Header Ads

Mengenang Kembali Keberhasilan Nelayan Greges Surabaya

Membaca judul artikel "Budidaya Perairan Indonesia menjadi Rujukan Dunia" yang dimuat pada website Suara Surabaya dimana artikel tersebut berisi tentang keberhasilan budidaya ikan kerapu cantang sistem KJA (Keramba Jaring Apung) di pantai utara Jawa, memotivasi saya untuk menulis kembali tentang budidaya ikan kerapu cantang sistem KJA yang dirintis oleh nelayan Greges.


Mengikuti perkembangan dari perbaikan keramba, pemberantasan penyakit hingga panen ikan yang dilakukan oleh nelayan Greges Surabaya mematahkan praduga saya akan ketidakberhasilan budidaya ini di wilayah Surabaya. Bagaimana tidak, jika dilihat dari kondisi perairan, letak dari budidaya KJA ini berdekatan dengan galangan kapal dan aktivitas kapal-kapal besar yang lalu lalang di dermaga Teluk Lamong, dimana semua aktivitas tersebut menghasilkan limbah yang luar biasa mencemari perairan. Namun bapak Toha, ketua nelayan Greges tetap gigih memperjuangkan rintisan budidaya ini. Alasan beliau adalah untuk mensejahterakan nelayan Greges yang tiap tahunnya berprofesi mencari ikan di Teluk Lamong.

Berkurangnya hasil ikan di perairan akibat aktivitas laut, kurangnya penanaman mangrove dan hasil tangkapan yang bergantung musim membuat kurang lebih 270 kepala keluarga yang bermata pencaharian sebagai nelayan di Greges berkurang kesejahteraannya. "Tidak ada yang peduli terhadap kerusakan pesisir pantai utara Surabaya", keluh beliau.

Namun keberhasilan Pak Toha dan rekan-rekan dalam membudidayakan ikan kerapu cantang sistem KJA menjadi bukti bahwa perairan di pesisir pantai utara Surabaya memiliki potensi untuk mengembangkan budidaya sistem KJA. Tentunya tidak serta merta keberhasilan muncul begitu saja, ada saja kendala yang dialami oleh nelayan. Yah, namanya hidup kan, jika tak ada masalah, bagai sayur kurang garam #ellho.

~oOo~

Akhir tahun 2013 menjadi awal mula rintisan budidaya ikan kerapu cantang sistem KJA oleh salah satu nelayan Greges. Walaupun bantuan dana dari dinas perikanan dan kelautan kota Surabaya yang hanya cukup untuk membeli bibit ikan, pak Toha membangun sendiri kerambanya dengan modal sendiri. Pak Toha yang terkenal dengan pemerhati lingkungan mangrove di wilayah Teluk Lamong ini memiliki harapan besar untuk membangun perairan Greges sebagai wilayah budidaya ikan. "Saya hanya modal nekat mbak, wes bismillah lah waktu itu...", kata Pak Toha.

Namun pembangunan keramba yang sudah hampir mencapai sempurna dan bibit ikan yang telah ditebar pada akhirnya tidak beroperasi kembali dikarenakan faktor cuaca, tidak adanya penjagaan dan minimnya modal untuk pakan ikan. Tidak adanya sosialisasi dan pendampingan secara kontinyu juga menjadi faktor gagalnya budidaya ini. Ikan kerapu cantang yang telah ditebar, dibiarkan tanpa pemeliharaan. Keramba yang telah berdiri kokoh menjadi rapuh karena tidak ada perawatan berkala.

Pak Toha bercerita (sekitar akhir Oktober 2014) ingin membangun kembali budidaya KJA, beliau sangat yakin kali ini akan berhasil karena tidak perlu khawatir dengan pakan. Ikan rucah di alam sangat melimpah dan bisa dijadikan sumber pakan ikan di keramba. Selang dua minggu beliau kembali bersemangat untuk membangun kembali keramba. Saya diminta untuk datang meninjau dan memberikan saran. Padahal saya tidak yakin dan tidak percaya diri apakah rekan-rekan nelayan mau mendengarkan kalimat mahasiswi seperti saya.

12 November 2014
Ternyata diluar dugaan, ketika baru tiba di Greges, saya dikagetkan dengan rasa antusias rekan-rekan nelayan akan pembangunan keramba ini. Saya jadi ikut bersemangat dan positif akan keberhasilan budidaya ini. Inilah alasan mengapa saya sangat suka dengan orang lapangan, karena mereka tidak suka birokrasi yang njelimet, serta mereka lebih mengutamakan aksi daripada adu pendapat.

Kami pergi ke keramba dengan perahu yang dikemudikan oleh anak sulung pak Toha. Sementara Pak Toha dan Pak Saedun sudah menunggu di keramba sedari jam 6 pagi. "Persiapan lah aku wek, ono wong ayu nang laut", kata beliau lewat telepon, ha ha ha bapak ada-ada saja. Pak Toha memanggil saya "cewek" jika tidak sedang dalam diskusi serius dan memanggil "mbak" kalau sedang berada dalam diskusi serius. Kebetulan pagi itu sekitar jam 8 langit tertutup kabut dan laut sedang surut. Banyak burung yang beterbangan mencari sarapan dan mendapat keuntungan dari laut yang surut.

Tempat saya boatleg

Setelah sampai di keramba, saya mendadak boatleg. Kaki sama sekali tidak bisa bergerak sejak pertama kali menginjak kayu-kayu keramba. Tapi kalau begini terus, gimana bisa melangkah sampai ke pendopo tengah, masa harus berdiri terus ditepi keramba. Akhirnya, dengan merangkak, saya bergerak perlahan menuju pendopo tengah keramba. Semua laki-laki disana tertawa kencang. Ha ha ha. Biarlah diketawain, yang penting saya bisa berjalan sendiri. Saya adalah perempuan paling ganteng disana.




Sembari Pak Toha, Pak Saedun dan anak sulung pak Toha menata dan memperkuat keramba dengan tambahan kayu,, kami berbincang-bincang.


Setelah selesai memasang batu pemberat, jaring dan drum baru,, pak Toha menunjukkan ikan kerapu cantang dan ikan kerapu lumpur yang masih ada dalam jaring ketika keramba terbengkalai hampir setahun lamanya. Ikan-ikan tersebut besar, sehat dan siap di panen, mengingat jarak pemeliharaan ikan kerapu dari bibit hingga pemanenan menurut jurnal adalah 8-10 bulan.


Ikan kerapu cantang dan ikan kerapu lumpur dapat tumbuh besar dalam jaring keramba walau tidak dipelihara, menandakan nutrisi yang terkandung di perairan cukup baik dan makanan yang tersedia melimpah. Kurang lebih 50-60 ekor ikan yang tidak lolos dari jaring dan hidup berkembang dalam keramba.

Matahari kian meninggi, pak Toha meminta kami untuk segera pulang, alasannya agar kulit saya tidak gosong ha ha. Kebetulan saya pun ingin berpamitan karena sore ini ada les bahasa Inggris. Dengan diantar anak sulung pak Toha kami menuju daratan.

Ini adalah KJA sederhana yang dibangun oleh pak Toha dan rekan

Titik lokasi yang tertera pada GPS


09 Desember 2014
Kurang lebih satu bulan kemudian saya "nyambangi" KJA milik pak Toha. Kali ini beliau menyarankan untuk datang sore hari, pas dengan waktu makan sore.

Sesampainya dirumah bapak, pak Toha bercerita tentang ikan-ikannya yang baru tiga minggu ditebar, "...ikan-ikannya itu rakus mbak, saya sampe kewalahan. Wes sekarang tak giniin ae, makan pagi sama makan sore...". Wow, bagaimana tidak rakus, 2500 ekor bibit ikan kerapu cantang yang semuanya selalu lapar.

Setelah ashar, kami berangkat ke tengah laut sambil membawa ikan rucah sisa tadi pagi. Angin sore lebih kencang dari angin pagi. Deburan ombak yang keras telah membuat saya basah kuyup sebelum sampai tempatnya. Hihihi. Resiko orang lapangan. Sepanjang perjalanan, kami berangkat ditemani oleh ikan-ikan yang meloncat-loncat di kanan-kiri kapal. Membuktikan bahwa nutrisi perairan Greges cukup baik dan makanan yang tersedia begitu melimpah, seperti yang dikatakan pak Toha.

Kelincahan bibit ikan yang baru ditebar

Ikan kerapu berukuran besar pun tak kalah lincah

Dahsyat, bayi-bayi ikan kerapu cantang menghabiskan makanan sebanyak ini...

Pakan ikan kerapu cantang berupa ikan rucah, ikan sebelah, udang dan ikan kecil hasil tangkapan alam

Ambil ikan kerapu cantang secara acak untuk diukur panjangnya

Ikan kerapu cantang berumur satu bulan

Perjalanan kali ini sedikit berbeda, karena pak Toha mengajak untuk melihat KJA tepat di sebelah barat KJA pak Toha. KJA ini diketuai oleh bapak Amin.



Ikan yang ditebar adalah ikan kerapu cantang, satu hatchery dengan bibit ikan kerapu cantang yang ditebar pada KJA pak Toha. Konstruksi keramba terlihat sedikit lebih ringan dan rawan terbawa angin.


Namanya juga marine blogger, boleh lah ya sedikit narsis :p

Pertumbuhan ikan disini lebih cepat dibanding pertumbuhan ikan KJA bapak. Kemungkinan karena nutrisi pada lokasi dan atau ketelatenan penjaga dalam memberi pakan.
Setelah puas berkeliling dan berdiskusi dengan penjaga keramba, kami langsung segera pulang, karena hari pun mulai gelap.


13 Januari 2015
Awal bulan ini menjadi awal bulan sekaligus awal tahun yang menyedihkan. Bagaimana tidak, ikan kerapu cantang yang baru dipelihara dan tumbuh gemuk kini terkena penyakit. "Awalnya hanya satu dua ekor mbak yang ada putih-putihnya, tapi tiga hari kemudian kayak merantak gitu. Semuanya kena. Mati satu satu, lalu mati banyak..."

Sebagian ikan kerapu cantang yang mati diletakkan diatas pendopo - sebagai bukti yang disampaikan pak Toha agar saya percaya

Beliau menduga kematian ikan diakibatkan aktivitas dari kapal Pelindo 3 di dekat perairan dangkal yang sedang membuang lumpur beberapa hari sebelum terjadi kematian massal.
Bisa jadi, akibatnya terjadi turbulensi lumpur dan air, ditambah dengan adanya angin darat dan angin laut mengakibatkan lumpur yang teraduk menuju keramba. Sebenarnya kepadatan populasi ikan juga ikut mempengaruhi. Adanya tabrakan antara lumpur yang teraduk dengan habitat ikan membuat ikan bergerak tidak beraturan karena panik. Dari gerakan yang tidak beraturan inilah menimbulkan gesekan antar ikan dan menyebabkan luka. Bakteri oportunistik juga berperan sebagai penyebab kematian. Karena pada tubuh ikan terdapat luka gesekan dan bintik putih. Bakteri oportunistik akan berkembang biak ketika lingkungan dalam kondisi yang jelek dan aktivitas ikan meninggi.

Ikan yang terkena bakteri, baik infeksi primer maupun sekunder dapat mengakibatkan stres. Ikan yang stres akan berenang menjauh dari kelompok, berenang ke permukaan, dan berenang terbalik. Ikan akan mengeluarkan mucus (lendir) secara berlebih hingga masa post mortem. Pada ikan kerapu cantang ikan yang terkena penyakit terdapat tanda tidak normal pada kulit, insang tidak berwarna merah segar dan lidah berwarna putih pucat kecoklatan.

Ikan kerapu cantang yang sakit berenang dipermukaan dan menjauhi kelompoknya

Mucus yang keluar secara berlebihan

Tanda abnormal pada kulit

Ikan yang sakit juga dilihat dari warna insang yang pucat dan bentuk insang yang tidak kokoh (lembek)

Warna pada lidah dapat menjadi salah satu indikator bahwa ikan mengalami sakit yang parah

Ikan yang berenang dipermukaan (gambar sebelumnya) ketika dimasukkan dalam plastik menjadi berenang terbalik, tanda ikan sekarat

Dari jumlah keseluruhan ikan kerapu cantang (baru tebar) yang mati adalah hampir separuh dari jumlah awal. Sementara untuk ikan kerapu yang berumur hampir 2 tahun tidak mengalami kematian. Pak Toha pun juga bercerita bahwa angka kematian ikan kerapu cantang milik pak Amin lebih tinggi dibanding dengan angka kematian ikan kerapu cantang miliknya. Harapan beliau adalah ada solusi dari dinas perikanan kota, sudah menunggu lama tetapi tidak ada tanggapan.

Setelah membaca beberapa jurnal cara mengatasi penyakit, saya berdiskusi dengan pak Toha. Saya tidak ingin menggunakan antibiotik karena saya berharap untuk prospek ekspor kedepannya ikan kerapu cantang nelayan Greges dapat mengantongi ijin memasuki wilayah negara asing karena dibudidayakan secara alami (tanpa penggunaan antibiotik, dimana antibiotik yang teresidu dan menumpuk dalam daging ikan berdampak negatif jika dikonsumsi manusia).
Air keramba yang terus berganti setiap hari akan mengurangi efek pemberian obat, oleh karena itu pemberian obat dengan cara menyebar keperairan tidak dipergunakan.
Pemberian obat secara langsung (dengan injeksi) juga tidak efektif dalam mengobati ikan yang terkena penyakit. Jumlah ikan terlalu banyak untuk diinjeksi satu persatu.
Solusi terakhir adalah pemberian obat melalui pakan. Obat diganti dengan vitamin C murni 500mg yang dicampur dengan pakan.

Vitamin C menguatkan sistem imun dalam tubuh ikan kerapu cantang. Sehingga ikan tidak akan mudah stres dan colaps jika berada dalam lingkungan perairan yang buruk dan terinfeksi penyakit.

Dan alhamdulillah, selang satu minggu pemberian, kematian ikan kerapu cantang berkurang menjadi 0%.


16 Juni 2015
Hari yang ditunggu telah tiba. Panen ikan kerapu cantang. Dua keramba milik nelayan Greges telah dipanen seminggu yang lalu. Dan hari ini adalah waktu dimana pemanenan ikan kerapu yang dipelihara pak Toha kurang lebih 7 bulan. Beberapa orang dinas perikanan dan kelautan kota Surabaya ikut dalam perjalanan ke KJA. Yuk, diintip saja beberapa fotonya...


"Akhirnyaaa, panen juga!!" Pose Pak Toha diantara karyawan DKP Surabaya

Woooww. Dagingnya tebaaall


Dan saya pun ditantang berpose memegang ikan paling besar oleh bapak DKP yang mengambil gambar ini

Pak Toha berkata, "Woh, ini cewek perkasa pak, tantangan segitu mah kecil" wkwkwk

Bapak yang pake seragam ini lho daritadi foto mulu tapi ga bantuin ambil ikan wkwk

Kalau dijual, laku berapa ya ini?


~oOo~


Kegigihan nelayan Greges dalam merintis budidaya ikan kerapu cantang sistem KJA di pesisir pantai utara Surabaya ini patut diacungi jempol. Keberhasilan yang mereka terima harusnya sepadan dengan apa yang mereka usahakan. Karena kesejahteraan nelayan patut diperhitungkan kembali. Usaha mereka dalam mencari makan dari laut tidak pantas terganggu akibat aktivitas kapal yang kini juga telah merugikan ekosistem perairan dan ekosistem pesisir pantai.

Telah diketahui bahwa perairan teluk lamong adalah perairan yang kaya nutrien dengan hasil tangkapan melimpah ditiap musimnya. Tidak ada hambatan dari alam dalam pendirian kembali budidaya ini. Alangkah baiknya, budidaya ikan kerapu cantang sistem KJA dilanjutkan kembali dan perlu diadakannya sosialisasi secara kontinyu oleh dinas terkait. Bukan hanya memberi modal lalu melepas tangan dan muncul ketika panen.

*
Ekosistem pesisir yang baik akan menjadi daya tarik ikan dan hewan potensial lainnya untuk hidup dan tinggal. Hal ini akan memberi keuntungan oleh nelayan dalam mencari ikan. Selain itu mangrove yang berdiri kokoh ditepi pantai, akan melindungi daratan dari serangan ombak dan pengkikisan oleh air laut. Semua akan indah dan berjalan seimbang jika kita mau peduli akan lingkungan kita dan mengesampingkan menebalkan rekening pribadi.
*

Tertarik untuk berdiskusi tentang ini?
Monggo silahkan kontak saya di lisa.maulida9@gmail.com

Tidak ada komentar

Hai. Terima kasih sudah berkunjung.
Bunga mawar mekar di taman. Beri komentar lalu berteman ^^

Diberdayakan oleh Blogger.