Review | Maybelline Baby Lips Color Wild Cherry Taiwan

 


Ah..
Kali ini emak-emak muda (yang katanya masih cantik jelita karena baru punya anak satu hahaha) mau curhat.

Lagi di rumah, bosan, pingin jalan-jalan. Pas waktunya jalan-jalan. rempong nyiapin kebutuhan anak sama nyiapin tampilan diri sendiri. Ingin sekali daku memangkas beberapa aktivitas biar simpel dan ngga makan banyak waktu kalau mau pergi keluar. Salah satunya memangkas waktu make up.

Saya ngga pernah ngalis alias bikin alis karena alis sudah tebal (kalo di-alis-in lagi muka berubah jadi antagonis). Saya juga ngga pernah pake foundation; BB cream; CC cream; DD cream dan sejenisnya yang katanya bisa bikin kulit wajah putih mulus karena dasarnya wajah saya alhamdulillah sudah sehat dan licin. Saya juga ngga suka pake eyeliner ato pasang bulu mata palsu karena bulu mata saya lentik dan terlihat tajam. Nah, mengapa waktu dandan saya masih terbilang lama ya...?

Taraaa!
Karena saya kebanyakan konsen ke bibir. Bibir saya dari masa kecil tidak pernah mulus alias selalu kering dan tidak pernah tidak mengelupas. Itulah mengapa saya harus mengoleskan pelembab bibir tebal-tebal sebelum memakai lipstik. Mungkin ini penyebab waktu dandan jadi lama.

Selama di Taiwan saya hanya memakai dua produk bibir, Lip Cream Wardah dan Lipstik Oriflame. Warna-warni shade yang saya punya dari dua merk tersebut cocok di bibir. Saya punya riwayat tidak cocok dengan sembarang produk bibir jadi tidak pernah coba-coba pakai merk lain. Karena ingin meringkas waktu pakai pelembab bibir kemudian pakai lipstik, akhirnya saya mencari produk bibir yang dulu sering saya pakai saat di Indonesia.




Yup, saya ingin mencoba kembali produk Maybelline Baby Lips Color, lip balm sekaligus memberi warna pada bibir. Saya tetap mencari shade yang sama : Berry Crush, warnanya sesuai dengan warna asli bibir saya. Karena bentuknya lip balm, ketika digoreskan ke bibir, Maybelline Baby Lips Color ini tidak bikin bentuk bibir jadi tebal (seperti pakai Lip Cream). Jadi kalau mau pergi, cukup pakai Maybelline Baby Lips Color disamping bedak dan pelembab wajah. Ringkas!

Saya menjelajahi gerai kosmetik Taipei, baik yang masuk mall, disekitar stasiun MRT hingga night market. Baru ketemu hampir sebulan kemudian. Tau ketemunya dimana? Di Carrefour. Bukan karena merk yang tak ada (secara Maybelline merk kosmetik mendunia), tapi saya "mencari yang" : tidak terlampau mahal dan shade Berry Crush.

Tidak terlampau mahal, hmm, harga Maybelline Baby Lips Color ini lebih dari 150 NTD (lebih dari Rp 75.000) di semua toko yang saya kunjungi, itulah alasan utama saya selalu menunda untuk membeli, emak-emak selalu pikir berulang kali tentang membeli barang mahal jika untuk diri sendiri. Shade Berry Crush, toko-toko yang saya kunjungi tidak menjual shade ini, dan atau kebetulan lagi habis (tapi ya masa ngga di restock-restock), entahlah.

So, ketika menemukan shade yang mirip dengan Berry Crush di pojokan kosmetik Maybelline Carrefour, saya langsung cek harga. Harga dibawah 100 NTD! Jingkrak-jingkrak lah saya akhirnya ketemu juga. Langsung deh lapor mas husband. Lho kok lapor mas husband? Ya biar dibelikan dooooongggs hehe.

Lanjut deh, sampai rumah saya coba. Maaf lho ya curhatnya kepanjangan hikikik. Masih mau  baca kelanjutannya kan...?




Seperti yang saya notice sebelumnya, saya menemukan shade mirip Berry Crush yakni Wild Cherry. Klo di Indonesia warna Cherry (namanya Cherry Kiss), jika di shade di bibir terlihat warna diantara Berry Crush dan Pink Lolita. Tapi di Taiwan, warna kemasan Wild Cherry mirip Berry Crush. Lalu apakah warna shade Wild Cherry dibibir sama dengan warna shade Berry Crush?

Rupanya tidak sama pemirsahhh.. Warnanya masih lebih merah, tebal dan berani Berry Crush ketimbang Wild Cherry. Tapi tak apalah, yang penting warnanya tidak beda jauh sama warna asli bibir.

Yang unik dari Maybelline Baby Lips Color yang saya beli di Carrefour Taiwan ini, adalah rasa semriwing mint dibibir. Hmm awalnya bikin kaget tapi lama-lama jadi ketagihan. Sayangnya produk ini kurang bisa bertahan lama warnanya dibibir dan tidak sepenuhnya mengurangi keringnya kulit bibir. Yang saya rasakan kebalikan dari Maybelline Baby Lips Color yang saya beli di Indonesia.



Memang ada perbedaan antara produk Maybelline ini di negara Taiwan dan Indonesia. Produk Maybelline Baby Lips Color Taiwan ini punya SPF 13, beratnya 1,9 gram, dikemasan ditulis dapat melembabkan selama 12 jam dan bentuknya panjang nan ramping. Kalau produk Maybelline Baby Lips Color Indonesia bisa baca disini.



Yes! Akhirnya saya punya juga produk bibir yang praktis ini. Ngga lama lagi deh kalau dandan. Bismillah ya semoga nanti kalau produk ini habis, masih bisa dibeli di Carrefour Taiwan.

See you soon in my new article ;)

 

Ikut Suami Lanjut Sekolah di Taiwan? Siapa Takut!

Akhirnya saya keluar juga dari zona nyaman  saya. Tinggal jauh dari rumah orang tua yang super duper nyaman, tinggal di negara yang belum pernah saya ketahui (bahkan mimpi pun tidak ingin saya ketahui), tinggal hanya bersama dengan suami dan anak, harus bisa survive dan jadi orang tua tunggal bagi bayi saya yang sedang aktif-aktifnya alias tidak bisa diam.

Pada saat suami bilang, "Bu, aku pingin dan harus lanjut sekolah lagi. Aku pinginnya balik ke Taiwan". Disitulah saya langsung merasa : omaigatt. Segala bentuk ke-inability-an saya langsung menyerebak mempengaruhi otak dan bikin hati menciut. Bisa ngga saya hidup hanya bertiga di negeri orang???

Disisi lain, hati saya berontak. Perlakuan orang tua lah yang membuat hati berontak. Selama 26 tahun hidup manja dan segala apa-apanya tidak pernah tidak ada, hmm membuat saya ingin kembali menjadi pribadi yang sedikit tangguh seperti saat saya menjadi anggota menwa. Saya perlu kemandirian membangun keluarga kecil ini. Dan saya perlu membangun pribadi si kecil menjadi pribadi yang kuat dan tidak manja.

Saya bulatkan tekad dan saya katakan, SAYA BISA !




 
~oOo~



Setelah Singapura, negeri orang yang kali pertama saya kunjungi, ada Taiwan yang nantinya selama 4-5 tahun akan saya tinggali. Dengan percaya diri saya katakan, saya mudah beradaptasi. Selama satu bulan ini saya bisa mengatasi beberapa kesulitan, melewati susah senang, tentunya karena ada mas husband dan Kia. Saya sangat bersyukur memiliki semuanya dan saya sangat bersyukur karena di Taiwan saya cepat beradaptasi.

Apa yang paling susah di Taiwan? Bagi saya, ada tiga hal yang susah di Taiwan : makanan, tempat sholat dan bahasa.

Makanan.
Huft, bagaimana tidak susah. Di Taiwan, jenis rempah tidak selengkap di Indonesia. Tidak ada bawang merah, susah (dan mahal) cabai kecil, tidak ada kunci laos kunyit, oh... Ditambah lagi disini daging babi adalah makanan yang ladzim disajikan. Di setiap resto selalu tersedia menu Pork, bahkan di jajanan jalanan (food street) sekalipun sangat sedikit yang menyajikan hanya daging ayam atau ikan saja. Itupun juga jarang sekali ada logo halal nya.

Bagaimana cara mengatasinya? CARI makanan yang berlogo halal. Susah? Banget. Jika temans baru saja datang ke Taiwan, cari toko Indonesia. Syukur-syukur dari situ punya kenalan teman syar'i yang lama tinggal di Taiwan, sehingga temans bisa ngulik dimana saja tempat makan yang halal dimakan. Cara yang kedua PERGI ke masjid, karena didekat masjid pasti ada resto Indonesia yang menyediakan masakan Indonesia dan in sya allah halal. Ini gampang sekali, karena di Taipei hanya ada dua masjid disini. Masjid besar (Taipei Grand Mosque) dan masjid kecil (Taipei Cultural Mosque). Googling saja, pasti langsung diarahkan oleh Google Map. Yang ketiga MASAK sendiri. Yang terakhir PILIH opsi makan, ABUBA (asal bukan babi) atau hidup syar'i.

Mas husband memberikan opsi pada saya mau ABUBA atau syar'i. Demi bertahan hidup kami memilih untuk hidup ABUBA, bukan asal ABUBA layaknya orang gaul Indonesia yang datang ke Taiwan ya, tapi kami ABUBA yang selektif. Kami hanya makan daging (sapi dan kambing), ayam, ikan serta vegetarian, walau yang masak bukan orang islam (semoga diampuni oleh Allah).

Sejauh ini, sehari-harinya kami makan dari kantin NTUST tempat mas husband lanjut S3 nya. Beruntungnya kami di kantin tersebut terdapat POJOK HALAL yang berisi olahan ayam halal. Walau harganya lebih mahal ketimbang harga makanan selain POJOK HALAL, tapi terjamin halalnya (mulai dari mengolah ayam; memasak dan menyajikan ayam tersebut dengan cara dan peralatan yang khusus). Kemudian juga ada sebuah toko dalam kantin yang khusus menyediakan makanan yang semua menunya dari tumbuh-tumbuhan, kami menyebutnya Toko Vege. Pojok halal dan Toko Vege adalah dua toko andalan kami kesehariannya. Selain itu, setiap weekend, saya juga memasak di apartemen. Pasar dekat, tinggal belanja lalu dimasak. Di pasar ini kami kebanyakan hanya belanja sayur, buah dan bumbu-bumbu. Kalau belanja daging dan ayam, kami belanja di Taipei Grand Mosque tiap hari Jum'at. Karena setiap hari Jum'at, ada ruangan khusus tempat jual-beli daging dan ayam yang masih mentah maupun yang sudah diolah menjadi masakan siap makan. Kalau sedang jalan-jalan, saya selalu sangu makan dari apartemen dan biskuit untuk si kecil, sementara saya dan mas husband selalu makan di tempat yang sudah saya sebutkan di atas.


Tempat Sholat.
Huft (lagi). Ini juga hal yang paling susah dicari. Tidak semua tempat ada tempat sholatnya. Ini bukan negara islam, jadi ya wajarlah. Jika sedang bepergian, seringnya kami transit dulu ke kampus NTUST untuk sholat. Jika waktunya benar-benar mepet, kami menQada' sholat. Semoga Allah mengampuni.


Bahasa.
Ini juga menjadi kendala buat kami, terutama saya. Mas husband yang notabennya pernah belajar disini waktu S2, sudah bisa berbahasa Mandarin walau seidkit-sedikit. Lah saya, BLASS. Taunya cuma wo pu ce tao (saya tidak tahu), xie xie (terima kasih), hao (baik/iya--bahasa formal), ni hao (apa kabar) dan beberapa angka serta nilai uang (kena uang aja cepet belajarnya hahahaha). Solusinya adalah belajarrr. Yaaa, saya yakin saya bisa bahasa Mandarin. Dan nanti kalau pulang ke Indonesia, Kia ngomong wo pu ce tao ke Eyang dan Mbahnya #Lho.


Di Taiwan tidak banyak susahnya, yaa mungkin selain tiga hal diatas juga ada Lantai 6 tanpa lift, yap itu apartemen kami huahuahua. Di Taiwan banyak senangnya. Diantaranya adalah fasilitas umumnya. Ya Allah... Seumur-umur tinggal di Indonesia, saya tak pernah puas sama fasilitas umumnya, karena ada aja manusia-manusia gaul Indonesia yang merusak atau tidak peduli dan tidak menjaga fasilitas tersebut. Tapi disini, di Taipei Taiwan, temans akan melihat betapa berbedanya perilaku manusia-manusianya. LEBIH BERADAB, LEBIH PUNYA TOLERANSI, LEBIH CAKAP TANGKAS DAN TAK BANYAK BIROKRASI.

Saat di MRT maupun bus, saya yang membawa Kia selalu diprioritaskan oleh orang-orang, diberi tempat duduk, diberi pegangan, diberi ruang. Di Indonesia? Boro-borooo. Dilirik aja kagak.

Banyak pula cerita dari kawan-kawan di Taiwan yang sering ketinggalan barang di Taxi atau di U-bike atau di MRT. Keesokan harinya barang-barang tersebut sudah ada dikantor atau di apartemen atau dikelas kampus. Dan bahkan ada yang pula bercerita ketinggalan barang disebuah taman, keesokan harinya dilihat barang tersebut tidak berubah posisi ditempat yang sama. Di Indonesia? Belum ada semenit barang itu sudah tak ada ditempatnya.

Mas husband pun pernah bercerita, saat akan daftar ulang di NTUST, ada satu dokumen yang tidak ada salinan copy nya. Kalau di Indonesia : mas, fotokopi dulu, itu disebelah sana ada fotokopi. Di NTUST Taiwan : belum difotokopi ya? saya fotokopikan dulu kalau begitu. Maka nikmat mana yang akan kamu dustakan? Ngga perlu jauh-jauh nyari fotokopian.

Kalau semisal ada kejadian yang nantinya akan menghentikan aktivitas, akan ada surat atau edaran yang berisi pemberitahuan bahwa tanggal sekian jam sekian akan ada ini ini ini itu. Jadi kita punya waktu buat prepare. Seperti yang terjadi hari Sabtu tanggal 6 kemarin, ada pemadaman listrik dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Sekitar dua minggu sebelumnya sudah ada pengumuman tentang pemadaman listrik yang tertempel di pintu apartemen. Kemudian juga yang sering saya alami dalam sebulan ini, ada pemberitahuan via notifikasi handphone (saat itu S7 Edge saya sedang pakai kartu Indonesia dan pakai paketan rooming internasional) tiga hari sampai seminggu sebelum badai dan thypoon terjadi di Taiwan. Jadi kami bisa membatalkan dan atau menunda acara outdoor sampai badai dan thypoon selesai. Di Taiwan semua ada kepastian dan semua ditepati. Di Indonesia? PHP mulu isinya, apalagi birokrasinya, kepanjangan men.

Mau cerita public service di Taiwan ngga ada selesainya. Semua bagus, semua perfect dan semua good. Buat Indonesia, ini WAJIB dicontoh.


~oOo~


Jadi dari satu bulan adaptasi inilah saya makin yakin bahwa saya bisa melalui 4-5 tahun hidup di Taiwan. Selama ada mas husband dan Kia, saya mampu menjalaninya. Selama selalu berkabar dengan keluarga di Indonesia, saya makin bersemangat menjalani hari-hari di Taiwan.

Ada satu lagi cerita mengenai teman yang mungkin dia kepo sehingga melontarkan pertanyaan yang menurut saya "itu pertanyaan usil banget siiihhh". Begini dialognya...
Dia : Kerja di Taipei ta Lisa suamimu?
Saya : Lanjut studinya
Dia : Kamu g sekalian lanjut juga kah? Hhiiihii
Saya : Bisa diatur tuhh. Klo anak bisa ditinggal hehe

Kalau teman yang deket banget nanya begituan sih ngga masalah, lha ini, emang dulu kita temenan sih, tapi untuk komunikasi aja juarang. Tiba-tiba muncul dia nanya begituan, ya siapa ngga kayak kesentil gitu ya.hahaha. Apalagi kan dia dan saya sama-sama sudah menjadi Ibu, sudah merasakan mengurus anak dari bayi sampai sekarang sendiri. Bisalah toleransi dikit tidak bertanya begitu, kan saya jadi gemasss. Kan saya juga kepengen lanjut sekolah lagi. Nahh gimana coba menurut temans, punya keinginan lanjut sekolah, namun juga punya bayi dan cuma hidup bertiga di negeri orang?

Yaa minta doanya semua, semoga nanti ketika Kia sudah lebih besar sehingga tidak terlalu ketergantungan sama saya dan saya memperoleh beasiswa, semoga saya mampu untuk lanjut studinya. Aamiin ya rabb..

Heading To Singapura (part 2)



Sembari menunggu MRT sampai di tujuan, beberapa mata penumpang terlihat sedang asyik dengan gadget dan telinga mereka sibuk dengan headset masing-masing. Ada juga yang sedang asyik berenang dalam mimpi, alias tidur. Tidak ada pemandangan dimana satu penumpang berbicara dengan penumpang lainnya. Kebanyakan dari mereka mungkin orang kantoran atau kuliahan yang sedang menghibur diri dari peliknya aktivitas hari Senin seharian ini. Bahkan yang sudah lanjut usia pun asyik konsentrasi dengan smartphone mereka. Hmmm.. Smartphone mengalihkan sosialisasi.

Cavenagh Bridge. Terletak diantara MRT dan Merlion Park.


Walau hanya berupa patung yang tidak pernah berhenti mengeluarkan air dari mulutnya, dan dengan berlatarkan gedung-gedung kokoh nan megah, Patung Merlion ini tidak pernah sepi pengunjung. Dan ini Senin sore, makin sore makin ramai pengunjungnya. Hmmm aneh juga sih kalau dilihat dari kacamata orang Surabaya macam saya ni.

Berfoto-foto dengan berbagai macam pose, menolong turis lain berfoto, piknik ngemper di tepi sambil ndulang biskuit untuk Kia, menikmati sunset yang tidak sepenuhnya bisa dinikmati karena gedung-gedung tinggi menghalangi, mainan hape, posting story biar kawan-kawan ngiler dan semakin banyak pahala karena banyak yang ngerasani (hehehe apasihhh)--niatnya kan memberitahukan keberadaan kami--bukan pamer--jadi ya kami dapat pahala (okestopdebatnya). Adalah beberapa kegiatan kami menghabiskan waktu di Merlion Park.

Bersantai


Jarum pendek jam tangan masih menunjuk pada angka 6, sudah sunset namun disini seperti masih jam 4-5 an. Masih terang benderang. Kami melipir meninggalkan spot patung karena wisatawan semakin banyak berdatangan dan angin malamnya semakin kencang. Kami pergi mencari tempat minum. Maunya ke Starbucks yang lokasinya tak jauh dari Merlion Park, sayangnya Starbucks Card kami tidak bisa digunakan karena beda negara (padahal saldo cardnya masih lumayan, klo di Indonesia bisa dibelanjakan 2 gelas coffee dan 1 food tuuh). Mau keluar uang ya sayang juga. Harga pergelas coffee nya sekitar 10-50 SGD euy, tinggal dikali aja ke kurs rupiah.

Alhasil kami nongkrong di bawah jembatan yang instagramable walau jembatannya tidak colorful, tepat disebelah ada Starbucks Cafe dan SevEl. Jelasss kami pilih SevEl 😂.

Kaki Jembatan.


Tak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 8 malam. Kami menyegerakan balik ke bandara karena angin malam kian kencang, tidak baik untuk Kia.

Saat akan balik, mata ditarik paksa melihat ke suatu tempat : Souvenir Store. Ohh akhirnya, bisa beli kenang-kenangan dari Singapura. Souvenir Store ini letaknya tepat dibawah Starbucks Cafe yang tadi saya singgung. Mas husband ingin ke toilet sementara saya dan Kia pergi ke toko sovenir. Mata sungguh dimanjakan dengan benda-benda yang berkilauan, benda kuno, benda unik, ahhh.. Pengen tak beli semua. Tapi dilihat juga harganya lis... Harga yang tertera disetiap benda paling murah 18 dolar singapura dan yang paling mahal....Jangan ditanya deh, bikin sakit hati harganya. Saya memilih satu benda tentunya yang paling murah untuk dibawa sebagai kenang-kenangan dari negeri ini. Ditunjukkan ke Kia, rupanya Kia suka. Yasudah langsung cus ke kasir. Eehhh lagi-lagi Kia ada yang suka, kakak kasir nya menggoda Kia. Teteup, Kia yang superduper cuek kayak emaknya, cuma diam aja walau disapa dan digoda.

Kami balik ke Changi. Long march melewati indahnya pemandangan malam dari Singapore River Cruise menuju MRT. Dari MRT langsung cus Terminal 2 Changi Airport.

Singapore River Cruise. Wisata kapal malam hari.

Apakah selesai perjalanan hari ini? Tidak. Mas husband masih ingin menunjukkan eloknya bangunan di Terminal 1 dan Terminal 3, serta mencoba skytrain Changi Airport. Hiyakk, muka kumus-kumus diajak jalan ke Terminal 3 yang katanya terminal paling luas dan bagus karena disini tempat orang-orang dari dan menuju Eropa. Dibuat sedemikian bagus untuk orang yang sudah melakukan perjalanan jauh.

Terminal 1 Changi Airport.

Terminal 3 Changi Airport.

Dari Terminal 2 menuju ke Terminal 1 lalu ke Terminal 3 lalu balik ke Terminal 2 lagi. Rada kurang kerjaan sih ya.. Ya ndak papa deh, biar nambah pengalaman. Kalau ada yang tanya, "Lisa, sudah pernah ke Changi Airport Terminal 1?". Bisa dijawab dengan sombong, "Sudah dongs, Terminal 1 Terminal 2 dan Terminal 3 juga sudah pernah saya kunjungi". Hahaha. Biar dicap jadi Crazy Rich Surabayan.

Turun skytrain Terminal 2, mas husband menunjukkan ada restoran Halal yang masakannya enak nan murah. Benarkaaahhh? Alhamdulillah benaaar. Namanya Resto 1983. Kami memesan dua menu : Curry Chicken with Rice dan Chicken Cutlet Rice with Thai Sauce. Dari dua menu tersebut ditambah satu gelas jeruk hangat dan satu gelas es milo, kami hanya membayar tidak sampai 20 dolar Singapura. Beda jauh harganya waktu makan di foodcourt awal kedatangan kami siang tadi. Fiuh.

Resto 1983.
Berlogo Halal.
Pesanan mas husband. Curry Chicken with Rice dan Jeruk Hangat.
Pesanan saya. Chicken Cutlet Rice with Thai Sauce dan Es milo.

Usai makan, kami mengambil barang ditempat penitipan kemudian segera menuju toilet dan mushola karena waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Duh ya, ini waktu tidur Kia, sementara Kia tidak bisa tidur dan tidak bisa lepas dari saya. Sekalinya dilepasin agar saya bisa ganti baju dan sholat, tangisannya masya allah... Dari ujung prayer room sampai ujung toilet wanita masih kedengeran tangisannya. Setelah saya rampung, baru Kia bisa mikcu dan langsung terlelap.

Terakhir cek tiket jam 1 malam, tapi belum jam 1 sudah di warning agar segera melakukan cek tiket. Wow, terkesan buru-buru ya, mau ngga mau kami setengah berlarian menuju ke pintu pemeriksaan. Rupanya karena pesawat yang akan kami naiki adalah pesawat Scoot yang jumbo dan memuat banyak penumpang, agar tidak mengulur waktu, waktu terakhir cek tiket dimajukan. Iyaps, wajar...

Masuk pesawat dan kami kebagian di kursi yang paling belakang. Perjalanan jauh lagi hahaha, panjang sih pesawatnya. Kami duduk dan..... Sampai jumpa lagi Singapura !

Heading To Singapura (part 1)

Bagi sebagian orang (terutama yang suka bepergian dan berbisnis), pergi ke Singapura adalah sebuah hal yang biasa. Tapi bagi saya yang cinta banget sama Indonesia ini, mimpi saja tak ingin sampai ke Singapura apalagi jadi kenyataan. Tapi.. Ya namanya juga kehidupan, perlu proses untuk bertahan hidup, butuh belajar di negeri orang.

Wait wait wait, kok pembukaannya jadi super melankolis beginihh.. Kan ceritanya cuma transit di Singapura..hahaha.



At least, walau saya cinta sekali sama Indonesia, saya juga perlu main jauh ke luar negeri. Mungkin tak hanya saya, dia perlu, kalian perlu, temans juga perlu. Untuk sekedar menambah pengalaman dan membuka wawasan kita tentang dunia.

Di Singapura, 3 September 2018, kami bertiga (saya, mas husband dan Kia) hanya singgah sebentar, sekitar 12 jam. Tujuan utama kami adalah ke negaranya F4 (yang sangat terkenal dijamannya--jaman saya), yakni Taiwan. Dan di Taiwan, kami akan menetap selama kurang lebih 4-5 tahun. Kok lama? Ya.. Namanya juga mengenyam pendidikan, ndak bisa sebentar.

Jadi ingin curhat sebentar tentang 12 jam waktu yang kami punya untuk eksplor Singapura. Sebenarnya ada banyak tempat wisata yang ingin kami mas husband kunjungi (saya dan Kia ngikut saja), seperti Garden By The Bay; Universal Studio dan beberapa tempat untuk membeli kenang-kenangan. Sayangnya 12 jam tidak cukup bagi kami untuk menjelajahi semua. Belum nanti perjalanan naik turun MRT, lalu perjalanan ke tempat wisatanya, hmmm. Berjalan kaki yang melelahkan, maklum di Surabaya kalau mau ke tempat wisata ngga pernah naik kereta atau jalan kaki. Kemudian ada bayi yang juga dapat berpotensi kelelahan jika menuruti ego jalan-jalan orang tuanya hahaha. Ya gini ini kalau suami dan istri hobinya jalan-jalan, secara tidak langsung anaknya juga punya minat suka jalan-jalan. Anaknya masih bayi sih, jadinya masih rentan kesehatannya. Coba ya nanti dilihat kalau Kia uda besar.....hmm.

Keluar pesawat, kami menuju money changer, lalu ke tempat penitipan barang lalu ke mushola. Barang bawaan yg kami bawa (via kabin) walau hanya berupa ransel, tapi ya lumayan membebani kalau mau dibawa keliling Singapura. Ditambah lagi ada Kia.. Oh Kia.. Yang semangatnya lebih berat ketimbang berat badannya.

Lapar melanda, membuat kami segera mencari foodcourt. Ada beberapa foodcourt disini, sempat buat kami nyasar juga. Walau mas husband bilang "aku ingat kok" tapi mungkin faktor U nya mas husband lagi kumat dan besarnya Changi Airport ini, buat kami salah naik eskalator dan akhirnya mengulangi jalan dari awal lewat lift hikikikik. Setelah melewati lika-liku bandara, akhirnya kami menemukan foodcourt yang dimaksud. Alhamdulillah nikmatnya menyantap nasi lemak disalah satu toko makanan (asli Malaysia).

Kia sudah makan, ortunya juga sudah kenyang makan sama camilan sama ngopi. Selanjutnya apa? Yuk kita eksplor Singapura.

Sekitar sore hari kami baru keluar dari bandara menuju Merlion Park, tempat wisata ikonik nomor wahid di Singapura. Sebelum keluar, kami mengisi tiga formulir yang kalau ngga salah berfungsi sebagai laporan bahwa tidak menetap/hanya transit di Singapura. Sempat juga kesulitan dalam hal mengisi, untung saja ada petugas seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan, beliau membantu kami hingga selesai. Kemudian kami berikan form tersebut ke petugas pintu keluar. Petugas tersebut meminta kami (saya dan mas husband) untuk meletakkan jari diatas alat sidik jari. Kecuali bayi kami, Kia tidak melewati pemeriksaan apa-apa. Usai semua pemeriksaan, kami langsung keluar bandara menuju MRT.

Unik sekali, masih disekitar bandara, terdapat beberapa transportasi yang langsung bisa dipilih untuk memudahkan pengguna ketempat tujuan berikutnya. Ada MRT, ada bus dalam kota, ada bus antar kota,, semuanya masih di kawasan Changi Airport. Ada banyak cara menuju Merlion Park, bisa MRT bisa naik Bus. Tapi, yang paling mudah (dan yang diingat mas husband) adalah naik MRT. Yes yes, ini kali pertama saya dan Kia naik MRT.

Hal yang kami lakukan adalah membeli tiket yang berbentuk seperti sebuah kartu, digunakan untuk bepergian. Jamannya sudah cash less. Ada sebuah mesin yang dapat digunakan secara mandiri untuk menukar uang dengan kartu. Lagi-lagi, kami kurang mengerti bagaimana cara menggunakannya. Dan lagi-lagi selalu ada yang membantu, alhamdulillah.. Seorang wanita berusia 30-40an dengan muka blasteran India Eropa menanyakan tujuan kita dengan bahasa Indonesia, "mau kemana?". Ke Merlion. Oh Merlion. "pulang pergi?". Ya. Dengan cekatan beliau menekan tombol-tombol dan memberikan isyarat agar mas husband memasukkan uang. Karena uangnya masih bundar kertas (belum ada recehan koinya), dengan cekatan pula beliau mengambil uang dari dalam dompetnya yang nilainya setara dengan uang mas husband. Kemudian memasukkan uang sejumlah yang tertera dari layar mesin dan mengembalikan uang kembalian ke mas husband. Sembari menunggu proses mesin mengeluarkan tiket, beliau menggoda Kia. Alhamdulillah ya, boneka kecil kami ada yang menggoda..haha.

Tiket sudah ditangan dan kami diarahkan untuk masuk menggunakan tiket tersebut. Dan hanya menunggu tak sampai lima menit, MRT kami datang menjemput. Dalam MRT, Kia saya berikan camilan karena kasihan pasti perutnya kosong (anak doyan makan ya, kalau ngga dikasih camilan ya eman-eman). Lalu kami ditegur oleh seorang penumpang, beliau mengisyaratkan tidak boleh makan dalam MRT, kalau ketahuan petugas bisa didenda sejumlah uang (yang pastinya kami tidak mampu bayar saat itu juga euy). Sontak saya langsung memasukkan camilan Kia ke tas ransel lalu berterima kasih pada penumpang tersebut. Fiuh.

Waktu menunjukkan pukul 4, namun matahari masih bersinar terang seperti masih jam 2 siang. Can you imagine that?



bersambung...