Header Ads

Kenalan dengan Ikan Tuna dan Olahan Masakan Khas Sulawesi Utara, yuk!

Kekayaan ragam Indonesia terutama dibidang kelautan begitu banyaknya jika kita mau menilik lebih dalam. Ditinjau dari sebuah buku tentang penangkapan ikan, potensi produksi perikanan laut Indonesia mencapai 47 juta ton/tahun. Selain karena wilayah laut yang begitu luas, Indonesia berada di wilayah beriklim tropis sehingga spesies ikan laut dan spesies non ikan yang hidup di perairan Indonesia memiliki jenis yang beragam juga bernilai ekonomis tinggi di pasar dunia.


Adanya peningkatan laju pertumbuhan penduduk dunia menuntut peningkatan produksi perikanan pula dan hal tersebut juga berdampak pada peningkatan produksi dan daya konsumsi ikan masyarakat Indonesia. Hmm.. Tidak percaya?

Berdasarkan laporan FAO (2012), pada tahun 2007 populasi dunia diperkirakan mencapai 6,7 miliar jiwa dan tingkat penyediaan ikan untuk dikonsumsi sebesar 17,6 kg/kapita/tahun, dan pada tahun 2011 jumlah penduduk dunia mencapai 7 miliar jiwa dengan tingkat penyediaan ikan untuk konsumsi dunia sebesar 18,8 kg/kapita/tahun. Sementara pada laporan KKP (2013) menyebutkan bahwa pada tahun 2007 penyediaan komoditas ikan konsumsi sebesar 28,28 kg/kapita/tahun dan pada tahun 2011 penyediaan ikan meningkat yakni sebanyak 36,98/kg/kapita/tahun. Oleh sebab itu peneliti berasumsi peningkatan daya konsumsi perikanan dunia juga mempengaruhi peningkatan produksi dan konsumsi ikan di Indonesia.

Tetapi mengapa masyarakat semakin memilih komoditas perikanan untuk dikonsumsi? Usut punya usut ada lima alasan yang menjadi faktor peningkatan kebutuhan ikan konsumsi didunia yaitu meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan meningkatnya pendapatan masyarakat dunia dan meningkatnya kualitas hidup, meningkatnya kualitas hidup yang diikuti dengan bergesernya komposisi makanan berpola red meat (daging sapi; kambing dan babi) ke komposisi makanan berpola white meat (daging ikan) yang rendah kolesterol, makin sibuknya masyarakat dunia sehingga membutuhkan makanan cepat saji yang sehat, dampak globalisasi menuntut komoditas perikanan menjadi alternatif komoditas makanan yang dapat diterima secara internasional, dan ketakutan penduduk akan penularan penyakit dari hewan ternak dan unggas sehingga mereka beralih untuk mengkonsumsi ikan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang beruntung menjadi tempat migrasi ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Adalah ikan Tuna yang hidupnya bergerombol dan sering berpindah tempat (migrasi), merupakan salah satu komoditas utama perikanan Indonesia. Dalam pengolahannya, selain di ekspor dengan pasar utama negara Jepang, ikan Tuna juga dikonsumsi penduduk sendiri. Minahasa Sulawesi Utara dikelilingi oleh lautan pasifik yang hangat dimana tempat ikan Tuna singgah dari migrasinya. Minahasa pun kaya akan ragam kuliner olahan hasil lautnya. Tak khayal Minahasa menjadi destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri.

Ikan Tuna - Sumber : antaranews.com
Saya teringat, sang Ibu sering membuat masakan khas Sulawesi Utara dengan bahan dasar Ikan Tuna ketika di Surabaya. Sang Ibu mendapatkan resep tersebut dari ‘embak’. Embak adalah perempuan yang mengasuh saya saat masih balita. Kampung halaman beliau berada di Sulawesi Utara. Ketika saya teringat masakan itu, membuat saya lapar dan senang mengenang rasanya. Saat ibu pulang dari Malang, saya meminta resep dan ingin bisa mempraktekkannya dirumah. Resep tersebut akan saya bagikan untuk temans.

Resep tersebut diberi nama Sambal Goreng Tuna Kemangi dan Jagung Manis. Bahan dan Cara pengolahannya sebagai berikut.

Bahan :
4 siung Bawang merah
4 siung Bawang putih
2 buah Lombok merah
2 buah Lombok hijau
6 buah Lombok kecil
1 buah Laos kecil dipotong kecil
2 buah Jagung manis, dipreteli
1 ekor Ikan Tuna ukuran sedang, dipotong memanjang, goreng sebentar
3 ikat Daun Kemangi
65 ml Santan siap pakai
600 ml air matang
1 sdt garam
1 sdm gula

Cara Membuat :
1. Tumis bawang, lombok dan laos sampai harum.
2. Beri air dan tunggu hingga mendidih.
3. Beri garam dan gula, aduk perlahan.
4. Masukkan potongan ikan tuna, biarkan mendidih.
5. Masukkan pretelan jagung manis, biarkan mendidih.
6. Masukkan santan, aduk agar santan tidak pecah.
7. Aduk terus hingga tongkol dan jagung manis matang.
8. Masukkan daun kemangi dan aduk sebentar, biarkan daun kemangi meresap kuahnya.
9. Sambal goreng tuna, kemangi dan jagung manis siap disajikan.

Hmmm, sayangnya hanya bisa membayangkan karena masakan sang Ibu belum pernah saya foto (tidak sempat difoto karena baru sadar ingin saya foto tapi makanannya sudah habis duluan). Saya pernah mempraktekkan masakan ini kali pertama dan kali kedua, namun rasanya tak pernah seenak rasa masakan yang dibuat oleh sang Ibu. Ah sudahlah.

Beberapa ilmuwan menyimpulkan bahwa mengkonsumsi ikan dapat melindungi manusia dari berbagai penyakit yang disebabkan karena perubahan gaya hidup manusia diberbagai negara industri di dunia.

Saya sangat menyukai masakan berbahan dasar ikan, mengapa, karena nilai gizi yang terkandung didalamnya begitu banyak. Ikan dan biota non ikan memiliki kadar protein dan kandungan lemak omega-3 yang tinggi sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Ikan Tuna memiliki kadar protein lebih tinggi dibanding dengan ikan Salmon dan ikan Kakap (dengan prosentasi 20,9% untuk ikan Tuna, 20,6% untuk ikan Salmon dan 20,0% untuk ikan Kakap). Fungsi protein untuk tubuh antara lain sebagai pembangun struktur utama dalam sel, enzim dalam membran; hormon; dan reseptor. Dilihat dari sisi nutrisi, protein merupakan sumber energi dan asam amino, yang penting untuk pertumbuhan dan perbaikan sel.

Ibu hamil disarankan untuk sering mengkonsumsi ikan Tuna, sebab ikan Tuna memiliki kandungan lemak omega-3 28 kali lebih banyak dibanding ikan air tawar. Salah satu komponen dari omega-3 adalah DHA (dekosaheksaenoat acid) yang berfungsi untuk mengaktifkan sel-sel dalam otak, sehingga dapat meningkatkan kecerdasan otak. Ibu hamil yang rutin mengkonsumsi ikan selama masa kehamilan telah berinvestasi terhadap kecerdasan otak bayinya.

Tak hanya ibu hamil,, orang lanjut usia, orang dewasa, remaja dan anak-anak pun disarankan untuk mengkonsumsi ikan Tuna minimal 30 gram sehari karena kandungan kimia dari ikan Tuna berperan penting untuk mengaktifkan antioksidan, melindungi tubuh dari radikal bebas penyebab berbagai jenis kanker dan dapat mereduksi resiko kematian akibat penyakit jantung hingga 50%.

Indonesia merupakan negara yang menakjubkan, penuh dengan kekayaan alam bahari, keberagaman biota laut dan keberagaman kuliner. Saya membayangkan, bagaimana jika sebagian besar penduduk Indonesia mengkonsumsi masakan hasil olahan laut. Saya yakin, penduduk yang mengkonsumsi makanan hasil olahan laut secara rutin akan jauh lebih sehat dan cerdas. Temans setuju?

8 comments:

  1. Sampai sekarang, kalau secara langsung, masih belum bisa membedakan ikan tuna, cakalang, dan Tuna. Agak sulit sih, kalau nggak melihat secara langsung. Hahaha.

    Salam kenal dari Samarinda, Kak.
    Silakan mampir ke penjualgorengan.wordpress.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada morfologi yg bikin beda mas.
      Suda mampir ^^
      Terima kasih juga suda mampir, salam kenal dari Surabaya.

      Delete
  2. Favorit saya adalah pepes tongkol, selama saya di Taiwan Emak ngga pernah masak pepes tongkol. Takut ingat ke saya katanya.

    Jadi tongkol, tuna, cakalan itu beda ya? Tak pikir sama lho ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya beda mas, kalau kita jeli, kita bisa tau perbedaannya dimana.

      Delete
  3. Sepertinya kalau ada masakan seperti diatas saya siap jadi panelis nya kakak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rupa-rupanya ada udang dibalik bakwan ya, hahaha

      Delete
  4. Saya ingin jadi panelisnya juga.. hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ellho, ko malah kongkalikong jadi panelis? :)))

      Delete

Hai. Terima kasih sudah berkunjung.
Bunga mawar mekar di taman. Beri komentar lalu berteman ^^

Powered by Blogger.