Gara-gara #TSWIM, Kami Bisa Berlibur ke Zhongli (Part 1)

Yeaiyyy. Alhamdulillah.. Liburan!


Kami berliburnya ala pelajar, bukan berlibur ala selebgram ato ambassador gitu. Maklum, suami-suami kami masih pelajar.. Dan sedang mengejar ilmu, paper, jurnal dan desertasinya demi meraih gelar PhD untuk masa depan yang lebih baik tentunya. #BelajarItuPenting.

Kami?
Suami-suami?



TSWIM

Mungkin sebagian temans sudah tau apa itu #TSWIM. Tapi yang pada belum tau, TSWIM ini kepanjangan dari Taiwan Summer Workshop Information Management, yang merupakan ajang bergengsi bagi para mahasiswa Undergraduate, Master dan PhD Manajemen Informasi di seluruh Taiwan untuk mempresentasikan hasil riset mereka dan mengharap masukan dari para expert yang juga sama di bidang Manajemen Informasi.

Dokumen Panitia.


Mas husband dan mas Saide (sahabat do'i yang sama-sama ambil master double degree ITS-Taiwan) ikut acara TSWIM ini. Saya, Kia dan istri mas Saide tidak punya akses kesini, jadi kami tidak mengikuti acara tersebut.

Acaranya berlangsung selama tiga hari, dari tanggal tiga hingga lima bulan Juli tahun 2019 dan bertempat di Yuan Ze University, Zhongli (baca : cungli). Zhongli ini adalah nama sebuah kota di Barat Daya Taiwan yang berjarak kurang lebih 40 kilometer ke barat kota Taipei. Rencana awal mereka berdua pulang pergi Zhongli-Taipei selama dua hari terakhir (mas Saide presentasi di hari kedua dan mas husband presentasi di hari ketiga). Saya pikir pasti akan melelahkan sekali. Mas Saide pun menyarankan 'kami semua' berangkat dan menginap di hotel dekat tempat acara. Setelah mempertimbangkan agak lama, akhirnya ide itu diwujudkan.

Yang lebih efektif menurut kami adalah hanya menginap semalam. Jadi ini hanya berlibur numpang tidur semalaman hahaha. Meski begitu sama sekali tak mengurangi rasa senang bisa berkunjung ke kota lain di Taiwan.



Berangkat Terpisah

Kami menginap semalam di sebuah hotel di kota Zhongli berarti check in pukul 18.00 sore hari (saya katakan sore karena hingga pukul setengah tujuh sinar matahari masih terang) dan check out esok hari pukul 12.00 siang waktu Taiwan. Nah karena check in nya menjelang malam, sementara mas husband mengikuti acara dari pukul delapan pagi, jika kami berangkat bersamaan maka kami akan terlantar sekitar 10 jam. Daripada terlantar di kota baru dan kemungkinan akan menghabiskan banyak uang secara 'tidak jelas', saya menyarankan agar saya Kia dan istri mas Saide (namanya Herza) berangkat siang atau sore nya. Mbak Herza juga mengiyakan karena sorenya dia ada lab meeting via skype dan bisa berangkat setelahnya. Para suami pun setuju.


Duduk paling depan-atas.

Ada bagasi didepan kursi kami, muat ditaruh stroller Kia.

Sekitar pukul empat lebih kami berangkat. Naik bus 9001 tak jauh dari apartemen, alhamdulillah. Satu setengah jam kemudian kami sampai di Stasiun Bus Zhongli. Alhamdulillah lagi, hotel tempat kami menginap tidak jauh dari terminal tadi (disini disebutnya stasiun bus haha). Kami langsung 'jalan' menuju hotel karena para suami masih menunaikan sholat Ashar di hotel. Disini kami memang terbiasa berjalan, jadi jangan kaget buat temans yang datang ke Taiwan jika ada yang bilang jarak satu kilometer itu masih bisa dibilang 'dekat' bila ditempuh dengan berjalan kaki.



Menginap di Hotel Bintang Dua dan Kia Sangat Senang

Sedari awal saya katakan kami berlibur ala pelajar, jadi hilangkan ekspektasi liburan mewah ya. Sungguh sangat cukup kami menginap di Benz Hotel, yang harganya lebih murah ketimbang hotel sebelahnya, namun fasilitasnya tidak murahan, hotel ramah anak-anak, bebas biaya pembatalan, akses wifi lancar, dekat dengan toko Indo, dan dapat sarapan gratis.


Kami berempat setengah berada dalam satu lantai namun beda kamar. Beruntungnya kami dapat kamar yang ada jendela dan menghadap ke jalan, setidaknya ada pemandangan lapang dan luas. Sementara kamar mas Saide dan mbak Herza ada sebelah kamar kami. Kamar kami pun berdesain colorful sehingga Kia terlihat senang. Dia tidak berhenti menjelajahi setiap sudut kamar, mengamati serta mengotak-atik barang-barang baru di kamar. Saya pun tak berhenti bersyukur karena Kia betah dan nyenyak tidurnya. Kia memang jempolan ya, mudah beradaptasi dengan suasana baru.



Makan di Toko Indo Cencen

Menurut saya, di kota Zhongli ini ada banyak sekali orang-orang Asia Tenggara terutama Indonesia. Pertama, saya mendapat informasi dari seorang kenalan kalau di kota Zhongli terdapat pondok pesantren. Saat berkomunikasi dengan saya (sekitar bulan Februari 2019) beliau mengaku jika anaknya selesai mondok dan akan pulang ke Indonesia dalam waktu dekat sehingga menjual beberapa barang. Waktu itu saya adalah calon pembeli stroller yang beliau jual. Kedua, selama menginjakkan kaki di Zhongli, saya melihat ada banyak orang Indonesia dan orang berbahasa daerah (seperti bahasa orang Tegal dan jawa tengah) berseliweran. Ketiga, bahkan di TV kamar hotel pun dipasang tulisan 'channel Indonesia'. Dan yang terakhir, ada banyak sekali toko Indonesia yang berjajar disekitar hotel.

Setelah sholat maghrib (pukul setengah delapan malam), kami menghabiskan malam dengan berjalan-jalan disekitar hotel. Pertama-tama, kami mengisi perut yang sudah sedari tadi keroncongan. Mbak Herza lagi kepingin banget sate sedari berangkat ke Zhongli. Di browsing lah toko Indo yang ada sate nya. Tak jauh dari lokasi hotel, kami 'jalan' sebentar ke tempat tersebut berdasar dari google maps.


Sampailah kami di Toko Indo Cencen. Dari luar--dari balik kaca toko ini, tempatnya terlihat begitu ramai, bukan karena full pengunjung--melainkan full hiasan di dinding. Lampu hias yang dominan berwarna merah membuat toko Indo ini berbeda dengan toko Indo biasanya. Menurut saya, karena lampu hiasnya justru bikin Toko Indo Cencen ini bukan bukan seperti toko Indo melainkan seperti tempat peribadatan orang lokal.

Masuk dan tercenganglah kami melihat suasana toko Indo nya. Dinding toko hampir penuh dengan hiasan-hiasan. Musik yang terputar--alunan seruling--makin membuat kami serasa masuk ke salah satu pusat perbelanjaan oleh-oleh di Bali. Kami segera ambil tempat duduk dan memesan makanan. Sayangnya, mungkin karena sudah malam, makanan yang disediakan di menu sebgaian besar habis dan atau hanya dibikin hari Sabtu-Minggu kala pengunjung mayoritas pekerja dari Asia Tenggara (yang juga kebanyakan Indonesia) menikmati liburan dan makan di Toko Indo Cencen. Jadi kami memesan menu yang masih tersedia.

Pesan disini.

Speechless.

Lucunya, kami berempat nampak sehati memesan menu yang sama : Dua porsi menu Burung Dara untuk mas husband dan mas Saide, dan Dua porsi menu Ayam Bakar untuk saya dan mbak Herza. Lha Kia makan apa? Kia makan semua dong!haha.

Ayam Bakar !

Burung Dara Goreng.

Tak lama, pesanan kami datang. Ayam bakar dulu kemudian Burung dara. Hmmm, Ayam bakarnya ini lho baunya masya allah benar-benar menggoda selera. Ngga pakai lama, kami langsung menyantap makanannya. Kia makan sama saya dan alhamdulillah dia doyan banget. Memang ayam bakarnya enak atau kami semua yang memang kelaparan ya. Bisa nih diulangi ya kalau kesini lagi, pesan Ayam Bakar! Nyamm..



Zhongli Night Market, Mini Night Marketnya Ximending

Toko Indo Cencen tadi tutupnya jam delapan malam. Syukur kami masih kebagian makan di tempat. Beberapa pengunjung dan rombongan yang datang setelah kami akhirnya balik kucing karena dibilang tutup sama laopan nya.

Setelah makan, kami ke pasar malamnya Zhongli yang jaraknya sekitar 700 meter dari hotel. Pasar malam ini berada tepat di seberang Zhongli Station. Uniknya, persimpangan dalam pasar malam Zhongli ini mirip dengan 6 Square Ximending Night Market.


Kami jalan luruuuss ngga ada putusnya, melewati perempatan jalan kecil hingga perempatan jalan besar. Cuci mata di tiap toko fashion, lirik-lirik ke toko aksesoris handphone dan beli jus tepat diperempatan jalan besar. Hingga di rasa kami jalan cukup jauh, kami pun memutar melewati jalan lain menuju hotel. Pulang.





bersambung >>

Tidak ada komentar

Hai. Terima kasih sudah berkunjung.
Bunga mawar mekar di taman. Beri komentar lalu berteman ^^

Diberdayakan oleh Blogger.