Manjakan Tubuh di Kayla Griya Cantik Muslimah

Wanita itu pasti identik dengan yang namanya perawatan kecantikan. Hampir separuh jumlah populasi wanita Indonesia melakukan perawatan tubuh dan wajah, baik secara alami dan bisa dilakukan di rumah maupun jalan operasi yang dilakukan dirumah sakit atau salon kecantikan. Yaa, bisa dibilang tidak sedikit wanita yang rela mengucurkan dana besar untuk mengubah dirinya menjadi cantik. Coba dipikir, Wanita mana yang ngga mau jadi cantik? Wanita mana yang ngga mau diajakin ke salon buat ngerawat tubuh? Untuk pertanyaan terakhir, dengan percaya diri saya tunjuk tangan.

Ngga percaya?

Sedari saya kecil saya terkenal tomboy. Saya tidak takut ngebales anak laki-laki yang nakal pas sekolah. Saat SD dan SMP, saya ikut serta dalam perguruan pencak silat, dan saya menjadi salah satu anak perempuan yang terpilih untuk sabung ilmu tenaga dalam, lawannya senior satu tingkat atas. Saat kuliah, saya ikut serta dalam organisasi tentara kampus, dan materi yang paling saya minati adalah bela diri militer.

Beruntung saya ketolong sama wajah yang feminim antagonis, kalo engga, hmmm...

Bisa dibilang saya merawat diri hanya ala kadarnya, dilakukan dirumah dan kalau ada uangnya hwekekekek.

Nah, kalau bukan karena suruhan ibu tercinta, saya pasti tidak akan pernah merasakan Salon dan Spa. Kayak kemarin tuh, duuuhh, my mommy kuat bingits nyuruh anak Sulungnya ini berangkat ke spa, padahal cuma berjarak beberapa meter dari rumah. Si adik sudah terlebih dulu mencoba dan sangat merekomendasikan untuk datang ke spa tersebut.


Adalah Kayla Griya Cantik Muslimah, Spa yang dirancang khusus untuk wanita. Pemiliknya seorang wanita muslimah dan pegawainya pun semuanya perempuan berjilbab. Wah, sudah, dua hal itu sudah bikin saya mulai mantep untuk berkunjung. Tinggal satu hal lagi yang ingin saya ketahui, apakah bahan-bahan untuk spa nya menggunakan bahan yang aman?

Saya bersama sang ibu berangkat ke spa tersebut sekitar pukul 10.30 pagi. Sampai ditempat, kami disambut mbak resepsionis cantik berjilbab. Kami diberikan beberapa menu pilihan spa. Ada Ragam Rawat, Rawat Puja Rikma, Rawat Pasuryan, Rawat Puja Raga, Paket Rawat Raga, dan Rias Kayla.

Buku menu Kayla

Ragam Rawat terdiri dari rawat garba, rawat payudara, rawat hasta samparan, dan rawat whitening. Ragam Rawat dibanderol harga mulai yang terendah Rp 40.000,- hingga Rp 900.000,-.

Rawat Puja Rikma terdiri dari segala jenis perawatan kepala dan rambut. Harga yang dberikan berkisar antara Rp 10.000,- sampai Rp 225.000,-.

Kemudian ada Rawat Pasuryan yang mencakup seluruh perawatan kulit wajah, ada facial produk; facial natural dan facial medical. Harga dari berbagai jenis facial wajah juga bervariasi, antara Rp 20.000,- sampai Rp 175.000,-.

Rawat Puja Raga terdiri dari berbagai macam pijat dan spa, ada pijat tradisional; paket raga; spa; body scrub; rendam rempah dll. Harganya berkisar antara Rp 40.000,- sampai Rp 280.000,-.

Sementara Paket Rawat Raga terdiri dari perawatan kepala, wajah dan badan yang dibagi menjadi tiga paket : Cantik Shaliha (harga Rp 205.000,- untuk member dan Rp 230.000,- untuk umum), Cantik Sharayya (harga Rp 265.000,- untuk member dan Rp 295.000,- untuk umum) dan Cantik Shakina (harga Rp 275.000,- untuk member dan Rp 309.000,- untuk umum).

Terakhir ada Rias Kayla, terdiri dari rias make up/sanggul/aplikasi jilbab/rias prewedding/rias meeting; sewa kebaya wisuda; sewa jarik wisuda/pesta; sewa selop dan sewa komisole. Harganya pun bervariasi berkisar antara Rp 20.000,- hingga Rp 250.000,-.

Untuk persiapan menikah, sang ibu menyuruh saya untuk memilih Paket Rawat Raga. Yang mahal sekalian biar lengkap, kata beliau. Bebebebbbbeehh. Dengan tegas saya bilang tidak, duitnya kan sayang... Mending duitnya ditabung buat beli es krim, sisanya untuk beli SX4. Ha ha.

Saya cenderung memilih salah satu sub paket dari Rawat Puja Raga, yang namanya juga Puja Raga hahaha. Puja Raga ini terdiri dari massage 30 menit, scrubbing, sauna dan masker badan. Waktu yang dibutuhkan untuk perawatan Puja Raga kurang lebih 2 jam. Untuk scrub dan masker badan, saya diberi pilihan rasa : javanese; milk; strawberry; coffee; boreh; coconut; green tea. Saya memilih varian milk.

Tidak puas dengan pilihan saya, sang Ibu meminta tambahan perawatan wajah. Waduh, bakalan sakit nih wajah dipencet-pencet. #Glek. Yasudah, saya pilih yang elektrik saja biar ga sakit-sakit banget wajahnya, Facial Tradisional Aromatherapy - Milk Honey Mosturizing Facial jadi pilihan tunggal saya. Lantas saya meminta sang ibu untuk ikut facial, karena ibu suka banget sama yang namanya facial. Tapi ibu menolak dan mengatakan tidak perlu khawatir sama ibu nanti ibu nyusul. Baiklah...

Lobby Kayla

Kami menunggu di lobby spa nan cozy. Lima menit kemudian saya dipanggil untuk masuk ke massage room.

Lorong Kayla

Dalam massage room, saya diberi waktu untuk berganti baju dengan kemben; celana dalam dengan panty pants; dan menutup rambut dengan shower cap. Menit-menit pertama saya tidak langsung berganti baju, melainkan menikmati aroma dan instrumen seruling khas Sunda.




Saya pun segera berganti baju setelah mbaknya keluar dari massage room. Mbaknya tadi masuk kamar tanpa suara, bikin kaget saja ha ha.

Saya sudah selesai ganti baju dan siap dipijat, aahhh..

Treatment pertama - Tradisional Massage.
Saya diminta untuk tidur telungkup untuk dibubuhi minyak pijat yang berbau aromaterapi. Lalu kaki, badan dan tangan saya dipijat selama 30 menit. Enak, senut-senut, geli, ngilu, nyaman. Ooh... Begini rasanya dipijat. Maklum, terakhir pijat pas usia masih 7 tahun dan biasanya memijat kaki orang tua hehe #anakberbaktirekiki.

Treatment kedua - Scrubbing.
Kaki, badan dan tangan saya dilumuri scrub aroma milk. Baunya menggemaskan. Sembari menunggu scrub kering, saya diminta untuk rileks, eh iya saya kebanyakan gerak sik hihihi.

Sang ibu masuk ruangan, kemudian melepas jilbab dan berbaring ditempat tidur samping saya. Rupanya ibu mengambil treatment facial wajah yang sama dengan pilihan saya. Seorang mbak membawa peralatan facial elektrik masuk dalam ruangan. Kemudian ibu segera mendapat treatment wajah.

Peralatan facial electric

Treatment ketiga - Facial Traditional Aromatherapy.
Usai kaki badan dan tangan sebelah kiri discrub, giliran wajah saya yang di facial, sementara kaki badan dan tangan sebelah kanan harus menunggu. Semua lancar saja saat mbaknya mentreatment wajah saya, sampai suatu ketika wajah saya harus diambil komedonya. Haruskah itu? Bakalan sakit banget gara-gara hidung dan dagu harus dikeruk-keruk dengan suatu alat kecil secara manual. Lalu apa guna pilihan facial elektrik???! Huahahaha sungguh saya tak bisa menahan air mata keluar ketika satu persatu bagian hidung "dikeruk". Sakiiit !!!

Selama hampir setengah jam mengeruk komedo, saya putuskan untuk menyudahi itu semua. Selanjutnya si mbak melanjutkan scrubbing kaki badan dan tangan sebelah kanan.

Treatment keempat - Body Masker.
Kaki, badan dan tangan saya dilumuri masker badan variant milk. Tak jauh berbeda dengan bau scrub, aroma masker badan tercium lebih menggemaskan ketimbang scrubnya. Badan rasanya adem.


Kursi spa

Treatment kelima - Spa.
Tiga puluh menit sudah badan jadi lengket dengan masker. Lalu saya diminta untuk berpindah tempat ke ruangan sebelah. Di ruangan ini khusus untuk treatment yang diharuskan berbasah-basahan seperti mandi susu, lulur, spa dan ratus. Si mbaknya meminta saya untuk masuk dan duduk dikursi spa, kemudian dia menutup rapat resleting jendela alat spa hingga tepat dileher saya, lalu menutup leher saya dengan handuk. Kini hanya leher saya yang terlihat dari luar. Saya harus berendam dengan uap panas hingga 15 menit lamanya.

Treatment keenam - Take a shower.
Lima belas menit berlalu, mbaknya memberikan handuk bersih dan meminta saya untuk mandi di kamar mandi diluar ruangan tersebut. Kamar mandinya unik man temans. Tradisional nan elegan. Duh sayang ngga sempat mengabadikannya. Di kamar mandi tersebut terdapat shampoo dan sabun khusus untuk pelanggan, sudah dipastikan tubuh pelanggan akan bersih setelah di treatment.

Take a shower menjadi treatment terakhir. Seluruh badan menjadi ringan, wangi dan hmmmm.. Kalau ngga begini ya ngga tau rasanya spa hihihi. Sang ibu sudah menunggu di loby. Usai menyelesaikan administrasi, kami langsung cus go home karena sudah masuk waktu dhuhur.

For your information guys, Kayla Griya Cantik Muslimah juga menawarkan member dengan berbagai benefit didalamnya. Dengan hanya menjalani treatment sebesar Rp 400.000,- dalam bulan yang sama, kita langsung bisa menjadi member dan berbagai keuntungannya. Wah, sudah tempatnya bagus, peralatan dan bahannya oke punya, pegawainya muslimah dan sopan,, sudah tak perlu bingung kalau mau ke spa oke yang dikhususkan untuk wanita.

Salam,


Kayla Griya Cantik Muslimah
Jl. Nginden 2 / 118, Surabaya
(031) 5981157
Open Sunday - Saturday, 09.00 - 18.00 WIB
www.salonmuslimahsurabaya.com

#FoodPhilosophy Trip Surabaya : Kulineran Bareng Hemaviton Cardio




Beware, it is a trap!

Membaca artikel berikut akan memberikan dampak pada mata dan perut anda.



***


Anugerah mana yang bisa didustakan ketika menjadi blogger terpilih ikut acara tanggal 8 April 2017 di kota bersejarah, Surabaya. Personal chat wasap dari om Budiono emang bikin mata berbinar-binar. Oh ya, ada yang tau acara apa sih ini? Buat temans yang Sabtu kemarin sedang stay on instagram dan twitter, pasti deh uda kepoin tagar #FoodPhilosphy #FoodPhilosophyTrip. Yhaaa~ ini adalah acara kulineran yang diadakan oleh hemaviton cardio, ditemani oleh Chef Ken plus seorang pakar nutrisionist Dr. Fanny Immanuddin, dan pesertanya adalah mayoritas dari food blogger Surabaya.

Dengan diantarkan bus kami menuju beberapa destinasi untuk makan, jalan, makan, makan, makan, masak, makan dan makan lagi. Begitulah kira-kira gambaran dari perjalanan ini. Selain pikiran yang kaget diawal ketika pertama kali melihat rundown acara yang kebanyakan agenda “makan” (hehehe), perut dan badan saya rupanya juga sempat kaget di pertengahan acara. Padahal saya suka dan hobi makan. Apa karena efek dari makanan hari ini termasuk makanan kelas berat semua ya? Hihihi #mewek. Untung aja, kami dibekali Hemaviton Cardio dan Hemaviton Glucare. Hmmm…

Dih Lis curhat mulu, bikin penasaran ajah. Ya udah, ini saya ceritain ya, in sya allah dengan detail, jadi duduk yang manis ya. Ada delapan destinasi yang dikunjungi selama 15 jam #FoodPhilosophy Trip hari ini. Apa saja?


***


#FoodPhilosophy Trip Surabaya 2017 berawal di Hotel Swiss Berlin Manyar. Ke 20 teman bloggers wajib dicek kadar kolesterol dan gula darahnya dulu sebelum berangkat kulineran.


…kalo gak tinggi kolesterolnya ya bukan food blogger namanya…


Pukul 06.30 saya sampai di hotel, kemudian mengisi absensi dan mendapat urutan ketiga untuk diambil darahnya.

Senut-senut

#Glek. Saya paling takut sama yang namanya “diambil darah”, karena sudah pasti ada sebuah benda lancip yang mencubles kulit. Benar saja, setelah mbak Yuni giliran saya untuk di “tembak”. Saya memotivasi diri agar loncat dadakan dengan mengingat wajah berseri-seri mbak Yuni ketika jemarinya dicubles sama lancing device. Tapi…tetap saja, saya masih tegang. Apesnya saya, ketika jari tengah sudah dicubles dan darah sudah digoreskan ke meteran test, rupanya mbak petugasnya salah meletakkan meteran glukosa ke alat test kolesterol (mungkin karena itu alat tidak bekerja). Karena menunggu terlalu lama, darah di jari jadi kering dan tidak mau keluar (mbak petugasnya tetap memencet jari saya dan terus memaksa darah dijari untuk keluar, itu yang bikin jari senut-senut kemeng coy). Dan ujung-ujungnyaaa, jari telunjuk saya yang gantian mau dicubles. Gusti Allah…

Seorang mbak cantik datang (namanya kurang tau karena belum sempat kenalan) dan menyarankan untuk mengubah jarum tembak ke nomor 4 (karena sebelumnya jarum tembak ada di nomor 2) agar lubang kulit yang dibentuk lebih besar dan darah akan keluar dengan leluasa. #Glek. Saya beneran merinding dan sengaja tidak melihat alat tembak itu. Saking banyaknya darah yang keluar dari jari tengah, mungkin cukup mengisi 5 meteran test.

Adegan pengambilan darah telah berakhir dan saya sangat bersyukur. Sekarang menunggu alat tersebut bekerja. Sekitar kurang lebih tiga menit menunggu, hasil kolesterol dan gula darah saya keluar.

Kalau kamu ?

Angka yang ditunjukkan dari alat test kolesterol adalah 133, sementara untuk alat test gula darah 127. Mbak petugasnya mengatakan untuk kolesterol saya masih baik karena masih jauh dibawah angka 200, sementara gula darahnya dinilai tinggi karena normalnya gula darah manusia tidak lebih dari angka 120. Hmmm…

Usai cek kolesterol dan gula darah, peserta diberi goodie bag, diminta untuk berganti baju dan bersiap untuk berangkat. Penasaran sama apa isi goodie bagnya, saya bersama teman bloggers lain membongkarnya di kamar mandi. Isinya : 1 kaos acara, 1 handuk kecil, 1 tepak plastik berlabel Hemaviton, 3 kotak Hemaviton Cardio, 2 kotak Hemaviton Glucare, 1 strip Hemaviton Skin Nutrient, 1 gantungan kunci unik berlabel Hemaviton. WOW.

Dok. #FoodPhilosophy Trip



Hotel Swiss Belinn Manyar
Jl. Manyar Kertoarjo no. 100 Surabaya 60231
(031) 5946868


***


Perjalanan kuliner pertama kami adalah menikmati Soto Tapak Siring, soto daging dan jeroan khas Madura.

Dalam perjalanan chef Ken menjelaskan tentang resep dan sejarah soto daging dan jeroan ini. Yang menjadi pertanyaan dia dan tak terkecuali saya adalah bagaimana bisa orang tua jaman dahulu memilih kunyit sebagai salah satu komponen penting bahan pembuat soto. Apakah karena mereka telah mengetahui bahwa kunyit mengandung bahan aktif yang dapat mengurangi potensi kolesterol dan diabetes pada tubuh manusia, atau hanya digunakan sebagai pewarna kuning saja. Apapun tujuannya, kunyit tidak bisa dilepaskan dari yang namanya soto dan juga sebaliknya, seperti akang yang tidak bisa lepas dari ingatan saya #tsaahh #kibasjilbab.

Hehehe

Selain rasa yang sudah tak diragukan lagi enaknya, ada beberapa kelebihan dan keunikan yang saya temukan di Soto Tapak Siring cabang Dharmahusada ini. Pertama, kita bisa memilih aneka isi dari soto tersebut, bisa hanya daging saja atau jeroan saja atau bahkan dicampur. Kedua, soto disajikan terpisah dengan nasinya. Ketiga, nasi dengan ukuran porsi sekepal dibungkus dengan daun pisang. 


…biasanya untuk perempuan bisa menghabiskan dua bungkus nasi disini…


Hwoooww


Sayangnya perut hanya bisa menghabiskan satu bungkus nasi dengan lauk daging soto. Sementara berbagai jeroan dalam mangkuk saya tinggalkan. Maaf ya jeroan…


Soto Tapak Siring Cab. Dharmahusada
Jl. Dharmahusada no. 14
Surabaya


***


Instagram @thebiggerchef

Lanjut ke destinasi kedua : Tugu Pahlawan. Ahaaiiiyy waktunya menghancurkan makanan diperut dengan aktivitas berjalan. Jadi setelahnya bisa makan lagi xixiixxiixixi.

Jalan-jalan

Walaupun saya sudah terhitung sangat sering mengunjungi Tugu Pahlawan dan musiumnya, tapi saya merasa tempat bersejarah bagi warga Surabaya ini tidak pernah kehilangan pesona tangguhnya.

Gagah !

Sekitar kurang lebih 30 menit saya berkeliling dan mengakrabkan diri dengan teman bloggers. Sueneng buangett!


Monumen Tugu Pahlawan
(Heroes Monument)
Jl. Pahlawan Surabaya 60174


***


Sate Klopo Ondomohen Bu Asih menjadi destinasi ketiga hari ini. Pak Sopir bus mengingatkan agar penumpang turun dengan cepat karena ditakutkan akan terjadi kemacetan disepanjang jalan walikota mustajab. Inggih bapak..siap.



Yeiyy makan lagi! Hmmm… Bau asapnya itu lho, menggodaahh.

Ada dua opsi sate jika temans ingin makan disini, ada sate daging dan sate ayam. Bentuk potongan sate daging lebih besar ketimbang sate ayam. Tentu saja kedua opsi sate tersebut sama-sama dibalut dengan bumbu rahasia dan yang paling khas adalah ada rasa dari kelapanya. Hmmm…

Hampir saja tidak dapat tempat duduk karena saking ramainya pembeli yang ingin makan ditempat. Eh iya, ini juga pas di jam makan siang. Setelah mengantri beberapa menit, saya mendapat tempat duduk bersama mbak Intan; Vivi; Eka dan Lidia. Seorang mbak pelayannya menawarkan mau minum apa, dan tiga menit kemudian dia datang membawa lima piring sate klopo daging, tiga gelas es teh manis, dua botol air mineral kemasan dan 1 porsi nasi.

Ke empat teman bloggers kaget secara bersamaan karena dalam satu piring terdapat 10 tusuk sate klopo daging. Untung saja hanya pesan satu piring nasi untuk berlima. Saya kagetnya belakangan saat akan makan, biasanya bisa menghabiskan satu piring nasi dan 10 tusuk sate daging klopo, tapi sekarang nampaknya akan berbeda.

Heelluuukk

Benar saja, dari lima cewek-cewek ini, hanya tiga orang yang bisa menghabiskan 10 tusuk sate tapi tanpa nasi. Nasinya tercuil sedikit karena hanya saya yang makan, fiuh, mubazir deh jadinya. Saya dan Vivi menyisakan lima tusuk sate, kemudian meminta mbak pelayan untuk membungkusnya saja.

Perut dan kepala mulai kaget, selama perjalanan menuju destinasi berikutnya saya menahan pusing dan mual. Hmmm. Ada yang ga beres sama badan. Silvi menganjurkan untuk mencoba Hemaviton Cardio. Iya ya, kenapa engga dicoba. Tanpa pikir panjang, saya meminum satu kapsul salut Hemaviton Cardio. Lumayan ya, setelah minum kepala jadi ringan. Saya siap untuk makan lagi! #eh


Sate Klopo Ondomohen Bu Asih
Jl. Walikota Mustajab no. 36 
Surabaya


***


Destinasi selanjutnya adalah Bebek Sinjay Bangkalan.

Untuk mencapai tempat bebek Sinjay, kami melakukan perjalanan panjang melalui jalan Kapasan yang tidak pernah lepas dari yang namanya kemacetan, kemudian melewati jembatan Suramadu yang memiliki panjang kurang lebih 5.438 meter.

Suasana dalam bis mendadak sepi ketika bis melaju menuju kota Bangkalan. Para penumpang sedang asyik dengan gadget masing-masing, ada pula yang dengan santainya menikmati tidur siang. Tidak tinggal diam, sang pembawa acara meramaikan suasana dua kali. Yang pertama ketika bis menerobos kemacetan di jalan Kapasan, dia membagikan door prise, syaratnya peserta harus menjawab pertanyaan terlebih dulu.


Berapakah lebih tepatnya panjang dari jembatan Suramadu?
Lima ribu empat ratus tiga puluh meter.


Aldi anggota Plat M mengangkat tangan dengan sigap dan jawabannya mendekati jawaban yang benar. Dia mendapat door prise. Yuhuuu~ Selamat Aldi!

Yang kedua ketika bis melalui jembatan Suramadu. Pembawa acara meminta om Budiono untuk sedikit menjabarkan tempat-tempat kuliner di Surabaya yang bisa menjadi jujukan selain destinasi kuliner hari ini. Om Budiono dengan asyiknya menjabarkan tempat makan mulai dari soto daging, sate babad, lontong balap, tahu campur, dan aduhh semua penjelasan om Budiono bikin perut berbunyi. Padahal ya barusan sate klopo aja ngga abis, minta dibungkus.


Kami sampai di Bebek Sinjay Bangkalan. Adududududdduuuuhhh ramai sekaaaliiii~. Full of people-people kelaparan #eh. Mereka rela mengantri panjang demi menikmati bebek yang terkenal akan bumbu koya dan sambal pencitnya ini.

Saya bersama Silvi, mbak Intan dan Lidia mendapat tempat duduk tepat disamping bapak peracik es kelapa. Mbak Intan memesan tiga butir es kelapa, dan saya hanya minta sebotol air mineral. Secara bergantian Silvi dan Lidia mencari toilet dan mushola lebih dulu, sementara mbak Intan dan saya menjaga barang-barang. Mbak Yuni datang bergabung di meja kami. Es kelapa datang tiga menit diantar oleh bapak peracik es kelapa, kemudian disusul lima piring nasi bebek sinjay lima belas menit kemudian diantar oleh seorang kru kameramen. Wah, terima kasih dan bismillahirrokhmaanirrokhiim, selamat makan!

Subhanallah...

Do you know what, porsi nasi dari bebek Sinjay ini sungguh amat teristimewah. Saya selalu tidak pernah bisa menghabiskannya. Untung saya membawa tas kresek kecil-kecil, jadi saya bisa "membungkus" sendiri. Hahaha, tidak mubazir khaaan. 


Bebek Sinjay Bangkalan
Jl. Raya Ketengan no. 45 
Burneh, Kab. Bangkalan, Madura


***


Kami kembali melalui perjalanan panjang menuju destinasi ke lima : Zangrandi Ice Cream. What? Ice Cream? Can't wait!


Chef Ken mengatakan bahwa dari destinasi kuliner hari ini yang paling berpotensi menimbulkan kolesterol jahat dalam tubuh adalah ketika kita makan bebek. Lho kenapa chef?

Dokter Fanny menjelaskan bahwa sebuah bahan makanan yang diproses dengan pembakaran tinggi akan menimbulkan potensi peningkatan lemak jenuh dan ketika makanan tersebut masuk dalam tubuh manusia maka akan membuat kadar kolesterol dalam darah meningkat. Dan dari makanan yang sudah kita makan, jika ditilik dari proses pembuatannya maka proses penggorengan bebek lah yang memiliki potensi lemak jenuh tinggi. Jika tidak diimbangi dengan asupan makan lain atau minum hemaviton cardio, maka kolesterol jahat akan menyumbat pembuluh darah dan akan menimbulkan penyakit stroke atau jantung koroner. 

Hmmm... Jadi... Hayo siapa yang tadi habis sepiring bebek dan ingin tambah lagi? Segera minum Hemaviton Cardio gih.


Sampai di Zangrandi Ice Cream tepat pukul tiga sore. (ting !). Ingat Lis, jangan banyak-banyak makan ice cream, gula darahmu diatas normal sudah! #mulutmanyun ketika ingat-ingat hasil tes tadi pagi. Baiklah,, saya hanya incip-incip, tapi rata semua rasa yaa wkwkwk. Ga khawatir kok... Kan ada Hemaviton Glucare.

Ssluuurrrppp

Siapa sih yang tidak kenal sama Eskrim Zangrandi, eskrim legendaris buatan Roberto Zangrandi berkebangsaan Italia yang sudah terkenal sejak tahun 1930-an ini masih mempertahankan cita rasanya hingga sekarang. Bukan hanya cita rasanya, tempatnya pun tidak berubah secara signifikan. Tidak akan pernah kalah dengan gerai ice cream yang mulai menjamur di Surabaya. Tapi jangan ditanya kalau soal harga yaaa huehehehe. Ada harga ada rupa lah ya.

Sudah ah, yok nikmatin aja ice creamnyah. Ada empat rasa yang tersaji di meja kami : coklat, vanilla, kopi dan durian. Hmmm #ngilu saking enaknya. Lalu sebagai pemungkas, datang eskrim rasa kopyor dan coklat. Sikatt semuanyaaahh!

Cuek sama gula darah tinggi, kan ada Hemaviton Glucare


Zangrandi Ice Cream
Jl. Yos Sudarso no. 15
Surabaya


***


Masih belum berhenti lho ini ceritanya, masih ada dua tempat lagi yang dikunjungi. Masih kuat kan mata dan perutnya?hehehe

Hiyaaa, kami lanjut cuss ke destinasi berikutnya : Pipe and Barrel. Hwow! Ada yang tau tempat apa ini? Atau ada yang sudah pernah kesini? Pastinya ada dongs, saya aja yang ketinggalan huahahaha.


Pipe and Barrel a.k.a Pipa dan Drum adalah sejenis restoran yang nongkrongable bingits (udah able pake bingits), yang didirikan sama Chef Ken. Konsep restorannya emang vintage dan anak muda banget, ada indoor juga outdoor. Sayang sekali saya tidak sempat berkeliling hiks hiks, dampak terlalu fokus sama acara dan henpon yang mulai lobet.

Kru kameramen mengaba-aba bloggers untuk masuk secara bersamaan. Dari halaman menuju tempat indoor kemudian menuju tempat outdoor. Disini kita tidak sepenuhnya makan lho ya, tapi juga ada acara masak-memasak yang dipandu oleh chef Ken sendiri. Hmmm... Masaakk... *naik-naikin alis*.



Menunggu chef Ken berganti kostum memasak, saya dan Silvi numpang sholat Ashar terlebih dulu. Tak disangka, acara tiba-tiba dimulai dan otomatis kami akan ketinggalan. Chef Ken menjelaskan beberapa rules sembari menunggu peserta yang sedang sholat. Usai sholat, saya dan Silvi gabung dengan teman bloggers karena tidak kebagian kitchen mini set. Silvi dengan Lidia dan saya dengan mbak Yuni. Yuhuu~ mari kita masak!

Ada bahan plus alat lengkap, dan ada secarik kertas berisi resep Spicy Wings with Salted Egg Sauce alias Sayap Ayam Pedas Telur Asin. Kami diminta secara mandiri untuk memasak tanpa ada demo memasak dari chef Ken sebelumnya. Yes! Kami pasti bisa!

Bawang putih diiris, jahe diiris korek api, daun bawang diiris, bawang merah diiris, daun jeruk diiris tipis, telur asin dipisah antara kuning dan putihnya, semuanya menggunakan pisau dapur yang besar dan tajamnya hampir sama seperti celurit sawah huahahaha. Walau pisaunya jauh lebih besar dari tangan, saya harus bisa menyelesaikannya tepat waktu. Butter dimasukkan dalam penggorengan kemudian menumis bahan dan putih telur asin, kemudian dimasukkan ayamnya, lalu kuning telur asinnya, lalu garam dan gula.

Chef Ken datang membantu saya menumis dan melempar-lempar (baca : mengaduk ala chef) bahan dari penggorengan agar semuanya tercampur rata (tanpa bantuan sutil kayu). Kalik ya chef Ken kasihan sama saya yang ketinggalan memasak (karena datang terlambat abis sholat), jadinya saya dibantuin. Mbak Yuni nya entah pergi kemana, mungkin masih sibuk mendokumentasikan acara...hiks hiks.

Dan masakan saya pun jadi! Mas pembawa acara yang sedari tadi duduk di sebelah mini kitchen set saya meminta incip masakan saya. Dia bilang enak lho. Eh masak? Saya tidak percaya huahaha, malahan saya kira masakan akan gagal di rasa bumbunya. Pas saya coba, eh iya, enak juga... Pasti ini karena dibantuin sama chef Ken wkwkwk.

Waktu sudah habis dan giliran chef Ken yang mencicipi satu persatu masakan peserta. Hmmm, berbagai penilaian dan reaksi teman bloggers terlihat mantap semua, pasti masakan mereka jauh jauh lebih enak dari punyaku. Giliran chef Ken mencicipi masakanku. Karena penggorengan punya saya sudah diambil oleh mas pegawai pipe n barrel dengan maksud dibersihkan, jadi chef Ken mencicipi masakan dari wadah plating.


Hmmm, good..
Iya lah good, wong saya dibantu sama chef Ken..
Lho, kan yang banyak memasak ya kamu.
Terima kasih chef..hehe




Yang ditunggu pun tiba, chef Ken mengumumkan juara 1, 2 dan 3 yang masakannya terenak. Aldi, mbak Intan dan Lidia+Silvi memenangkan lomba memasak kali ini. Yeeaaaiiiyyy,, selamaaatttt temaaann! ^^. Saya sempat mencicipi masakan Lidia dan Silvi, mmmhhhh bumbu telur asinnya yang kerasa banget, uwenak buangettt, pantas jadi juara! Ini yang dinamakan friendship goals! ^^

Usai memasak kami bersantai, mengobrol dan menikmati hidangan kudapan yang disediakan sambil menunggu adzan maghrib. Setelah selesai sholat maghrib bergantian, kami move ke destinasi selanjutnya dan yang terakhir.


Pipe and Barrel
Jl. Polisi Istimewa no. 22
Surabaya


***


Destinasi ke delapan yang menjadi destinasi terakhir perjalanan wisata kuliner hari ini adalah Terminal Seafood. Ayo kitaaa!! Makan lagi...

Di sepanjang perjalanan menuju destinasi terakhir, dokter Fanny menjelaskan tentang kadar kolesterol dari makanan seafood dan menyarankan agar lebih memilih masakan laut yang dibakar ketimbang yang dimasak dengan saus padang dan kawan-kawan. Tenang dokter, kan ada Hemaviton Cardio hehehe.

Dok. foodgrafer

Sampai di Terminal Seafood! Lagi-lagi kru kameramen meminta peserta bloggers untuk masuk secara bersamaan. Dan saya tidak sabar ingin segera makan seafood! Nyaammm~

Dua orang menyambut kami didepan pintu masuk Terminal Seafood dan mempersilahkan untuk naik ke lantai dua, ruangan untuk rombongan kuliner #FoodPhilosophy berada di ruangan VIP 2. Pas saya masuk keruangan tersebut, LHO, kok sepi...? Eh lhadalah ternyata baru saya yang masuk duluan, sepertinya saya terlalu bersemangat.

Tiga meja bundar telah disiapkan untuk rombongan. Jadi ingat konferensi meja bundar #eh. Saya bersama ke 8 teman bloggers : Vivi, Aldi, Eka, Sayadi, mas Eko, mas Zamroni, Aya, mbak Yuni dan mbak Avy sudah siap menyantap kuliner terakhir malam ini.

Satu persatu makanan seafood dihidangkan keatas meja kami.

Hmmm

Tapi.....

Kami harus menunggu untuk tidak makan dulu, karena Vivi dan Aldi harus diambil gambarnya untuk mempromosikan produk PT. Tempo Scan Pasifik TBK ini.


Gusti... Ini berbagai makanan seafood didepan saya seolah menari-nari memancing nafsu makan...


Empat puluh tujuh menit pun berlalu, dan kami akhirnya makan juga. Sorak sorai suara kami "yang akhirnya makan" ini memenuhi seluruh ruangan. Sampai-sampai chef Ken tertarik untuk melihat kami yang makan belakangan..hahaha.




Terminal Live Seafood
Jl. Manyar Kertoarjo no. 40
Surabaya


***


Dengan berakhirnya perjalanan, berakhir pula perjumpaan kami hari ini.

Tapi ijinkanlah saya untuk menyampaikan beberapa patah kata #halahh.

Seorang blogger, yang kebanyakan pekerjaannya adalah dibelakang leptop dan sedikit banyak bisa dikatakan kurang gerak karena posisinya kita dituntut untuk duduk dan berfikir. Ada banyak resiko akibat dari kurangnya gerak tubuh, diantaranya berat badan berlebih atau kegemukan; hipertensi; naiknya kadar gula dan kolesterol jahat dalam darah. Hmmm, mungkin jika berat badan berlebih bisa diturunkan, dan jika terjadi hipertensi bisa diakalin dengan memakan atau meminum bahan penurun tekanan darah.

Tapi bagaimana jika terjadi penyumbatan pembuluh darah akibat menumpuknya kolesterol dalam darah secara tiba-tiba? Atau naiknya kadar gula karena terjadi kekurangan hormon insulin? Hmmm... Untuk mencegahnya kita wajib mengatur pola hidup sehat dan pola makan kita. Selain itu, Hemaviton Cardio dan Hemaviton Glucare juga dapat membantu mengurangi kolesterol dan diabetes lho, disarankan banget untuk dikonsumsi oleh penderita kolesterol dan penderita diabetes.



Hemaviton Cardio memiliki komposisi bahan Phytosterol alami yang dapat mengurangi kolesterol jahat dalam darah. Jika temans terlanjur memiliki kadar kolesterol tinggi, disarankan untuk minum Hemaviton Cardio rutin 3x sehari pada waktu makan atau setelah makan. Nah tapi ada anjuran pakainya ya, pada saat mengkonsumsi Hemaviton Cardio, temans juga wajib untuk diet makanan rendah lemak dan berolahraga secara teratur.

Untuk Hemaviton Glucare cocok dikonsumsi bagi pecinta makanan dan minuman manis (seperti saya hehe), karena tiap kaplet salutnya mengandung Chromium nicotinate yang berfungsi untuk mengatur kadar gula dalam darah. Cara pemakaianpun tidak jauh berbeda dengan Hemaviton Cardio, yakni dikonsumsi rutin 3x sehari saat atau setelah makan.


Hmmmhh, banyak sekali yang saya dapatkan hari ini, dari wisata kuliner bersama teman bloggers, ilmu mengolah masakan dari chef Ken hingga pengetahuan tentang kesehatan dari dokter Fanny.

Terima kasih semuanya ! Kalian KEREN !

Cerita Weekend : Kebun Raya Purwodadi, Journey To The Waterfall

Weekend time ! Yeaaiiyy

Sekitar hari Jum'at yang lalu saya mengeluh manja ke do'i, "Masss, boszeeenn sama mall. Masa tiap weekend mall lagi mall lagi, TP lagi, nonton lagi, starbak lagi, kalo ngopi dikau sukak, akunya ngaplo..hiks. Pingin ke Malang. Pingin liat yang biru-biru kayak hutan gituu". (Biru = Hijau. Ketularan ke-Maduranisme-nya hiahahaha). Anyway, kasian ya orang Surabaya, yang jadi hiburan cuma mall dan mall #saveOrangSurabaya.

Eummm, senengnyaa saya, do'i lagi nyambung dan tanggap sama keluhan saya (jangan bilang wanita banyak mengeluh ya, saya beda, #allesan). Do'i langsung bilang, "Apa besok ke Kebun Raya Purwodadi?". Walau ketika itu saya sedang bed rest karena virus influenza datang menyerang, tapi saya tak menampik mata melebar senang saat baca pesan watsap do'i. But wait, do'i kan juga kena flu berat, malah kemarin ga bisa ngajar setengah hari karena ga bisa bangun dari tempat tidur, sungguhan bisa berangkat ini...?

Do'i bilang, "Tenang, sudah digempur obat hari ini, in sya allah besok sehat".

Daaan, this is it, hari Sabtu telah tiba, waktunya halan-halan! Do'i datang ke rumah sekitar jam 8 pagi dan kami berangkat sekitar satu jam kemudian (wanita itu dandannya lama, yang disiapin buanyak, saya...setuju). 

Bismillahirrohmaanirrokhiim. Berangkaaatt !


Jemursari - Wonokromo - Ahmad Yani - Waru - Gedangan - Sidoarjo (mampir sarapan soto langganan dulu) - Candi - Tanggulangin - Porong - Kejapanan - Pandaan - Wonokerto - Sukorejo - Sengon - Purwosari - Purwodadi.

Motor do'i bekerja ekstra keras hari ini. What? naik motor? Yapp, kami terbiasa travelling ke luar kota naik motor. Selain karena belum punya mobil pribadi, kata do'i biar romantis. Ngiahahaha.

Melawan jalanan aspal bergelombang dan bebatuan. Motor do'i berpacu dengan mobil beroda kecil sampai mobil yang berlari dengan ke20 rodanya. Duh biyuuhh, gimana engga aspalnya kalah, jadi bergelombang gitu, orang setiap harinya dilalui sama truk berat-berat.

Tiga jam kemudian kami sampai di Kebun Raya Purwodadi. Waktu yang ditempuh lebih lama ketimbang waktu kami melakukan perjalanan ke Lawang. Maklum, do'i abis sakit, gapapa alon-alon, pokoknya berangkat-sampe, selamet.

Alhamdulillah.. Kebetulan tidak terlalu ramai pengunjung. Alhamdulillah bangeeett.. Kami langsung menuju tempat parkir, letak parkir kendaraan : setelah gerbang pertama temans langsung aja belok kiri.

Parkir kendaraan bermotor dikenakan biaya sebesar Rp 3.000,-. Kami ditawari oleh petugas parkir untuk menitipkan helm, perhelm dikenakan biaya Rp 1.000,-. Demi keamanan, kenapa engga. Total uang yang kami keluarkan dilokasi parkir adalah Rp 5.000,-. Murah!

Karena saya hanya membawa satu tumbler minuman berisi air putih, dan saya menebak ini tidak akan cukup untuk berdua, akhirnya saya memutuskan untuk membeli dua botol minuman manis di koperasi Bale Asri, letak koperasinya disamping loket masuk kebun. FYI, koperasi ini adalah satu-satunya toko serba ada di kawasan Kebun Raya Purwodadi yang menjual aneka makanan dan minuman (dan juga ice cream, hmmm).

(Note : kalau kesini, jangan lupa bawa bekal dari rumah ya, bawa botol minum yang sudah diisi dari rumah itu lebih baik)

Sebelum masuk ke kawasan Kebun Raya Purwodadi, pengunjung harus menuju loket masuk. Karcis masuk perorang dikenakan biaya Rp 10.000,-. Murah kan, murah bangeeet dan kita bisa jalan-jalan melihat indahnya kebun seharian! Tapiii, jangan karena murah, kalian merusak tempat ini dengan membuang sampah sembarangan, mencoret-coret pohon ataupun fasilitas lain atau bahkan berbuat mesum di hutan ya. Etika dan attitude nya wajib dijaga.

Selain digunakan untuk tempat rekreasi, Kebun Raya Purwodadi juga bisa dijadikan tempat pre-wedding lho, tapi ada harga khusus untuk itu. Mobil juga bisa masuk dan berkeliling disekitar kebun, tentu juga harga khusus. Berapa ya harganya, saya tidak ingat, hehe maafkeun, keburu pingin masuk dan berkeliling sih... Yuk ah segera masuk yuk.


Buat temans yang baru pertama kali kesini, di sebelah kiri gerbang kedua (gerbang utama masuk Kebun Raya Purwodadi) terdapat papan informasi dan peta kebun. Jadi kita tau akan kemana tujuan sightseeing kita. Di sebelah kanan gerbang juga terdapat papan informasi yang bertuliskan tentang pelayanan jasa Kebun Raya Purwodadi. Duuuh, jadi terbantu banget.

Kebun Raya Purwodadi Map

Layanan Jasa Kebun Raya Purwodadi

Ini adalah kali ketiga saya kesini. Yang pertama dengan saudara sepupu yang rumahnya tak jauh dari Kebun Raya Purwodadi, namun hanya sampai pintu gerbang saja karena ramainya pengunjung mengurungkan niat kami jalan-jalan disini. Yang kedua dengan teman seperjuangan, berjalan hanya sampai di setengah kebun dan harus segera move ke destinasi wisata lain. Yang ketiga dengan do'i, berharap bisa melihat air terjun Coban Baung yang letaknya ada di belakang Kebun Raya Purwodadi.

Jadi tujuan kami kesini adalah untuk rekreasi dan melihat air terjun Coban Baung! Akankah kita bertemu air terjun tersebut?

Kami datang pas dengan waktunya sholat Dhuhur. Dan memutuskan untuk mencari musholla ketika sudah setengah perjalanan menuju belakang kebun. Bukan berarti saya yang sedang tidak sholat membiarkan do'i mencari mushola sendirian. Saya wajib ngintilin do'i, hukumnya wajib, takutnya nanti ada setan perempuan kesasar yang ganti ngintilin do'i lagi hiiii~ Sini kan suasananya kayak hutan yak, banyak mahluk tak kasat mata gentayangan #MendadakMistis. Akhirnya kami mengikuti arah dari papan petunjuk yang bertuliskan : mushola. Papan tersebut menunjuk ke arah kiri. Tanpa banyak pikir kami mengikutinya.

Dua orang ibu-ibu menghampiri dan menawari kami camilan dan minuman yang mereka dagang. Mereka berkata dengan bahasa Jawa, "Camilane mbak, sami niki mase, camilane, gawe nang air terjun, nggih niki mbak mase". "Matur nuwun bu", tapi ngga beli... Nyuwun pangapunten bu.. Masih punya air. Sang ibu penjual menyinggung air terjun, jadi benar di belakang Kebun Raya Purwodadi ada air terjun..hmmm.

Kami berjalan juauuuuhhh bangett hahahaha, ada paling 15 menitan, berjalan mengikuti track tunggal tapi ga menemukan mushola, hanya suara iqomahnya saja. Setelah lama berjalan, semakin memasuki hutan, kami menyadari bahwa suara iqomah tadi adalah suara dari mushola/masjid perkampungan sebelah kebun, sementara antara kebun dan perkampungan tersebut ada pagar tinggi sebagai pembatas. Ya masa' kami harus loncat T_T. Wah, papan penunjuknya ini salah arah. Kami duduk di tempat yang telah disediakan, mengisi energi dengan minum sembari menikmati pemandangan berbagai macam tanaman.

Yang duluan capek : do'i,   #jempolterbalik

Kami masih berjalan di track tunggal dan hanya mengandalkan insting do'i plus ingatan saya tentang dimana mushola berada. Bersyukur kami berpapasan dengan orang kampung sebelah (yang mberobos ke kebun untuk berjualan camilan dan minuman) dan beberapa kelompok anak sekolah (yang mungkin sedang rekreasi disini), jadi kami merasa tidak sendiri di hutan ini.

Lucunya, kami juga berpapasan dengan bemo berwarna biru yang berisi full penumpang, sepertinya warga sebelah. Tapi..... Gerbang nya kan cuma dua, gerbang pertama menuju parkiran dan gerbang dua menuju kebun, sementara nampaknya bemo atau kendaraan umum tidak diperbolehkan masuk kebun. Lha terus bemo itu datang dari mana dan mau kemana... Ah ya sudah abaikan sajalah... Daripada merinding karena mikir macem-macem.

Sepuluh menit kemudian kami menemukan mushola yang dicari. Sempat ragu, apa betul itu musholanya, karena mushola berubah bentuk dan sedang direnovasi. Tapi yang bikin saya yakin adalah kamar mandi dan tempat berwudhu nya yang menjorok kebawah, yap, kita harus turun dulu kebawah untuk mengambil wudhu.

Saya menunggu do'i dalam mushola sembari meluruskan kaki dan nge-charge hape. Hmmm~ nikmatnya.. Kami tidak sendiri di mushola, disekitar mushola ada sepasang mudamudi yang duduk dan bercengkerama, kemudian di kamar mandi pun ada seorang penjaga kamar mandi dan sepasang mudamudi yang nampaknya habis melakukan adegan pre-wed, dalam mushola juga ada sepasang mudamudi yang sedang sholat bergantian. Lho, jadi ini ceritanya banyak pasangan mudamudi yang datang rekreasi hahaha.

Petir terdengar tepat setelah do'i menyelesaikan sholatnya. Nampaknya hujan akan turun, dan kami sama sekali belum menemukan air terjunnya. Saya khawatir dan sudah kecewa kalau tidak jadi berkeliling, namun tidak dengan do'i. Dengan santainya do'i tidur disebelah kaki. #Ellho, maaaaaaaaasssssss. Suara saya mengalahkan petir hahaha, membuat do'i bangun tiba-tiba, tapi sudah saya pastikan suara saya tidak mengganggu mudamudi yang lain. Ayo jalan lagiii~. Kali ini suara saya buat melambai karena sebenarnya ngempet pingin ketawa. Duuh, kok bisa saya punya do'i yang selalu bisa tidur disegala situasi.

Do'i bangun dari tempatnya sambil ketap ketip, mengumpulkan energi. Saya hanya bisa ngempet pingin ketawa, maapfin ya maaass hehe. Oke, kami melanjutkan perjalanan dan mengulang dari nol lagi (karena letak mushola sederetan dengan gerbang kedua). Do'i tidak mau melalui jalan utama, melainkan mengajak jalan melalui track yang berbeda. Dan kemudian kami bertemu dengan rumah kaca. Kami memutuskan untuk mengambil gambar.

Saya, Rumah Kaca dan Hujan yang tak kelihatan

Kemudian saya menemukan pemandangan seperti ini.

Aduh kalian !
Rasanya sepah mata ini melihat sampah yang dihasilkan oleh pengunjung dan dibuang sembarangan seperti ini. Mbok ya tau diri... Ini tempat umum, bukan rumah ente, janganlah buang sampah sembarangan! #Hihh #Geram.


Kami sedang berjalan di track utama ketika hujan berintensitas sedang menyerbu kami dan para pengunjung lain. Semula jalanan terisi dengan pengunjung, kini jadi sepi. Kami berdua masih melanjutkan perjalanan dan mengabaikan hujan. Lupa dengan kondisi kami yang sama-sama baru sembuh dari flu. Demi melihat air terjun Coban Baung. Ya, kami sama-sama nekat. Suara pemberitahuan yang meminta agar pengunjung untuk berlindung di gazebo terdekat karena cuaca sedang tidak menentu (maksudnya adalah hujan ini) dari sound sistem bagian informasi tidak menyurutkan kami untuk tetap berjalan di track utama.

Namun akhirnya kami harus berlari mencari tempat berteduh karena hujan semakin lebat. Saya memilih tempat terdekat dengan beberapa orang disana, seorang penjual ibu-ibu dan dua orang bapak-bapak yang salah satunya sedang merokok. Tapi do'i tidak setuju, do'i lebih memilih tempat lain yang agak jauh agar terhindar dari asap rokok. Kami berlari cepat agar tidak kehujanan lama-lama.

Gazebo terdekat sudah terlihat, tanpa menunggu lama, kami langsung berlari kearah gazebo. Lah dalah, gazebonya memiliki atap tengah yang lubang huakakakak. Untung atap diatas tempat duduknya ngga lubang, jadi kami bisa berteduh.

Huaaaa~ Hujannya dueresss buangeeettt, mana angin dan petirnya juga kenceng. Sudah 15 menit kami berpindah tempat duduk melawan arah angin dan jatuhnya air, sembari mengobrol, sesekali tertawa dan menggerak-gerakkan badan agar tidak terkena hipotermia (semoga ngga lebay mendiagnosis suasana begini), mengingat dinginnya udara disini. Mulut kami pun tidak berhenti berdzikir agar hujan segera reda.

Hujan tidak sederas beberapa menit yang lalu, beberapa adik-adik berseragam pramuka terlihat mengendarai sepeda di track utama kemudian berbelok ke track gazebo tempat kami berteduh. Entah mau kemana mereka ditengah hujan begini. Anak kecil jaman sekarang, tidak takut sakit, tidak kenal bahaya, dan tidak takut dimarahi orang tua, selama mereka memiliki teman, dunia bisa apa.

Kami memberanikan diri untuk keluar gazebo dan melanjutkan perjalanan ke Timur untuk mencari kitab suci air terjun. Hujan yang masih datang berangsur-angsur berkurang. Dan beginilah semangat do'i.

Namanya Wahyu Alam, dosen UTM, sudah punya pasangan, kalau mau naksir dia ijin saya dulu.

Semoga disini ga ketemu mahasiswamu ya mas...hahaha. Yuk ah lanjut jalan.

Jalan lurus terus, ga pakai berkelok-kelok, hanya naik dan turun, dan lumayan...capek ya. Dan kami sampai di Taman Bougenville. Taman ini merupakan taman paling ujung dari Kebun Raya Purwodadi. Setidaknya dari sini, air terjunnya tidak begitu jauh, harapan kami...



Capcipcup, kembang kuncup, pilih mana yang mau dicup. Kanan kiri, kanan kiri, kanan kiri. Hmmm. Benar-benar buta arah kita. Disela-sela memilih, do'i memecah suasana. Ada aja idenya.

"Whoaa, bener ini kayak mak lampir!!!" || "Scene nya mak lampir maksudnya mas?" || "Ya coba kamu kesini deh" || "Mmmmnggg"

Lalu do'i ambil kamera dan menyuruh berpose seperti ini :


"Tuh pass mak lampirnya, mencos begituu mulutnya", katanya sambil jepret jepret. Huakakakak, udah kita ga jadi ke KUA ajah kalo gini caranyah..hmmmhh.


Kami memilih sisi kanan menuju air terjun, semoga tidak salah. Kanan kiri pemandangan hijau semuanya, menyejukkan mata, suatu hal yang tidak bisa didapat warga kota setiap harinya. Suara air sungai Welang mengalir dengan derasnya. Ada beberapa kera di seberang daratan. Kera-kera tersebut tidak bisa menyeberang ke hutan mungkin karena sebuah jembatan penghubung telah putus diterjang air sungai. Hiii~ baik kera maupun aliran sungainya sama-sama seram.

Peringatan! Dilarang dekat-dekat dengan tempat ini ketika hujan datang

Tak terasa lama kami berjalan, kaki ini mengeluh juga. Capek dan kebetulan dilep sedang kambuh, jadi kali ini saya yang tidak kuat berjalan. Do'i menghibur dengan obrolan-obrolan diluar dugaan, dan selanjutnya ngajak selfie. Bukan do'i namanya kalau endingnya ngga ngajak selfie.

Raja selfie dan Ratunya

"...ya gini ini kan enak ya, serasa tempat ini milik kita, kalau di Surabaya tuh, di mall, wahh isinya manusia semua, rasanya pingin ngusir aja tuh manusia-manusia...", kata do'i bicara ngga pake titik koma, uda kayak kereta api aja ga brenti-brenti.

"Iya..."

Hujannya masih rintik-rintik, beberapa mobil melalui kami menuju pintu keluar, sepertinya dari arah Selatan. Apa disana ya air terjunnya? Usai letih hilang, kami lanjut jalan lagi, tidak sabar ingin segera melihat air terjun Coban Baung.

Jalanan mulai menanjak dan sangat-sangat melelahkan. Suasana sepi mulai terasa. Bukan mahluk tak kasat mata yang saya takutkan, melainkan hewan-hewan liar yang mungkin muncul dengan tiba-tiba atau bahkan begal-begal. Mengingat kami hanya jalan berdua disini, tak ada orang lain. Saya memutuskan untuk mengajak do'i tidak meneruskan perjalanan kearah yang ini. Do'i mengambil hapenya dan minta tolong google (dari tadi kek maaass) untuk menemukan air terjun tersebut.

"Sepertinya kita harus putar balik, ini air terjunnya ada disini..."

Aku : lemes. "Yaudah yok balik aja"

Tak disangka jalanan balik kami memiliki pemandangan begitu indah, sangat sayang dilewatkan begitu saja, mungkin karena cuaca jadi cerah ya jadi kelihatan semua keindahan pemandangannya.


Yok ah dipercepat jalannya...

Masih aja diajakin selfie

Kami susuri jalanan yang sama dan kembali ke Taman Bougenvile. Dari taman tersebut kami berbelok kanan. Kami berjalan lurus di track tunggal. Naik dan turunnya jalanan aspal membuat saya sungguh kelelahan, ditambah dilep yang belum hilang.

"Nah seharusnya ada disini nih air terjunnya kalau menurut GPS. Kalau ga ada berarti ada di area perkampungan warga...", kata do'i.

Huffttthh, uda deh jujur saya menyerah. Saya sudah tidak mood dan sangat letih mencari. Kami berhenti dan istirahat di gazebo ujung paling utara Kebun Raya Purwodadi. Disini suasananya agak ramai karena berbatasan dengan jalan perkampungan warga. Saya menyerah bukan karena tidak kuat jalan lagi tapi karena dilep yang menghambat semangat, membuat saya ingin pulang. Memikirkan jarak dari tempat sekarang ke tempat parkiran saja membuat kepala pening, jauh lho T_T.

Do'i mengajak saya bicara, mengalihkan pikiran dari kekhawatiran dan keletihan. Saya hanya bisa mendengarkan dan sedikit menanggapi. Maaf ya masss..

Beberapa warga yang melihat kami hanya berdua, sedikit berbuat gaduh, seolah-olah mengusir kami secara halus. Duh buk ibuk, kami hanya numpang duduk, gak macem-macem, tolonglah dibedakan mana yang berbuat macem-macem dan mana yang numpang ingin istirahat. Merasa terusik, do'i mengajak saya untuk kembali berjalan. Baiklah...


Sepanjang perjalanan, do'i terus berbicara sementara itu saya terus berfikir : hari ini tidak menemukan air terjun Coban Baung, semoga lain hari mendapat kesempatan untuk bisa melihat air terjun tersebut, karena saya masih penasaran dengan air terjun Coban Baung!.


Di track utama kami melihat seorang ibu sedang duduk menunggu pembeli. Saya berbisik pada do'i, bagaimana kalau beli kopi instan di ibu itu, do'i menyetujui. Seperti biasa kalau beli kopi, do'i yang beli dan saya numpang incip, kecuali kalau ada kopi rasa Javajimijo, wah saya ga mau berbagi dengan siapapun hihihi.

Sembari berjalan, kami menunggu kopi putih ini dingin. Kabut mulai terlihat disekitar kami, perlahan menghilang, perlahan muncul lagi. Suara dari bagian informasi mengatakan bahwa 30 menit lagi kebun akan ditutup. Yuk ah, kita nikmati pemandangannya dan mengabadikan momen dengan kamera android!




Senangnya, kami bisa berkeliling melihat hijaunya pemandangan dan sejuknya udara, membersihkan badan dari kotornya udara kota. Sedihnya, kami tidak menemukan air terjun tersebut. Dan saya akan merindukan tempat ini. Seperti do'i yang berpose seperti ini :

Jalan Randu Rindu

Benar sudah sore ini, di parkiran motor, hanya tertinggal dua motor salah satunya motor do'i. Memang sudah waktunya kami pulang. Daaan sudah waktunya saya dipingit hihihi, do'i sudah tidak diperbolehkan ibu untuk apel ke rumah. Sampai ketemu dua minggu lagi kangmas ^^. Terima kasih buat hari ini.