Cerita Tentang Taipei-Jakarta Mengenai Urusan Gigi !



Sebagai sesama ibukota nih, ada banyak kesamaan dari kota Jakarta dan Taipei dibidang apa saja. Ya teknologinya, ya percepatan pertumbuhan ekonominya, ya persaingan dalam mencari lapangan pekerjaan, biaya hidup yang menjulang dan lain sebagainya. Hampir sama lah semuanya. Tapi menurut saya ada satu hal nih yang beda, yakni masalah kesehatan. 

Nah ini yang bikin saya ingin cerita tentang bedanya urusan tentang kesehatan gigi di tempat tinggal saya (Taipei) dan saat kami plesir ke Jakarta. 

Di sekitar tempat tinggal saya, distrik Shilin kota Taipei-Taiwan, klinik gigi tersebar hampir di tiap blok. Dan yaa sudah pasti, tiap klinik pasti punya suatu keunggulan dari klinik yang lain, klinik gigi bersaing--saya menyebutnya. Klinik tersebut ada yang dimiliki perseorangan, ada pula yang terkumpul dalam satu jaringan perusahaan bukan milik pemerintah. Uniknya hampir semua klinik baik yang dimiliki perseorangan maupun yang tergabung dalam jaringan perusahaan swasta memperbolehkan dalam transaksi pembayarannya menggunakan kartu NHI (semacam kartu BPJS kalau di Indonesia). Proses pembayaran menggunakan NHI ini pun tidak ribet dan tidak mbulet. Semua hal kalau bisa dipermudah ngapain dijadikan susah, mungkin itu motto kerja orang-orang Taiwan. 




Semua mudah. Sayangnya di Taipei tidak ada aplikasi yang mencantumkan tentang kesehatan gigi. Kata rekan sesama mahasiswa (yang minat belajarnya dibidang kesehatan), di Taipei memang ada aplikasi dan website yang mengulas tentang kesehatan dan melayani sejumlah permasalahan kesehatan tapi hanya mencakup kesehatan kulit saja. Diawal kedatangan di Taiwan, hal ini cukup memberatkan saya karena sulitnya mendapat informasi mengenai kesehatan gigi, kalau semisal gigi dan mulut ada masalah yaa mau nggak mau kudu datang langsung ke kliniknya dan tanya pada dokternya. Iya kalo dokternya bisa English, lha kalo engga (kek saya)?

(Psssttt, ngga semua orang pintar di Taiwan bisa berbahasa Inggris, itu karena mereka yang sangat mencintai bahasanya lho). 

Di Jakarta-Indonesia, siapa sih yang tidak mengenal Halodoc? Sebuah plaform yang mencakup segala hal tentang berbagai bidang kesehatan. Melalui Halodoc ini, kita bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis, melakukan tes laboratorium hingga membeli obat, cukup dari layar laptop atau smartphone kita, kapan saja dan dimana saja. Big applause

Halodoc dari layar laptop

Jadi ingat nih waktu saya silaturrahmi ke rumah bude di Jakarta, salah satu sepupu tertua saya mendadak ada masalah sama giginya. Ngga pake lama, sepupu yang lain menawarkan untuk pergi ke rumah sakit gigi. Tapi masalahnya, mana ada rumah sakit atau klinik gigi yang buka di H+3 Hari Raya Idul Fitri? Pikir kami waktu itu cetek sekali, kebanyakan sepupu saya bekerja dibidang bisnis dan property, hanya sedikit yang mengerti kesehatan dan teknologi. 

Lha kok untungnya, teman dari sepupu menyarankan untuk konsultasi melalui website Halodoc via online. Bisa melalui chat atau telepon. Walau sepupu saya yang sakit giginya rada alot dibilangi (karena dia masih ngga percaya konsultasi ke dokter kok lewat hape), untungnya temannya sabar kasih step by step nya. Setelah konsultasi pun sepupu saya tetap kekeuh mau datang ke Happy Dental Clinic Ciputra Mall , yaa udah sama temennya ini dianterin kesana sekalian nge-mall katanya. Kurang baik apa coba temannya, ehh kurang bagus apa coba platform Halodoc ini.

Saya kira kalian semua sudah tau pasti tentang Halodoc ini, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya platform bikinan negeri sendiri ini.

Ahh.. Seandainya di Taipei ada Halodoc...

Liburan ke Miaoli. What a Remarkable Weekend!


Kami liburan ke Miaoli tak hanya bertiga (seperti biasanya), melainkan bersama rombongan!



Adalah IB Team, yang disponsori oleh Big Boss IB Team--kami sangat sangat berterima kasih karenanya--kami bisa melepas penat dan refreshing mengunjungi tempat baru di Taiwan selama dua hari semalam. Sudah direncanakan dari bulan lalu dan terlaksana weekend kemarin. Kami sekitar 50 orang berangkat dengan bus besar dari Taipei menuju Miaoli. Kemana aja sih kami selama di Miaoli? Keep scrolling ^^.


1. Shang Shun World 尚順育樂世界 - Miaoli

Day 1.
Sesampainya di Miaoli, kami belum boleh langsung check in hotel. Mungkin karena check in hotel di Taiwan mulai pukul 14.00--mungkin semua hotel di Taiwan begitu. Jadi, kami hanya meletakkan barang-barang di sebuah ruangan dekat dengan lobby hotel Grand Royal Hotel 尚順君樂飯店 , tempat kami menginap.

Bos memberi kami dua tiket untuk bermain di Shang Shun World, tapi tidak sempat kami gunakan karena tak tahan dengan laparnya perut, apalagi perut Kia jadi tak embul-embul karena kosong dan sudah waktunya diisi dengan makan siang, maka kami langsung melipir cari makanan (yang bisa dimakan ha ha, remember ini bukan Indonesia).



Perut kenyang dan setelahnya seolah jiwa travelling kami terpanggil untuk explore isi dari Shang Shun World ini. Rupanya disini tak jauh beda dengan Taipei, disini kami menemukan ada banyak restoran dan brand-brand dunia oke punya. Bedanya hanya terletak di HARGA! Kalau diumpamakan, harga di Taipei sama seperti harga di Jakarta dan juga Miaoli dengan Sidoarjo.

Well yeah, karena harga produknya miring, uang kami terkuras disini ha ha. Dari makan, kursi pijat otomatis, jajan Starbucks, jeans Levis, store baju Net, sepatu Palladium dan kawan-kawannya. Bikin kami kalap belanja sekaligus cuci mata (ngga kebalik, Lis?). Untung Kia bobo imut di strollernya, jadi kami berdua sekalian pacaran dong xixixi.

Oke stop ya belanjanya, bisa masuk rumah sakit nih dompet kalau diteruskan. Kami kembali ke lobby untuk menunggu rombongan yang lain. Tak lama bos datang kasih kartu kamar dan kami bisa lanjut check in hotel.


2. Grand Royal Hotel 尚順君樂飯店 - Miaoli

Hotel bintang 4 yang oke bangettt. Waktu pertama kali masuk kamar 807, pikiran saya 'wah ngga salah kamar nih kami?'. Pasalnya ada dua bed size King nangkring ditengah ruangan, sementara kami kalau kemana-mana terbiasa tidur keruntelan di satu kasur. Oke baiquelah, ditunggu saja mungkin ada yang mau tukar kamar.










Sekitar pukul 6 sore kami turun untuk makan malam. Bebarengan dengan cool and strong cece cece, kami menghabiskan makan malam. Tak ingatlah ya makan apa saja malam itu, yang jelas semuanya masuk, ya seafood, ya daging, ya ayam, ya salad, ya apalagi lupa deh maafff.



After dinner, baliklah kami explore sekeliling, cari angin segar sebelum balik kamar. Dan yash, rasa bosan datang terlalu cepat, akhirnya kami balik ke kamar untuk...........mberantakin kamar haha. Dirasa ngga ada yang mau tukar kamar khan yaa, yawes bebas deh kami ngacak-ngacak kamar #ehh. Tenang mister dan miss cleaning room service, nanti kami balikin ke semula koooqq.

Day 2.
Keesokan harinya, sekitar pukul 8, kami sarapan pagi di buffet yang sama namun dengan menu yang berbeda. Hmmm nyummyyy. Setelahnya, kami siap-siap check out, dan pergi ke destinasi selanjutnya.






3. Zhongshe Flower Market 中社觀光花市花海 - Taichung

Antara pas dan tidak, pergi kesini saat summer begini. Bagai ingin menikmati keindahan tata letak bunga tapi harus bertempur dengan sumuknya hawa serta garangnya sinar matahari. Gosong gosong dah kulit. But it's okay, ntar khan balik lagi warna kulitnya. Kapan Lis? Meibe yes meibe no.

Cuaca di Taiwan ini unpredictable memang, sebelum berangkat ke Miaoli, saya cek cuaca, bakal turun hujan saat kedatangan ke Miaoli. Namun ternyata, mataharinya bersinar terang selama dua hari ini. Tapi disitulah tantangan orang travelling khan? Kalau sudah terprediksi nantinya ya mana asik.





Perkenalkan, Bos IB Team.


Honey market.

Saya yang basic nya sering terjun ke laut ini, saat berhadapan dengan berbagai tanaman cantik di Zhongshe Flower Market ini langsung speechless. Selain ngga ngerti namanya, juga yaa cuma bisa pepotoan doang. Cobak sang ibu tercinta ikut serta, pasti beliau senang luar biasa, no one can't stop her to do her passion about pharmacy and flowers. Celoteh sana sini tentang bunga dan pasti dikaitkan dengan saat beliau masih berkecimpung didunia farmasi.

Ini pemandangan favorit saya :




"Psssttt, kalau mau ambil gambar, biasakan ijin dulu ya. Tiga gambar tadi sudah diberi watermark, it means itu punya saya dan jika kalian ambil gambar tersebut tanpa ijin, bisa dikenakan sanksi. Mengerti ya. Apa perlu dijabarkan undang-undang hak miliknya?"

Koq cuma foto pemandangan aja si Lis? Mana foto bertiga-nya?

Ini ini iniii..






Entah mengapa, di foto bertiga ini, posisi saya selalu berada di sebelah kanan .-.

Abis panas-panasan, kami menikmati hidangan makan siang yang biasa disebut dengan Taiwanese Barbeque. Bakar-bakar rek!. Tempat ini begitu ramai dan padat, tampak beberapa keluarga menghabiskan weekend bersama disini. Senang ya melihatnya.



Lalu.. Makan apa aja kitaaa??? Kalau saya, sembari ndulang Kia, pinginnya makan daging bakar. Padahal saya tidak terlalu suka daging, tapi entah mengapa lihat daging yang dibakar hingga hangus gitu rasanya pingin ngabisin semuanya. But stop stop, leher udah seret nih.

Sambil nurunin makanan di perut, sambil jalan-jalan lihat berbagai tanaman hias yang khusus dijual murah, tempatnya tak jauh dari tempat makan tadi. Saya sebenernya kepingin beli, tapi mengingat tanaman kaktus (peninggalan Ci Santy) di rumah yang abis dikruwes Kia (maaf ya ci..), alhasil saya urungkan niat membeli tanaman cantik ini. Sebagai gantinya, saya mengabadikannya lewat foto.




4. Houlong Cape of Good Hope 後龍鎮半天寮休閒文化園區 好望角 - Miaoli

Abis tadi dengan suka rela berjemur lalu dibakar eh bakar-bakar, maka tujuan selanjutnya pun ngga jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Summer oh summer. Kemanapun kita pergi, seolah matahari ikut ngintil.

Ini tempat yang paling saya suka selama perjalanan ke Miaoli. Merasakan kumpulan angin menerpa dirimu hingga serasa kamu ikut terbawa olehnya. Kumpulan angin inilah yang menggerakkan kincir angin raksasa kemudian kincir angin raksasa ini akan menggerakkan turbo dibawah tanah dan kemudian diubah menjadi aliran listrik atau lainnya, entahlah.

Kincir angin raksasa?

Saking raksasanya, jarak antara parkir bus dengan tempat berdirinya kincir angin yang begitu jauh tak membuat kincir angin nampak mengecil.




Kebetulan Kia pas waktunya bobo siang saat sampai di Good Hope ini. Kia bobo di kursi bus dan kebetulan beberapa rekan kerja ada yang stay di bus, mereka bersedia menjaga Kia. *Trims buanget buat mbak Puji*. Jadi kami bisa pacaran sebentar hehe.



Kalau kita berhasil berjalan hingga ke paling ujung laut dan memungkinkan menaiki bukit kecil buatannya, maka kita akan melihat banyak sekali kincir angin raksasa yang berdiri dengan tegak disepanjang tepian pantai Houlong Cape ini. Dari yang letaknya di daratan (di bukit-bukit tepi pantai) hingga ada kincir angin yang letaknya hampir ketengah lautan. Keren banget!



Pemandangan yang jarang terlihat di Indonesia, sekalipun saya anak perikanan tapi sejauh saya melancong ke pesisir pantai Indonesia tak pernah melihat kincir angin sebesar dan sebanyak ini. Tapi, apalah saya dibuat perbandingan haha, cuma anak perikanan yang random.


Karena saya sudah merasa teramat gosong segosong-gosongnya, pada saat sampai di destinasi berikutnya bernama   , kami bertiga tidak ikut jelajah pantainya. Selain karena matahari serasa masih diatas kepala (padahal uda hampir jam 5 sore), juga karena harus melewati jembatan yang panjang tanpa iyupan diatas kepala. Aduh sudah menyerah deh kami, jadi kami hanya berkeliling disekitar bus parkir saja. Sekitar hampir satu jam menunggu, selanjutnya kami pindah tujuan berikutnya.


5. Chenghuang (City God) Temple Night Market 城隍廟夜市 - Hsinchu

Destinasi terakhir jalan-jalan kali ini ada di night market ini. Night market yang super duper ramai, padat, dan trust me this is not kids friendly. Untuk makanan, memang ada buanyak sekali pilihan (terutama street foodnya), tentu saja yg halal perbandingannya 1:9 ya, kalau yang ABUBA macam kami ini pilih yang aman saja : ikan; daging; telur dan ayam.



Awalnya opsi kami jatuh pada makanan junk food yang mendunia itu, tapi lha koq jaraknya hampir satu kilo dari tempat bus parkir. Sementara kami hanya punya waktu sekitar satu jam untuk berkeliling night market, agar tak kemalaman pulang ke Taipei. Alhasil kami random aja cari restoran yang menyediakan nasi dan pilih menu yang 'aman'. Dan setelah mendapatkan nasi plus lauk daging untuk Kia, kami kembali ke rombongan.

Not kids friendly, mungkin namanya juga night market ya, hanya banyak makanan atau jajanan jalanan, yang bisa dimakan sambil berdiri. Jadi kami dengan beberapa teman se-rombongan sambil makan sambil ngemper dipinggir toko. Ada yang kebagian tempat duduk ada pula yang makan sambil jongkok. Tapi tak apalah, namanya juga travelling, kalau isinya hanya duduk manis di restoran buffet yaa liburan aja sendiri Lis.

Yang kami nikmati bukan hanya tempat baru yang dikunjungi, melainkan suasana keakraban bersama rekan kerja. What a remarkable weekend! Ngga bisa dihapus tu memori makan bebarengan sehari di meja buffet, sehari kemudian dipinggir jalan haha. Ye khaaan?. Apalagi buat Kia, pasti ini pengalaman luar biasa buat dia melakukan perjalanan jauh bersama orang banyak.



Usai dari Hsinchu Night Market ini, kami langsung bertolak ke Taipei. Dan berakhirlah jalan-jalan kali ini. Saya yang baru pertama kali diajak jalan-jalan dari lubuk hati terdalam mengucap terima kasih buat bos sekaligus rekan-rekan IB Team. Selain pengalaman, keakraban dengan rekan-rekan IB Team makin terjalin. Next time jalan-jalan lagi yaaa ^^

Terima kasih juga buat temans pembaca yang setia mengikuti cerita dari awal hingga akhir. Mas husband sudah bikin videonya, silahkan lihat di channel youtube kami ^^




Sampai ketemu di artikel selanjutnya !

Sepatu Sandal Tropis Merk Lotto, Kembaran Untuk Yang Kesekian!




Lotto?

Sejatinya saya pun baru tau tentang merk sepatu ini. Ketika kami gabut pas lagi jalan-jalan malam di Shilin Night Market kemarin, kami tiba-tiba bebarengan tertarik pada satu toko sepatu yang terdapat baliho lumayan besar diatasnya dan tertulis : Bye bye Sale. Pikirnya mas husband, toko ini mau ditutup dan mendiskon besar-besaran beberapa barang sport disana. Alasan ditutupnya toko, lagi-lagi mas husband mengeluarkan pendapat (pribadinya), sepanjang jalan ini begitu banyak toko besar yang mengusung merk sepatu Nike, Adidas, Reebook, Puma dan lain sebagainya. Nah karena dampak corona, night market yang tak pernah sepi pengunjung disepanjang sejarah per-nighmarket-an Taipei ini pun ikut kena imbasnya : menjadi sepi pengunjung dalam beberapa waktu.

Apakah benar begitu pemirsa?

Satu-satunya jalan untuk mengetahuinya adalah masuk ke toko sepatu itu.

Baru saja masuk toko, mata saya langsung tertarik pada area sepatu yang terletak tak jauh dari pintu masuknya. Langsung auto keinget sama sandal gunung legendaris merk Eiger yang dipakai mas husband hingga saat ini (yang sebenarnya sudah terlihat tidak layak pakai). Saya rasa teman-teman Plat M ingat tentang sandal gunung legendaris ini. Haha.

Sudah lama sekali sandal gunung itu ingin saya singkirkan, tapi ada aja alasan mas husband yang tak ingin membuang sandal kesayangannya. Nahhh, mumpung kelihatan ada sepatu sandal bagus yang sekiranya bisa menggantikan sandal gunung legendaris itu, ngga pake basa-basi, saya pilih lalu tunjukin ke mas husband. Alhamdulillah, do'i juga suka (pake banget) dan setuju mau mengistirahatkan sandal gunungnya. Good!

Awalnya saya butuh beli sepatu couple merk Adidas, nyamain sama sepatu Kia. Tapi, malah jatuh cintanya sama merk Lotto. Bukan bukan, bukan jatuh cinta sama merk ya, tapi sama desain sepatunya, dan kebetulan merknya Lotto. Harganya pun juga tak sampai menguras kantong. Alhasil saya pun ikut membeli sepatu sandal dengan desain dan merk yang sama versi female.

Kayak begini penampakan sepatunya.

Mas husband punya







Daku punya







Saya suka karena ini mirip dengan sandal gunung, namun dibagian jemari kaki terdapat pelindung layaknya sepatu. Mas husband menyukai sepatu sandal ini karena ada banyak lubang ventilasi dibagian telapak, menandakan ini sepatu sangat pas digunakan jalan-jalan saat musim panas seperti sekarang karena adanya lubang untuk mengalirkan udara dari maupun ke kaki.

Kemudian kami berdebat tentang merk Lotto. Apakah ini merk asli Taiwan seperti yang tertulis di box sepatu atau bukan. Mas husband yang pecinta bola ini kekeuh berpendapat kalau Lotto adalah merk sepatu asli Italia yang dulunya pernah menjadi sponsor klub bola Juventus. Well, saya langsung browsing dan benar adanya kalau Lotto adalah merk Italia punya. Tapi kenapa ya harganya bisa sangat miring bahkan jauh lebih murah dibanding dengan merk-merk terkenal sepatu yang sudah saya sebutkan diatas. Beberapa detik kemudian mas husband berkata : ini ada tulisan Made In China.

Lha wooongg yaa. E ternyata buatan China makanya harganya bisa jauh gitu. Enggak laaah, ketus mas husband, lalu do'i menjelaskan tentang berbagai macam perangkat dan komponen laptop dan smartphone yang sebenarnya saya tak begitu mengerti (dan kini tak begitu mengingatnya untuk ditulis disini--please no hard feeling beb). Pokoknya ini merk Italia dan bagus, pungkasnya. Baiq lah bosque.

Iya emang sih bener bagus dan nyaman. Bahannya terasa kokoh saat saya buat jalan dan loncat. Wes bismillah, sepatu sandal ini menemani kaki kami menjelajah Taiwan selama musim panas ;).


Berniat samaan dengan kami?  >.o

Nikmatnya Buka Puasa di Ali Baba's Indian Kitchen (阿里巴巴的廚房)


Masakan India Pakistan ! Acha acha ~ 

Makanan halal yang merajai Taiwan adalah kebanyakan masakan yang berasal dari negeri asal Shak Rukh Khan ini. Dan yaa, as usual deh, Ibu berbuntut satu yang nyambi bekerja ini ketika malas masak, langsung setor ide tentang resto halal ke mas husband. Buka puasa tahun ini (makan diluarnya), diawali makan di restauran India Ali Baba's Indian Kitchen.



Namanya yang sudah famous ini sebenarnya sudah saya ketahui dari awal kedatangan ke Taiwan, but baru terealisasi sekarang. Hahaha.

Yuk tanpa langsung basa-basi mari kita lihat apa saja yang ada di resto ini.


TEMPAT

Saat kami berkunjung, restauran Ali Baba terletak di lantai dua jalan Nanjing East Rd Taipei guys. Tak perlu khawatir, selain ada anak tangga, disini juga disediakan elevator. Saat pertama kali masuk resto, kami disambut oleh salah satu pegawai berwajah ke Arab-an. Apakah sudah reservasi? | Ya sudah. Go, kami langsung diarahkan ke satu meja besar yang dapat menampung sebanyak 4 orang.


Apakah harus reservasi dulu sebelum datang? Nampaknya tidak diwajibkan pula. Tapi sebaiknya, karena ini bertepatan dengan bulan puasa, dan kemungkinan besar warga muslim di Taipei juga akan berbuka puasa disini, takut nantinya tidak kebagian tempat duduk, maka baiknya sebelum datang bisa reservasi tempat via telepon terlebih dulu.

Restauran Ali Baba yang terletak di lantai 2 ini berbentuk persegi panjang, namun tidak full satu lantai dipakai oleh restauran. Bagian tengahnya resto merupakan jalan masuk-keluar pengunjung yang berisi anak tangga dan elevator. Deretan meja makannya membentuk huruf U ruangan, sementara sisanya dipakai untuk dapur; kamar mandi dan kasir. Bagian tengah dalam lantai (yang menjadi bagian dari resto), terdapat sekat dengan tembok beton yang sengaja disediakan sebagai ruang sholat untuk pegawai dan pengunjung.

Kebayang ngga denah resto nya guys?hehe

Saya terbatas dalam hal memotret tempatnya, karena yaaa, feel takut mengganggu yang punya resto. Semoga foto-foto berikut bisa memuaskan mata ya.





MENU

Yang paling ditunggu!

Ini isi daftar menunya.




















Selain mendapat takjil yang lumayan sangat mengenyangkan, kami juga mendapat diskon 30% khusus karena berbuka puasa di resto ini. Intip yuk beberapa menu yang kami pesan :
1. Fish Curry   380NT
2. Mutton Biryani   350NT
3. Mango Juice   120NT
4. Hot Milk Tea   80NT
5. Garlic Naan   80NT

Sudah yuk, abis makan ini langsung pulang  o(>.<)o. Yoghurtnya itu lo masya allah, enak dan bikin jadi kenyang.

Kayak apa makanan kami? keep scrolling!

Fish Curry

Mutton Briyani



Garlic Naan

Ngiler? Tahan dulu.


SHOLAT DULU GUYS

Biar berkah puasanya, jangan tinggalkan Sholat Maghrib ya. Begitulah pesan tak tertulis yang disampaikan secara tidak langsung oleh resto ini.

Sesaat setelah waktu berbuka, beberapa pria berbadan besar dan ada beberapa pula yang memakai baju putih dengan sorban dikepala masuk silih berganti. Mereka berkumpul didapur, kemudian berdiri berjajar dengan salah seorang dari mereka berdiri paling depan. Subhanallah, pemandangan yang jarang terlihat di Taipei dan apalagi dua masjid di Taipei ditutup untuk jamaah setelah merebak kasus corona. Mereka berjamaah Sholat Maghrib. Mas husband lalu terburu-buru mengikuti mereka setelah daku senggol.



Terlihat beberapa pria dewasa dan boys khusyu' berjamaah. Sementara jamaah wanita berada di sekat tembok yang saya ulas tadi. Saya harus bergantian dengan mas husband kalau mau sholat atau ke kamar mandi, karena yaa kalian tau sendiri ya, Kia ini gerakannya sangat banyak dan cepat. Kalau ditinggal sebentar saja, bisa-bisa dia sudah naik ke atas meja kwkwkw.


~oOo~


Puas berbuka dan bercengkerama, kami beranjak pulang. Dari 1 sampai 5, saya bisa memberikan nilai 4. It means, bisa lah diulangi makan disini ^^.




Ali Baba's Indian Kitchen 阿里巴巴的廚房
104, Taipei City, Zhongshan District, Section 2, Nanjing East Road, 56號2樓
(+886) 02 25677163
Open Everyday  11.30-15.00 and 17.30-22.00
Open at Ramadhan Everyday  17.30-22.00