Tas Anti Maling? Yuk Intip Perjalanan Saya Kenalan Sama Bobby Elle XD-Design (Part 1)

YIPPIIIYYY

Entah ya ada berapa artikel yang awalnya saya tulis begitu. Tau kan maksudnya saya tulis begitu? It means I'm Happy when I wrote it. Dan sudah pasti, saya akan bercerita tentang perjalanan terlebih dulu baru ke perkenalan produk ini. Buat yang suka, silahkan baca ya, buat yang ngga suka dan berpikiran---kelamaan Lis, it's okay to skip dan langsung loncat ke perkenalan produk.



Bobby Elle XD-Design.

Yap, saya sudah mengidam-idamkan produk ini sejak lebih dari satu bulan yang lalu. Saat sedang menghabiskan waktu liburan disekitar Taipei 101 Mall, saya melihat tas itu terpajang didinding. Bahkan di dua waktu libur berikutnya, saya ingin berkunjung lagi ke tempat yang sama 'hanya untuk' melihat apakah produk tersebut sudah laku terjual atau belum. Betapa senangnya, belum terjual. Tau kan rasanya gengs.

Di kesempatan berikutnya saya memberanikan diri untuk melihat lebih detail dan menanyakan harga pada penjualnya. Penjualnya nampaknya kurang tau banyak tentang tas tersebut meminta bantuan pada temannya melalui telepon, tapi saat saya melihat dia tak serius menjualnya, saya mengikhlaskan tas tersebut.

Pekan lalu, walau seharusnya hari itu waktunya kami libur (bekerja), tapi tidak dengan kuliah mas husband. Do'i harus pergi ke kampus pada pagi hari untuk bertemu profesor, dan ada lab meeting sore harinya. Waktu kami jalan-jalan keluar hanya saat siang harinya, dan kebetulan cuaca pada hari itu hujan thunderstorm sepanjang hari. Awalnya kami berdua have no idea mau kemana di waktu sempit kayak gini, tapi karena eman-eman di rumah terus, saya langsung kepikiran mau jalan ke Guanghua Digital Plaza. Ada apa disana?

Di Guanghua ini mirip seperti WTC-Delta Plaza kalau di Surabaya, yup kawasan berjualan barang elektronik, gadget dan kawan-kawannya. Tempat favorit si do'i, yang walaupun do'i keluarin statement, "Kalau mau ke Guanghua jangan akhir bulan gini bu, duitnya nipis...", tapi pas uda nyampe tempatnya, do'i selalu jalan paling depan paling semangat gitu.

Kembali lagi, semenjak saya mengidamkan tas tersebut (dan lebih mengidamkan lagi saat tau kalau tas tersebut barang ekspor dari Belanda yang punya kelebihan anti maling dan sebagainya), saya selalu browsing dimana offline store XD-Design yang tidak jauh dari pusat Taipei--tempat tinggal dan tempat beraktivitas kami. Dan beruntungnya, (setelah saya email sana-sini) saya mendapat balasan lokasi yang salah satunya ada di Guanghua ini.

Sama seperti di WTC, Guanghua punya dua gedung yang kami kenal dengan sebutan gedung modern dan gedung lama. Saya kira karena tas ini kualitas ekspor, makanya ditempatkan di gedung modern, mantab lah saya mengajak mas husband untuk masuk ke gedung modern nya. Langsung naik ke lantai tiga dan muter-muter dong, tapi setelah tanya pada salah satu tim lantai tiga, kami di arahkan untuk ke gedung sebelah karena produk yang kami cari tidak ada di gedung ini. Cius pak?

Tanpa basa-basi kami langsung loncat ke gedung sebelahnya alias gedung lama (yang isinya mirip sekali sama WTC gedung lama). Naik ke lantai tiga, keluar lift dan saya pun terkedjoet.

Sorot kamera dan sebagainya mengarah ke arah kami. Ada adegan shooting sinetron Taiwan disini gaesss. Dan yak, area tempat kami berdiri beberapa detik ini emang clear dari apapun, tapi sama sekali tak ada petunjuk tulisan yang melarang kami untuk lewat. Betapa kikuk nya saya yang berjalan paling depan sambil masa bodoh melewati mereka (tapi merepet-merepet ke pintu toko-toko), pun sambil berpura-pura tidak melihat kamera (padahal mata ini sudah curious banget pingin lihat ke  tiga kamera mereka--jiwa narsis tetiba muncul) dan juga sambil mencari nomor toko yang letak tulisannya ada diatas pintu-pintu toko.

Setelah melewati gerombolan mereka, saya pun lega, fiuh, saya menoleh kebelakang (bukan untuk melihat mas husband) dan kebetulan sorot mata saya pertama kali tertuju pada seorang wanita kurus ber make up mencolok (muka putih lipstik merah gaess) sedang berakting menelepon seseorang. Oke, saya yakin mereka sedang shooting bukan sedang konferensi pers, ha ha.

Saya menemukan toko yang dimaksud. Dan hfuallah, toko yang lumayan mini untuk ukuran produk ekspor. Dan ya sudahlah, bukan itu intinya kan. Intinya adalah saya bisa sightseeing memanjakan mata melihat koleksi XD-Design. Saya bisa bilang, ini lengkap banget koleksinya GAESSS. Ketimbang yang di Taipei 101 tadi lho yaa, penjualnya kayak ngga niat jualan.



Sosok wanita paruh baya berseragam orange (yang saya tak melihat detail tulisannya) menghampiri kami dan menyapa dengan bahasa Zhongwen, disaat inilah mas husband maju. Saya melihat sekeliling dan yakkkkk, ketemu tas nya! Masya Allah mulus banget (beda banget sama kayak yang dijual di Taipei 101 tadi--list talinya putus-putus dan ya begitulah). Masya Allah lagi ada tulisan DISKON gaesss. Hati berdebar-debar rasanya disitu. Saya melihat lebih dekat tas itu, sontak saya ngelirik mas husband--do'i sedang melihat tas lain yang nampaknya do'i taksir, lalu ngelirik Kia--sedang tertidur lelap di strollernya.

"Beli lah bu, sudah sampai sini nih!", celetuk mas husband.
"Ciusss ayy???"

Very kind lady dan berbagai macam warna Bobby Elle Fashion. Aaakk kumau semuaaa ^^. 

Tanpa memperpanjang drama, saya pun mengiyakan. Yippiiiyyy tas idaman berada di tangan!

Alhamdulillaaahh ^^

Buat yang kepo atau yang sudah mencari lama offline store XD-Design di Taipei tapi belum ketemu, bisa kepoin IG @topping_gadget atau juga bisa langsung mendatangi toko tersebut.

Minta bantuan google translate ya ^^



lanjut >>



DISCLAIMER :
Artikel ini ditulis dengan tujuan BUKAN ENDORSE atau segala macam bentuk promosi baik Online maupun Offline Store.

Lepas Lelah dengan Makan di Feng's Halal Beef Noodle, Alhamdulillah !



Saya teringat, saat masih tinggal di Yonghe, sekitar pertengahan tahun lalu, kami sering jalan ke Shilin Night Market dan melewati resto Feng's Halal Beef Noodle ini. Saat itu teman-teman kampus masih belum banyak yang tau, sehingga saat kami meng-instastory-kan resto halal ini--banyak teman yang bertanya : sebelah mananya Shilin Night Market sih?

Kalau kalian pernah jalan-jalan ke Shilin Night Market dan sempat makan di KFC nya. Nahhh, resto ini tepat sederetan dengan KFC. Jadi dari KFC mengarah ke MRT Jiantan, kalian bisa melihat Feng's Halal Beef Noodle tepat dipojokan. Tempatnya asyik dan sering dilalui pengunjung. Selain itu, dari kejauhan kita bisa menilai kalau ini resto halal dari hiasan dinding luarnya.

Ada teman yang memberi informasi, kalau makanan disana mahal-mahal. Iya itu tidak salah juga tidak benar sih. Tidak salah karena yang memberi informasi, sumber pemasukan hidupnya dari beasiswa dan suka makannya di kampus (yang makanan dikantin disubsidi sebesar 50% dari kampus). Tidak benar karena setara lah harga dan rasa makanannya. Ini Taipei men, IBUKOTA Taiwan, wajar kalau harga makanan diluar kampus dipatok harga segitu hehehe #peace.

All right, mari jangan berdebat tentang harga makanan atau mungkin berdebat tentang masalah handsanitizer home made.


Nah, karena hari ini kami sepedaannya sudah sampai Jiantan (menuju rumah Shilin) dan bingung mau makan apa--kalau makan kaefci bosyen--maka kami putuskan untuk mencoba makan di Feng's Halal Beef Noodle.

Terenyuh hati saya, saat masih memarkir sepeda, kami sudah disambut dengan salam oleh salah seorang pria paruh baya yang walaupun jalannya sudah membungkuk namun semangat bekerjanya masih sangat ketara. Mas husband yang menggendong Kia langsung bercengkerama dengan beliau, mereka masuk resto lebih dulu sementara saya masih sibuk cekrek-cekrek.



Dari depan resto, ketara banget deh kalau ini Taipei banget, sedikit banget huruf latinnya cyiiiinnn. Bahkan menunya pun tak ada huruf latinnya. Huft, karena kami keburu lapar dan tak ingin mempersulit 'bapaknya' dengan bahasa yang tak ia mengerti (beliau hanya mengerti Zhongwen betewei), jadilah kami menunjuk ingin makan 'ini' dan 'ini'. Kalau sudah bertemu tempat yang all in bahasa Zhogwen, jalan satu-satunya untuk mengerti hanya lewat foto atau gambar.

Menu lembar pertama.

Menu lembar kedua.

Untung aja ada foto menu yang terpampang jelas di dinding resto. Jangan tanya menu apa ya, karena kami pun tak tau ha ha maaffkanlah. Yang jelas, kami memesan dua mangkuk noodle, satu mangkuk kuah bening dan satu mangkuk kuah merah. Setelah memesan, bapaknya mengatakan harus membayar lebih dulu. Oke pak.

Bayar disini dengan bapak ini ^^.

Usut punya usut, resto halal beef noodle ini milik kakak dari bapak pria paruh baya tadi. Mas husband mengakui mengerti sedikit-sedikit saat bapaknya bercerita (iyalah do'i S2 sampai kini lanjut S3 di Taiwan, rugi kalo ngga ngerti orang lokal ngomong apa, kek saya nih, saya ngerasa rugiii ngets, hampir dua tahun di Taipei masih terbatas aja bahasa Zhongwennya). Saat ini resto sedang sepi pengunjung, layaknya tempat lain di Shilin Night Market. Bahkan di weekend seperti ini, night market paling populer di Taipei dan tak pernah sepi ini, hampir kayak kuburan. Seharusnya tak seperti itu, ini karena corona guys... Astaghfirulloh..

Ayah ini ngomong apa aja sih sama Akong..

Walaupun sepi, kami bersyukur, karena melepas lelahnya bisa lebih leluasa. Sekitar 10 menit kemudian, pesanan kami datang diantar oleh juru masak. Ekspektasi mas husband, noodle yang berkuah bening (difoto) agak kental dan yang berkuah merah (difoto) pertanda pedas. Realitanya, yang berkuah bening sama sekali tidak kental dan yang berkuah sama sekali tak pedas. Tapi tunggu sebentar hmmmm, baunya enak banget.

Pesanan Mas husband.

Pesanan saya.

Tak menunggu lama, saya langsung incip kuahnya lebih dulu. Punya saya yang berkuah bening dan punya mas husband yang berkuah merah. Dan masya allah, ini beda banget sama makanan Halal Beef Noodle di Taiwan lainnya. Rasa kaldunya tak dikuasai oleh rasa daging, bagi saya inilah yang membuang rasa bosan terhadap beef noodle saat awal makan. Biasanya kalau makan beef noodle di resto lain, saya sampai tak habis dibuatnya, karena rasa bosan muncul terlebih dulu. Tapi yang ini beda. Rasanya hampir mirip dengan kuah sop yang pernah dibuat Ibu dan almarhumah nenek saya. Yang otomatis bikin saya mampu menghabiskan satu porsinya. Kia pun juga tak menolak makanan ini, dia makan dengan lahap dan sampai habis. Beda dengan mas husband yang nampaknya kurang puas dengan pesanannya, yang pada akhirnya saya yang menghabiskan haha.

So, kesimpulan yang saya dapat ambil adalah resto sepi bukan berarti makanannya tidak enak dan mahal. Kecuali kalau kita yang membuktikan sendiri, kita tidak boleh langsung percaya dengan pendapat negatif orang ya. Feng's Halal Beef Noodle ini menu noodle nya enak dan ngga bosenin, citarasanya beda gitu sama beef noodle Taiwan yang lainnya.

Alhamdulillah, kami kenyang dan puas, tergantikan sudah lelahnya. Saatnya lanjut nggowes sampai rumah.

Sampai bertemu di artikel kuliner selanjutnya!



Feng's Halal Beef Noodle
No.41, Wenlin Road, Shilin District, Taipei City.
Open Monday-Sunday (11.30-21.00).
<<Don't entry yet at Google Maps>>

Jelajah Gongguan Riverside, Perjalanan Pertama Si Sepeda Biru


Saat memikirkan akan menulis artikel ini hingga kini saya menulis, saya merinding...

Merinding karena saya tinggal di wilayah yang dikelilingi oleh daerah yang sudah terkontaminasi virus Corona. Awalnya saya selow aja, walau sempat berfikir hal yang terburuk. Masya Allah pecah selow saya ketika beberapa hari yang lalu mendengar berita TKI di Taipei yang sedang dikarantina karena virus ganas ini. It means, virus itu bisa menempel kapan saja di keluarga saya, keluarga kecil saya yang selalu berinteraksi dengan orang-orang.

Tarik nafasss panjaaanggg, buang pelan-pelan.

Semua pasti ada waktunya, semua pasti ada hikmahnya.

Maafkan saya jika di awal saya sudah bercerita sedih.

Ada kalanya, saya selalu mengenang bahwa Allah selalu memberikan saya jalan keluar.

Di tahun pertama tinggal di Taipei, saya tinggal di rumah untuk membesarkan bayi dan merawat suami. Saya yang selalu bosan hanya diam dalam apartemen, membuat jadwal jalan-jalan untuk explore Taipei dan sekitarnya.

Di tahun kedua, saya mendapat tawaran pekerjaan. Dari tawaran pekerjaan inilah, kami pindah dari apartemen lantai 5 tanpa eskalator maupun lift ke rumah lantai 1 yang jika mau kemana-mana sangatlah baik karena semuanya tersedia. Alhamdulillah. Dari sini, hasrat untuk jalan-jalan jadi berkurang, karena dirasa kami mungkin sudah berkeliling Taipei sehingga merasa bosan. Tak jarang, kami menghabiskan waktu liburan tiap minggunya hanya bersantai di rumah.

Dari situlah saya tercetus untuk punya sepeda lagi, sepeda yang agak besar dan mampu menopang saya dan Kia (yang kini beranjak balita), sepeda yang jika saya kendarai pada jarak jauh tidak banyak-banyak memberi rasa capek. Alhamdulillah saya mendapat sepeda yang sesuai. Saya menyebutnya Sepeda Biru. 

See, Allah memberikan jalan keluar lagi. Subhanallah, menghabiskan waktu liburan dengan bersepeda dapat meminimalisir interaksi dengan orang-orang karena kami pun jarang naik transportasi umum. Dengan minimnya interaksi, membuat kecil pula peluang tertular virus macam-macam. Semoga kita semua terhindar dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan, aamiin ya rabbal 'alamiin.

Huft, saya tak bisa membendung rasa melow saya, bahkan saat saya menulis artikel ini. Karena juga, deep inside my heart, i really really worry about that virus.

Saya akan coba bercerita tentang lain agar hati tak terus-terusan melow. Oke, cerita tentang perjalanan pertama sepeda biru saya. Kemanakah sepeda biru membawa kami diawal debut perjalanannya? #halah wkwk.



Gongguan Riverside. As usual nih, tak ada rencana mau kemana. Hari Jum'at lalu, mas husband membawa sepeda biru saya ke bengkel sepeda dekat kampus agar bisa dipasang tempat duduk untuk balita, setelah do'i sholat jum'at. Kemudian kami menyusul dan bertemu di MRT Gongguan.

Kami kembali menyusuri jalanan yang pernah kami lewati saat bersepeda dulu--dari apartemen di Yonghe menuju kampus Taiwan Tech. Namun kami tak melewati jembatan, melainkan kami explore di bawah jembatan.

Bawah jembatan?!
Jangan disamakan dengan bawah jembatan yang ada di Indonesia ya... Teramat sangat beda gengs.

Namanya Gongguan riverside, landaian sungai yang dibuat indah dan multifungsi, ada lapangan basket, ada taman yang besar dan berisi penuh dengan bunga-bunga yang berwarna-warni, ada pula lapangan yang disulap menjadi tempat yang instagramable. Tujuannya hanya satu : sebagai tempat rekreasi masyarakat. Disana juga terdapat bengkel sepeda dan tempat penyewaan sepeda.



Hari Jum'at saat itu sangatlah cerah dan membahagiakan, tidak panas juga tidak dingin. Musim semi yang sempurna. Kami menyusuri jalanan sepanjang sungai, dari Gongguan dan hampir masuk daerah Guting. Sepanjang jalan, saya melihat semua fasilitas terjaga, tetap cantik seperti awalnya dan tak ada satupun yang rusak. What a perfect moment!




Begitu recehnya saya, begitu saja sudah bahagia. Ya, jika kebahagiaan dapat diperoleh dengan mudah dan murah, buat apa cari yang susah dan mahal. Ye khan?

Saya akan terus mengingat keindahan hari itu. Sampai kapanpun. Saya harap temans juga terhibur dengan dokumentasi yang saya cantumkan disini.

Well, saya akan menuliskan tentang perjalanan dengan sepeda biru saya dan berusaha konsisten. Tentunya dengan adanya dukungan temans akan membuat saya lebih bersemangat!

Sampai ketemu di artikel selanjutnya ^^

Kembang Api di Taipei 101, Menutup 2019 Menyongsong 2020.

2019... Penuh makna, penuh dengan pembelajaran hidup, penuh dengan kejutan.. Terima kasih pada Allah SWT yang telah memberikan waktu yang begitu indah di tahun 2019.


Tahun kedua berada di Taipei. Di penghujung tahun kami sudah jarang pergi ke tempat yang baru. Dan saya, ingin saja sekali merasakan malam pergantian tahun di tempat yang sangat legendaris dikunjungi masyarakat Taiwan (tak hanya Taipei lho ya). Perdebatan yang agak panjang dengan mas husband hingga tercetuslah Taipei 101 sebagai tujuan malam tahun baru. Tentunya dengan syarat pulang tidak boleh sampai tengah malam, agar Kia bisa tidur cepat dan yang pasti tidak mau berdesak-desakan saat pulang nanti.

Saat memutuskan pergi ke Yī Lín Yī (baca : I Ling I, sebutan untuk Taipei 101 oleh orang lokal), kami sedang berada di Táiběi Chēzhàn (baca : Taipei Cecan, atau yang biasa dikenal dengan Taipei Main Station). Karena pada dasarnya kami berdua bingung mau menghabiskan malam tahun baru kemana. Mas husband mau berkeliling Taipei Cecan, tapi mendadak saya kurang sreg, mengingat tahun kemarin kami menghabiskan malam tahun baru ke kota Taoyuan, saat pulang ke Taipei (via TRA Taipei Cecan) sekitar jam 8 malam mau cari makan di Taipei Cecan rupanya tidak ada satupun penjual makanan di lorong Y (lorong dimana banyak gerai yang menjual makanan khas Indonesia).

Langsunglah kami bergegas belok mengikuti antrian kembali menuju platform red line arah Xiangshan. Mas husband menggerutu dong, katanya tau gitu tadi ngga turun ya, enakan tadi dapat tempat duduk. FYI, kami sekarang tinggal di daerah Shilin (jalur Red Line), dan kalau mau ke Taipei 101 seharusnya tinggal duduk, tanpa perlu pindah jalur kereta, melewati beberapa stasiun red line, lalu sampai di Taipei 101. Seharusnya begitu.. Tapi khan.. Okeskip.

Sampai di MRT Taipei 101, disambut oleh buanyaaaakkk sekali pengunjung. Dipenghujung tahun, Taipei 101 ramainya bagai keramaian Taipei Cecan Lorong Y kalau hari Minggu. Penuh, sesak dan penat ngeliatnya. Beberapa hari sebelumnya, kami sempat main ke Taipei 101, dan yak.. Ngga ada bedanya dengan malam tahun baru.

Kami keluar via exit 5 dan alhamdulillah masih tak padat pengunjung. Tak buang waktu, kami pun ber swa foto di kaki gedung tertinggi di Taiwan tersebut. Duduk bawah, kamera di lantai, Kia dipaksa duduk di stroller. Dan jadilah foto ini...

Yippiyy, bodo amat diliatin orang-orang xD

Angin yang kencang membawa hawa dingin menusuk. Duh biyung, saat lihat #Note9Lisa, hmm ya pantesan lah dingin beku. Suhu mencapai 12 derajat malam tahun baru kali ini. Kami bergegas mencari kehangatan tempat yang hangat untuk makan malam. Berkeliling dan berbaur dengan orang-orang yang berasal dari belahan dunia lainnya, saya merasa secure dan nyaman, tidak ada perbedaan disini. Tidak ada yang namanya kaya-miskin, tidak ada yang diskriminasi karena warna kulit, tidak ada yang namanya pembantu-majikan, semua berbaur menjadi satu dibawah kaki gedung Taipei 101. Yah, walau angin makin malam kian kencang, tidak ada yang menghentikan mereka tetap duduk berkumpul bersama menunggu detik-detik pergantian tahun.


Adanya orang-orang yang berkumpul dalam keramaian, pasti juga ada kelompok orang yang berjualan makanan. Kami merapat ke salah satu tenda penjual makanan. Alhamdulillah ya, asap kompor tradisional mereka yang terus mengepul membuat hangat sekitarnya. Jadi kami gunakan untuk berlama-lama makan dan nongkrong disana.

Kebal terhadap cuaca dingin.

Penghangat outdoor : kompor.

Usai puas makan dan menghangatkan badan, kami putuskan untuk kembali berkeliling untuk melihat situasi sekaligus njajan (lagi). Semakin malam semakin banyak padat area gedung Taipei 101. Kalau tahun kemarin saya tidak berani membawa Kia kesini saat malam tahun baru, kali ini saya berani. Kia suka tempat baru, dia suka sekali jalan-jalan. Hawa dingin tak membuat dia lantas tidak bergerak (hanya dalam stroller), kelihatan dia ingin sekali lompat dari strollernya saat melihat ada banyak gemerlip lampu. Untung saja kami selalu ingat untuk kasih dia sabuk pengaman stroller. Maaf ya dek, kalau kamu sudah agak besaran saja ya jalan sendiri ditengah hawa dingin kek begini..

Ada banyak jajanan yang dijual, hampir semua jajanannya disajikan setelah dibakar atau digoreng. Ada babinya? Ya jelas dong, ini negara legal babi. Tapiii,, uniknya tenda penjual yang menjajakan menu babi bisa dihitung jari. Kebanyakan penjual menjajakan menu seafood (dominan gurita), ayam dan daging sapi. Selain makanan, ada pula yang menjual aksesoris dan kembang api yang dibentuk shape hati. Mas husband nih agak sedikit endel. Do'i tiba-tiba berhenti di sebuah tenda yang menjajakan bando bertelinga dengan hiasan lampu kelap-kelip, lalu mengatakan akan membeli tiga buah bando. What???


Bu, diemo sebentar, ngadep kesini, tak fotonya.

Memang bando yang dijual beraneka warna dan beraneka macam bentuk telinga, tapi ya ngga juga beli banyak-banyak khan wkwkwk. <<sudah tau kan antara saya dan mas husband lebih endel siapa?>>. Walau harganya cuma Yībǎi Kuài (baca : Ipay kuai, artinya seratus NTD), tapi kalau dikali tiga dan cuma dipakai malam ini yaa kan sayang yak uangnya wkwk (jiwa emak-emak yang suka itung-itungan). Alhasil do'i pilihin satu buat Kia, yang warna pink dan lampu kelap-kelipnya pun juga warna pink. Dipakaikan ke Kia, Kia ngga mau. Dipaksapun dengan main-mainin bando, tetep Kia ngga mau, hahayyy. Yauda wes dipakai do'i sendiri akhirnya. <<untung cuma beli satu gaess>>.

Lanjut berkeliling, dan arus manusia-manusia (yang datang entah dari mana saja) makin padat dong. Kalau diterusin sampai malam, alamat beneran pulang dini hari nih. Kami putuskan untuk langsung menuju ke stasiun MRT terdekat. Mas husband memilih MRT Xiangshan (satu stasiun sebelum MRT Taipei 101), karena kalau kembali ke Taipei 101 nampaknya sudah ngga memungkinkan mengingat area sudah padat manusia. Padahal smartphone sudah ditangan dan berkomunikasi dengan teman-teman yang sudah berkumpul di area Taipei 101. Mereka pun sangat menyayangkan kami pulang lebih awal. Mohon maaf banget, mau gimana lagi, kami bawa bayi ^^. Semoga next year bisa bersenang-senang disini ya ^^

Tidak mematuhi peraturan sekali setahun : duduk di taman rumput.

Main kembang api.

Menunggu.

Ngomong-ngomong, saya baru kali ini melihat Taipei ada car free night, jalan bebas kendaraan bermesin. Rasanya lega apalagi jalanan kota Taipei ini layaknya jalan provinsi kalau di Indonesia--luebbaaarr. Semua yang terlihat hanyalah pejalan kaki, udara malam jadi tambah segar karena bebas dari polusi. Dan beberapa titik ada banyak orang yang duduk berkumpul menghadap satu tujuan : Taipei 101. Yap, mereka semua menantikan meluncurnya kembang api raksasa yang cantik dan bersahut-sahutan dari gedung tersebut saat pergantian tahun.

Saat kami masuk ke dalam MRT Xiangshan, terdengar beberapa orang lokal berbicara dengan bahasa Zhongwen yang berarti : waktu kurang 45 menit lagi. Wuhuu, biar deh, walau 45 menit lagi kan juga masih lama. Bisa-bisa badan jadi beku kalau lama-lama di luar begini.

Perjalanan pulang ditemani oleh lorong kereta MRT yang sangat sepi. Tiap gerbong kereta yang kami tumpangi hanya berisi kurang dari 10 penumpang. Berbeda jauh dengan kereta seberang yang menuju Taipei 101, terlihat penuh sesak. Tapi, kata mas husband, nanti setelah kembang api di Taipei 101 berakhir, gerbong kereta dari Taipei 101 akan jadi penuh sesak. Obviously, I said...

Gerbong kereta yang sepi : langka.

Kami turun di stasiun MRT Shilin dan jalan beberapa meter untuk sampai ke rumah. Baru saja mau masuk gang, terdengar sudah bunyi petasan dan kembang api, tanda tahun 2019 telah berakhir. Nyala kembang api yang entah darimana sumbernya terlihat dari mulut gang.



Saya abadikan disini, video yang diambil teman-teman saat kembang api di Taipei 101 menyala. Silahkan menikmati ^^.


Good bye 2019, hello 2020.

---

Saya tidak menyangka, hidup di Taipei begitu menyenangkan. Merasakan dua kali pergantian tahun tidak lantas membuat tidak kangen terhadap Indonesia dan ingin segera pulang. Tidak, saya begitu menikmati hidup di Taipei, tapi juga tak ingin melupakan tanah air tempat asal usul kami.

2019 penuh dengan kenangan dan pengalaman. Dari semula saya tidak bisa menjadi bisa, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan dari yang tidak ingin menjadi tidak ada beban. Salah satu yang mengubah hidup saya tahun kedua di Taipei ini adalah mendapat tawaran pekerjaan sekaligus tempat tinggal.

Beberapa teman pasti ada yang bertanya-tanya, mengapa jarang update blog, apakah sudah tidak explore Taiwan lagi, mengapa jarang update sosial media, apakah tidak ada waktu untuk keep in touch with others?.

Yap, itu semua benar adanya.

Entah mengapa, dunia maya tak lagi banyak menarik minat saya. Selain itu kesibukan setiap harinya membuat saya tak banyak memegang smartphone, haha lagu lama ya. Tapi memang sejatinya saya adalah tipikal wanita yang kurang suka berinteraksi di dunia maya. Dunia tatap muka sebenarnya adalah hal yang paling luar biasa menyenangkan untuk saya. Dan pekerjaan saya kini seperti membuka pikiran saya. I'm on fire !

Lalu kalau sudah bekerja apakah tahun depan ada waktu untuk pulang ke Indonesia? Nah ini, memang sudah ada rencana untuk pulang, tapi... yaa, bisa dilihat nanti..hhe

Ada yang merindukan kami untuk pulang ke Indonesia? ^^