Menikmati Senja Di Wisata Ikonik Taiwan, Jiufen

Jika tidak ke Jiufen, bukan ke Taiwan namanya!
Kata orang-orang yang akan plesir ke Taiwan. Mereka ini seperti kurang afdhol rasanya kalau ke Taiwan tapi ngga ke Jiufen. Apa iya?


Awalnya saya tidak meyakini itu, karena ada banyak sekali wisata cantik di Taiwan, tak hanya Jiufen (九份). Walau saya tidak meyakini, tapi rasa penasaran di hati masih ada. Bahkan di awal-awal kedatangan kami ke Taiwan, destinasi pertama wisata kami suatu hari nanti adalah Jiufen. Hanya melihat medannya secara sekilas, saya sempat khawatir akan terlalu berat nanti wisata kesana, apalagi Kia masih belum bisa berjalan--pikir saya waktu itu.

Lalu keinginan dan kesempatan muncul bersamaan. Setelah sholat Jum'at kemarin, kami langsung cus ke Jiufen.


Naik Apa?

Ada banyak sekali transportasi umum yang akan mengantarkan ke tempat wisata Jiufen, mengingat semua transportasi di Taiwan sudah terintegrasi dan dalam penggunaannya sangat dimudahkan. Kami memilih transportasi yang tidak memakan waktu lama : kereta. Yup, mungkin temans yang memiliki bayi atau anak bisa memilih transportasi kereta agar tidak berlama-lama di perjalanan.

Start kami di Taipei Main Station ya. Kami berencana naik TRA (kepanjangan dari Taiwan Railways Administration atau 台灣鐵路管理局), kereta lokal utama yang rel nya berada diatas (bukan underground seperti MRT ya) dan mencakup seluruh kota besar di Taiwan. Kalau di Indonesia, TRA seperti kereta Penataran (Sby-Mlg) atau kereta Bima (Jkt-Mlg).

Sebelum naik TRA, kami harus membeli tiket tersebut di mesin tiket yang ada di samping kiri dan kanan pintu masuk TRA. Tidak ada petugas yang menjaga mesin dan kita harus melakukannya sendiri. Tapi tak perlu khawatir ya, karena di bagian atas mesin terdapat cara penggunaannya. Kami memilih tujuan akhir di Ruifang Station, stasiun terdekat dengan Jiufen.

Yang digunakan untuk membeli tiket adalah hanya uang koin dan kartu magnet. Kami tak punya kartu magnet sehingga paling mudah ya membeli dengan uang koin. Jika temans kebetulan tak punya uang koin, ada kok mesin penukaran uang tepat disamping mesin tiket. Kata mas husband : Taiwan ini ada-ada aja ya, selalu ada jalan untuk mempermudah sesuatu.

Mesin tiket TRA.

Informasi penggunaan mesin tiket.

Mesin penukaran uang kertas menjadi uang koin.

Setelah mendapat tiket, kami masuk melalui pintu masuk, tentunya harus dengan memasukkan tiketnya terlebih dahulu ke dalam mesin pintu. Tiket tersebut akan keluar di ujung mesin setelah gerbang kecilnya terbuka. Tiket tidak boleh hilang ya, karena nanti saat sudah sampai tujuan, tiket harus ditunjukkan ke petugas. Kami naik ke atas (platform 4) dan segera menaiki kereta (kebetulan kereta yang akan kami naiki sudah stand by).

Gerbang tiket TRA.

Masukkan tiket dulu ya.

Tiket berlubang dibagian tengah atas, tanda sudah "dicetok" mesin dan boleh naik kereta.

Dengan TRA, Taipei-Ruifang memakan waktu hampir satu jam, pemirsaahhh. Tapi itu tak terasa karena disepanjang perjalanan, kita disuguhkan dengan pemandangan yang cantik, dijamin tak akan bosan.

Bagian luar TRA.

Dalam TRA. Baru tau ada yang makan dalam TRA, entah diperbolehkan entah tidak.

Eh ada Ria Enes dan Suzan, versi sipit.

Sampai di Ruifang Station, kami keluar menuju exit 3. Di stasiun Ruifang ini tersedia taksi yang khusus mengantarkan langsung ke Jiufen Street, harga yang ditawarkan sekitar 200-250NT ya. Taksi bisa jadi alternatif juga jika temans ingin cepat sampai ke Jiufen.

Ruifang Station.

Kami lebih memilih naik bus, selain murah juga saya ingin membiasakan Kia menggunakan transportasi umum dan berkenalan dengan orang lokal. Setelah dari exit 3 tadi, kami berjalan beberapa meter dari sebelah kiri stasiun (melewati family mart dan 85 cafe) dan berhenti di stasiun bus. Agak ribet ya memang, tapi jika kita lihat patokan Gmaps maka kita tidak akan kesasar. Dari sini kami naik bus 965 menuju Jiufen Street. Kalau dilihat di map halte, ada lima bus yang menuju Jiufen. Kami memilih 965 karena bus itu yang datang lebih dulu, kok ya beruntungnya kami bus ini bus eksklusif sama seperti bus dari Taipei menuju Zhongli.


Baca juga : Gara-gara #TSWIM, Kami Bisa Berlibur ke Zhongli Part 1 dan Part 2


Sekitar 15 menit kemudian bus berhenti Jiufen Street. Duh ya, dahsyat banget emang driver bus-bus Taiwan ini. Sepanjang medan menuju Jiufen adalah jalan yang berkelok-kelok hampir 360 derajat mirip dengan jalan menuju Wulai, jalanannya pun sempit dan pas banget jika dilalui oleh dua bus, tak jarang bus kami sisipan dengan bus lain dari arah berlawanan, dan yak--ini agak ngeri-ngeri sedap kalau temans kebetulan duduk disamping jendela kaca.

Oke skip aja perjalanannya ya, yang penting diawal perjalanan sudah berdoa dulu jadi semua dipasrahkan saja sama Allah. Lanjut ke perjalanan Jiufen.


Pemandangan Yang Luar Biasa

Tak jauh dari tempat kami turun bus, ada spot yang memiliki dua lantai dan beratap, yang mungkin dikhususkan untuk pengunjung melihat pemandangan. Dari spot ini, kita bisa melihat jauh dataran hijau dan samudera Taiwan (atau kalau di peta bernama Yinyang Sea).




Selamat datang di padatnya Jiufen Old Street

Mau bilang buat temans yang tidak suka tempat sempit dan padat orang, hmmm, lebih baik pikir ulang jika mau Jiufen Old Street, jangan sekali-kali datangnya saat weekend atau hari libur. Hmm kayak kami nih, masya allah uda kayak mau pingsan aja #HahaLebay.

Entrance Main Gate Jiufen Old Street.

FYI, kawasan Jiufen ini dulunya adalah sebuah desa kecil yang terisolasi. Hingga saat Taiwan masih dijajah Jepang pada tahun 1893, ditemukan tambang emas yang kemudian menjadikan Jiufen berkembang. Selama Perang Dunia ke 2, kawasan Jiufen menjadi tempat penampungan tahanan pasukan sekutu yang mana tahanan tersebut dipaksa untuk bekerja di tambang emas. Waktu berlalu dan kegiatan tambang emas menurun. Hingga sekarang, kawasan Jiufen dijadikan tujuan wisata untuk mengingat sejarah dan budaya Taiwan.

Jiufen Old Street tidak jauh berbeda dengan old street--night market lainnya di Taiwan dalam hal produk yang dijual, aksesoris, jajanan dan souvenir. Namun yang bikin beda adalah tata letaknya. Jika kebanyakan old street dan night market berjajar rapi secara horisontal, di Jiufen Old Street ini gerai-gerai tokonya berjajar rapi secara diagonal dan vertikal. Ya musti ya, karena Jiufen ini letaknya di pegunungan, maka kontur bangunan dan jalanannya harus mengikuti datarannya.

Tertata apik dan lengkap. Jalanan yang dibuat halus menanjak pun juga sistem drainase bagus. Juga ada ATM dan kotak pos.

Karena kontur bangunan dan jalanannya itulah yang membuat kami maju-mundur mau ke Jiufen. Bisa ngga ya bawa stroller,, kalau ngga bisa terus ada tempat istirahat gratis ngga ya disana (hehe emak-emak emang suka gratisan) kan secara ngga bawa stroller berarti harus gendong Kia bergantian. Tapi yaa, kami emang sukanya nekat, kalau kata Mas Dafa nya Cak Ikin "Dipikir ambek mlaku ae rek!". Jadi kami cuma berbekal doa dari rumah, bismillah, jalan. Dan Alhamdulillah... Lancar sampai pulang.

Buat temans yang mau ke Jiufen sambil membawa stroller tidak perlu khawatir. Jalanan utama Jiufen Old Street dibuat sedemikian rupa sehingga semua yang beroda bisa lewat, yeaiy!

Menyusuri jalanan utama, buat saya penasaran, ada apa di ujung jalan sana?

Sejumlah pemandangan cantik kami dapatkan disini. Sayangnya kami harus bersabar mengantri karena banyak sekali pengunjung yang datang.




Ujung jalan utama Jiufen Old Street adalah sebuah perbatasan. Terlihat sekali perbedaan dari sebuah perbatasan tersebut. Adalah nampak seperti sebuah pertigaan : rumah kuno yang terbuat dari kayu (sebagian masih ada yang menempati sebagai rumah usaha dan sebagian lagi dibiarkan kosong lagi usang), kemudian ada rumah yang modern terbuat dari bukan kayu, kemudian ada tangga menuju kebawah yang terhubung dengan jalanan beraspal-berkelok dibawah. Benar-benar sebuah pemandangan yang cantik dan diluar dugaan saya. Sayang sekali saya tak sempat mengabadikannya.


Berebut Foto Di Spot Ikonik Jiufen

Sebenarnya ngga berebut juga sih. Tapi biar heboh dan lebay gitu, saya bikin heading begitu hehe.

Asli ya, ini padahal baru hari Jum'at, tapi pengunjungnya ini masya allah. Semakin malam semakin ramai.

Crowded parah!

Mas husband "memaksa" untuk mampir ke spot ini sebelum pulang, karena dibilangnya rugi kalau ke Jiufen ngga sempat berfoto atau bahkan melihat spot ikonik ini. Alhasil lah kami dengan suka rela (mas husband suka, saya rela) berdesak-desakan mengantri turun-naik tangga yang jumlahnya ngga bisa dihitung dengan jari, sambil menggendong Kia dan stroller. Untung ya sebelum berangkat tadi sudah makan, kalau belum makan gitu saya bisa pingsan ditengah antrian. Sudah panas, syumuk, sesak-desak, ya wes gitulah.

Pas sudah sampai, mas husband menggendong Kia lalu menyuruh saya untuk pergi ke satu sudut (yang sudah tentu penuh dengan kerumunan orang) dan berfoto disana. Lho kok aku sendiri ayy?

Sedikit kebingungan lantaran spot ikonik masih belum terlihat--masih sibuk dengan pemandangan orang-orang--maklum ya saya orangnya ngga tinggi tinggi amat. Saya mencari kesana kemari mana yang disebut mas husband, dan yak! Ikon unggulan Kartu Pos Taiwan pun muncul didepan mata. Hahaha, masya allah, subhanallah. Sebegitu cantiknya ya sampai orang-orang rela antri begini. Rela antri untuk berfoto dan masuk ke gedungnya.



Karena saya sendiri, saya leluasa mengabadikan gedung cantik ikonik Jiufen ini. Tanpa saya sadari penuh, saya menawarkan diri untuk mengabadikan gambar sebuah keluarga kecil yang baru datang untuk berfoto. Keluarga kecil ini rupanya dari negara Korea Selatan dan ikut salah satu rombongan group tour ke Jiufen. Alhamdulillah mereka terlihat puas dengan hasil jepretan saya. Dan entah mengapa pula saya menolak tawaran mereka untuk gantian difotokan. Kami sama-sama tersenyum dan say goodbye.

Saya jadi iri sebenarnya, masa' cuma saya sendiri yang berfoto disini. Saya pun kembali ke tempat mas husband menunggu dan memaksa do'i ikut berfoto di spot tadi. Bermodal tongsis yang saya bawa, akhirnya kami dapat foto kenang-kenangan di spot ikonik Jiufen.



Oleh-Oleh Khas Jiufen, Apa Ya?

Entah mengapa saya bersi-keras untuk tidak pernah beli souvenir tiap berkunjung ke tempat wisata di Taiwan. Selain karena saya akan menetap di Taiwan untuk waktu yang lama dan toh juga bisa sewaktu-waktu kembali ke tempat wisata tersebut. Pun juga produk yang dijual di Jiufen Old Street tak banyak berbeda dengan yang dijual di Night Market wisata dekat apartemen kami. Namun ternyata dalam hati saya kali ini berkeinginan untuk membeli sesuatu barang di Jiufen, tapi apa ya yang bisa dibuat kenang-kenangan dari Jiufen untuk kali pertama?

Teringat saat berjalan di jalanan utama Jiufen Old Street, saya mampir ke sebuah toko yang menjual aksesoris berbahan dasar kulit seperti gantungan kunci, dompet dan tas. Yang unik dari toko ini, adalah penjualnya bisa memberikan nama di setiap produk yang dijualnya. Pikir saya, kan unik ya jika saya membeli salah satu produknya yang simpel lalu terdapat nama LIMAURA.COM. Kan bisa jadi branding gitu kalau dilihat orang-orang lokal hehehe.

Sebelum kembali ke tempat toko tersebut, saya menawari mas husband pula. Tapi mas husband menolak. Dan belakangan saat perjalanan pulang, saya kok jadi getun karena tak membelikan mas husband juga hiks. Kebiasaan kalau beli musti couple-an lalu ngga beli couple-an itu.... gimanaa gitu rasanya.

Dan hfuallah, ini dia souvenir yang saya miliki dari Jiufen.




Go Home, Saya Senang dan Alhamdulillah...

Yap, perjalanan kali ini sungguh membuat saya lega. Akhirnya kesampaian juga ke Jiufen nya. Hari pun mulai gelap. Kami bergegas menuju stasiun bus terdekat (berada di sebelah utara gerbang masuk utama Jiufen Old Street). Mengantri lagi (tapi tak sepanjang antrian ke spot ikonik Jiufen sih). Kami naik bus pertama yang datang, bus 788 menuju Ruifang Station.

Halte terdekat dari Jiufen Old Street.

Pemandangan senja dari halte.

Sampai di Ruifang Station, kami masuk Gate 3, membeli tiket TRA tujuan Taipei Main Station dan berakhirlah perjalanan kami hari ini, alhamdulillah.




Sampai jumpa di cerita Next Trip ALK selanjutnya...^^

Perdana! Datang Ke Acara Klub Baca Salimah Taiwan Di Hari Kemerdekaan Indonesia



Kling tung!
Notifikasi Line berbunyi. Oh dijapri orang penting, mbak Dina. Langsung buka dong.

Mbak Dina : *kirim poster acara Salimah--Klub Baca*
Saya : Wah
.....Diskusi, intinya beliau meyakinkan bahwa acara ini sangat bermanfaat, sayang banget kalau ngga datang.....

Berakhirnya diskusi, saya langsung japri mbak Ulfah untuk konfirmasi kedatangan.


Apa itu Salimah Taiwan?

Awal datang ke Taipei satu tahun yang lalu, saya kebingungan untuk mencari pertemanan. Celetak celetuk sepi sekali karena terbiasa di Indonesia kebanyakan hangout untuk menjalin pertemanan. Lalu diajaklah saya untuk masuk grup Salimah Taiwan.

Tidak asing ditelinga namanya ya, yup Salimah Taiwan merupakan sebuah komunitas persaudaraan muslimah Indonesia di Taiwan. Sebagai muslimah, saya mewajibkan diri sendiri untuk ikut komunitas ini. Kenapa, karena hmmm, sungguh, di negara orang ini banyak godaannya. Jika tidak pandai berteman dan bergaul dengan penjual parfum maka takutnya menjurus bergaul dengan yang........ ya begitulah. Nah, saya teramat sangat lega karena dengan masuknya saya di grup line Salimah Taiwan, hampir setiap hari saya membaca postingan yang bermanfaat. Ibaratnya, ini menjadi pengingat saya bahwa di Taiwan pun ada saudara seiman yang bisa mengantar saya kembali ke jalan yang benar. Alhamdulillah... ^^


Klub Baca Acara Perdana

Acara Klub Baca ini diselenggarakan di New Taipei City Library Zhonghe Branch lantai 8, dan merupakan acara pertama yang dibuat Salimah Taiwan yang bertemakan Klub Baca. Dekat dengan rumah alhamdulillah kami datang tanpa hambatan atau terlambat. Saya datang tak sendiri, ada mbak Herza yang juga ingin hadir. Mbak Herza ini yang mengenalkan saya kepada grup line Salimah Taiwan. Balita saya, si tweety Kia pun wajib ngintil saya karena mas husband sedang tidak libur kerja.

Walau tidak terlambat, tapi kami sempat kebingungan lantaran perpustakaan tercantum dalam google maps namun aslinya tidak tertulis dimana-mana. Kemudian kami mencari sekitar dan bertanya pada orang yang sedang lewat, lalu bertemulah kami dengan gedung perpustaakan yang dimaksud. Saya cantumkan ancer-ancernya ya, siapa tau ada temans ingin ke perpustakan New Taipei City ini melihat blog saya sehingga tidak kebingungan.

Perpustakaan ada didalam gedung ini. Pintu masuk ada dibalik gedung ini.

Ancer-ancernya ya.

Info per lantai.

Sepanjang jalan pun saya berdoa, agar Kia bisa diajak kerja sama--anteng--saat acara berlangsung.

Rupanya kenyataannya tidak semulus harapan. Hmmm, as usual, Kia kalau diajak ke suatu tempat, teriakan kegirangannya bisa mencapai lima oktaf. Dia melakukannya di awal acara dan berhenti saat dia tertidur satu jam setelahnya. Ngapunten sing katah, mohon maaf sebesar-besarnya nggih Ibu-Ibu Salimah, anak saya mengganggu acaranya...

Kami datang dan disambut hangat oleh Bu Yani selaku ex-ketua Salimah Taiwan dan Mbak Ulfah selaku penyelenggara Klub Baca ini. Kemudian pula sudah menunggu Ibu Kepala Perpustakaan, Chiang Yen Feng. Saya sangat salut dengan sifat dan kinerja orang lokal---Taipei Taiwan, pantang terlambat dan kalau bisa harus datang beberapa menit sebelumnya. Semoga kita semua bisa mencontoh sifat baik orang lokal saat bekerja ya.

Sembari menunggu kedatangan anggota Salimah lain, kami berbincang dengan Chiang Yen Feng, (beliau tidak mau dipanggil Ibu betewe, kalau di Taiwan seorang perempuan yang belum menikah dipanggil Ibu kesannya kelihatan sudah tua, katanya). Tapi tetap ya saya menulis disini Ibu Yen Feng, demi menghormati.

Ibu Yen Feng tertarik bertanya tentang Kia, sedihnya saya pun tak tau sama sekali apa yang dikatakan beliau. Untung ada Bu Yani yang membantu menerjemahkan. Beliau bertanya, mengapa anak kecil dipakaikan kerudung, apakah Kia perempuan atau laki-laki, dan apakah Ayah Kia orang Taiwan--karena mata Kia persis seperti orang lokal. Tidak perlu saya jabarkan disini ya, saya yakin temans sudah tau jawabannya hehe.

Tidak lama, Ibu-Ibu anggota Salimah pun berdatangan. Kami segera berkumpul di tengah agar acara segera dimulai. Acara pertama adalah sari tilawah Al Qur'an yang dibacakan oleh Ibu Lia Sulistiawati. Kemudian dilanjutkan dengan acara kedua, yakni sambutan oleh Ibu Yen Feng. Sambutannya sangat singkat dan padat (namun kurang jelas--karena saya wo ting pu tong Zhongwen hiks). Kemudian memasuki acara inti, bedah buku yang disampaikan oleh Ibu Yani. Buku yang disampaikan berjudul "Keluarga Qur'ani" karya Dedhi Suharto Ak, M.Ak, CIA, CISA.

Ibu Yani memberikan penjabaran tentang poin isi buku Keluarga Qur'ani.

Ruangan dengan dinding kaca, tau ya Kia ngga mau bergabung dengan teman-teman seusianya karena apa...hehe

Usai penjabaran isi buku (bukunya sungguh teramat sangat berkesan di pikiran dan semoga bisa saya terapkan di keseharian - matur nuwun bu Yani), Ibu Yen Feng memberikan sambutan lagi dengan bahasa Zhongwen dan diterjemahkan oleh Ibu Ully dan Mbak Lia secara bergantian.

Due bu due, due~. Hao bu hao, hao~

Beliau mengatakan jika pemerintah telah menggelontorkan dana untuk membangun ruang sholat dan space muslim friendly di perpustakaan ini, juga terdapat buku-buku berbahasa Indonesia dan ruang baca anak. Sangat sayang sekali jika tidak dipergunakan dengan baik dan rutin. Oleh sebab itu, beliau mengajak kami semua untuk datang membawa serta teman dan keluarga.


Tour Perpustakaan dan New Prayer Room

Selesai memberikan kata demi kata, Ibu Yen Feng mengajak kami semua untuk berfoto kemudian turun ke lantai tujuh dan enam untuk sight-seeing.

Member Salimah Taiwan dan Ibu Yen Feng.

Kebetulan Kia sedang tidur pulas, saya taruh di strollernya. Ibu-ibu Salimah menyarankan agar Kia dititipkan saja, bergabung dengan anak-anak di ruangan sebelah. Dengan agak berat hati saya pun mengikuti saran Ibu-Ibu. Saya tidak pernah meninggalkan Kia seorang diri selain dengan Ayahnya... #MendadakMellow.

Lantai tujuh perpustakaan digunakan untuk meminjam dan mengembalikan buku. Di lantai ini terdapat item Multicultural Book yang berisi buku bacaan berbahasa Indonesia untuk dewasa dan anak-anak. Bu Yani baik sekali, memilihkan tiga sampai lima buku bacaan untuk Kia hihihi.


Ruang Multicultural Collection



Perlu diperhatikan, memang di lantai tujuh ini ada ruang baca untuk anak-anak, tapi anak-anak tidak diperbolehkan berisik atau bahkan berbicara dengan nada keras. Orang-orang lokal memang rentan dan rawan terganggu dengan suara berisik ya, jadi jika ada yang berisik sedikit, sudah diminta untuk meninggalkan ruangan. Jangankan di perpustakaan, di apartemen saya pun begitu, pernah ada kejadian suatu siang ada yang sedang bertengkar, suaranya terdengar hingga lantai ruangan kami. Tak lama kemudian mobil polisi datang. Saya menduga ada yang tidak suka dengan berisiknya suara mereka saat bertengkar sehingga menelepon kantor polisi terdekat. Hiii, horor ya.

Rule.

Kemudian kami turun ke lantai enam. Disinilah tempat mushola (prayer room) berada. Selain mushola, di lantai ini juga terdapat tempat berwudhu dan kamar mandi khusus muslim (yang ada pancuran airnya--alhamdulillah ya Allah). Depan ruang baca pun dibuat sedemikian rupa hingga orang-orang dapat mengenali bahwa muslim sangat diterima disini. Alhamdulillah...







Aset untuk umat muslim dari pemerintah Taiwan.

Di lantai enam ini kami membuat kartu perpustakaan. Harus mengisi formulir terlebih dahulu kemudian menyerahkan ARC dan menunggu prosesnya. Tidak sampai lima belas menit, jadi deh kartu anggota perpustakaannya.



Suasana ruang baca lantai 6.

Suasana ruang baca lantai 6.


Lomba Mewarnai Untuk Anak-Anak

Dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Ibu-Ibu Salimah yang membawa serta anak dan suami, sembari menunggu acara utama, diadakan pula lomba mewarnai, khusus untuk anak-anak ya, bapak-bapaknya giliran menunggui anak. Lomba mewarnai ini diadakan di sebelah ruangan utama.

Sebelum acara utama dimulai, Kia saya perkenalkan dengan teman-teman seusianya. Sayangnya dia masih belum mau bergabung. Kia lebih suka nempel Ibunya dan berkeliling mengitari ruangan utama. Karena dia suka melempar senyuman kepada teman-teman Salimah yang hadir sembari sesekali berteriak kegirangan, saya putuskan untuk kasih mikcu dia, tujuannya supaya dia tidur hahaha. Gagal sih, dua kali mikcu, Kia belum bisa tidur. Dia merasa ada suasana baru yang asyik menarik dan nyaman buat dia, padahal kelihatan jelas dia ngantuk berat sebab bangunnya pas Subuh. Kali ketiga saya kasih mikcu dengan cara agak dipaksa (takut teman-teman Salimah terbuyarkan konsentrasinya karena teriakan Kia), dan akhirnya dia tidur juga.

Sampai saya kembali dari tour perpustakaan pun, dia masih anteng tertidur di stroller.

Sekembalinya dari tour perpustakaan, teman-teman Salimah diminta untuk kembali ke lantai delapan (ruang lomba mewarnai) untuk makan siang. Makan siang dipersembahkan oleh Ibu Laopan (Ibu Ully) hehehe. Hauce hauce laopan, xie xie niii. Matur nuwun Ibu Ully, makanannya enak sekali. Alhamdulillah...

Makan siang bersama.

Sembari makan siang, Bude (panggilan akrab untuk salah seorang senior Salimah--beliau cantik lagi berkacamata nyentrik betewe hehe) mengumumkan pemenang dari lomba mewarnai anak-anak. Juaranya adalah Kholik, anak dari Bu Yani, yeaaiiiyy selamatt ya!

Foto dulu sebelum pulang.


Dengan berakhirnya lomba mewarnai, berakhir pula acara Salimah kali ini. Alhamdulillah saya mendapat ilmu pengalaman yang bermanfaat dan bertemu serta berkenalan dengan teman-teman baru yang banyak sekali memberikan informasi. Subhanallah Walhamdulillah Walaailaha ilallah Wallahuakbar. Semoga bisa jumpa dilain kesempatan.