My Personal Branding

Aku adalah satu dari sekian perempuan yang berpendapat setuju untuk tidak perlu memakai perhiasan --dalam kesehariannya-- yang kilauannya dapat mengaburkan mata. Dengan kata lain sedari dulu aku tidak terlalu suka memakai perhiasan. Tapi semenjak tahun belakangan aku gemar melihat jemari tanganku yang kurus dan kecil, aku rasa ada yang kurang dari jemariku. Kurang ramai!

Akhir tahun 2013, aku tergerak untuk membeli sebuah cincin yang terbuat dari steel terbaik dikelasnya, tebal dan berat dengan mata kecil tepat ditengahnya, desain yang sederhana namun dinamis. Aku langsung jatuh cinta ketika pertama kali melihatnya di awal tahun 2013 dan baru sanggup membelinya di akhir tahun. Size nya yang besar (karena saat itu di gerai kehabisan stok) memaksaku untuk meletakkannya di jari telunjuk tangan kanan. Dan hingga akhirnya menjadi personal branding diri : Lisa yang memakai cincin tebal di jari telunjuk kanan.


Selama hampir 2 tahun cincin ini selalu menemaniku disetiap kegiatan, seolah-olah jika aku kehilangannya maka habislah aku. Cincin ini tak pernah lepas dan terasa sudah menyatu dengan jari telunjukku. Entah kenapa jika ada orang yang sengaja memegang dan atau mengambil-meminjamnya tanpa ijin, aku jadi marah. Ini milikku! (Haha aku kedonyan banget xD). Aku menjaganya dengan sangat hati-hati, aku rasa cincin ini telah menjadi bagian dari diriku.

Kemudian suatu hari, ibu merasa aku sudah pantas dan harus memakai perhiasan, ibu membuka kotak perhiasannya dan menyuruhku untuk memilih perhiasan mana yang aku suka. Untuk kali pertama aku jatuh hati pada cincin yang terbuat dari emas. Mataku jatuh hati padanya karena modelnya yang kuno dan simple, tidak menyilaukan mata sehingga tidak mengundang orang untuk merampasnya. Selain karena modelnya, sebenarnya dari semua cincin yang aku lihat hanya cincin itu yang pas di jari kecil aku hiks.. Ternyata, cincin ini dipakai ibu ketika masih seumuran denganku, jika tidak salah mengartikan cerita beliau, ini adalah cincin emas pertama beliau. Sayangnya, sebutir berlian yang menjadi inti dari cincin itu hilang. Ibu memusiumkan cincin ini karena tak lagi memiliki mata. Cincin yang kehilangan inti bagaikan kehilangan sebuah keindahan, kata beliau.

Ketika aku menemukan inti yang tepat untuk cincin emas ini, ibu membuat aku berjanji untuk tetap terus memakainya, ya harus dan jangan pernah dilepas. Baiklah bu.. Aku meletakkan cincin itu di jari tengah tangan kiri. Kini aku memiliki 2 barang berharga yang melekat dibadan. Cincin steel dan cincin emas.

Hingga suatu hari aku memberikan cincin steel ini pada seseorang yang istimewa, karena dia sering mengambilnya dariku dan kemudian memakainya. Dengan pertimbangan yang teramat sangat lama, akhirnya aku bisa mengikhlaskan cincin ini menjadi milik orang lain. Walau sudah ikhlas, aku merasa ada yang hilang dari jariku. Lalu aku mencari duplikat dari cincin itu di semua gerai, brand yang sama. Sayangnya, bentuk cincin produksi terbaru (model yang sama) tak lagi sama seperti bentuk lamanya. Dengan model yang sama, ukuran cincin berubah menjadi tipis dan ringan, tak lagi terlihat berkualitas. Kini cincin kesayanganku itu berada di Taiwan dan menjadi barang limited.

Tangan kananku terlihat kecil dan kurus karena tak ada benda yang membuatnya ramai. Karena aku tak suka yang ramai-ramai menghiasi tangan, akhirnya setelah lima bulan lamanya, aku membeli cincin lagi dengan desain simpel dan terbuat dari steel. Mengapa lagi-lagi steel? Karena cincin berbahan steel tidak bisa kotor dan menghitam, istilahnya awet ditangan. Menurut penilaianku, bahan steel hampir mirip kekokohannya dengan bahan paladium. Sayang harga bahan paladium itu mihil sekaaalii, cocoknya untuk cincin pernikahan (kan aku masih single pak!). Kuputuskan memilih cincin bahan steel ajah, harganya pun tidak menguras dompet. Desain dan kemilaunya pun telah memberi kesan ini bukan cincin murahan.

My personal branding part 2


Well, ini personal branding aku, bagaimana dengan kamu?



Tidak ada komentar

Posting Komentar

Segitu dulu cerita kali ini. Terima kasih temans membaca artikel ini sampai akhir. Semoga bermanfaat.
Saya sangat ingin mendengar komentar temans setelah membaca. Silahkan, temans bebas berkomentar apa saja namun harap tetap menjaga kesopanan.
Sayang sekali komentar dengan subjek Anonymous akan terhapus otomatis, jadi mohon kesediaannya untuk memberi nama asli ya.
Terima kasih ^^.
Love, Lisa.