Bumil Vaksin Di Taiwan Saat Peringatan Hari Blogger Nasional Indonesia

Selamat Hari Blogger Nasional, teman-teman !

Saya baru ngeh kalau hari ini adalah hari spesial, saat perjalanan menuju tempat vaksin. Diatas motor, pegangan jaketnya mas husband, di lampu merah daerah Guting. Tiba-tiba aja "ting!", oiya ya hari ini kan hari blogger, tujuh tahun lalu lelaki didepan saya ini mengajak saya kesebuah cafe etnik di salah satu mall mevvah di Surabaya hanya demi menyatakan perasaannya #ceileh wkwk.

Banyak yang bilang di Taiwan pendistribusian vaksinnya berjalan lambat, ah iya deh biarin aza, yang penting prosedurnya ndak njelimet dan ndak banyak birokrasi. Saya ke tempat vaksin cuma bawa ARC dan cenboka aja betewe, sudah bisa dapat vaksin. Dan yang penting lagi, pemerintah Taiwan hanya memberikan vaksin yang berkualitas dan gratis. Alhamdulillah.


Registrasi

Flashback kebelakang, sekitar tanggal 16 Oktober 2021, melalui SMS dan website 1922, government mengumumkan penyaluran vaksinasi ronde ke 12. Kali ini vaksin yang digelontorkan adalah jenis vaksin BioNTech atau Pfizer (dosis pertama), Astra Zeneca (dosis pertama) dan Moderna (dosis kedua). Dari ronde ke 12 ini, dibagi lagi menjadi 3 katagori. Katagori pertama untuk yang berusia 30 tahun ke atas, katagori kedua untuk yang berusia 23-30 tahun, katagori ketiga untuk yang berusia 18-23 tahun. Saya registrasi barengan sama mas husband dan masuk di katagori pertama karena lahir sebelum 31 Desember 1991.

Registrasi katagori pertama dibuka melalui website 1922 pada tanggal 18 Oktober 2021 jam 10 pagi. Tapi kami baru bisa registrasi sorenya sepulang kerja, pas ya koq pada penuh semua tempat pelaksanaan vaksin dekat rumah. Kami hampir putus asa karena tiap distrik di Taipei dan New Taipei City pada full booked. Kami tutup website dari masing-masing handphone dan makan malam seperti biasa. Usai makan malam, mas husband iseng buka lagi websitenya dan alhamdulillah kami kebagian tempat vaksinasi walau jauh dari rumah.

Pelaksanaan vaksinasi katagori pertama jatuh pada tanggal 22 hingga 27 Oktober 2021, dari pukul 08.30-16.30 waktu Taiwan. Kebetulan jadwal di minggu ketiga dan keempat bulan Oktober ini kami agak ramai, dan untuk mengantisipasi agar tidak tepar barengan, kami melaksanakan vaksin berbeda hari. Mas husband vaksin di tanggal 23 dan saya tanggal 27. Plus pertimbangan saya memilih tanggal terakhir adalah karena ingin buat laporan dulu pada saat kontrol pada tanggal 26 nya. Make sure ajah, karena berita yang ramai, bumil di Taiwan kebanyakan dikasih vaksin Moderna. Walau tidak ada larangan dan tidak ada efek samping berat saat bumil divaksin Pfizer, jadinya ada sedikit perasaan was-was nih ketika sang dokter obgyn yang menangani saya kaget saat dengar saya kebagian Pfizer karena kebanyakan pasien-pasien dia dan dokter lain di RS dapatnya Moderna. Lah gimana lagi bu, wong suda lama daftar Moderna juga ngga dipanggil-panggil. Pas ini ada registrasi Pfizer dan saya di SMS pemerintah via 1922, yaa saya langsung sikat lah. Bismillah...


Saatnya Bumil Vaksin !

Awas minggir semuahhh, bumil mau lewat wkwk. Dari tempat parkir motor menuju ke tempat tes, mas husband dan Kia berjalan didepan saya, bukan, mereka bukan jadi guide saya sih, tapi karena emang saya aja yang jalannya slow dan masih pingin tolah toleh lihat tempat baru hehe.

 
"Siap vaksin bu?", kata mereka. Iya kata, bukan tanya wkwk.


Kadang Ayah suka lupa kalau yang digandeng ini kakinya masih mini~

 

Tempat vaksin pilihan kami jatuh di Taiwan Contemporary Culture Lab, DaAn District. Lumayan jauh juga kalau naik motor dari rumah gaess, lumayan kerasa di boyok. Ngga papa ngga papa, demii demiii. Taiwan Contemporary Culture Lab tempatnya luas banget, tapi ngga perlu khawatir tersesat karena ada banyak sign yang menginformasikan tempat dilaksanakannya vaksin.


Prosedur Vaksin

Ada beberapa post pelaksanaan vaksinasi. Yang pertama, post paling depan yakni post pengambilan berkas. Setelah mengantri diberi berkas, ada seorang petugas yang mengarahkan peserta agar masuk ke aula besar untuk duduk dan mengisi berkas data. Mas husband dan Kia langsung aja bablas masuk aula ya walau ngga dikasih berkas, untungnya ngga ada larangan (kayak yang tidak berkepentingan vaksin tidak boleh masuk) #tepokjidat.

Pos pertama sekaligus pintu masuk aula.
 

Berkas data ini terdiri dari empat lembar kertas : dua lembar kertas HVS berwarna putih yang satu berisi informasi tentang vaksin BioNTech/Pfizer (dengan huruf Mandarin) dan yang satu lagi adalah form tentang peserta vaksinasi (berbahasa Inggris), satu lembar kertas berukuran separuh HVS yang berisi form berbahasa Mandarin, dan yang terakhir namanya Yellow Card yang berisi catatan vaksinasi covid dan dapat berfungsi sebagai pegangan--bukti sudah divaksin covid jika akan bepergian ke luar negeri.

Setelah mengisi berkas, saya menuju ke post kedua. Disini ada petugas perempuan muda yang memeriksa berkas. Sempat kebingungan dia, karena nomor identitas saya berbeda. Wajar sih, ngga banyak tau juga aturan pemerintah : nomor ARC (kartu identitas) yang dimiliki foreigner per tahun ini akan disamakan seperti dengan APRC atau KTP Warga Taiwan, yakni dengan satu huruf dan diikuti dengan beberapa angka. Sebelumnya, foreigner memiliki nomor ARC dengan dua huruf kemudian diikuti dengan beberapa angka. Beruntung si mbak petugas ini tanggap, agar sama identitasnya, dia menambahkan nomor paspor di yellow card dan form peserta vaksinasi.

Tolong dong pak Alam, fotoinnya yang pose bumilnya bagus dikit napa... -___-. Foto cuma atu di pos kedua.

 

Mbak petugas ini begitu teliti, berkas saya diperiksanya berulang kali. Saat saya intip kebelakang, antrian mulai panjang. Saya jadi ngga enak sendiri. Beberapa petugas di pos selanjutnya yang duduk didepan komputer dan berjajar didepan saya, satu persatu memperhatikan saya. Kan saya jadi ge-er wkwk. Ngga pernah lihat bumil dengan big baby bump lagi berdiri ya.

Mbak petugas mengarahkan saya ke pos selanjutnya. Di pos ketiga ini saya duduk hanya sebentar. Si mas petugas bilang kalau nama dan nomor saya tidak ada di jadwal. Bener juga si, jadwal saya vaksin pukul 14.00-15.00 dan saya datang lebih awal satu jam. Tapi masa iya ngga dibolein masuk hehehe #ngeyelModeOn. Si mas petugas mengarahkan ke petugas yang berada dipojok, masih di pos yang sama.


Lumayanlah duduk walau cuma sebentar...

 

Bapak petugas senior yang duduk dipojok ini menangani berkas saya dengan penuuuhhh kelembutan. Saking lembutnya, beliau mengetuk keyboardnya dengan sangat hati-hati haha. Beliau pun fokus sama layar komputernya dan ngga noleh sedikitpun ke antrian dibelakang saya. Ada kali lebih dari sepuluh menit saya berdiri tanpa ada interaksi dengan si bapak petugas. Mau main hape tapi kayak ngga sopan, mau minta ijin duduk sebentar juga kayaknya gimana gitu pas liat antrian. Serba salah saya jadinya.


Tolong jangan di zoom, nanti kelihatan muka serba salah saya...

 

Tanpa berkata apa-apa kepada saya, si bapak petugas menyerahkan berkas saya ke petugas yang duduk disebelahnya, lebih muda lima tahun dari bapak petugas senior kalau dilihat dari appearancenya. Bapak petugas tersebut kemudian mempersilahkan saya duduk didepannya.

Bapak petugas yang ini langsung bertanya dengan bahasa Inggris, "Miss Lisa?". Saya jawab singkat, "Yes". "Is there any questions about that vaccine?" sambil menunjukkan senyum keramahan. Asli ganteng bener nih bapak petugas senior (buat saya, orang cantik dan ganteng bukan hanya karena good looking, tapi karena mereka memberikan keramahan terhadap stranger). Saya jawab tidak ada.

Tapi sejurus kemudian, saya bertanya (walau saya sudah dapat jawabannya tapi rasanya kurang afdhol kalau ngga tanya langsung ke petugasnya), "Is that vaccine give side effect or maybe bad effect to pregnancy women like me?". Beliau menjawab, "No, that vaccine is good". Okay thanks, jawabannya singkat padat dan buat saya kurang terang haha.

Bapak petugasnya masih memeriksa berkas saya, lumayan lama, terkadang dia berbicara dengan pak petugas senior yang duduk disebelahnya tadi mungkin untuk konfirmasi berkas saya. Saya berkata, "When I renew my ARC, I got different number.  I signed up for this vaccine registration with old ARC card.  So I don't know if this will work or not". Beliau menjawab, "Yes I know, don't worry..". Okay.

Beberapa menit kemudian (yang saya juga tak pasti berapanya--tidak sempat melihat jam ditangan) bapak petugas mempersilahkan berpindah ke pos keempat untuk menerima vaksin. Hampir deg-degan saya karena sebelumnya saya selalu melirik ke orang-orang yang disuntik duluan. Tapi untungnya sugesti yang saya tanam didiri agar rilex berhasil diterapkan.

Saya diarahkan oleh petugas perempuan yang berdiri dipos keempat (setelah cenboka saya ditempel stiker vaksin BNT) ke petugas lain yang bertugas memberikan vaksin (entah kapasitasnya sebagai perawat atau mungkin dokter). Petugas pemberi vaksin terdiri dari tiga orang dan semuanya perempuan memakai seragam warna merah muda. FYI semua petugas pelaksana vaksinasi memakai seragam warna putih (kecuali yang menyuntikkan vaksin). Saya kebagian di petugas yang ketiga, tempatnya dekat pos selanjutnya.


Makjrusss...

 

Petugas pemberi vaksin bersuara ramah namun tidak dia sadari raut wajahnya (yang sebagian tertutup masker) menunjukkan kelelahan. Dia berkata, "Miss Lisa, I will give you this vaccine, do you want left or right hand?". "Left hand please". "Okay, please take off your sleeves". Saya menyingsingkan lengan baju dan dia mengambil vaksinnya. Kemudian dia mengarahkan suntikannya ke lengan atas agak belakang. Lalu makjrusss, serum dingin terasa dikulit lengan. Entah serum vaksinnya, entah jarumnya, yang dingin. Sebentar saja suntiknya lalu diplesterlah kulit lengan bekas suntikan dengan dua potong plester.

Ini nih yang bikin saya males, karena pengalaman di rumah sakit saat kontrol, sebenarnya yang nantinya bikin sakit bukan suntikannya, melainkan plester ini yang melekat erat di kulit. Bahkan setelah beberapa waktu pun plesternya melekat bertambah erat. Biasanya sebelum saya lepas plesternya, saya basuh dengan air hangat lebih dulu, harapannya bisa ditarik dengan tidak menimbulkan rasa sakit, rupanya tidak. Itulah sebabnya saya lemes bin males kena plester ini lagi, dua lapis lagi plesternya heewww.

Usai diplester, petugas tersebut memberikan informasi agar beristirahat terlebih dulu selama sepuluh menit di pos berikutnya. Baru setelahnya bisa melepas plester dan bisa meninggalkan tempat vaksin. Sebelum beranjak ke pos istirahat, tak lupa saya berterima kasih kepada petugas tersebut.


Untung ada Kia, kalau engga ya saya bisa auto tidur disini...

 

Mas husband dan Kia yang menunggu di aula tempat mengisi berkas, menghampiri saya dan kami bebarengan menuju ke ruangan sebelah (pos istirahat). Ruangan tersebut bernuansa hitam cenderung remang-remang. Dibuat begitu bertujuan agar peserta yang habis disuntik bisa tenang kali ya, atau dibuat begitu agar peserta bisa tidur?


Bagaimana Keadaan Setelah Vaksin ?

Rupanya tidak semua peserta vaksin menunjukkan wajah 'biasa aja' dan baik-baik saja setelah disuntik. Ada yang memegangi lengannya sembari membungkuk lemas, ada pula yang wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesakitan, baik itu yang sudah duduk di bangku maupun yang baru datang. Mas husband berbisik, "Untung Ibu tadi disuntik sama petugas yang ini. Tadi aku lihat petugas yang sebelah sana, kalau nyuntik kayak pake emosi gitu, persis kayak perawat yang nyuntik Kia waktu di DaAn...". Wadduh. Auto bersyukur sayanya, disuntiknya lembut dan cepat, petugasnya ramah dan informatif lagi. Alhamdulillah...

Setelah puas duduk di ruang istirahat, kami langsung capcus meninggalkan tempat. Kemana? Pulang? Tentu saja tidak. Bisa sakit nanti kalau saya cepat pulang hehe. Mampir-mampir dulu lah kuy. Makan ato jajan ato nongkrong ngopi gitu hehe.

Kalau dilihat dari pengalaman mas husband setelah vaksin duluan. Dari vaksin hingga hari ini (ditulisnya artikel ini--sehari setelah vaksin), do'i tidak merasakan apa-apa. Mungkin hanya kemeng di tangan, itupun katanya karena plester telat dilepas -___-. Kalau dilihat dari aktivitas mas husband yang super duper padat dan tidak ada gejala apa-apa, syukur alhamdulillah, semoga saya pun juga begitu.

Hingga hari ini saya pun tidak merasakan kendala apapun dalam tubuh. Lemes pun tidak, biasa saja alhamdulillah. Nafsu makan juga sama, kadang nggeragas pengen ngemil kadang biasa aja. Waktu tidur pun juga sama seperti sebelumnya, ya kadang ngantuk ingin tidur cepat kadang juga pengen melekan. Cuma mungkin lengan atas aja yang kemeng, bukan karena suntikan ato plester yaa betewe (karena plesternya langsung saya lepas pake air hangat kemarin sesampainya di rumah), melainkan karena diprekes mas husband. Maunya bercanda, dan do'i kalau lagi gemes (ngga ke saya ngge ke Kia) hobinya prekes prekes gitu. Lha koq ya pas kemarin do'i lupa, yang diprekes itu lengan guweh yang abis divaksin -__-.



All right man temans, begitulah cerita saya vaksin di Taiwan. Yakinlah vaksin itu baik, jangan hanya karena hoax bikin kalian ngga jadi vaksin. Buat saya, selang sehari juga kemengnya uda ilang. Pasti teman-teman daya tahan tubuhnya lebih kuat sehingga ngga ngerasain apa-apa ^^. Semoga sampai nanti-nanti ngga ada kendala pula dibadan saya dan adiknya Kia bisa lahir sehat dan sempurna. Aamiin ya rabbal 'alamiin, mohon bantu doa ya temans ^^.

Akhir kata, stay safe semuanyah dan selamat hari blogger ^^

Kamera Polaroid Pink, Antara Kepuasan atau Hedonisme

Saya ambil tasnya, lalu keluarkan kamera polaroid dari dalamnya. Pikiran saya terulur kebelakang saat saya memiliki kamera dengan brand yang sama namun punya jenis yang berbeda. Kamera jadul keluaran tahun 2006 yang sengaja dibelikan almarhum Bapak agar saya bisa mengabadikan perjalanan selama wisata ke Pulau Bali bersama teman-teman SMP. Kamera yang ter-epic dijamannya, berwarna dominan putih dengan liris merah yang mewah dan berisi 36roll foto yang mana selalu membuat saya berhitung menguras otak bagaimana caranya harus pas saat mengabadikan momen selama empat hari tiga malam. Kamera yang benar-benar saya sukai dan saya awet-awet dalam hal pemakaian. Dan bahkan setelahnya--setelah berganti dekade, karena dibelikan Bapak jadi saya jaga dan rawat dengan sangat baik.
 
Almarhum Bapak pecinta fotografi, beliau sendiri memiliki kamera dengan brand yang sama dan kamera tersebut sangat legend. Berat, multifungsi, elegan. Saya ngga tau pasti mengapa beliau suka brand ini : Fujifilm. Samar-samar beliau lebih pilih brand Biru ini daripada brand Kuning saingannya (kala itu) karena terbilang kualitas produknya. Benar saja, kamera Bapak itu sudah dipakai disegala kondisi selama kurang lebih dua puluh tahun, dari sebelum saya lahir.
 

Mungkin jika saya mendapat kamera polaroid ini lima belas tahun yang lalu, saya akan menjadi riang tak terkira, merawatnya sebaik mungkin, memandanginya sesering mungkin, apalagi dengan tagline "membeli dengan uang sendiri" bisa bikin puas diri. Karena saya sangat suka dengan warna merah mudanya, melihatnya membuat saya kembali bersemangat dan berbunga--membuat saya selalu berfikir positif. Ditambah angka 9 nya yang merupakan angka favorit saya membuat saya merasa beruntung memilikinya.

Kebetulan saat saya memandangi kamera polaroid merah muda ini ada mas husband disebelah saya.
Saya lontarkan pernyataan, "Ayy ayy, kenapa ya, tiap kali beli barang bagus sekarang ini aku selalu biasa aja. Padahal kalau semisal aku beli ini pas remaja mungkin aku bisa berbunga-bunga karena seneng banget. Aku ketularan sikap B aja dari kamu nih".
Do'i jawab, "Iyalah, bagus itu. Ngapain lebay beli barang juga~"
Hmmmm...
 
Walau begitu, dari dalam hati saya ingin menumbuhkan hati berbunga-bunga memiliki barang bagus ini, berwarna merah muda ditambah kamera polaroid adalah keinginan Bapak yang tidak terealisasi. Saya bisa mendapatkannya sekarang, saya jadi senang. Dengan tumbuhnya bunga-bunga dalam memiliki sebuah barang yang diingini bisa membuat saya selalu mengucap syukur dan berpuas diri, dengan kata lain bisa mengurangi sifat hedonisme dan rasa ketidakpuasan dalam diri.

Saya mengira Allah menunjukkan jalan agar kita selalu bersyukur dengan dua cara : yang negatif dan atau yang positif. Cara negatif semisal contoh dengan bentuk pelajaran dan kehilangan atau cara yang membuat air mata berlinang. Cara positif semisal contoh yang saya alami saat ini. Saya mampu membeli kamera polaroid beserta aksesorisnya dan saya mampu liburan di bulan kedelapan kehamilan ini. Subhanallah Walhamdulillah Wa laa ila ha ilallah Wallahu akbar.

Bisa Ngga Kirim Uang dari Taiwan ke Indonesia, Ngga Pakai Rempong?

BISAAA !!


DISCLAIMER : ini bukan artikel iklan atau promosi atau content placement ya. Ini artikel saya buat berdasarkan pengalaman saya. Jika temans ada yang berbeda pendapat, feel free buat bagi pengalamannya :).



Saya baru ingat, rupanya sudah dari akhir tahun 2018 saya mencoba salah satu aplikasi di Toko Indonesia pertama yang berdiri di Taiwan. Ada yang sudah bisa menebak apa nama toko tersebut?

Yak, betul. Namanya Index.

Kenapa pilih Index? Padahal ada banyak sekali toko Indonesia yang berjajar bak jamur seantero kota Taipei. Yang pertama, di tahun 2018 kebetulan apartemen tempat tinggal kami dekat dengan Index cabang Yonghe. Pokoknya kalau kepengen beli barang-barang Indo, tinggal lari ke Index. Yang kedua, kenapa kirim uang pilih ke Index, karena mereka sistemnya paten dan terstruktur, ngga berubah-ubah seperti mood penjaga toko indo lain #ehgimana, padahal saya mantan penjaga toko indo juga wkwk. Yang ketiga, kenapa tetap pilih kembali ke Index?. Nah ini yang ingin saya ceritakan di paragraf selanjutnya. Masih mau baca kan? #nyengir.

Saya lupa apakah di tahun 2019 atau 2020, ketika saya hendak transfer dari uang NTD ke IDR dengan tujuan menabung dan pakai aplikasi Halo Index, tetiba saya ditolak oleh penjaga kasir bagian pengiriman uang dan barang di cabang Index Hocecan (Index dekat Taipei Main Station) dengan alasan saya bukan TKI dan ARC nya bukan ARC pekerja.

Memang sii, waktu itu ada issue jika bukan TKI dan tidak punya ARC pekerja maka tak bisa kirim uang ke Indonesia, apapun alasannya. Dengar kabar burung, ini ada kaitannya dengan cara pemerintah Taiwan untuk melacak keberadaan tenaga kerja kaburan (tenaga kerja asing yang tidak memiliki ijin tinggal yang jelas di Taiwan).

Buat saya make sense juga, secara saya bukan pekerja, lalu duit dari mana asalnya koq bisa kirim uang ke rekening tabungan di Indonesia?. Padahal sebenarnya ada pemasukan beasiswa, tapi asyiknya pemerintah Taiwan itu selalu lurus, tidak boleh ada alasan apapun yang bisa lolos jika tujuannya untuk melanggar peraturan. Kalau sudah A ya A, B ya B, Z ya Z.

Sayangnya si mas penjaga kasir berkata menolaknya tidak dengan baik-baik (baca : menolak dengan nada tinggi), seolah-olah saya habis melakukan kesalahan apaaa gitu. Saya ingat dengan jelas muka si penjaga kasirnya waktu itu, ngga enak betul dilihatnya. Pikir saya kayaknya si mas nya lagi menstruasi. Padahal saya bukan tipe orang yang ngeyelan ato bicara pakai nada tinggi, tapi ditolaknya begitu banget. Sejak saat itu saya putuskan untuk uninstal aplikasi Halo Index dan bodo amat kalau semisal kartu member saya expired.

Setelahnya kalau ingin transfer uang, saya pilih lari ke toko indo terdekat, dengan catatan harus rela jika KURS yang diberi lebih rendah dan ongkos pengiriman yang ditawarkan lebih tinggi. Yang penting sampai lah niatan menabungnya.

Kemudian kemarin pas kebetulan mas husband lagi butuh rupiah, do'i menawarkan buat balik lagi kirim uang pakai aplikasi Index. Sebagai istri yang baik, tentu nurut suaminya ya hehe. Instal lagi lah saya aplikasi tersebut dan syukur alhamdulillah masih bisa log in (dan alhamdulillahnya lagi masih ingat cara mainin aplikasinya haha). Tandanya, tata cara pengiriman uang di sistem aplikasi Index tidak berubah selama kurun waktu setahun-dua tahun ini.

Saya merasa sama sekali tidak rempong dan inilah alasan ketiga saya kenapa pilih kembali ke aplikasi Index saat saya kirim uang : KURS tinggi, ongkos pengiriman rendah dan waktu sampainya cepat.


Lalu bagaimana sih cara kirim uang lewat aplikasi Index?

Saya membagi tata caranya menjadi dua tahapan kirim uang lewat aplikasi. Yang pertama, kita mainkan aplikasinya. Yang kedua, kita setor uangnya.


Berikut tahapan pemakaian aplikasinya.

1. Pastikan di smartphone temans sudah terinstal aplikasi Index ya.

2. Buat temans yang pertama kali instal aplikasi, kita harus isi dulu Data Profil atau Data Pengirim (klik logo bundar dipojok kanan atas pada menu utama). Semuanya harus sesuai dengan ARC temans yang masih berlaku ya. Lalu foto selfie juga harus yang terbaru alias kita selfie saat itu juga. Juga foto ARC depan dan belakang harus yang jelas dan tidak terpantul cahaya ya (secara bagian depan ARC rawan mengkilat kalau terpantul cahaya).

A = Data Profil / Data Pengirim. B = Menu Kirim Uang



3. Setelah simpan Data Profil atau Data Pengirim tadi, kita bisa masuk ke menu Kirim Uang. Ada 4 sub menu di menu Kirim Uang : Kirim, Histori, Tips dan Data Penerima. Ada baiknya kalau tidak dalam kondisi terburu-buru menggunakan aplikasi kirim uang, kita bisa intip dulu dan baca secara seksama sub menu Tips.


4. Sebelum masuk ke sub menu Kirim, pilih sub menu Data Penerima dulu ya. Kemudian klik Buat Data Baru. Pilih Rekening Bank dan isi kolom-kolom dibawahnya. Harus lengkap ya. Setelah semua kolom diisi dengan lengkap, klik Tambah.

5. Lalu kita pilih sub menu Kirim. Isi kolom-kolom dibawahnya dengan lengkap lalu klik kirim. Setelah yakin dengan kolom keterangan pengiriman, klik kirim. Banyak banget ya, sabarrr hehe.



6. Kita akan diarahkan ke kolom peninjauan ulang pengiriman dan Data Pengirim. Cek lagi ya sebelum klik kirim.

7. Bubuhkan tanda tangan kita ke kolom Consignor. Lalu klik Setuju.


Catatan :

Usai klik tombol setuju, aplikasi akan kembali ke menu utama. Kita masuk ke menu Kirim Uang lalu klik sub menu Histori. Akan ada muncul dua tampilan subsub menu yang berdampingan : Kiriman dan Gagal. Kalau transaksi kita berhasil, maka di subsub menu Kiriman akan ada tulisan Proses Verifikasi. Jika transaksi kita gagal, maka disubsub menu Gagal akan ada tulisan Verifikasi Gagal.


Mengapa kita gagal dalam proses verifikasi?

No no no, jangan panik duluan ya. Karena kalau kita panik, kita ngga bisa berfikir jernih. Kalau transaksi kita gagal, maka akan ada SMS notifikasi (iyaa SMS-short message service) masuk untuk memberitahukan kesalahan apa (yang sudah kita perbuat #halah) dan meminta kita untuk registrasi ulang. Nah kalau sudah tau salahnya apa, kita bisa lakukan pembenaran.

In case, saya salah dua kali (hahaha), salah letak nama, kebiasaan di Indo ya letak namanya A-B-C, kalau di Taiwan semua letak namanya C-B-A. Bingung ya?hehe. Yang jelas kasus saya adalah salah menuliskan nama Data Pengirim tidak sesuai dengan ARC hehe. Setelah dibenarkan, saya cek kembali lalu lakukan pengiriman ulang (cara nomor 5-7 ditahapan pemakaian aplikasi).


Jika verifikasi kita berhasil, akan ada pula SMS masuk yang memberitahukan bahwa registrasi berhasil dan meminta kita untuk melakukan pembayaran/penyetoran uang di convenient store (Family Mart, Hi-Life atau 7-11) atau cabang Index terdekat.

Setelah main di aplikasi, kita bisa lanjut ke tahap kedua : setor uang.

8. Kebetulan rumah saya diapit dua convenient store 7-11 dan Family Mart. Tapi saya cenderung suka bertransaksi dan melakukan pembayaran tagihan apapun di 7-11. Larilah saya ke 7-11 setelah dapat SMS kalau verifikasi berhasil, sekalian nabung uang NTD sekalian pula bayar-bayar tagihan.

9. Setelah berada didepan kasir, kita siapkan aplikasi Index. Buka menu Kirim Uang, lalu sub menu Histori, lalu klik subsub menu Kiriman (yang bertuliskan Menunggu Pembayaran). Dibawah kolom akan ada pilihan convenient store mana yang dituju. Kasus saya pilih 7-11, jadi saya klik logo 7-11. Kasih smartphone kita ke kasir untuk dipip barcode nya. Setelahnya kita bayarkan sejumlah uang sesuai dengan nominal Total NTD yang ada di aplikasi.
Note : Rupanya ada batasan waktu saat buka barcode, maksimal 10 menit. Ada baiknya kita buka pilihan convenient store nya (pada aplikasi) setelah bertatap muka dengan penjaga kasir.




10. Tidak sampai satu menit setelah pembayaran, tampilan di aplikasi akan berubah menjadi Proses Kirim. Tandanya pembayaran sudah diterima dan kita tinggal menunggu rupiah masuk ke tabungan. Jika saya hitung waktu, ada jeda waktu sekitar tiga jam dari proses pembayaran ke masuknya rupiah direkening tabungan. Jadi tanda uang sudah masuk, di Tanda Bukti Pengiriman terdapat tulisan status transaksi Berhasil



Mudahkan temans? Ngga rempong sama sekali, dan sudah pasti sampainya. Tapi yaa kembali lagi, monggo terserah njenengan, ada banyak platform yang menawarkan jasa kirim uang dari Taiwan ke Indonesia. Boleh banget lhooo bagi ke saya pengalaman temans dalam mengirim uang dari Taiwan ke Indonesia, siapa tau ada yang lebih murah ongkosnya dan lebih cepat cair uangnya kan saya juga mau coba hehehe. Kalau ada yang mau bagi pengalaman kirim uang dari negara lain pun juga saya siap mendengarkan, monggoo ^^.

Pilih Multivitamin Yang Benar, Gimana Caranya?

Multivitamin merupakan bagian dari penggolongan suplemen dan mengandung banyak zat-zat gizi dan non gizi yang digunakan untuk meningkatkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada tubuh. Mineral memegang peranan dalam pemeliharaan fungsi tubuh dari tingkatan rendah seperti sel hingga organ. Selain itu, mineral berperan sebagai kofaktor dan mengatur aktifitas enzim di berbagai tahap metabolisme tubuh. Karena multivitamin dan mineral tidak bisa dibentuk oleh tubuh, maka keduanya harus didapat dari bahan-bahan alami pada sayur maupun buah-buahan.



Manfaat utama multivitamin dan mineral adalah memenuhi asupan nutrisi harian tubuh yang tidak tercukupi dari pola makan sehari-hari, misalnya vitamin A, vitamin C, vitamin D, magnesium, serat, natrium, kalsium dan kalium. Mengkonsumsi multivitamin dan mineral memang dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi sebagian orang seperti orang yang rentan mengalami defisiensi nutrisi atau kekurangan zat gizi, seperti lansia, ibu hamil, dan penderita malabsorbsi makanan.

Banyaknya ragam multivitamin dan mineral yang beredar di pasaran maupun toko online vitamin kadang membuat kita kebingungan. Manakah multivitamin dan mineral yang terbaik yang cocok untuk tubuh? Sebelum memilih multivitamin dan mineral, ada kalanya kita harus memperhatikan ini :

1. Siapakah anda?

Jika anda sedang memiliki penyakit, maka anda disarankan untuk mengkonsumsi vitamin tertentu dengan resep dokter.

Jika anda seseorang yang melakukan diet sehat, maka anda memerlukan beberapa multivitamin yang mengandung kalsium, zat besi, dan magnesium. Kalsium berfungsi menjaga kesehatan tulang dan gigi. Sementara itu, zat besi membantu mencegah anemia. Ada juga kandungan magnesium yang membantu kinerja zat besi di dalam tubuh.

Jika anda seorang yang sedang dalam masa pertumbuhan dan memiliki segudang aktivitas, maka anda memerlukan beragam multivitamin dan mineral untuk tubuh dan tulang.

Jika anda sedang memasuki usia lanjut, maka disarankan untuk mengkonsumsi multivitamin untuk menjaga kesehatan tubuh.

Jika anda sedang dalam kondisi hamil dan menyusui, maka tubuh anda akan membutuhkan lebih banyak nutrisi untuk Ibu dan bayi. Mengkonsumsi multivitamin yang tinggi asam folat dan kalsium akan sangat diperlukan.


2. Bagaimana gaya hidup anda?

Jika anda tergolong orang yang memiliki segudang aktivitas dan sering kali melewatkan sayuran dalam menu sehari-hari, pilihlah produk yang banyak mengandung vitamin seperti beta-karoten, vitamin C, dan vitamin E.

Jika anda yang lebih sering beraktivitas di malam hari, sebaiknya pilihlah produk yang banyak mengandung vitamin D.

Untuk anda yang ingin mendetoksifikasi zat-zat berbahaya akibat merokok berlebihan, pilihlah produk yang mengandung vitamin lengkap untuk hasil maksimal.

Jika anda sedang melakukan diet atau mengurangi porsi makan, maka pilih multivitamin yang mengandung kalsium, zat besi, dan magnesium.

Jika anda rutin melakukan latihan atau olahraga khusus seperti fitness, sebaiknya pilih produk yang banyak mengandung berbagai macam asam amino. Asam amino esensial, seperti valina, leusin, isoleusin, metionin, fenilalanin, lisin, treonin, histidin, dan triptofan, dipercaya mampu meningkatkan kinerja otot.

Jika anda yang tidak memiliki rutinitas olahraga, tetapi sering merasa pegal-pegal sepulang bekerja, produk dengan kandungan asam amino esensial dapat menjadi solusi. Bila menu makan Anda berpusat pada karbohidrat, multivitamin dengan kandungan asam amino esensial maupun nonesensial lebih disarankan.



Multivitamin dan mineral tambahan memang bermanfaat untuk tubuh. Namun yang perlu diingat, mengkonsumsi multivitamin tidak dapat menggantikan pentingnya gaya hidup sehat. Oleh karena itu, sebaiknya terapkan dahulu pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara rutin, berhenti merokok, dan menghindari stres, sebelum mengonsumsi multivitamin ya.