Jalan-Jalan di Taipei Zoo, Ngga Cukup Sehari !

Beneran iniihhh, kalau mau ke Taipei Zoo (台北市立動物園), temans harus meluangkan waktu sehari penuh untuk menikmati keanekaragaman hewan dan keindahan disetiap sudutnya. Pasalnya, kebun binatang terbesar se-Asia ini memiliki luas gabungan 165 hektar dengan ruang publik sebesar 90 hektar.


Oiyaa, kalau mau ke Taipei Zoo, temans bisa langsung naik kereta Brown Line (BR/Wenhu Line) jurusan atau menuju ke Muzha atau Taipei Zoo. Tinggal duduk manis sambil menikmati pemandangan modernnya kota Taipei, lalu sampai deh di tujuan (ngga perlu oper-oper). Di ujung MRT brown line ini terdapat dua destinasi wisata : Maokong Gondola dan Taipei Zoo. Untuk Taipei Zoo kita harus keluar melalui Exit 1.


Taipei Zoo memiliki 2 kawasan pameran nih : Indoor dan Outdoor. Untuk Indoor dibagi jadi 9 area : pusat edukasi, rumah insektarium, lorong konservasi, teater anak-anak, rumah koala, rumah giant panda, rumah konservasi energi dingin, rumah amfibi dan reptil dan rumah pinguin. Untuk kawasan Outdoor dibagi menjadi 12 area : area binatang formosa, area taman pakis, taman kupu-kupu (lembah serangga), kebun binatang anak-anak, area binatang hutan hujan tropis asia, taman air, area binatang gurun, area binatang australia, area binatang afrika, dunia burung, area binatang yang tinggal di iklim sedang, dan taman lahan basah. Temans bisa lihat maps Taipei Zoo disini.


Maka dari itu, hmmm, kami menjelajah kebun binatang ini secara acak. Kami hanya punya waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk menjelajah sebelum kebun binatang tutup. Pun ini musim panasss, pastinya ngga bakal tahan berlama-lama berada di outdoor.

Sebelum masuk area, kami diperiksa suhu terlebih dulu oleh petugas volunteer, sekarang sudah menjadi kewajiban walau sudah beberapa waktu Taiwan dinyatakan nol case covid. Eh, kebetulan mbak volunteer nya orang Indonesia yang nampaknya sedang libur kuliah. Ngga banyak ngobrol sih, takut keburu tutup kebun binatangnya heheh.

Cek suhu disini


Setelah dicek suhu dan kelengkapan (menunjukkan bukti kami punya ARC/Resident permit/ID Card), kami menuju ke mesin pencetak tiket. Yup, self service guys. Ngga perlu bingung ngga perlu khawatir, walau petugas di kebun binatang hampir tidak kelihatan (atau pas sedang istirahat ya mereka), di mesin pencetak tiket sudah tertera tata cara kalau mau beli tiketnya. Jadi, budayakan membaca ya ;).



Total kami dikenakan biaya 120 NT. Anak kecil tidak dihitung ya. Mau masuk ke kebun binatang, kami harus scan barcode dari kertas tiket (yang kami bayar di vending machine tadi) terlebih dulu baru pintu gate akan terbuka.

Masuk disini

Well, persis seperti yang saya baca di internet, kebun binatang ini buessaaaaarrr sekali. Waktu lihat peta nya bingung dong kami mau mulai dari mana dulu. Mana hawanya suwumukk puoll. Passs, saya lihat dikejauhan ada shuttle train station gitu. Wes naik aja itu dulu. Masalah nanti mau kemana, dipikir nanti wae, yang penting sekarang kena 'angin' dulu hahaha.

Menuju Shuttle Train

Shuttle train station ini berada persis disebelah rumah koala gengs. Kami membayar lagi 5 NT/orang untuk sekali jalan. Karena cuma 5 NT, kenapa engga bayarnya pakai Easy Card. Praktis ! Menunggu kereta nya yang sabar ya, ngga sampai 5 menit kereta nya akan datang lagi.



Shuttle train ini membawa kami menuju barat laut kebun binatang (jika dilihat dari peta). Sekitar 10 menit kemudian kereta berhenti di area outdoor dunia burung. Asyiknya di pintu masuk area ini ada penyewaan stroller gengs, secaraaa nantinya akan banyak jalan, jadi kalau semisal temans datang bawa bayi atau batita dan pas tidak bawa stroller, bisa pinjam disini. 


Melihat-lihat sekitar, hawa semakin panas. Bagaimana kalau ngadem dulu di area indoor. Yuuuukkk ! Kami langsung melesat masuk ke rumah amfibi dan reptil. Mak nyesss. Sambil ngadem sambil keliling. Kia sudah ngga sabar pengen turun dari stroller, kakinya uda loncat-loncat pengen lari-lari wakakak. Sabarr ya dek, sabaaarrr..



Koleksi rumah amfibi dan reptil ini sangat beragam. Mulai dari yang kecil seperti jenis kura-kura, lalu ada banyak macam ular, hingga buaya dalam akuarium pun juga ada. Subhanallah.

Keluar dari rumah amfibi dan reptil rupanya kami ngerasa kurang lama ngademnya huhuhu. Asli yaaa, musim panas di Taipei ini ngga seperti musim panas di Surabaya. Blasss ngga ada angin lewattt. Kalau ingatingat saat latihan menwa, yang namanya baju itu langsung kering walau habis lari-lari dan berkeringat hebat. Lah ini, yang namanya keringat ngga kering-kering. #mengeluhModeOn Astaghfirulloohh...


Melewati kandang beruang kutub, sayang ngga kelihatan beruangnya. Foto keluarga sajalah.

Kami langsung menuju ke utara : rumah penguin. Hmmm saya sudah bayangin ngadem se-adem-ademnya bikin pengen cepet-cepet kesana. Namun saat sudah sampai sana... Dinginnya ngga jauh beda saat di rumah reptil hahaha nasibbb.

Kalau tidak salah hitung, saya melihat ada dua jenis penguin di rumah penguin ini. Jika temans pernah melihat film Happy Feet yang pertama dan kedua, nahhh, koleksi penguin disini mirip dengan penguin yang ada di film tersebut. Di website resmi Taipei Zoo menyebutkan sebenarnya ada 18 spesies penguin yang ditemukan di benua antarktika dimana habitat aslinya sebagian besar dekat dengan perairan, namun yang dapat diadaptasikan dalam kebun binatang ada dua jenis : penguin raja dan penguin afrika. Lucu bangettt aslinya, sayang ngga bisa pegang. Pikiran saya dan Kia samaan hehehe.

Sudah lihat tas Kia yang berbentuk penguin? Lucu ya, bibirnya mirip bibir Kia hahaha. Ayahnya nih yang tetiba belikan Kia tas punggung itu saat berada di souvenir shop dekat dengan rumah penguin. Katanya uda yuk pilih satu sebelum barang-barang toko ditata Kia di lantai. Bhahahaha, Kia mah gitu orangnya, suka nata-nata.

Keluar dari rumah penguin, kami bingung mau kemana lagi. Yaudin jalan aja ngikutin arah lorong wkwk. Karena lumayan capek, kami beristirahat di sebuah taman kecil dekat dengan Hi-life. Kia yang ngga ada capeknya, berjalan-jalan kesana kemari. Ada seekor burung mirip spesies flamingo namun berwarna putih berjalan melintas didepan kami. Tanpa tunggu lama, Kia pun mengikuti burung tersebut.


Burungnya tidak terbang tapi jalannya sangat cepat. Kia cuma bisa duduk melihat burungnya pergi. Kemudian tiba-tiba ada seekor tupai datang dari belakang mas husband. Tupai tersebut mendatangi tas saya kemudian berjalan menuju stroller Kia. Nampaknya tupai itu mengendus sesuatu.

Oh hi !

Yakkk, si tupai mengendus ada bau harum kentang goreng mekdi dibagasi stroller Kia. Perhatian Kia langsung tertuju pada si tupai. Kia baru pertama melihat tupai (biasanya cuma lihat diyutub), bikin dia terus mendekati si tupai, bahkan ingin terus menyentuh si tupai. Padahal si tupai lagi asyik makan kentang mekdi.

Kemana si tupai pergi, Kia mengikuti. Saat dirasa ada kesempatan jari mungil Kia mencoba menyentuh kepala tupai. Anaknya mah santuy, ortunya yang khawatir takut tupainya salah gigit.

Tupainya juga santuy ~

Usai tupai pergi, kami lanjut perjalanan. Ngga kerasa uda hampir jam 5, it means kudu cepat ke stasiun shuffle train tadi. Mas husband mengajak jalan sampai ke pintu keluar sih, saat dilihat di map yang tertampang besar didekat tembok, beuh, harus menempuh lebih dari 1000meter agar sampai ke pintu keluar. Lah yooo nangis.

Engga wes engga, naik kereta saja. Lebih cepat dan dapat angin hehe.



Byee


Ngga lama, kami sampai di pintu awal shuttle train dekat rumah koala. Sebelum keluar kebun binatang, rasanya kurang afdhol kalau ngga masuk ke Zoo Gift Shop nya. Masuk dan berkeliling, woowww harganya lumayan ngga menguras kantong gengss, tapi kalau beli banyakan yaa kalau ngga di rem juga bikin kantong bolong haha. Tapi beneran deh temans kalau belanja disini, dijamin puas karena ada banyak pilihan oleh-oleh dari Taipei Zoo ini.



Baiique, segitu dulu cerita ke kebun binatang Taipei ya, mamak mau main sama Kia dulu hehe. Temans bisa juga lihat hasil rekaman kami jalan-jalan ke Taipei Zoo di youtube channel Limaura ^^.


Ada yang sudah pernah ke Taipei Zoo ini? Share dong pengalamannya ^^

Sampai ketemu di artikel selanjutnya !

You Are Twenty Nine now !



Bagus ya angkanya, hehe. Setidaknya itulah yang dibenakku dari jaman SMP sampai sekarang. Saya memang suka angka ganjil, 9 dan 29. Selain itu yaa, biasa aja. 

Pasti ini berkaitan dengan hari ulang tahun! 

Iyuup benar sekali. Tahun ini di tanggal 29 September, saya genap berusia 29 tahun.

Saya ngga berani narsis, tapi memang dikenal jarang mempublikasikan hari ulang tahun ke publik dengan cara bikin status; posting gambar niup kompor lilin atau bahkan minta dirayakan. Engga, saya benarnya tidak suka adat yang begituan. Bukan adat seorang muslim. 

Memang bahagia, hingga sekarang saya hanya merasakan tiup lilin 3x saat hari lahir. Saat saya berusia 1 tahun, ibunda saya merayakannya di rumah dan mengundang anak tetangga. Saat saya SMA (lupa antara kelas 2 atau 3), tapi sebelum saya tiup lilin saya dikerjain dulu (habis-habisan bro, sampai mau batal puasa gegara mau nangis sesenggukan—tapi ngga jadi) oleh teman-teman PASDALUH (sebutan untuk ekskul paskibra di SMA saya). Dan terakhir di tahun 2015 saat teman-teman dan mantan pacar (yang sekarang sudah jadi teman hidup) merayakan ulang tahun saya secara tak terduga di tempat les EF Kayun Surabaya.

Selebihnya, saat hari lahir, saya lebih memilih diam saja. Karena apa, karena entah mengapa saya tidak bisa bahagia saat hari ulang tahun tiba. Umur berkurang 1 tahun, umur mendekati kematian, umur makin nambah otomatis keriput bisa jadi bertambah (walau beberapa warga lokal Taipei menilai saya masih umur belasan dan masih cantik—bahagia karena dipuji dan narsis sedikit bole kan ya—ngga membuat saya juga lupa ada keriput yang ikut bertambah), umur makin tua tapi tak punya prestasi apa-apa. So, apa yang musti dirayakan dengan bertambahnya umur? 

Ahh memang saya ini terlalu melankolis, pesimistis tapi perfeksionis. Hahaayy. 

Ngobrol tentang prestasi, hmm. Prestasi saya hingga di umur 29 ini hanya sedikit. Berani hidup hanya bertiga di negeri orang. Yang semula cuma bisa masak mie dan sekarang uda bisa masak yang berat-berat (tentunya dengan bantuan cookpad). Ngopenin si #SingkekKriwul sendirian (Ayahnya bantu sih, 25% ajah he~). Si singkek kriwul uda bisa diajak pipis ke kamar mandi, menurut saya ini prestasi yang harus saya pertahankan (jangan anggap remeh ini wahai gadis dan ibu muda! Kalau kamu belum melewati fase potty training anak, kamu masih belum bisa dianggap keren). Singkek kriwul juga sudah bisa bilingual, berhitung dari one to twenty, alphabet baik hafalan dari yang urut A to Z atau Z to A sampai yang mengurutkan balok A to Z dan Z to A, dan mengeja tiap huruf yang dia jumpai. Singkek kriwul juga bisa mengeja huruf Arab sampai sholawat nariyah. Dan semuanya diakhiri dengan dia mengucapkan ‘makasiiii’. 

Semua prestasi saya kebanyakan untuk Kia ya kalau dipikir-pikir. 

Sempat terbesit dipikiran dan ketika terbesit saya selalu iri. Iri pada perempuan-perempuan lain di usia yang sama mereka mampu memperoleh gelar akademik yang tinggi, mampu wirausaha sendiri, dan bekerja meraih top level di suatu perusahaan. Saya selalu iri yang di hal nomor satu, karena dari saya kecil ibunda saya selalu menekankan hal pendidikan adalah nomor satu sehingga otak saya tercetak sebagaimana buku akademis tercetak. Tapi iri ini tetap hanyalah iri, saya tak bisa apa-apa. Palingan yaa saya ngedem-ngedemin hati, bilang kalau mereka itu belum tentu sebahagia saya mengurus bayi sendiri. Rasa syukur saya langsung bertambah. 

Jadi baiklah, karena prestasi saya banyak untuk kebaikan anak sendiri, maka angka 29 kali ini saya ingin posting di beberapa akun sosial media saya yang akan di link kan ke blog ini. Buat jadi pengingat bahwa keputusan hidup dan prestasi hingga saya berumur 29 tahun ini layak untuk ditunjukkan.
 

Selamat ulang tahun yang ke 29, Lisa ! 


Semoga selalu sehat, lancar rejeki dan mendapat umur yang barokah, aamiin.

Ada Martabak Manis di Taipei! Sudah Tau Belum?


BELUUMMM !

Sebelumnya nih, selama hidup di Taipei saya makan martabak manis yang dibelikan mas husband di salah satu toko Indo paling oke di Taipei. Martabak manis ini ada nama lainnya betewe, kalau orang Surabaya bilang Terang Bulan. Biasanya kan kalau beli di Surabaya, makan terang bulan dalam keadaan hangat hangat panas. Tapi kalau yang ini, terang bulannya dalam keadaan 'frozen' alias beku alias kudu di-microwave-in dulu sebelum dimakan. Enak siii, bisa diawet-awet, tapi serasa ada yang kurang sebenarnya..

Naahhh, kami dapat informasi kalau ada martabak manis enak dekat MRT Jingmei, kami langsung cuss ke TKP keesokan harinya.

Want to go to there?

Anywhere you stay, you must stop at Taipei - Jingmei Station exit 2. Sudah terdaftar di google maps kooq, jadi gampang kalau mau kesana.

What about the price?

Don't worry about price if you concern about your tummy haha. Apalagi kalau uda kangen sama makanan Indonesia, makanan mahal dikit "kalau terkenal enak dan no pork" ya libass ajaa hehe. Eits, tapi ini ngga mahal koq, tenaaangg. Pas buat kantong anak kuliahan.


And the seller is?

Wes dijamin kalian akan puas mata deh (buat para hawa hati-hati pandangannya yaa). Penjualnya lelaki, Indonesia asli tapi sudah lama hidup "berkeluarga" di Taipei, sudah cekatan buat urusan bikin martabak manis ini (jangan ditambahin : cekatan dalam urusan rumah tangga, yaa dasar jombelo ihh). Ini kasih clue dikit deh.


Gimana rasanya?


Hmmm nyummyyy ! Wenak puollllllllll. Ini yang diidam-idamin banget, martabak manis dimakan panas-panas pas malam hari. Pasti deh balik lagi buat beliii.


Cusss kuy lihat juga tayangan videonya, juga bisa lihat lengkapnya disini.

Semoga bermanfaat yaa buat temans yang tinggal di Taipei dan sekitarnya.

Sampai ketemu di artikel selanjutnyaa !

Cerita Tentang Taipei-Jakarta Mengenai Urusan Gigi !



Sebagai sesama ibukota nih, ada banyak kesamaan dari kota Jakarta dan Taipei dibidang apa saja. Ya teknologinya, ya percepatan pertumbuhan ekonominya, ya persaingan dalam mencari lapangan pekerjaan, biaya hidup yang menjulang dan lain sebagainya. Hampir sama lah semuanya. Tapi menurut saya ada satu hal nih yang beda, yakni masalah kesehatan. 

Nah ini yang bikin saya ingin cerita tentang bedanya urusan tentang kesehatan gigi di tempat tinggal saya (Taipei) dan saat kami plesir ke Jakarta. 

Di sekitar tempat tinggal saya, distrik Shilin kota Taipei-Taiwan, klinik gigi tersebar hampir di tiap blok. Dan yaa sudah pasti, tiap klinik pasti punya suatu keunggulan dari klinik yang lain, klinik gigi bersaing--saya menyebutnya. Klinik tersebut ada yang dimiliki perseorangan, ada pula yang terkumpul dalam satu jaringan perusahaan bukan milik pemerintah. Uniknya hampir semua klinik baik yang dimiliki perseorangan maupun yang tergabung dalam jaringan perusahaan swasta memperbolehkan dalam transaksi pembayarannya menggunakan kartu NHI (semacam kartu BPJS kalau di Indonesia). Proses pembayaran menggunakan NHI ini pun tidak ribet dan tidak mbulet. Semua hal kalau bisa dipermudah ngapain dijadikan susah, mungkin itu motto kerja orang-orang Taiwan. 




Semua mudah. Sayangnya di Taipei tidak ada aplikasi yang mencantumkan tentang kesehatan gigi. Kata rekan sesama mahasiswa (yang minat belajarnya dibidang kesehatan), di Taipei memang ada aplikasi dan website yang mengulas tentang kesehatan dan melayani sejumlah permasalahan kesehatan tapi hanya mencakup kesehatan kulit saja. Diawal kedatangan di Taiwan, hal ini cukup memberatkan saya karena sulitnya mendapat informasi mengenai kesehatan gigi, kalau semisal gigi dan mulut ada masalah yaa mau nggak mau kudu datang langsung ke kliniknya dan tanya pada dokternya. Iya kalo dokternya bisa English, lha kalo engga (kek saya)?

(Psssttt, ngga semua orang pintar di Taiwan bisa berbahasa Inggris, itu karena mereka yang sangat mencintai bahasanya lho). 

Di Jakarta-Indonesia, siapa sih yang tidak mengenal Halodoc? Sebuah plaform yang mencakup segala hal tentang berbagai bidang kesehatan. Melalui Halodoc ini, kita bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis, melakukan tes laboratorium hingga membeli obat, cukup dari layar laptop atau smartphone kita, kapan saja dan dimana saja. Big applause

Halodoc dari layar laptop

Jadi ingat nih waktu saya silaturrahmi ke rumah bude di Jakarta, salah satu sepupu tertua saya mendadak ada masalah sama giginya. Ngga pake lama, sepupu yang lain menawarkan untuk pergi ke rumah sakit gigi. Tapi masalahnya, mana ada rumah sakit atau klinik gigi yang buka di H+3 Hari Raya Idul Fitri? Pikir kami waktu itu cetek sekali, kebanyakan sepupu saya bekerja dibidang bisnis dan property, hanya sedikit yang mengerti kesehatan dan teknologi. 

Lha kok untungnya, teman dari sepupu menyarankan untuk konsultasi melalui website Halodoc via online. Bisa melalui chat atau telepon. Walau sepupu saya yang sakit giginya rada alot dibilangi (karena dia masih ngga percaya konsultasi ke dokter kok lewat hape), untungnya temannya sabar kasih step by step nya. Setelah konsultasi pun sepupu saya tetap kekeuh mau datang ke Happy Dental Clinic Ciputra Mall , yaa udah sama temennya ini dianterin kesana sekalian nge-mall katanya. Kurang baik apa coba temannya, ehh kurang bagus apa coba platform Halodoc ini.

Saya kira kalian semua sudah tau pasti tentang Halodoc ini, jadi manfaatkanlah sebaik-baiknya platform bikinan negeri sendiri ini.

Ahh.. Seandainya di Taipei ada Halodoc...

4 Hal Menarik dari Taipei 101 dan Puncaknya

Sudah dari luamaaaaa direncanakan naik ke puncak Taipei 101 atau yang lebih dikenal dengan Taipei I Ling I ini. Baru akhirnya terealisasi bulan ini. Dua tahun menunggu.....ha ha.



Berangkat pagi sekali, sekitar pukul sembilan dari rumah, sampai disana rupanya masih suepi. Beberapa gerai dan tenant terlihat ada yang sudah buka, ada yang masih sedang berbenah dan bahkan ada yang masih gelap tanda pegawainya belum ada yang datang. Makin naik lantai, tampak makin tak ada kehidupan haha.

Buat yang belum tau, Taipei 101 ini dibuka untuk umum hanya sampai lantai 5 ya guys, itupun dibagi menjadi dua bagian--bagian perkantoran dan bagian komersial. Nah, kita yang tujuannya kesini untuk plesir hanya bisa memasuki bagian komersialnya saja. Jangan ditanya tentang yang bagian perkantoran ya, kalau mau masuk, pastikan kalian punya akses khusus. Untuk naik ke puncak i Ling i, kita harus membeli tiket terlebih dulu di lantai 5.

Di puncak Taipei 101 nanti kami berencana mengunjungi ruang yang dibuka untuk publik : dibagi jadi 3 tempat atau lantai : Indoor Observatory (lantai 89), Puncak Menara atau Outdoor Observatory (lantai 91) dan Wind damper & cafe 88 (lantai 88). Sebenarnya kami juga sudah lama mengincar ingin pergi ke lantai 35, ngopi santai di gerai terkemuka Starbucks. Sayangnya.. Ada beberapa hal dari review yang saya baca bikin urung niat pergi kesana. Pan-kapan aja deh.

Kami harus menunggu hingga jam 11 siang agar bisa naik ke puncaknya. Jalan-jalan dulu lah.. Lihat-lihat suasana i Ling i saat baru dibuka.



Saat kami bersantai sambil ngemil di foodcourt lantai 1F (dan memandangi si mungil bobo siang di strollernya), nampak beberapa orang tua beserta anaknya berlarian melewati kami yang saat itu sedang bersantai di foodcourt lantai dasar. Pikir kami bebarengan, mereka pada cepet-cepetan berebut naik ke puncak. Sesegera mungkin kami beberes dan bersiap untuk naik ke lantai 5 : pintu masuk menuju ruang observasi. Jadi ceritanya, liburan kali ini kami akan naik ke puncak Taipei 101, memanfaatkan tiket murah (as usual dong haha). Tapi... tiket murah ini hanya berlaku untuk 300 pengunjung pertama. Akankah kami mendapatkannya?



ALHAMDULILLAH  DAPAT ! HA HA

Walau ngantri sudah mengular, rupanya kami masih berkesempatan dapat tiket potongan harga. Belajar dari sebelumnya, dimana saat pengumuman diskon naik ke puncak Taipei 101, kami susah payah datang lalu antri puanjang, eeehh rupanya salah waktu haha. Harus datang pagi kalau mau dapat tiket diskonan!


Yess !




Jadi nih ada 4 hal yang menarik dari Taipei 101 dan puncaknya, apa saja?


1. Puncak Gedung Tertinggi di Negara Taiwan

Negara Taiwan? Kita doakan saja yaa supaya bisa segera jadi negara ^^.

Gedung Taipei 101 ini memiliki nama asli Gedung Finansial Internasional Taipei (臺北國際金融大樓), biasa kita dengar dengan sebutan Taipei 101 karena memiliki 101 tingkat atau lantai didalamnya. Serem ya gengs, walau saya ngga punya phobia sama ketinggian, tapi waktu baca artikel tentang Taipei 101 ini dan kini bisa menapaki lantai teratasnya bikin saya amaze.


2. Punya Lift Tercepat di Dunia

Kalau kamu naik ini, siap-siap tutup telinga sebelum lift nya melesat ke atas ya. Pasalnya yang saya rasakan selain rasa pusing, telinga pun ikut mendengung selama perjalanan kami dari lantai 5 menuju lantai 89 yang hanya dirasakan selama beberapa detik saja. Bagaimana tidak, kecepatan lift nya mencapai 1010 meter per menit. Gilak lu ndro! Kalah rollercoaster.

Miniatur lift atau elevator Taipei 101

Pernah mencetak rekor lift tercepat didunia !

Datang dan rasakan sendiri kecepatannya !


3. Punya Wind Damper yang Dibuka untuk Publik

Apa sih Wind Damper itu? Wind = Angin. Damper = Peredam. Gampangannya begini, wind damper diciptakan untuk sebuah gedung pencakar langit agar bisa steady dan berdiri tegak.

Tau kan ya pepatah "Semakin Tinggi Suatu Pohon, Semakin Kencang Pula Tiupan Angin Yang Dirasakan". Nah ini bisa dipikir secara logika, kalau semakin tinggi gedung dibuat, semakin berat pula beban yang dihadapi. Angin kencang lah, anti gravitasi lah. Apalagi Taiwan ini berada diatas lempengan bumi yang selalu bergeser, yang mana selalu (dan sewaktu-waktu) membuat Taiwan dilanda gempa. Maka wind damper adalah sebuah solusi yang tepat agar sebuah bangunan dapat berdiri tegak.

Tidak banyak gedung pencakar langit di dunia yang wind damper nya dibuka untuk publik. Nah, di Taipei 101 ini salah satunya. Makanya sayang banget kalau kita berkunjung kesini dan melewatkan melihat dan mempelajari tentang wind damper ini. Ruangan wind damper di lantai 88-89. Kalau temans ingin melihat lebih detail wind damper, bisa langsung ke lantai 88 nya.








Gimana caranya wind damper yang beratnya setara dengan 32 gajah ini dinaikkan hingga lantai 88 ya ???hmm


4. Selalu Kasih Diskonan

Agar Taipei 101 bisa dinikmati semua masyarakat. Pemerintah dan pihak gedung men-discount harga masuk di beberapa waktu. Nah kami datang pas menjelang liburan musim panas, jadi kami dapat tiket seharga 150NT saja untuk 300 pengunjung pertama tiap harinya. Harga normalnya 600NT/orang dewasa.


Saat akan masuk ke ruang antri lift (mantan elevator tercepat didunia), kami menunjukkan tiket ke petugasnya. Mereka heran kenapa kami membeli tiga tiket lalu menyarankan agar mengembalikan satu tiket ke petugasnya dan menukarnya dengan uang. Usut punya usut, Kia tidak dihitung masuk biaya tiket guys. Tapii yaa sudahlah, daripada mengantri lagi, lebih baik di ikhlaskan saja.


Well, itulah 4 hal menarik dari Taipei 101. Lalu kalau sudah sampai lantai 89, apa selanjutnya? Apa yang menarik dari puncak bangunan tertinggi di Taiwan ini? Oke, stay scroll down.


Kita akan menyadari bahwa kita itu kecil !


Melihat gedung-gedung tinggi itu jadi kayak melihat miniatur kota dalam sebuah kaca. See, kita itu kecil dan yaa saya langsung refleks istighfar banyak-banyak, mohon ampun sama yang maha kuasa.


Taipei itu selain kota modern, juga memperhatikan ruang hijau !


Beruntungnya kota modern nan maju Taipei dikelilingi oleh bukit dan pegunungan. Pemerintah dan masyarakatnya tak lantas membabat habis hutan untuk didirikan bangunan. Mereka tetap melestarikan hutan dan membuat taman tengah kota sebagai pusat produksi oksigen.


Ada si kecil yang baru bangun tidur dan langsung memandang takjub di jendela kaca.


Nah kalau Kia mah, ngga ada kata "TAKUT" di kamus kehidupannya..haha.


Ada spot foto instagramable.


Malangnya nasibku, uda bawa tripod kece, pas digunakan rupanya fotonya jadi begini. Siang hari, menantang matahari. Wess, bukan rejeki. Bagusnya foto malah kalau welfie.




Bisa naik ke Puncak tower !



Puncak towernya ada di lantai 91 ya temans, bisa naik tangga dan juga bisa naik elevator. Eits, tapi elevatornya ini eksklusif bangettt dan letaknya pun 'agak' tersembunyi.

Ceritanya, waktu kami sudah menjelajah semua (lantai 91 dan 89) dan ingin turun ke lantai 88 (untuk melihat wind damper), rupanya ada missed communication sama petugasnya. Kami diantar ke ruangan khusus (yang sumpah awalnya saya mbatin apakah kami punya salah sehingga digiring ke ruangan khusus?) sama si petugas. Petugas ini membawa walkie talky (WT) dan mimik wajahnya seperti memberitahukan ke teman di ujung WT yang dia genggam agar disiapkan sesuatu. Rupanya petugas ini mengantar kami ke lantai 91 dengan elevator khusus. Kaget dong kami, mas husband langsung bilang ke petugasnya bahwa kami baru saja dari lantai puncak dan ingin ke lantai 88. Alhasil kamipun diantar ke lantai 88 (via elevator lantai 89) dan harus antri (saran saya ke lantai 88 nya naik tangga saja biar ngga ngantri haha).

Berikut foto di lantai 91, lantai terakhir yang dibuka untuk publik.


Nikmat mana yang mau kamu dustakan wahay Ayah, diapit cewek-cewek jelita wkwk.


Anginnya kencang guys, kalau boleh saya beri saran, kalau datang kesini bawa topi (yang ada tali ikat bawah lehernya).


Ada Taipei 101 Souvenir Shop di lantai 89.


Mon maap ngga sempat foto toko souvenirnya, tapi yang jelas kalau datang kesini, temans ngga akan kekurangan yang namanya souvenir, kekurangan uang iya bhahhaha.

Pengen lihat toko souvenirnya? Mas husband rupanya sempat mengabadikannya dan sudah menayangkan di channel youtube Limaura. Seperti apa? Ini dia !