Salah Kereta, Mbak TKI, dan Jiufen di Malam Hari

Ini perdana Meilin jalan-jalan jauh!

Hari ini hawa summer turun beberapa derajat karena hujan turun seharian beberapa hari kebelakang dan kebetulan hari ini cuaca pun cerah. Diputuskanlah main agak jauhan karena boszan sama suasana gedung-gedung Taipei. Awalnya mau main ke area pantai di Keelung, mau naik log car manual (log car yang digowes) sambil menikmati suasana pantai dan gunung. Namun karena untuk pengurangan penyebaran covid, wisatanya ditutup selama beberapa bulan dan kembali buka besok lusa alias dua hari lagi. Kan ingin menangis tertawa jadinya, kembali buka koq ya pas bukan hari libur kami.

Walau tempat wisata yang ingin dituju tutup, jalan-jalan ENGGA BOLE BATAL dong. Belok lah rencana menjadi ke Jiufen (via Ruifang Station).

 

Baik menuju ke Keelung Station maupun Ruifang Station, bisa ditempuh dengan kereta TRA. Tiketnya bisa dibeli melalui website Taiwan Railways atau di mesin tiket di stasiun TRA. Kebetulan rumah kami dekat stasiun TRA, jadi terbiasa kalau bepergian ke luar Taipei sukanya beli tiket on the spot.

 

Judulnya nekat salah pilih kereta!

Kereta menjadi moda transportasi utama di Taiwan bagi kami kalau mau kemana-mana. Jalurnya dan jadwalnya tetap, aman dan nyaman banget. Seringnya kalau jalan-jalan dalam kota kami lebih pilih naik MRT daripada bus. Alasannya dua : saya mabok naik bus dan saya bawa stroller. Even pak supir bus menawarkan untuk menurunkan suspensi busnya ketika melihat saya nenteng #SingkekKriwul dan bawa stroller yang isinya #SingkekLurus saat akan naik busnya, kadang juga dibantuin orang lokal buat naik bus, tapi kembali ke alasan nomor satu. Kalau ngga kepepet ya ngga naik bus haha.

Kalau kereta MRT melayani penumpang dalam kota Taipei dan New Taipei saja, plus jalur keretanya yang kebanyakan berada underground dan upperground. Kalau TRA melayani penumpang luar kota, dari Taipei menuju ke Kaohsiung (selatan Taiwan) melalui pantai barat kemudian berlanjut kembali ke Taipei melalui pantai Timur. Apa bedanya lagi sama kereta HSR? HSR ini kereta super exclusive, kereta cepatnya Taiwan yang jalur keretanya dari Taipei ke Kaohsiung hanya di pantai timur saja. Horang-horang lokal Taiwan suka serba cepat, that's why diciptakan HSR.

Menuju ke Jiufen, kami naik kereta TRA. Kereta TRA ini banyak macamnya, ada yang lokal dan ada yang express. Kereta lokal bernomor punggung 4digit berhenti ditiap stasiun yang dilalui. Sementara kereta yang express bernomor punggung 3digit berhenti hanya dibeberapa stasiun saja. Pengalaman-pengalaman sebelumnya, saat main ke daerah timur Taiwan, kami memilih local train pulang pergi dan sejatinya bikin capek lan mumet dijalan. Kali ini kami ingin memilih kereta express. Sayangnya saat di Banqiao Station, pilihan kereta on the spot yang kami beli di mesin tiket dekat pintu gerbang TRA hanya ada opsi local train. Huft.

Sesampainya di platform kereta, tolah toleh, lha koq kami turun di platform Southbound wakakak. Salah pak-lek, seharusnya naik kereta di platform Northbound. Kami naik lagi keatas dan berlari ke arah seberangnya. Buru-buru sih masuk elevator sampai ngga lihat tulisan platform segede gambreng gitu. Untung ngga nekat, kalo nekat pasti kami sudah dibawa kereta menuju Kaohsiung wkwk.

Sampai di platform Northbound, kami berhenti sejenak untuk melihat layar yang menampilkan jadwal keberangkatan kereta. Ngga bisa baca huruf Zhongwen, kami hanya melihat digit angka kereta dan tujuannya. Pun ditiket kami ngga ada tulisan nomor kereta ato jam keberangkatan, yang bisa dimengerti cuman tulisan 'local train'. Disinilah ide nekat mas husband muncul!

See, sepanjang perjalanan ini gerbong ya ngga pernah penuh

 

Jujur saya ngga setuju banget ya, hati terasa galau tapi males gitu ngedebat cowo satu ini (padahal dulu jaman pacaran saya juara kalo debat sama dia wkwk--pas uda punya anak jadi males gitu--lihat yang udah udah saya muzti ada benarnya, coba aja liat kali ini). Kami menunggu kereta 3digit Northbound, selang 25menit lamanya.

Sudah masuk kereta 3digit dan sepanjang perjalanan perasaan waswas menghantui, kalau kalau ada penumpang yang mengklaim tempat duduk yang kami tempati, kami sudah siap pindah. Jadi tiap stasiun berhenti, kami resah wkwkwk, resah kalau ketahuan ini bukan tempat duduk kami lalu disuruh pindah. Mas husband meyakinkan, "Aku berani gini soalnya ngga banyak penumpang bu, coba rame ya ngga berani", sambil cengengesan.

Underground, kereta kami melaju dengan cepat, berhenti di Taipei Main Station kemudian Songshan. Ular besi ini naik ke permukaan setelah keluar dari area Songshan Station. Menuju ke timur dan berhenti di Xidu Station kemudian Badu Station. Selanjutnya ke Ruifang Station, tempat kami turun kereta. Pemandangan yang disuguhkan berubah bergantian dari yang hanya gelap--dinding lorong bawah tanah lalu saat naik ke permukaan terlihat kepadatan gedung-gedung pemukiman, lalu gedung-gedung pabrik, lalu hijaunya pepohonan dan sawah.

Turun di Ruifang saya merasakan kelegaan, alhamdulillah ngga ketahuan atau mungkin disuruh turun kereta karena naik kereta yang tidak seharusnya (pliss saya sarankan untuk tidak meniru ini yaa plisss). Keluar platform, kami disuruh meletakkan tiket kereta di tempat yang disediakan. Mas husband sambil menggandeng Kia keluar duluan, saya sambil mendorong stroller (yang isinya #SingkekLurus tidur) menyusul dari belakang.

Tiba-tiba seorang petugas perempuan keluar dari kantornya (persis diseberang tempat meletakkan tiket) mencegat saya dan mengatakan sesuatu dengan bahasa Zhongwen. Perasaan saya mendadak ngga enak.

"Ni ke yi ingwen ma?", tanya saya. "Ah, you just take the Yang Tze train? But your ticket say it's supposed to be local train?". "Oh I'm sorry, we don't know about that, the ticket doesn't tell us about the number of the train so we just took random train, really sorry..."

Saya melirik mas husband yang berbalik kemudian berjalan menuju kami--lalu terhalang oleh pintu platform. Mereka menunggu dari balik pintu.

Kena deh~

 

"So you have to pay the rest of the fee, is it okay?", tanya petugas tadi. "Ya ya of course, please, we were wrong". "It takes sixty six both of the ticket", kata dia setelah menunjukkan kalkulator. Tanpa banyak bicara saya langsung mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang. Setelah diterima, saya meminta maaf lagi kemudian bergegas pergi. Untuuuunggg ngga rame yaaa, kalau rame, malu atuuhhh xD.


Ketemu mbak TKI yang sama ditempat yang sama

Ini kali kedua kami ke Jiufen. Pertamanya ditahun 2019 dan sejatinya kurang menikmati suasananya karena berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Kali ini suasananya sepi dan enak banget gitu "dibuat healing" wkwk.

Di salah satu toko dekat pintu masuk kawasan Jiufen Night Market, saya teringat pernah bertemu dengan seorang mbak TKI. Sayangnya saya lupa wajah dan namanya wakakak payah nih ingatan ibu dua anak. Kira-kira ketemu lagi ndak ya? Dan kalau ketemu, kira-kira sama-sama ingat ngga yaaa?

Kami masuk kawasan night market, celingak celinguk kanan kiri dan yak bertemu lagi sama mbak tersebut. Kami berbincang akrab sejenak, dan Kia dikasih eskrim yummy! Kami kasih uang ngga boleh, masya allah baik banget mbaknya... Kebaikan akan selalu kembali ke yang melakukan.


Main sampai malam di Jiufen. Nginap? Pinginnya...

Sebenernya ngga ada niatan kami main sampai malam. Tapi pemandangannya yang mencegah kami untuk pulang.



Suasana sepi gini agak mencekam terasa saat hari mulai gelap. Toko-toko bergantian tutup seiring dengan sepinya pengunjung. Lalu mas husband tertarik masuk ke salah satu kedai di Jiufen dalam. Terlihat ada beberapa pengunjung yang sedang menikmati hidangan sore diserambi yang terhubung langsung dengan tebing Jiufen. Tebing Jiufen???

 Inginnya pegangan disitu kek orang sebelah, tapi ngefoto gini aja uda bikin kaki gemeteran..

 

Ini yang dipengen mas husband : makan ditebing Jiufen. Walau berada diserambi rumah orang dan ada pagar pembatas, tetep diri ini ada rasa takut aja. Apa karena uda jadi Ibu dua anak ya, banyak khawatirnya. Padahal dulu bahkan diri ini sering naik turun gunung dan nyelam di laut, ya leluasa banget ngga ada rasa waswas sama sekali,, namun kini banyak takutnya...hiks.

Pesan apa ya? Waffle, mango juice, iced coffee dan pistachio nuts.



Satu persatu pesanan datang, mari dinikmati sambil menyaksikan matahari tenggelam yang ketutupan kabut. Kabut yang datang hampir menutupi pandangan kami! Yang diinginkan kabut membawa udara sejuk, nyatanya hawanya makin sumuk ya allah... Ngga ada angin segar sama sekali lho, gini amat summer ya... Alhamdulillah sehat berkeringattt.. Beruntung pemilik kedai langsung memasang kipas angin saat kami baru duduk. Jadi lumayan lah, lumayan...

 Meilin, senyum dikit donk kek kakak... Pliss ini foto keluarga wkwk.

 

Makanan kami habis dan Meilin mulai fussy--alarm minta pulang. Mas husband bergegas membayar makanan dan mampir ke kamar mandi. Amma (panggilan untuk seorang perempuan lanjut usia dan berkeluarga, kalau kita biasa panggil nenek) pemilik kedai nampak senang melihat Kia dan Meilin. Saat Meilin ganti popok distrollernya, beliau nungguin dooonkkk. Mau ngusir tapi ini kedai dia, dibiarin juga ngga nyaman gitu diliatin terus Meilinnya. Udah saya bismillah aja cuek dan cepat-cepat beresin ganti popoknya. Sudah beres, beliau menawarkan untuk membuangkan popoknya. Masya allah, saya antara setengah ngga rela dan setengah terperangah emejing (mengingat kebanyakan orang lokal tak suka anak kecil).

Keluar kedai, gelap gulita teman-teman. Jalanan Jiufen uda mirip jalanan yang kayak difilm-film vampir gitu : hanya ada lampion-lampion berwarna merah yang menerangi. Mana rintik hujan mulai turun, kami terang mempercepat langkah kaki menuju pintu night market. Pulang deh ke Surabaya, eh Banqiao via stasiun Ruifang.


Walau jalan-jalan lumayan jauh, Meilin bisa dikondisikan. Asal perut dia kenyang dan ngga brenti lama, dia bakal anteng wkwkwk. Alhamdulillah. Yuukk ayy, biasain Meilin jalan-jalan jauh yuk hehe #colekmashusband.


Artikel ini spesial pake telor karena ada video yutub ke Jiufen yang dibikin mas husband. Abis baca artikel lalu lihat video, semoga bisa memanjakan mata dan imajinasi teman-teman ya. Selamat menonton ^^.


 

 

 

 

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Segitu dulu cerita kali ini. Terima kasih temans membaca artikel ini sampai akhir. Semoga bermanfaat.
Saya sangat ingin mendengar komentar temans setelah membaca. Silahkan, temans bebas berkomentar apa saja namun harap tetap menjaga kesopanan.
Sayang sekali komentar dengan subjek Anonymous akan terhapus otomatis, jadi mohon kesediaannya untuk memberi nama asli ya.
Terima kasih ^^.
Love, Lisa.