Liburan Mahasiswa Akhir di Pantura Taiwan

Awal bulan Oktober 2021...
 
"Ayolah bu. Liburan kita abis gini || Ngerayain paper ayah lolos, ibu ulang tahun, ibu finish kerja, ibu hamil... || Bisanya cuma minggu depan ini abis kontrol. || Nanti klo ngga sekarang kapan lagiii, klo ngga sekarang nanti uangnya kepake terus~. || Bulan depan uda ngga bisa kemana-mana lhoo, uda besar perutnyaa"

Do you know what? Laki gue lumayan cerewet kalau sudah "kadung karep". Gigih betul. Padahal saya yang pegang uang bulanan yang dagdigdug duer sama pengeluaran bulan ini dan bulan depan buat persiapan lahiran. Dalam hati pingin juga sih liburan gitu apalagi uda hampir setahun ngga kemana-mana karena covid di Taiwan tahun ini kayak roller coaster...
 
 
Ting !

Lalu mendadak saya teringat sama istri sohibnya mas husband. Pengen rasanya jalan-jalan lagi sama dia, lama juga ngga jalan bareng mereka. Terakhir liburan bareng ke Zhongli, itupun karena ada conference para suamik. Ngga pake lama saya kontak dia via line, basa basi dikit tapi menjurus hehe, singkatnya chat kami berdiskusi tentang jalan-jalan dari short trip seharian lalu ke liburan muslim friendly lalu ke Taroko dan akhirnya berakhir ke Tamsui. Kayak ngga ketemu bertahun-tahun, ngobrolinnya pengen aja seluruh Taiwan dijelajahi hihihi.
 
Beruntunglah saya, mas husband oke liburan bareng mereka, yippiyyy.


 
Yippiyyy, liburan bareng mereka akhirnya terealisasi pertengahan bulannya ! (elus-elus perut hehe)


 
The Fisher Hotel
 
Sejujurnya saat tektokan liburan ke Tamsui kami punya dua pendapat tentang dimana akan menginap, dan ini bikin saya punya feel : kami cocok. Saya dan mbak Herza seleranya sama-sama anak kota, sementara mas husband dan mas Saide uda flipflop dan sehati dari jaman mereka sama-sama ambil master tahun 2015.
 
Sebut saja pilihan hotel bintang 5 pilihan saya, yang bikin saya dan mbak Herza amazed karena sama-sama pengen nyebur kolam renang sambil menikmati kemevvahan fasilitasnya wkwkwk (pikir kami sama : lamaa ngga liburan, sekalinya liburan harus yang bener-bener dapet feel liburannya), tapi rupanya pilihan saya ini bikin mas husband dan mas Saide sama-sama manyun gegara harganya yang ngga ramah kantong mahasiswa. Bener juga sih, biaya nginap tiga hari dua malam disana sama kayak biaya sebulan kontrak rumah kami ha ha. 
 
Sebagai gantinya, ada salah satu hotel bintang 3 yang ditawarkan mas husband (do'i sudah riset hotel duluan dari awal bulan lalu  betewe) yang memang review pengunjungnya paling bagus ketimbang hotel bintang 3 sekitarnya, dan mas Saide oke dengan pendapat do'i. Baiquelah, kami para istri yang solehah tentulah nurut apa kata suamik. Beruntung pula hotel tempat kami menginap ini berdekatan dengan 7-11, family mart, px mart, toko indo, LRT (Light Rail Train), dan halte bus, alhamdulillah. Namanya The Fisher Hotel.
 

Menuju hotel, kami naik bus R26 dari Stasiun MRT Tamsui (Red Line) exit 2. Alternatif lain menuju hotel dan atau tempat wisata disisi utara Taiwan, dengan naik LRT Danhai dari Stasiun MRT Hongshulin (satu stasiun sebelum Tamsui) tapi menuju ke hotel harus ter muter dulu (kalau dilihat rute di gmaps). Kami ngga serantanan wes, kesuwen bahasa Jawanya. Naik bus R26 aza lebih cepat.







Jadwal check in hotel ini pukul empat sore ya temans (agak heran diawal karena biasanya hotel di Taiwan check in nya jam 12 sampai jam 2 siang) dan check out nya pukul dua belas siang hari. Kami berempat setengah (Kia dihitung setengah hihihi) janjian bertemu di hotel. Setelah check in dan beberes sebentar, kami langsung cuzz melipir ke pantai untuk menikmati matahari tenggelam. Ingin tau foto-foto kamar hotel, baca cerita sampai habis ya ^^.



Shalun Beach

Menuju pantai kami berangkat terpisah, mbak Herza dan mas Saide pergi duluan naik sepeda youbike, sementara kami menyusul naik mobil uber. Maksudnya ingin cepat naik uber karena beberes kami di kamar lumayan lama, kenyataannya lha koq kami yang sampai duluan di pantai huhuhu. Untung aza masih bisa ketemu mereka di pantai walau tak bisa lihat sunset barengan.
 




Liburan kami ini terealisasi tepat setelah ada badai, jadi masih ada sisa-sisa angin kencang. Agak ngeri-ngeri sedap gitu ya sebenarnya lihat deburan ombaknya. Namun tak lama kengerian saya teralihkan karena menghirup mutlak segar dan sejuknya udara pantai utara Taiwan ini.

Pulang ke hotel kami mencoba naik LRT Danhai. Kek gimana sih rasanya naik LRT?



LRT Danhai - Shalun (V26) to Tamsui Fisherman's Wharf (V27)
 
Dari pantai menuju hotel kalau berjalan kaki memakan waktu seperempat jam menurut gmaps, atau setara dengan jarak sekitar satu kilometer. Nah, kalau badan saya masih satu, kuat tuh jalan kaki jarak segitu. Masalahnya badan saya ada dua sekarang wkwkwk, tambah ada buntut satu #SingkekKriwul yang pastinya kasihan kalau kudu jalan satu kilometer. Diputuskanlah kami naik kereta aza sekaligus mencoba kereta ringan diatas tanah yang satu-satunya punya rute panjang di Taipei.
 


Tap easy card dulu, baru boleh masuk stasiunnya.

Mister dagelan, masa iya ngawe-awe kereta. Emang bemo pak?
Ngawe-awe nya ngga ke capture betewe. Itu tangan dibelakang mas husband punya mas Saide ya, jangan takut hehe.



Stasiun LRT ini nampak gagah, modern dan compact. Seperti biasa, sebelum masuk dan keluar stasiun harus tap easy card lebih dulu. Kereta LRT ini dibilang ringan karena hanya terdiri dari tiga gerbong saja dan memuat hingga 265 penumpang. Sekilas LRT Danhai nampak seperti kereta Wenhu Line atau Brown Line, hanya memiliki 3 gerbong. Namun perbedaan yang jelas terletak pada tempat masinisnya.
 
 
Jika kereta Brown Line dijalankan sesuai sistem otomatis, maka LRT Danhai ini ada pak masinis yang menjalankan kereta seperti kereta lainnya. Bedanya lagi (dan ini saya bilang unik), pintu gerbongnya tidak terbuka otomatis seperti kereta lainnya, melainkan kita harus menekan tombol di tengah pintu terlebih dahulu dan harus cepat melewati pintunya karena pintu akan tertutup otomatis kurang dari satu menit setelah tombol ditekan.
 
Pintu tidak otomatis gaess, harus ditekan dulu 😅


Setiap harinya kereta LRT ini melewati dua jalur : Jalur pegunungan (The Green Mountain Line) dan Jalur pantai (The Blue Seaside Line). Jalur pegunungan memiliki 11 stasiun dan jalur pantai memiliki 8 stasiun (3 stasiun sudah jadi dan 5 stasiun masih underconstruction). Nantinya, jalur pantai yang masih dibangun ini akan menghubungkan Stasiun MRT Tamsui dan Stasiun LRT Tamsui Fisherman's Wharf.
 
LRT Danhai Route Map. Sumber Wikipedia.
 
 
Betul juga ya, kalau diingat waktu kami naik bis R26 dari Tamsui ke hotel, sepanjang jalan ramai banget sama kendaraan, alhasil bikin macet. LRT Danhai jalur pantai ini nantinya akan jadi solusi kemacetannya.
 
 
 
Makan Malam Bekal Sambil Tukar Cerita Mahasiswa Akhir di Hotel

Bagi saya ini inti liburan kali ini. Kapan lagi bisa saling looosss bercerita mengenai pengalaman masing-masing. Mengingat rumah kami berjauhan dan pula sibuk dengan masing-masing kegiatan. Kalau para suamik dari pikiran ke pikiran, ngga jauh-jauh dari soal desertasi dan paper mereka. Kalau para istri dari hati ke hati (apa itu? rahasia dong hehe). Kalau #SingkekKriwul yaaa biar dia berhenti sejenak dari gerakannya (FYI buat yang belum tau #SingkekKriwul a.k.a Kia, ini anak diemnya hanya pas tidur, emang dia aktif banget dari jaman masih di perut, sampai sebesar ini walau sudah malam energinya kayak ngga pernah habis) jadilah malam ini dia dibolehin nonton yutup.

Usai makan malam dan tukar cerita, mbak Herza dan mas Saide kembali ke kamarnya. Kami harus istirahat cepat agar besok bisa bangun pagi dan siap buat explore wisata historikal di Tamsui.
 
Betewe, makan malamnya nikmat banget gaes. Taulah yaa masakan Indonesia memang paling endulita, selain itu yang bikin nikmat itu bekal kami yang disiapkan dari rumah jadi lebih sehat ketimbang beli diluar PLUS makan malamnya bareng sohib. Subhanallah.. Nikmat banget pokoknyah.



Tidak ada komentar

Posting Komentar

Hai temans pembaca, salam kenal, saya Lisa.
Saya sangat ingin mendengar komentar temans setelah membaca cerita saya, silahkan, temans bebas berkomentar apa saja namun harap tetap menjaga kesopanan ya.
Terima kasih ^^.