Header Ads

Mau Dibawa Kemana Sih Air Limbah Industri di Surabaya?

Hai, selamat malam teman-teman. Sekarang saya sedang belajar, karena tetiba jenuh, akhirnya saya buka-buka file lama semasa kuliah strata 1. Lantas saya kepikiran, bagaimana jika saya share disini : salah satu bab mata kuliah Pencemaran ketika kami mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga berkunjung ke salah satu perusahaan perseroan terbatas milik negara dimana perusahaan tersebut memiliki tugas mengolah limbah hasil aktivitas dari berbagai pabrik dan industri di Surabaya dan sekitarnya. Semoga hal yang saya pelajari ini bermanfaat untuk pembaca pada umumnya dan education hunter pada khususnya. Selamat membaca ^^

Mau dibawa kemana sih air limbah hasil dari aktivitas beberapa pabrik di Surabaya?
Teman-teman ada yang pernah kepikiran tentang ini ndak?

Ternyata tidak semua pabrik di Surabaya membuang limbah langsung ke sungai di Surabaya lho teman-teman. Ada satu PT yang didirikan oleh negara yang berfungsi untuk mengolah limbah hasil pabrik di Surabaya dan sekitarnya sebelum akhirnya dibuang ke sungai. Nama perusahaan tersebut adalah PT. Surabaya Industrial Estate Rungkut (Persero) yang biasa dikenal dengan nama PT. SIER.

Berdirinya PT. SIER ini bertujuan untuk melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan program pemerintah dalam bidang ekonomi dan pembangunan nasional khususnya dalam bidang pembangunan dan pengelolaan Kawasan lndustri dalam arti seluas-luasnya. PT. SIER mengelola 3 Kawasan lndustri yang meliputi :
1. Surabaya Industrial Estate Rungkut seluas 245 hektare telah menampung limbah dari sekitar 300 perusahaan.
2. Sidoarjo Industrial Estate Brebek seluas 87 hektare telah menampung sekitar 111 perusahaan.
3. Pasuruan Industrial Estate Rembang dengan luas lahan kurang lebih 52 hektare.

Tentu saja ada berbagai macam treatment dan perlakuan yang dikhususkan untuk berbagai jenis limbah yang "masuk" ke PT. SIER ini. Dalam sistem, PT. SIER memiliki kelebihan dari segi pengolahan yaitu perlakuan terhadap limbah yang masuk menggunakan proses fisika-biologi. Sistem ini tidak membutuhkan biaya operasional yang mahal karena pengolahannya terjadi secara alami dengan menggunakan bakteri serta gerak gravitasi sehingga hasil pengolahannya pun tidak membahayakan lingkungan karena dalam pengolahannya tidak menggunakan bahan kimia.

Tidak semua pabrik, industri dan perusahaan boleh membuang hasil limbahnya ke PT. SIER ini lho. PT. SIER memiliki persyaratan bagi perusahaan, pabrik dan industri yang ingin membuang dan atau mengolah limbahnya. Persyaratan dibagi menjadi 2 yakni ketentuan umum dan ketentuan khusus. Apa saja? Keep scroll down yaa ^^


Ketentuan umum yang diajukan adalah bahan-bahan yang dilarang dibuang kedalam sistem saluran air limbah kawasan industri, antara lain :
1. Air hujan, air tanah, air dari talang dan air dari pekarangan.
2. Kalsium karbida.
3. Bahan yang mudah terbakar (cairan, zat padat dan gas yang jumlahnya cukup dapat menimbulkan ledakan atau kebakaran sehingga dapat menyebabkan kerusakan sistem saluran air limbah; ragi, ter, aspal, minyak mentah, minyak pelumas, solar, karbon disulfida, hidro sulfida, poli sulfida; bahan radioaktif; bahan baku yang karena kondisinya sendiri atau penggabungan atau reaksi elemen dengan air limbah lainnya dapat menimbulkan gas, uap, bau, atau bahan semacamnya yang dapat membahayakan kehidupan masyarakat).
4. Semua limbah yang dapat menimbulkan pelapisan keras atau endapan dalam sistem saluran air limbah.
5. Limbah yang mengandung bahan pewarna yang tidak dapat diolah secara biologis.
6. Pestisida, fungisida, herbisida, insektisida, radentisida, fumigans.
7. Limbah padat.

Untuk ketentuan khusus meliputi parameter fisika dan kimia yang menjadi standar atau patokan di PT. SIER (Persero), antara lain :

  • Parameter Fisika

  • Parameter Kimia


Pengenalan PT. SIER (Persero) udah, persyaratan limbah juga udah, terus apalagi ya..
Kita lihat bagaimana mekanisme pengolahan limbah aja yuk!

Di dalam gedung PT. SIER terdapat macam-macam bak berukuran raksasa yang semuanya memiliki fungsi masing-masing lho teman-teman. Macam-macam bak ini terdiri dari :
1. Sumur pengumpul.
Sumur Pengumpul
   Sumur pengumpul ini berfungsi sebagai tempat penampungan sementara air limbah yang bersunber dari semua industri di kawasan PT. SIER. Sumur ini berbentuk lingkaran dengan diameter 5 m dan kedalaman ± 8 m. serta terbagi menjadi dua bagian yang dibatasi oleh beton setebal 30 cm. Dua buah pipa yang besarnya masing – masing 400 mm dan 600 mm berfungsi sebagai saluran buangan industri dan perkantoran. Dua buah rel yang terpasang pada dinding sumur dan papan yang terbentang ± 4 m digunakan sebagai pijakkan petugas yang akan membersihkan sumur. Saringan kasar yang terpasang pada pipa induk berfungsi untuk menahan benda – benda besar yang masuk dalam sumur basah seperti : kayu, plastik, kaleng, dan lain – lain. Debit yang masuk ke sumur pengumpul ini adalah ± 8000 m3/hari. Jumlah debit yang masuk tergantung pada aktifitas perkantoran dan pabrik disekitar PT. SIER (Persero).

2. Bak pengendapan pertama (primary settling tank)
    Bak pengendap pertama mempunyai fungsi umum yaitu :
    a. Mengendapkan pertikel – partikel terutama zat padat tersuspensi secara gravitasi
    b. Penyaringan kotoran terapung
    c. Sebagai tempat homogenisasi air limbah sebelum masuk ke oxidation ditch
   d. Pemerataan beban hidrolisis dan organic sehingga tidak akan terjadi shock loading pada proses selanjutnya akibat flokulasi beban.
Primary Settling Tank
    Bak pengendap pertama dilengkapi dengan :
    a. Meter air yang dihubungkan dengan baling – baling yang fungsinya untuk mengetahui debit air (influent) dengan jelas
    b. Penyekat (skimmer) yang mempunyai ketebalan 80 cm, berjumlah dua buah dan terpasang secara simetris. Alat ini digunakan untuk menghalangi benda – benda yang terapung agar tidak masuk ke tahap selanjutnya (misal : plastik, busa deterjen, minyak dan partikel terapung lainnya). Benda terapung tersebut kemudian dibelokkan ke selokan dan dialirkan ke bak floating (floating tank) secara mekanik sedangkan air yang berada dibawah akan dialirkan ke oxidation ditch
   c. Pompa pada bagian bak besar (bak pengendap pertama) berfungsi untuk mengalirkan partikel terapung lumpur hasil dari pengendapan ke bak penampung partikel – partikel terapung. Bak pengendap pertama juga dilengkapi dengan saluran air yang berbentuk selokan (parit) sehingga aliran air limbah dapat berjalan mudah dan lancar
     d. Lumpur hasil pengendapan dibawa ke bak pengering lumpur (sludge drying bed)

3. Parit oksidasi (oxidation ditch)
Oxydation Ditch
   Oxidation ditch berbentuk parit melingkar memenjang yang berjumlah 4 buah dan mampu mengolah air limbah sebanyak 9000 m3/hari. Oxidation ditch memiliki tepian permukaan kolam yang kasar serta dilapisi dengan batu kali sebagai tempat menempelnya mikroorganisme.
   Pada oxidation ditch, air limbah diolah secara biologis dengan bantuan mikroorganisme pengurai air limbah, sehingga dibutuhkan oksigen untuk aktivitas organisme dalam menguraikan bahan organik dalam air limbah. Kebutuhan oksigen diperoleh dari proses aerasi dengan menggunakan Mammoth Rotor.
   Setiap unit oxidation ditch dilengkapi dengan unit mammoth rotor yang berfungsi untuk mengaduk limbah sehingga dapat diperoleh oksigen yang cukup untuk proses pengolahan. Pada oxidation ditch, kadar lumpur yang masuk ke dalam bak oksidasi harus diteliti karena jika terlalu banyak ataupun terlalu sedikit lumpur yang ada, maka proses pengolahan tidak akan berjalan dengan baik.

4. Bak pembagi (distribution box)
   Di dalam bak pembagi ini lumpur aktif yang masih tercampur dengan air limbah dari oxidation ditch akan dibagi menjadi dua bagian. Satu bagian akan dialirkan ke bak pengendap kedua (clarifier) dan satu bagian lagi akan dialirkan ke oxidation ditch (di recycle) sebesar 30% dari total lumpur yang masuk ke bak pembagi (distribution box).
Bak Pembagi
  Lumpur aktif dikembalikan ke oxidation ditch dengan bantuan return sludge pump tipe screw pump conveyor, sedangkan air limbah dan lumpur aktif yang dialirkan menuju bak pengendap kedua dilakukan dengan menggunakan prinsip perbedaan tekanan yaitu prinsip perbedaan diameter dua buah pipa (yaitu pipa menuju secondary clarifier dan pipa menuju distribution box).
  Fungsi dari bak ini adalah sebagai tempat penampung sementara air limbah dari oxidation ditch sebelum masuk ke secondary clarifier dan sebagai pembagi lumpur aktif yang akan dialirkan ke secondary clarifier yang akan dikembalikan ke oxidation ditch
   Bak ini dilengkapi dua pompa yakni sub mersible yang berfungsi mengalirkan lumpur yang akan dibuang ke bak pengering lumpur dan srew pump yang berfungsi untuk mengembalikan lumpur ke oxidation ditch sebagai return sludge.

5. Bak pengendapan terakhir (secondary clarifier/final settling tank)
Final Settling Tank
   Bak pengendap kedua ini berfungsi sebagai pengendap lumpur yang terkandung dalam air limbah setelah melewati proses oksidasi sehingga air menjadi bersih untuk dibuang ke sungai. Pada bak pengendap kedua ini dilengkapi dengan alat pengeruk lumpur atau scrapper. Alat ini berbentuk jembatan (scrubber bridge) yang membentang dari arah tengah bak seperti jari – jari lingkaran yang mampu mengintari bak.

Setelah kita melihat berbagai macam bak, yuk kita lihat bagaimana proses pengolahan limbah yang semula sangat kotor kemudian menjadi bersih dan dibuang ke sungai Surabaya. Tapi, sebelum itu yuk minum air putih dulu, biar matanya kembali sehat sebelum membaca tulisan serius selanjutnya, hehehe.

Sudah minum air putih? Yuk deh lanjut...
Diagram Alur Pengolahan Limbah PT. SIER (Persero)
Air limbah dari beberapa pabrik dan perkantoran dialirkan ke dalam saluran limbah atau manhole (yang terpasang disepanjang jalan dalam kawasan) melalui bak kontrol yang berada di halaman depan setiap pabrik atau perkantoran. Selanjutnya seluruh air limbah tersebut mengalir secara gravitasi menuju pusat instalasi Pengolahan Air Limbah.

Seluruh air limbah masuk ke dalam bak equalisasi yang juga berfungsi sebagai bak pengendap pertama melalui bak kolektor (rumah pompa) sebagai tempat penampungan awal, yang operasi pompanya menggunakan automatic level control switch. Dalam bak pengendap pertama, air limbah dibiarkan tanpa treatment apapun selama 2-5 jam. Hal ini dilakukan agar dapat memberi kesempatan zat-zat untuk mengendap. Selanjutnya zat-zat yang mengendap (berupa lumpur) setiap 1-2 bulan sekali dikeringkan di bak pengering lumpur kemudian dibuang.

Dalam bak pengendap ini, air limbah dapat diturunkan kadar BODnya hingga 45%, zat terapungnya mendekati 100%, dan zat padatnya sebesar 75%. Setelah melalui bak pengendap pertama, secara overflow air limbah mengalir ke bak aerasi atau oxidation ditch untuk proses aerasi (Biological Treatment) selama 20-24 jam secara kontinyu.

Proses aerasi dilakukan dengan menggunakan mammoth rotor dengan oxigenation capacity sebesar 30 kg Oksigen/jam/rotor. Dalam bak aerasi ini berlangsung proses biologis, dimana mikroorganisme berperan aktif dalam proses biodegradable sehingga senyawa polutan limbah berubah menjadi senyawa yang lebih sederhana. Pada kondisi tersebut mikroorganisme tumbuh dan berkembang kemudian membentuk biological flocs dan sering disebut activated sludge (lumpur aktif).

Air limbah yang sudah terproses dan terbentuk biological flocs akan mengalir ke bak pengendap akhir (clarifier atau final settling tank) melalui bak pembagi lumpur (distribution box) untuk proses pengendapan, dipisahkan antara air (affluen) dan biological flocsnya, sehingga air hasil proses yang telah netral dan memenuhi baku mutu air limbah (menurut SK. Menteri Lingkungan Hidup No. Kep. 51/MenLH/10/1995, dan Kep. Gubenur Jawa Timur No.45 tahun 2002 tentang Baku Mutu limbah cair bagi industri atau kegiatan usaha lainnya di Jawa Timur) selanjutnya dibuang ke air badan air (ABA) atau perairan umum. Sebelum dibuang ke perairan umum, air (affluen) tersebut dicatat melalui alat pencatat debit otomatis (open channel flow monitor) dan masuk ke kolam indikator (control pond) terlebih dahulu.
Control Pond dan pintu outlet
Biological flocts atau sludge dikembalikan (sebanyak 70%-100%) ke oxidation ditch melalui bak penampung lumpur sebagai lumpur aktif (activated sludge) yang diperlukan untuk proses biologi lebih lanjut agar proses tetap berlangsung dengan baik. Pada keadaan tertentu, apabila kadar biological flocs dalam air sudah melebihi kadar optimal (setting MLSS ; 3-5 gr/lt), maka biological flocs tersebut harus segera dibuang melalui alat Dewatering Filter Prees. Sebagian lumpur aktif (activated sludge) dikeringkan pada bak pengering lumpur, kemudian dikeringkan kembali pada area pengering selama 2-3 hari. Setelah kering, sludge tersebut disimpan di TPS (Tempat Penampungan Sementara), baru dikirim ke PPLI, Celeungsi- Bogor, Jawa Barat untuk diolah menjadi pupuk dan bahan yang berguna lainnya.

Capek juga ya...
Proses pengolahan limbah cair ini berlangsung secara terus menerus teman-teman. demi terciptanya lingkungan yang asri dan bebas dari pencemaran.

Nah, untuk kita (aku, kamu dan dia #ehh apasih), kita juga wajib menjaga perairan sungai. Sebab, ternyata produsen limbah sampah terbesar di sungai Surabaya berasal dari limbah domestik warga atau biasa disebut limbah rumah tangga. Kalau bisa, kita tidak dan JANGAN buang sampah plus kotoran apapun di sungai ya gaeess. Ingat lho, air sungai di Surabaya adalah satu-satunya sumber air yang kita pakai untuk kegiatan sehari-hari (minum, mandi, cuci-cuci dll). Setidaknya PDAM terbantu karena kita tidak mencemari air sungai yang mereka olah menjadi air PAM dan masuk ke rumah-rumah. Dan air yang masuk ke pipa-pipa PAM dirumah kita juga makin bersih.

Lalu siapa yang akan diuntungkan jika air rumah kita bersih? Siapa juga yang akan dirugikan jika air rumah kita kotor, berwarna dan berbau?

Yepp, berasal dari kita dan akan kembali ke kita ^^


Tidak ada komentar

Hai. Terima kasih sudah berkunjung.
Bunga mawar mekar di taman. Beri komentar lalu berteman ^^

Diberdayakan oleh Blogger.