar masih amat terang namun angin yang berhembus makin dingin, tandanya yok segera meninggalkan area lovely outdoor ini. Eh iya, sebelum pulang mampir dulu ke toiletnya. Aduh suka bangettt saya, toilet (perempuan) nya bersih dan ada 'air' nya. Bisa diulangi lagi nih (manteb akan berwisata kesini lagi karena toiletnya ada airnya hahaha).


Jalan pulang sama seperti jalan berangkat, kami melewati ruangan dengan red carpet dan banyak pajangan mini pesawat dari berbagai maskapai. Diabadikan dong pasti ^^.







"Da daa planee...", kata Kia.